Detective Kill

Detective Kill
Bab 51 Demi Keluarga



"Tit..tit..tit.."


Alarm yang berbunyi sangat keras di pagi hari. Terlihat Riri yang sedikit susah untuk bangun di hari senin, dia berusaha menutupi seluruh badannya dengan selimut. Namun dia sadar bahwa hari ini upacara bendera, dia segera bangun dan berlari ke kemar mandi.


Beberapa menit kemudian..


"Ah, jangan sampai telat!"


Terlihat Riri yang terburu-buru berjalan menuju meja makannya yang sudah di siapkan, dia hanya memakan roti dan minum susu. Dia langsung bersalaman kepada ibunya yang masih duduk di kursi meja makan.


"Ibu, Riri berangkat ya!"


Dia langsung berlari keluar rumah meninggalkan ibunya yang belum selesai makan, hari sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi di jam tangannya. Dia segera memasuki mobil dan segera pergi ke sekolah.


--


"Kita sudah sampai nyonya muda!"


Supirnya langsung membukakan pintu belakang mobil. Riri segera keluar dan sedikit kesal dengan supirnya itu, karena dia tidak mau di panggil nyonya muda. Berhubung dia ingin cepat-cepat masuk, dia tidak jadi memarahi bawahan kakaknya itu.


"(???)"


Bawahan And sedikit bingung karena melihat wajah Riri yang sedikit kesal dengan nya, namun dia merasa itu hanya perasaannya saja. Dia langsung masuk kedalam mobil dan untuk pulang kembali.


"Riri, mana laki-laki tampan waktu itu?"


Teman-teman Riri sedikit penasaran dengan laki-laki yang pernah mengantarkannya masuk ke sekolah. Namun Riri sangat tidak suka jika ada wanita lain menyukai kakaknya.


"Dia kakakku, kalian tidak di izinkan menyukainya!"


Riri yang sedikit kesal menjawab pertanyaan dari teman-temannya, dia juga terus melanjutkan jalannya untuk menuju kelas. Namun temannya sedikit penasaran kemana perginya kakaknya itu.


"Emmm..dia masih jomblo kan, tolong kasih aku nomor ponselnya ya!" Teman Riri yang sedikit manja bernama Lucy, dia adalah teman akrab Riri dari SD.


"Kau cari saja sendiri, aku tidak punya nomornya!" Riri yang sedikit tidak peduli dengan temannya itu, dia tetap berjalan meninggalkan temannya di depan sekolahan.


"Kita masih teman kan, kita sudah kelas 2 SMP. kenapa kamu tidak memberikan nomor kakakmu!" Lucy masih mencoba merayu Riri yang sedikit menambah kecepatan jalannya.


"Kamu itu masih kecil, kakakku sudah berumur 22 tahun. Tidak serasi sama sekali. Mending cari yang seumuran saja, dan fokus belajar!" Riri yang sudah mulai tidak tahan dengan tingkah laku temannya itu.


"Hehe..bercanda kok, siapa juga yang mau sama om-om, tapi kalau om ganteng bisa di bicarakan dengan baik-baik!" Lucy yang mulai tertawa melihat Riri yang sudah mulai kesal dengannya.


Jam olahraga.


"Semua tolong berbaris yang rapi, kali ini kita akan melakukan pemanasan terlebih dulu, agar otot-otot kita tidak kaku. Ingat olahraga itu sangat penting, apalagi buat kalian yang masih muda-muda, jangan malas-malasan di rumah. Sekali-kali regangkan otot-otot tubuh kalian biar sehat. Jadi mari kita mulai!" Perintah dari guru olahraga yang sudah berdiri di lapangan di depan murid-murid kelas 2A.


"Baik, pak!"


Semua murid-murid menjawab dengan sangat keras sambil merapikan barisan di lapangan. Barisan mereka juga dipisah tidak boleh di gabung dengan barisan lawan jenis.


"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh!"


Semua murid-murid terlihat sudah memulai melakukan pemanasan dengan cara meregangkan semua anggota tubuh. Akhirnya mereka dapat menyelesaikan semuanya dengan gerakan yang teratur. Mereka juga di beri waktu istirahat untuk melepaskan rasa lelah setelah pemanasan.


"Ah, akhirnya selesai juga!!"


