
Sesampainya di rumah sakit. Keadaan ibunya tidak begitu baik, ibunya mengalami luka yang begitu fatal. Dengan terbaring koma tidak sadarkan diri, di bantu dengan alat pernapasan yang melekat di wajahnya. Mereka hanya termenung melihat keadaannya yang begitu parah. And terburu-buru meninggalkan ruangan itu menuju parkiran mobil, dia pergi dengan supir pribadinya. Supirnya sedikit khawatir dan membawanya ke markas terbesar yang ada di kota.
Yuna sedikit khawatir dengan keadaan suaminya yang tiba-tiba keluar setelah melihat keadaan ibunya. Dia ingin menyusulnya, tapi dia dihentikan oleh kedua orang tuanya di ruang kamar rumah sakit, untuk memberikan waktu And sendiri terlebih dulu. Yuna yang tidak mau membantah perkataan kedua orang tuanya, dan mengikuti apa kata mereka untuk tidak mengejar And yang keluar tadi. Yuna menggenggam ponselnya dengan terlihat gelisah memikirkan keadaan suaminya. Ibu dan ayahnya berusaha menenangkannya, Yuna yang terlihat begitu menghawatirkan suaminya itu.
And yang sudah berada di markas terbesar, dihadapan puluhan bawahnya yang sedang memandangi. And berusaha tegas ke bawahannya karena tidak bisa menjaga ibu Andreas Rew. Beberapa penjelasan dari yang mereka ketahui. Ibunya di tabrak oleh mobil truk besar, namun truk besar sudah mati si tempat, masalah muncul ketika ibunya sedang menyelidiki organisasi berjas hitam yang sudah mengikuti And dan Yuna beberapa hari ini. Mendengar penjelasan dari bawahannya, And sedikit terkejut, karena organisasi ini sudah melakukan pergerakannya, karena mereka menganggap dirinya masih hidup. Mungkin mereka takut dirinya membongkar bisnis yang mereka lakukan di Indonesia. Tapi And sudah mempersiapkan peperangannya dengan organisasi berjas hitam. Apalagi bawahannya bertambah banyak membuat And tersenyum bahagia. Dia akan menghapus organisasi berjas hitam untuk selamanya.
"Semuanya?. Dengar aku baik-baik? Kali ini adalah tugas yang begitu berat untuk kalian?. Aku hanya berharap kalian bisa melakukan yang terbaik. Kita akan membalas perbuatan yang telah mereka lakukan kepada ibuku. Semuanya ikuti instruksiku kita melakukan dengan caraku..?" And yang menjelaskan taktik dan strategi pembalasan dendam untuk menghapus organisasi mereka yang ada di Jepang. Semua bawahan terlihat senang mendengarkan penjelasan dari And yang begitu sempurna, seperti strategi profesional. Mereka tidak mengetahui Andreas Rew sudah berganti dengan seseorang yang begitu hebat di dunia, bahkan di masa depan dulu tidak ada orang yang berani macam-macam dengan Andres sang detektif.
Beberapa minggu kemudian...
Pengintai yang telah di pilih oleh And sendiri untuk mengintai ke seluruh kota. Memantau pergerakan organisasi berjas hitam itu, untuk membunuh mereka satu persatu terlebih dulu. Untuk memancing mereka agar berkumpul di satu tempat. Memberikan sedikit ancaman karena telah membangunkan singa yang sedang tidur. And juga mengganti nama organisasi Andreas Rew sama dengan organisasinya yang ada di Indonesia. Beberapa laporan yang sudah masuk kepada And, bahwa beberapa bawahan organisasi berjas hitam sudah mulai bergerak untuk menuju markas besarnya yang ada di Jepang. Mendengar rencananya berhasil, And sangat bahagia di ruangan khususnya.
"Haha.. akhirnya aku bisa membalasnya lebih awal kali ini!. Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan aku lagi?" And yang terlihat tersenyum berbicara sendiri di ruangannya, hanya dengan menggerakkan semua bawahannya, balas dendam yang sudah And pendam terbalas tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Namun dengan dendam And yang begitu besar, membuat dia lupa bahwa bawahan yang menjaga ibu Andreas Rew hanya beberapa orang saja di rumah sakit. Bahkan bawahan yang menjaga ibunya hanya bawahan yang belum berpengalaman.
"Tok..tok..tok.."
Suara ketukan pintu yang begitu cepat. And yang mendengarnya sedikit terkejut, tawanya terhenti karena ketukan pintu yang secara tiba-tiba.
"Masuklah!" Ucap And yang sedikit kesel karena menggangu kesenangannya.
"Krik"
Salah satu bawahannya yang mengintai di rumah sakit datang ke ruangannya. Dengan wajah yang begitu penuh keringat, wajah yang begitu pucat, badan yang sedikit gemetar berhadapan dengan And yang sedang duduk di bangkunya menumpang kepalanya dengan kedua tangan memandangi bawahannya.
