Detective Kill

Detective Kill
Bab 3 Penyesalan Dimasa Lalu



"Bu, masakan ibu memang yang terbaik" And yang memuji ibunya di meja makan.


"Ya sudah habiskan makanannya" ucap ibu terlihat senang And yang mulai mau berbicara dengannya.


"Kakak!, malam ini kamu bekerja tidak?" tanya adik.


"Kerja apa?" jawab And yang lupa dengan masa lalunya.


"Sayang, kamu kerja di pelabuhan" ucap ibu mengingatnya ketika And dulu izin keluar rumah.


"Hah!, sejak kapan aku kerja kepelabuhan" pikir And sambil mengingat kejadian dimasa lalu.


"Oh baru ingat, itu kan alasan aku saja untuk keluar rumah" pikir And lagi dengan penyesalan apa yang telah dia lakukan waktu dulu. "Oh, And sudah di pecat bu" ucap And dengan berbohong.


"Tidak apa-apa nanti kamu dapat kerja yang lebih baik lagi" ucap ibu dengan memberikan semangat.


"Iya bu!, makasih Ibu dan Riri sudah semangati And yang bandel ini.


"Yang kasih kamu semangat kan cuma ibu" Riri yang mengejek kakaknya.


"Bu, lihat nih Riri!" menunjukkan wajah And kesal terhadap adiknya.


"Dasar adik tak be.. berprikem...manusiaa" ucap And yang kesusahan.


"Hahaha gitu saja tidak bisa mengucapkannya" ejek Riri sambil tertawa.


"Beperi...beperi..manusiaaa..beperi.."ucap Riri kesusahan dan menahan malu terhadap kakaknya.


"Hahaha itu kan kena karmanya" And yang mentertawakan adiknya.


"Hehhh?" Riri yang meninggalkan meja makannya.


"Cieee..sekecil merajuk" ejek And didepan meja makan.


"Apaan sih, aku sudah kenyang" ucap Riri yang pura-pura tidak mengambek. "Kakak, jahat!" ucap Riri sambil membuka pintu kamarnya.


"Ya...ya.. kakak adalah iblis terkuat di muka bumi ini" And yang tidak peduli dengan perasaan adiknya.


"And tidak boleh seperti itu dengan adikmu" bujuk ibu menasehatinya.


"Tidak bu!, And cuma suka bercanda sama Riri" ucap And merayu pada ibunya. "Ibu, keuangan kita tinggal berapa lagi" tanya And sedikit penasaran.


"Masih banyak And, tabungan ayah dan gajih pensiun nya masih cukup buat kamu kuliah nanti" ucap ibu sambil tersenyum kepadanya.


"Ibu!, jangan berbohong kepada And" ucap And dengan terlihat sedih. "Ibu!, sebenarnya aku tau, ibu berhutang pada rentenir saat kuliah dulu" pikir And.


"And mengapa kamu sedih" tanya ibu sambil mendekati And yang sudah berdiri mencuci piring.


"Ibu! aku akan membuat keluarga kita bahagia" And yang menangis sambil memeluk ibunya.


"And mengapa kamu terlihat berbeda kali ini" ucap ibu yang terkejut. "Apa kamu tidak bahagia dengan sekolahmu" tanya ibu dengan lembut.


"Tidak bu!, And cuma ingin berbakti pada ibu saja" tangis And yang masih memeluk dengan erat.


"Kamu fokus saja sekolah dulu And" ucap ibu yang mulai meneteskan air mata.


"Ibu!, And janji akan membuat keluarga ini bahagia, And janji bu!" tangis And yang tak bisa di hentikan.


"Ayah mu pasti bangga And, melihat dirimu yang sudah berubah" tangis ibu yang memeluk And dengan erat.


"Kakak, kamu sekarang berubah" pikir Riri yang menahan air matanya di balik pintu kamar. "Kakak, Riri janji tidak cengeng lagi" pikir Riri yang sambil menangis dibalik pintu kamar.


"Ya sudah, besok kamu sekolah cepat tidur sana" ibu yang pelan-pelan melepaskan pelukannya. "Nanti kamu kesiangan besok" ibu yang sambil mengusap air matanya.


"Iya, jangan larut tidurnya, tidak baik remaja seperti kamu itu larut tidurnya (begadang)" tegas ibu And.


"Dah ibu! selamat malam ibu" ucap And menaiki tangga.


"Malam And" ucap ibu dengan senyuman.


"Sayang, And kita sudah dewasa" ucap ibu didalam kamar sambil memegang foto keluarga. "Sekarang dia mirip banget sama kamu" ibu And yang berbicara sendiri sambil menangis. "Semenjak kamu pergi, And sangat sedih. Dia bahkan tidak peduli sama keluarga ini. Bahkan dia jarang sekali pulang ke rumah. Kini aku harus berhutang pada rentenir untuk membuat And senang. Sekarang dia sudah mau berbicara sama kami, aku sangat senang sayang. Semoga kamu bahagia sayang di alam sana" ucap ibu dengan bahagia memandangi foto suaminya.