Keluh kesah salah satu teman Riri yang sudah duduk disampingnya sedang melepaskan penatnya. Dia juga terlihat langsung meminum minuman Riri tanpa meminta terlebih dulu.


"Dasar pencuri, kebiasaan banget kamu Vivi. Malas ah kalau gini!" Riri yang sedikit kesal melihat temannya yang selalu begitu.


"Hehe, maaf! Minumannya sudah masuk ke perut nih. Aku ganti nanti ya, aku malas jalan ke kantin" Vivi yang tidak terlihat merasa bersalah sama sekali setelah meminumnya.


"Hemh.."


Terlihat wajah Riri yang masih kesal karena minumannya sudah dihabiskan, dia juga memalingkan wajahnya untuk tidak melihat Vivi.


"Oh, ngomong-ngomong makasih dengan minumannya ya, kamu itu emang teman terbaikku!" Vivi yang terlihat membujuk Riri yang masih sedikit kesal dengannya.


"Aku mau ke toilet dulu ya! Kalian terus saja ke kelas duluan, nanti aku menyusul!" Lucy langsung berdiri dan meninggalkan mereka yang masih duduk di kursi.


"Oke. Kami duluan ya!"


Riri yang sudah berjalan sambil menarik tangan Vivi, mereka langsung berjalan menuju kelas. Karena bell masuk sudah terdengar untuk pelajaran selanjutnya.


--


"Bu, Riri pulang!"


"Nyonya muda sudah datang!"


Salah satu pelayan rumahnya menyapa Riri yang masih berpakaian sekolah sedang mencari ibunya. Dia juga penasaran kemana ibunya sekarang saat ini.


"Ibuku ada dimana?"


Riri langsung bertanya dengan pelayan yang sedang menyapanya itu, dia juga terlihat sedikit lelah karena dari tadi ke sana kemari mencari ibunya sampai keseluruhan rumah.


"Oh, nyonya besar sedang pergi!"


Pelayan itu menjawab pertanyaan Riri dengan sedikit sopan, dia juga terlihat gugup menjawabnya, karena dia adalah pelayan baru di sana, jadi dia masih merasa takut berhadapan dengan tuan rumah.


"Pergi kemana? Apa sudah lama?"


Riri yang masih bertanya tentang kemana ibunya pergi, dia juga terlihat bingung dengan pelayan yang begitu gemetar sedang berbicara dengannya itu.


"Maaf Riri, dia ini pelayan baru! Jadi dia masih terlihat gugup!" Salah satu pelayan yang lama mendatangi mereka, karena dia melihat pelayan baru sedang ditanya oleh Riri.


"Oh, pantas saja dia masih terlihat begitu gemetar. Kasih tahu dia tentang semua tentang rumah dan kesukaanku juga. Oke!" Riri yang terlihat tersenyum, untuk menenangkan pelayan baru itu yang masih terlihat gemetar.


"Baik, nanti aku kasih tahu semuanya!" Jawab pelayan yang sudah lama itu, sambil mengajak pelayan baru untuk pergi.


"Eh, ibu aku pergi kemana?" Riri sedikit menahan mereka, dia ingin mengetahui dimana ibunya saat ini.


"Oh, ibu sedang pergi belanja, nanti sebentar lagi pulang" pelayan itu menjawabnya, dan sekaligus minta izin untuk pergi, karena masih banyak yang perlu di kerjakan.


Setelah Riri mendengarnya, dia langsung pergi menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang dari tadi sudah merasa gerah, akibat hari yang lumayan panas. Sebelum Riri sampai di depan kamarnya, dia tiba-tiba berhenti karena mendengar telepon rumah yang sedang berbunyi.


"Iya, halo. Dengan siapa?" Riri langsung mengangkatnya, dan langsung bertanya siapa yang sudah menelepon itu.


"Kok kamu yang mengangkatnya!" Suara And terdengar kecewa, karena yang sudah mengangkat telepon rumah adalah adiknya.


"Hah! Kenapa? Tidak boleh!" Riri yang sedikit kesel mendengar suara laki-laki yang tidak suka, kalau dia yang mengangkat telepon.


"Apa kamu tidak mengenaliku?" Suara And yang sedikit sedih karena adiknya tidak mengenali suara kakaknya sendiri.


