
Sonia yang berada di lantai ke 46 sangat kaget melihat beberapa orang sudah mati di luar pintu. Dia sangat penasaran mengapa begitu banyak mayat diluar, dia berjalan untuk memeriksa apa yang sudah terjadi. Dia tidak takut sama sekali melihat mayat-mayat yang sudah tergeletak di lantai.
Sonia juga terlihat pelan-pelan menaiki tangga untuk memeriksa keadaan, dibangunan atas juga sudah tidak terdengar suara apapun. Dia mengira perampok itu mungkin sudah pergi dari hotel ayahnya. Setelah dia sudah berada dilantai ke 49, dia sangat kaget melihat asisten ayahnya yang sudah mati. Dia juga terlihat mengecek denyut nadi asisten itu, wajah dia terlihat sangat khawatir, karena asisten itu selalu berada di dekat ayahnya.
Sonia langsung berlari menaiki tangga menuju lantai ke 50, dia sangat khawatir dengan ayahnya, karena terlalu lelah menaiki tangga sebelumnya, dia terlihat sudah terengah-engah di tengah tangga menuju lantai ke 50. Sonia sedikit memegangi kepalanya yang mulai pusing karena terlalu memaksakan dirinya.
--
Pertarungan yang begitu panas di lantai ke 50, berakibat sangat fatal bagi kedua belah pihak, semua pasukan yang tersisa habis-habisan bertarung dititik darah penghabisan. Organisasi berjas hitam selalu menggunakan senjata tajam membuat pasukan And sedikit kesusahan menghadapinya. Korban berguguran di atas lantai, di ruangan ini membuat pasukan keduanya mengalami kehancuran, banyak korban yang mati dan cedera begitu parah.
Yang tersisa hanya And dan bos besar, mereka saling memandang satu sama lain. Karena And yang masih menutup wajahnya, membuat ayah Sonia sulit mengenali siapa yang berusaha mencoba menghancurkan bisnisnya ini. And terlihat sudah berjalan mendekati ayah Sonia yang dari tadi sudah bersiap-siap menodongkan pistolnya ke arahnya.
"Berhenti di sana!! Cepat serahkan dirimu!"
Ayah Sonia yang terdengar berteriak-teriak mengancam And yang masih berjalan mendekatinya. Dia juga sambil berjalan mundur untuk naik ke atas bangun, dia ingin kabur dengan helikopter yang sudah tersedia di atas.
"Apa kamu mau mati!!"
Ayah Sonia sudah mulai marah melihat And yang tidak peduli dengan ancamannya, dia sedikit meyakinkan dirinya untuk segera menembak And, agar dia memenangkan pertarungan ini.
"Durr.."
Suara tembakan sekali terdengar. Namun tembakan itu dapat And hindari dengan mudah, dia juga terlihat masih berjalan mendekati Ayahnya Sonia.
"Sialan! Dia ini siapa? Mengapa dia bisa menghindari peluru itu?"
Ayah Sonia sudah terlihat gemetaran memandangi And yang penuh darah di seluruh pakaiannya, terus mencoba mendekatinya yang hampir sampai di atas bangunan.
"Kali ini dia tidak akan bisa menghindari tembakan ini, jika di tempat sempet seperti ini?" Ayah Sonia terlihat senang, melihat And yang sudah menaiki tangga, dia bersiap menembaki And untuk terakhir kalinya.
"Haha..dur..dur!!"
Dia tertawa sambil menembaki And yang sudah menaiki tangga, And yang berusaha mengikuti ayahnya Sonia menuju tempat helikopter berada. Di dalam ruangan tangga, debu dari tembakan itu membuat ayah Sonia tidak dapat melihat keadaan And.
"Apa dia sudah mati?"
Ayah Sonia sedikit lega, karena And belum terlihat menaiki tangga setelah menerima banyak tembakan. Dia sedikit tenang dan sesegera pergi untuk menuju helikopter itu. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba...
"Wus..!!"
And langsung berlari dengan cepat mendekati ayahnya Sonia yang sudah mulai lengah. Dia langsung menangkap leher belakang ayah Sonia, dan melemparkannya ke lantai. Namun ayah Sonia bukan sekedar bos saja, dia juga adalah mantan mafia yang terhebat di Jepang. Dia mulai berdiri dan bersiap-siap untuk bertarung melawan And.
"Baiklah, aku akan melawanmu!"
Ayah Sonia sudah bersiap-siap untuk bertarung dengan tangan kosong. Dia juga terlihat melepaskan jasnya, agar mempermudah dia bergerak bebas saat menghadapi And nanti.
"(???)"
Ayah Sonia sedikit bingung melihat And yang hanya terdiam saja memandanginya. And terlihat sangat santai berdiri menunggu ayah Sonia untuk menyerang dia terlebih dulu.
"Apa kamu ingin aku menyerang duluan??"
Ayah Sonia berteriak bertanya kepada And yang sedang berdiri jauh di depannya. Dia juga mulai berjalan mendekati And yang dari tadi hanya diam memandanginya.
"Wus..!!"
Ayah Sonia mulai menyerang dengan pukulan dari tangan kanannya. Namun And terlihat merunduk untuk menghindari serangan itu.
"Haayaa..!!
Ayah Sonia kembali meluncurkan lututnya untuk menyerang wajah And yang sudah merunduk itu. Namun And dapat menangkisnya dengan kedua tangannya.
"Huuppp..!!"
Ayah Sonia kembali mengulurkan tangannya untuk menangkap baju bagian belakang leher And. Dia lagi-lagi dapat menangkis gerakan tangan ayah Sonia itu.
"Wus..!!"
