Detective Kill

Detective Kill
Bab 44 Kesedihan Pemimpin



"Habisi semuanya!!"


And yang langsung berlari bersama group inti, untuk menerobos masuk ke dalam ruangan ketiga. And juga sedikit membantu bawahannya untuk mengalahkan beberapa musuh, semua bawahannya nampak sangat mudah, mengatasi musuh yang begitu banyak, latihan yang di lakukan dalam 2 bulan terakhir sangatlah berguna. And sangat senang tidak banyak bawahannya yang mengalami luka, dalam pertarungan kali ini.


"Gawat!! Aku lupa!"


And yang tiba-tiba berhenti di tengah-tengahnya pertarungan, karena mengingat bahwa Sonia sedang berada di hotel organisasi berjas hitam. And sedikit khawatir dengan wanita itu, karena dia takut kalau wanita itu nantinya akan di culik jika berada di sana.


"Tolong!! Group inti dan Group Step tangani masalah yang berada di Bisnis Pertama ini. Aku ada sedikit masalah yang perlu di selesaikan!" And yang memberikan perintah menggunakan alat khusus di telinganya.


"Baik pemimpin!!"


Semua bawahan Group Inti dan Group Step langsung segera bergerak memasuki bar. Mereka langsung mengambil alih pertempuran yang di pimpin oleh And. 2 orang ketua dari group masing-masing langsung bergegas menyelesaikan bisnis pertama yang dimiliki musuh.


"Ah, aku sampai lupa lagi!!


And yang terlihat terburu-buru berlari menuju tempat mobilnya berada. Dia juga selalu mengaktifkan alat khususnya agar bisa mengetahui kabar dari semua bawahannya.


--


Ditempat lain. Zero dan bawahannya berada di sebuah cafe. Mereka juga hampir selesai menghancurkan bisnis kedua, semua bawahan hanya beberapa orang yang mengalami luka parah, namun tidak ada yang memakan korban.


"Kita akan menghancurkan bisnis kedua ini!!"


Zero yang terlihat menyerang ruangan inti cafe, semuanya sedikit berjalan sangat lancar. Namun kebahagiaan Zero bersama bawahannya tidak berselang lama.


"Wakil, segera keluar dari caf....!"


Suara bawahan Zero yang berada diruang depan cafe, memberikan kabar tentang situasi di ruangan depan. Namun suara yang belum selesai itu membuat Zero sedikit khawatir, dia juga sedikit bingung, apa yang sudah terjadi di ruangan depan. Zero tetap melanjutkan memasuki ruangan terdalam cafe, di sana dia tidak menemukan apapun setelah mengalahkan semua musuh.


"Wakil, segera pergi...!! Cepat!!!"


Suara bawahan Zero yang berada di ruangan tengah, terdengar sedikit begitu menghawatirkan Zero yang berada di ruangan ketiga.


"Apa yang terjadi!! Cepat katakan?"


Zero yang berteriak sangat keras di ruangan inti, namun tidak ada jawaban sama sekali. Zero sedikit merasa ada yang tidak beres dengan semua bawahan yang dia pimpin, mengapa semua bawahannya tidak ada suara sama sekali. Dia langsung berlari bersama dengan bawahannya yang ada di ruangan inti.


"Wakil, sepertinya kita di jebak!


Bawahannya yang sedikit memberikan jawaban dari pikirannya, sambil berlari menuju ruangan tengah. Zero sedikit terengah-engah berlari bersama beberapa bawahannya dari ruangan inti cafe.


"Apa yang terjadi disini??"


Zero yang sedikit kaget. Melihat semua bawahannya sudah tidak bergerak sama sekali di seluruh ruangan tengah. Dan semua bawahannya seperti di bantai begitu sadis. Zero terlihat sangat sedih, dia sampai berlutut memandangi semua bawahannya yang sudah tidak bernafas.