"Ke..ketua..ru..mah..sakit diserang..?" Suara yang terbata-bata menyampaikan informasi tentang keadaan rumah sakit, dimana ibunya sedang dirawat.
"Apa? Mengapa bisa diserang?, kemana bawahan lainnya?" And yang menghempaskan kedua tangannya di atas meja didepannya, setelah mendengar perkataan bawahannya.
"(.....)"
Bawahannya hanya terdiam menundukkan wajahnya, badan yang masih gemetar ketakutan karena tidak berani melihat keadaan And yang sedang marah.
"Kabarkan semuanya. Untuk mundur dan pergi ke rumah sakit, jika mereka membawa ibuku cari sampai ketemu. Jika mereka membunuhnya jangan beri ampun lagi dengan organisasi itu?" And yang berteriak-teriak dengan bawahannya untuk tidak main-main lagi, dalam menjinakkan organisasi berjas hitam ini.
"Baik, Ketua!" dia segera keluar setelah mendengar perintah dari And.
"Sialan!, aku kelupaan. Pintar sekali organisasi itu, tidak bisa di anggap remeh mereka. Aku terlalu terfokus untuk balas dendam, melupakan bahwa aku juga memiliki keluarga disini. Jika sampai mereka membunuh ibunya Andreas Rew, aku tidak akan memaafkan mereka. Lain kali aku usahakan tidak ceroboh lagi?" And yang berusaha menenangkan pikirannya sambil menyandarkan dirinya di kursinya.
*****
"Mengapa kamu tidak membiarkan aku mencari suamiku sendiri?" Yuna yang sedikit kesal dengan bawahan And yang mencegat dia di luar pintu rumah.
"Maafkan kami nyonya?. Kami sudah di tugaskan ketua untuk menjaga kalian?" bawahannya berusaha menjelaskan secara baik-baik kepada Yuna.
"Mengapa kami harus dijaga? Apa ada yang kalian sembunyikan dari aku?" Yuna yang begitu marah karena tidak di beri alasan yang begitu pasti.
Bawahannya menelepon And untuk memberi tahukan bahwa nyonya Yuna ingin menemuinya. Ketika ponsel itu telah diangkat And, Yuna langsung merebut ponselnya dan marah-marah kepada And yang tidak menemuinya hampir 1 minggu.
"Ting..tong..ting.."
Bunyi telepon And yang berada di atas meja, membuat And sedikit khawatir bagaimana keadaan di rumah sakit. And segera mengangkatnya.
"Bagaimana kabarnya?" And yang bertanya kepada bawahannya yang telah meneleponnya sedang duduk di kursinya.
"Ke..ketua nyo..?" suara bawahannya yang tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena ponsel yang sudah direbut Yuna.
"Kemana saja kamu beberapa hari ini?" suara Yuna yang begitu kesal dengan And.
"Hah!, a..aku sibuk mengurus bisnis yang lagi tidak baik?" wajah And sedikit kaget setelah mendengar suara Yuna yang begitu kesal dengannya.
"Cepat pulang jangan perusahaan terus di urus, istri tidak di perhatikan?"suara Yuna yang mulai marah dengan And yang tidak perhatian dengannya.
--
"Iya nanti aku pulang..?" suara And yang terdengar pelan dari ponsel yang di gunakan Yuna.
Setelah itu Yuna memberikan ponsel bawahannya kembali, dan memutuskan untuk tidak jadi keluar rumah, Yuna mulai tersenyum ketika mendengar And yang ketakutan di marahi olehnya. Yuna segera ke dapur mempersiapkan makanan untuk di santap oleh And ketika dia pulang nanti.
*****
And menghela napasnya setelah mematikan teleponnya. "Aduh, perasaan masa depan dulu tidak seribet ini. Mengapa masalahnya begitu besar ketika aku mulai merubahnya, mempunyai istri yang tidak sah sangat merepotkan. Aku harus menyelesaikan balas dendam terlebih dulu. Baru aku memikirkan apa aku harus menikahi Yuna lagi atau tidak.
Beberapa menit kemudian...
Telepon And berbunyi kembali. Para bawahannya yang memberikan kabar bahwa masalah di rumah sakit dapat terselesaikan dengan baik, nyawa nyonya besar masih aman. Mendengar kabar baik membuat And mulai tenang, dia akhirnya mulai berdiri dari kursinya dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah Yuna. Sebelum And pulang, bawahannya memberikan beberapa informasi baru yang telah didapatkan mereka. Bahwa gudang yang ingin And selidiki waktu itu adalah markas terbesar organisasi berjas hitam. And mendengarnya mulai senang, balas dendamnya mulai dekat, kali ini dia tidak ceroboh lagi. Dia hanya memerintahkan untuk memantau terlebih dulu, jangan ada yang menyerang sebelum And memberikan perintah.