Ayah Sonia tidak berhenti untuk menyerang And. Kali ini dia mencoba menendang kepalanya yang masih sedang dalam posisi merunduk.
And langsung kena tendang itu, meskipun tendangan itu tidak mengenai kepalanya langsung, karena dia berhasil menangkis dengan salah satu tangannya.
And mulai bangkit, setelah posisinya sedikit tergeser akibat tendangan keras itu. Dia sudah terlihat mulai serius untuk menghadapi ayahnya Sonia. Dia dari tadi hanya bertahan dan mencoba meneliti kekuatan musuhnya. Dia sudah mempersiapkan kuda-kuda bela dirinya, untuk menghadapi ayah Sonia yang dari tadi terlihat sombong karena berhasil memukulnya.
"Slash..!!"
Kecepatan yang tidak dapat di lihat oleh mata biasa, dengan kecepatan yang begitu cepat berhasil mendekati ayah Sonia yang terlihat kebingungan karena And sudah berada di sampingnya.
"Burgh!!"
"Arghh!!"
Pukulan keras mengenai perut samping ayah Sonia. Dia langsung memuntahkan darah yang lumayan banyak di mulutnya. Dia langsung terlihat kesakitan setelah menerima pukulan itu.
"Orgh...??"
"Heeks!!"
Wajah yang terkena pukulan dengan sangat keras, membuat darah yang bercucuran keluar dari hidung ayahnya Sonia. Tidak berhenti disana, dia terus di pukul habis-habisan oleh And tanpa henti.
"Orgh!!"
"Argh..!!"
"Burgh..!!"
Pukulan demi pukulan, terus di terima oleh ayahnya Sonia tanpa henti, membuat wajahnya terlihat berlumuran darah yang sangat banyak, bahkan baju putihnya kini berubah menjadi merah karena sudah bercampur dengan darahnya sendiri. Tubuh yang hampir lemas masih dipaksa untuk menerima pukulan yang bahkan bisa mematahkan tulang rusuknya.
Beberapa jam kemudian...
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Cahaya matahari mulai sedikit kelihatan. And sudah terlihat memegangi tangan ayah Sonia yang terlihat lemas tak berdaya, dengan keadaan sedang bertekuk lutut dihadapan And. Bahkan matanya saja tinggal sebelah saja yang dapat dia buka, karena terlalu banyak menerima pukulan And yang sangat keras itu.
"Orgh!!"
And sudah melempar ayahnya Sonia ke sampingnya. Ayah Sonia langsung lemes tidak berdaya lagi, dalam keadaan terlentang menghadap langit-langit. Dia hanya tersenyum karena sebentar lagi dia akan mati.
"Argh...!!"
"Krak..!!"
Teriakan yang begitu keras terdengar. Ayah Sonia langsung berteriak-teriak kesakitan, karena salah satu kakinya di injak And sampai patah. Ayah Sonia terlihat berguling-guling dilantai menahan rasa sakit itu.
"Sialan!! Cepat bunuh aku!!"
Ayah Sonia yang berteriak-teriak agar And membunuhnya dengan cepat. Agar dia tidak merasa sakit lagi, namun ucapannya itu tidak di dengar And sama sekali.
"Kamu bajingan gila!!"
Ayah Sonia terus berteriak-teriak kepada And yang sudah terlihat berjongkok di dekatnya. Dia juga sedikit merasa takut karena And terlihat memegangi salah satu kakinya yang belum patah.
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan kakiku?"
Ayah Sonia terlihat takut, dia sedikit memberontak agar kaki yang di pegang And dapat terlepas. Dia berusaha memutar tubuhnya untuk menjauh dari tempat And. Namun usahanya sangatlah sia-sia, pegangan yang begitu erat, membuat ayah Sonia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa pasrah menerima siksaan itu.
"Krak..krak..!!"
"Arghhh..!!"
Satu demi satu, jari kaki ayahnya Sonia dipatahkan oleh And. Tangisan kesakitan terus terdengar karena siksaan itu. Dia sangat menyesali perbuatannya selama ini, dia ingin sekali meminta maaf kepada And, namun dia tidak dapat lagi mengucapkan beberapa kata, karena tubuhnya sudah mulai tidak dapat di rasakan lagi. Semuanya hampir mati rasa akibat siksaan And yang sangat brutal.
"Hah!! Hentikan ini!!"
Tiba-tiba Sonia langsung berlari mendorong And yang lagi mematahkan salah satu kaki Ayahnya. Dia juga langsung memukuli And dengan sebuah balok kayu yang di bawanya dari tangga. Pukulan yang mengenai belakang kepala And, membuat dia sedikit pusing dan sedikit kesusahan untuk berdiri.
"Ayah!! Cepat kita kabur dari sini!!"
Sonia yang berusaha memapah ayahnya untuk menaiki helikopter. Dia berusaha mengangkat ayahnya yang sudah terlihat pingsan. Setelah berhasil menaikkan ayahnya ke helikopter, dia langsung segera mengambil kemudi dan secepatnya kabur dari sana. Untungnya Sonia sudah jago dan terlatih membawa helikopter itu. Mereka akhirnya berhasil kabur dari sana, dia sudah terlihat lega karena berhasil menyelamatkan ayahnya dari kematian.
And yang tadi kena pukulan itu sekarang sedikit terlihat memegangi kepalanya yang sakit. Dia berusaha berdiri namun tidak bisa, badannya tidak mau lagi mengikuti keinginannya dan dia langsung jatuh dengan keadaan tengkurap. Terlihat tangan yang begitu lemas mencoba untuk bangun. Semua usahanya sia-sia dan akhirnya dia pingsan karena terlalu memaksakan diri.