"Arghh....!! Ada apa dengan se-mu...??"


Zero yang terlihat berteriak karena tidak bisa menjadi pemimpin yang berguna, dan dia sedikit takut, teriakannya terhenti melihat seorang laki-laki yang berambut panjang, duduk di atas kursi sambil memegang pisau yang berlumuran darah.


"Apakah kamu yang telah melakukan semua ini!"


Zero yang sangat marah dengan lelaki itu. Dia segera berdiri dan berjalan mencoba mendekati lelaki yang tampak santai duduk di atas kursi. Dengan jas putih yang berlumuran darah, dia tersenyum melihat Zero yang sambil menangis mencoba mendekatinya.


"Apa kamu bosnya?"


Lelaki itu sedikit penasaran dengan Zero. Lelaki itu adalah Deck yang sudah membantai semua bawahan Zero. Deck sangat menikmati semuanya, karena dia baru kali ini membantai seseorang yang lumayan sulit. Karena bawahan Zero yang sudah terlatih, Deck sangat menyukainya.


"Ya, aku bosnya? Apa kamu yang sudah melakukan ini semua?" Zero yang berteriak-teriak menjawab Deck yang masih terlihat duduk santai di atas kursi.


"Oh! Berarti kamu lebih hebat dari mereka semua ini?" Deck yang terlihat berdiri dan menginjak salah satu mayat dari bawahan Zero.


"Jauhkan kakimu!!"


Zero yang langsung menyerang, karena tidak sanggup melihat mayat bawahannya di injak oleh Deck. Dia terus menyerang dengan kemampuannya yang selama ini telah dia latih. Serangan itu hanya sedikit membuat Deck terluka.


"Wah..wah..pemarah sekali, seperti wanita saja?" Deck yang sambil bertahan dan menghindari serangan yang terus di berikan oleh Zero. Dia juga sedikit tersenyum karena menyukai Zero yang sangat mudah di pancing.


"Argh!!"


"Wus.."


Deck langsung berlari pergi untuk mendekati bawahan Zero yang masih tersisa. Dia langsung menyerang dan menusuk-nusuk bawahannya langsung di depan mata Zero.


"Cepat sekali!!"


Bawahan yang masih bertahan sempat kebingungan karena pergerakan Deck yang begitu sangat cepat, membuat mereka sedikit kewalahan memperkirakannya.


--


"Maafkan aku pemimpin!! Aku gagal?"


Suara Zero yang memberikan kabar kepada And lewat alat khusus di telinganya. And yang hampir sampai di hotel, langsung terhenti setelah mendengar suara Zero yang menangis. Dia langsung memutar kembali mobilnya untuk segera menuju tempat Zero berada, dia tidak peduli lagi dengan wanita itu. And sedikit khawatir dengan suara Zero yang tiba-tiba terputus dari alatnya.


"Zero-zero...apa kamu baik-baik saja??"


And yang mencoba berulang kali memanggil Zero dari alat khususnya. Namun tidak ada jawaban sama sekali. And langsung menambah kecepatan mobilnya untuk sesegera mungkin sampai di tempat Zero.


"Semoga tidak ada yang akan terjadi dengannya?"


Di perjalanan And sedikit khawatir dengan keadaannya, Zero telah di anggapnya seperti adiknya sendiri. Dia juga sedikit khawatir gara-gara kecerobohannya telah meninggalkan mereka. Jika saja And menyelesaikan bisnis pertama dengan cepat, mungkin dia sempat membantu penyerangan Zero di bisnis kedua.


"Zero bertahanlah. Aku akan segera ke sana!"


And yang di perjalanan sedikit menambah kecepatan mobilnya, dia sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengan Zero. And juga berusaha menghubungi bawahan inti di bisnis pertama, namun tidak ada masalah sama sekali saat ini. Cuman di bisnis kedua sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi kepada group Zero.