"Adakah pekerjaan malam di sekitar sini yang bisa aku kerjakan" ucap And di depan komputer yang sedang mencari web lowongan kerja. "Aku bekerja jadi polisi ketika sudah lulus kuliah. Tapi aku ingin bekerja malam saat pulang sekolah. Agar aku bisa lunasi hutang ibu secepatnya. Aku tidak boleh malas untuk membahagiakan keluargaku" ucap And dengan menunjukkan keinginan besarnya.


"Mereka akan disakiti saat mereka tidak bisa membayar hutang" pikir And mengingat masa lalu. "Mereka meninggal saat aku pergi dari rumah ini, sial durhaka banget aku waktu dulu" pikir And dengan penyesalan terbesarnya.


"Apa aku jadi penulis novel saja ya!. Sekarang banyak orang-orang yang suka membaca novel" menunjukkan wajah And yang mendapatkan sebuah ide. "Coba sajalah buat novel. Apa menceritakan tentang aku yang kini kembali ke masa lalu saja" menunjukkan wajah And yang bahagia karena ide ini. "Wah bagus juga sepertinya" pikir And dengan bahagia.


"Cari aplikasinya dulu" And yang mencari di web komputernya. "Wah bagus nih aplikasinya, penggunanya juga banyak" menunjukkan wajah And yang tertarik dengan web itu. "Daftar dulu ah" ucap And. "Besok saja buat novelnya" menunjukkan mata And yang mulai mengantuk. "Sekarang sudah jam 11 malam, besok aku harus sekolah" ucap And yang berbaring di kasur. "Ya tuhan, makasih dengan kesempatan ini, aku akan merubah perilaku yang tidak baik dulu" ucap And dengan tulus berbaring di kasurnya.


"Kakak, sudah pagi!" suara Riri dibalik pintu kamar.


"Iya..iya kakak bangun" ucap And yang masih mengantuk. "Padahal ini masih pagi Riri" ucap And yang masih mengantuk.


"Pagi apanya, ini sudah jam setengah 7" ucap Riri di balik pintu.


"Hah! benarkah" memperlihatkan And yang terkejut mendengar suara adiknya. "Wah, telat nih" ucap And yang membuka pintu kamar dengan terburu-buru.


"Mandi dulu kakak!" ucap Riri yang menyilang kedua tangannya.


"Iya..iya adikku yang imut" And yang sambil memegang kepala adiknya.


"Emmm" memperlihatkan wajah Riri yang memerah saat kepalanya disentuh oleh kakaknya sendiri.


"Bu! And berangkat dulu ya" ucap And dengan terburu-buru.


"Sarapan dulu And" ucap ibu di depan meja sambil menyiapkan makan.


"And makan roti saja, soalnya tidak sempat lagi" And yang menaruh roti di mulutnya dengan terburu-buru. "And berangkat dulu bu!, Riri jaga ibu ya" ucap And yang membuka pintu rumah.


"Iya! Kakak And" ucap Riri dengan senyuman.


*****


"Semoga tidak terlambat" ucap And sambil berlari dengan sepotong roti di mulutnya. "Bisa-bisanya aku terlambat begini" ucap And dengan kesal.


"Sudah lama aku tidak merasakan suasana ini" menunjukkan wajah And yang bahagia. "Aku akan merubah masa depan yang bahagia" ucap And sambil berlari. "Untung badanku saat ini sangat kuat" menunjukkan kebahagiaan And. "Aku tidak akan mengecewakan kesempatan ini" teriak And sambil berlari.


"Tiba-tiba..."


"Siapa wanita itu" pikir And sambil berlari. "Sepertinya tidak asing bagiku" pikir And lagi setelah berpapasan dengan seseorang adik perempuan yang duduk di bangku taman. "Mengapa aku merasa dekat dengan dirinya" pikir And sambil berlari. "Tapi siapa ya" pikir And yang hampir sampai di gerbang sekolah.


*****


"Tunggu pak satpam" And yang menghentikan pak satpam menutup gerbang. "Izinkan aku masuk dulu pak" menunjukkan And yang masih terengah-engah.


"Cepat waktunya sudah hampir habis" ucap pak satpam melihat jam tangannya.


"Ih jahat amat pak" ucap And merayunya.


"Dasar anak nakal" ucap pak satpam sedikit kesal kepadanya.


"Hehe..Saya tidak nakal pak" sambil meninggalkan pak satpam.


"Jaman sekarang anak-anak tidak tahu caranya menghormati orang yang lebih tua" ucap pak satpam. "Sudahlah" ucap pak satpam sambil menutup gerbang.