"Kamu siapa sih, sudahlah aku mau mandi? Nanti aku kasih sama pelayan. Pelayan ada telepon dari orang!! Cepat kesini. Tunggu ya sebentar lagi mereka kesini!" Riri yang terlihat sudah kesal berbicara dengan laki-laki yang tidak dikenalinya. Dia langsung memanggil pelayan untuk menggantikannya menjawab telepon itu.


--


"Riri, ibu pulang!"


Dengan wajah yang terlihat bahagia memanggil Riri dari ruangan tamu, sambil membawakan sebuah tas kecil. Ibunya juga langsung duduk di atas sofa menunggu Riri mendatanginya.


"Maaf bu, tadi ada telepon dari tuan And. Katanya. Mungkin dia akan pulang sangat lama. Dia masih ada masalah yang harus di selesaikan di sana, jadi maaf kalau nanti tidak bisa selalu memberikan kabar. Tadi tuan juga ingin berbicara dengan ibu, namun ibu tidak ada di rumah. Itu saja pesan dari tuan, maaf sudah mengganggu waktunya!" Pelayan itu sedikit gugup setelah melihat ekspresi ibunya And sedikit terkejut mendengar bahwa anaknya akan lama berada di Jepang.


"Baiklah, kamu boleh pergi. Makasih sudah memberi tahu!" Ibu And berusaha untuk tersenyum lagi, dan berusaha untuk mengerti keadaan And di sana.


"Wah, kapan ibu pulang!"


Riri yang terlihat habis mandi mendekati ibunya, dia juga langsung duduk di samping ibunya yang terlihat sudah memegang sebuah tas kecil.


"Ini untuk Riri, makasih ibu! Wah kalungnya bagus sekali! Beneran buat Riri?" Riri yang terlihat senang setelah menerima pemberian dari ibunya, dia juga tidak lupa memeluk erat ibunya yang sangat dia sayangi.


"Yang rajin sekolahnya ya! Nanti ibu ajak kamu belanja bersama!" Ibunya yang sambil mengelus-elus kepalanya Riri, dia juga berusaha untuk merahasiakan tentang kakaknya. Dia takut membuat Riri sedih ketika mendengar And akan sangat lama di Jepang.


"Baiklah, ibu mau mandi dulu ya. Muah!!" Ibunya mencium pipi Riri, dan dia langsung berdiri meninggalkan Riri yang masih duduk di atas Sofa sambil melihat-lihat kalung barunya.


Ibunya And langsung masuk kedalam kamar, dia juga memeriksa ponselnya. Dia sangat terkejut melihat panggilan And yang begitu banyak. Setelah itu dia kembali mencoba memanggil And untuk berbicara sebentar.


"Ting..tong..ting...!!"


Suara telepon And berbunyi, And langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Dia sedang berada di ruangan markas terbesarnya di Jepang.


"Halo ibu! Bagaimana kabar ibu?"


And terlihat tersenyum berusaha untuk membuat ibunya merasa senang, namun dia juga terlihat sibuk karena pekerjaannya yang begitu menumpuk akibat dia berada di Indonesia terlalu lama. Sampai-sampai perusahaannya di Jepang lupa di urus. Karena itulah And akan berada di Jepang sangat lama sekali, agar perusahaannya itu berjalan baik lagi seperti biasanya.


"And, jaga kesehatan kamu nanti ya. Meskipun kamu akan lama di sana, jangan lupa hubungi kami kalau kamu tidak sibuk!" Suara ibunya yang sedikit khawatir dengan anaknya. Membuat And mendengarnya sedikit sedih, namun dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya itu. Jika tidak siapa yang akan menanggung semua kerugian nanti.


"Baik ibu, kalian juga ya! Kalau ada apa-apa bilang saja!" And yang terlihat sedih, dia juga berusaha kuat, untuk kebahagiaan keluarganya. Semuanya kesuksesan harus berkorban, tidak boleh malas-malasan dalam berusaha.


"Ya sudah, ibu tutup teleponnya!" Ibunya yang berusaha mengerti dengan keadaan anaknya yang sudah dewasa.


"Makasih bu, And akan pulang kalau semua urusan And sudah selesai nanti!" And terlihat menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil bersandar di kursinya di depan laptop dan di atas meja di penuhi berkas-berkas yang harus di tanda tangani. Semuanya And harus kerjakan untuk membahagiakan seluruh keluarganya yang sangat dia sayang.