--


And langsung memberhentikan mobilnya di depan cafe, dia segera berlari masuk ke dalam cafe. Dia sangat terkejut melihat semua bawahan yang di pimpin Zero semuanya tergeletak di lantai. Dia juga mencoba memeriksa beberapa bawahan Zero. Apakah ada yang masih hidup atau tidak, salah satu dari sekian banyak mayat, ada bawahan yang masih bertahan. And segera mendekatinya dan sedikit rasa kecemasan melihat keadaan bawahannya yang sudah di ambang kematian.


"P-pemimpin se-selamatkan wa..wakil, dia mungkin da..dalam ba..haya di dala...!!"


Suara yang tak sempat habis menyampaikan pesan terakhir kepada And. Dia langsung menghembuskan napas terakhirnya, dia mengalami banyak luka di tubuhnya, di karenakan tertusuk pisau beberapa kali.


"Siapa yang melakukan ini? Dimana Zero, aku harus segera menemukannya!"


And yang terlihat mengusap mata bawahannya, dan menaruhnya perlahan ke lantai dari pangkuannya. And segera berlari menuju ruangan dalam, untuk menemukan Zero yang mungkin dalam bahaya. Di perjalanan menuju ruangan kedua, And sedikit sedih melihat bawahan Zero semuanya tergeletak di lantai tak bernafas. Dia sedikit marah dan menambah kecepatan larinya menuju ruangan terakhir.


--


"Kamu lawan yang cukup tangguh. Tapi semuanya tetap sia-sia karena levelmu tidak bisa melewatiku. Mungkin ada kata-kata terakhir sebelum aku membunuhmu" Deck yang penuh luka terlihat sudah menjambak rambut Zero yang sudah tergeletak di lantai dengan keadaan tengkurap.


"Cepat bunuh aku! Jangan banyak omong kamu! Kamu hanya curang menghadapi aku. Kekuatan apa itu, menggunakan bawahan ku sebagai tameng?" Suara pelan Zero membalas perkataan Deck yang masih menjambak rambutnya.


"Argh!!"


Teriakan Zero yang begitu keras. Akibat pisau yang di tancapkan oleh Deck di belakangnya. Zero berusaha untuk menahan rasa sakit dari siksaan itu, agar bisa membayar dosanya karena tidak bisa menjaga nyawa semua bawahannya.


"Hentikan!!"


And yang sudah sampai di ruangan ketiga. Dia sangat terkejut dan marah melihat Zero yang sudah tidak berdaya tergeletak di lantai dengan keadaan rambut yang masih di jambak oleh Deck. Dia sangat marah dan terlihat And sudah mempersiapkan pisaunya juga untuk membalaskan semua yang telah meninggal.


"Wah..wah..siapa yang datang kali ini?"


Deck yang terlihat mencabut pisau yang tertancap di belakang Zero. Deck berdiri dengan keadaan tubuh yang penuh luka setelah pertarungannya dengan Zero.


"Pemimpin maafkan aku!"


Mata Zero yang sedikit buram melihat And yang sudah datang, dia meminta maaf dalam pikirannya karena tidak becus menjaga bawahannya.


"Aku akan membunuhmu!"


And yang sudah terlihat marah melihat Zero yang sudah tidak berdaya, bahkan dia tidak melihat Zero bergerak sama sekali. And sudah bersiap-siap untuk menghadapi Deck, dia yang sudah terlihat melepas baju yang sobek-sobeknya akibat pertarungannya dengan Zero.


"Benarkah! Apakah kamu yakin bisa membunuhku?"


Deck yang menyombongkan dirinya karena merasa bahwa And tidak begitu hebat, bahkan dia mengira And hanya bawahan Zero, karena And juga memakai baju seperti bawahannya, yang menutupi wajahnya seperti ninja. Sedangkan Zero, dia hanya menutupi mulutnya dengan kain hitam. Itulah mengapa, Deck tidak menganggap And seperti bos.