
"Bos, kami sudah berada di perjalanan menuju sekolahan?" Duduk di kursi belakang mobil, lelaki muda dengan pakaian berjas hitam, rambut berwarna merah, sedang menjawab telepon dari bosnya, dia bernama Viki. Salah satu tiga bawahan langsung dari bos organisasi berjas hitam.
"Baiklah, hati-hati di sana? Harus tetap waspada informasinya dia juga memiliki beberapa bawahan terlatih, jangan sampai kamu lengah sedikitpun?" Suara lelaki terdengar dari teleponnya.
"Baik bos, kita akan menangkap dia hidup-hidup. Bos tenang saja, operasi kali ini akan sangat cepat?" Wajah yang begitu yakin mengatakan kesanggupannya menghadapi organisasi And.
"Baiklah semuanya kita akan bersenang-senang di sekolahan anak-anak! Untuk mencari tikus yang sedang bersembunyi di sana?" Dia berteriak menggunakan alat untuk berkomunikasi dengan bawahannya.
*****
"Ada apa Zero? Kenapa kamu menghubungiku beberapa kali?" And yang terlihat menjawab telepon Zero tidak jauh dari ruangan acara kelulusan adiknya.
"Gawat!! Semua orang di sekolah ini dalam bahaya??" Suara Zero yang sedikit panik memberikan informasi kepada And lewat telepon.
"Jelaskan, kenapa dalam bahaya? Padahal organisasi berjas hitam tidak terlihat?" And sedikit panik mendengar ucapan Zero yang tiba-tiba.
"Pemimpin sudah lihat pesan? Semua, ah.. bahkan itu hampir ratusan orang yang akan kesini? Kita sepertinya menang jumlah, tapi orang-orang didalam area sekolahan ini sudah jadi sandera mereka?" Suara Zero yang memberikan informasi keadaannya.
"(???)"
Wajah And langsung di penuhi keringat, karena keluarganya akan dalam bahaya. And terdiam mendengarkan suara Zero, yang masih menjelaskan situasi dari pantauannya di atas atap sekolah.
"Beberapa orang berjas hitam sudah menyamar untuk memasuki sekolah ini? Mereka juga memiliki senjata api? Riri dan ibu masih berada di atas panggung, di dalam ruangan mereka masih menyamar. Mungkin mereka sedang mencari pemimpin, atau mereka juga tidak tahu siapa keluarga pemimpin sebenarnya. Jadi saat ini masih aman, untuk saat ini semoga pemimpin bisa berhati-hati di ruangan itu, jangan sampai tertembak. Jika itu terjadi, pemimpin akan berakhir dengan kematian?"suara Zero yang sedikit gugup menjelaskan karena sedikit merasa perang ini mungkin ada korban.
"Tenang saja, kita akan melakukan tugas ini dengan cara profesional. Jangan sampai ketakutan itu menjadi penghalang dari tugas kita kali ini?" And yang berusaha mengirimkan suaranya kepada semua bawahannya dengan alat khusus yang dia gunakan untuk berkomunikasi.
--
Puluhan mobil menerobos gerbang sekolah, memasuki area yang telah di kelilingi ratusan bawahan And, yang sedang bersembunyi di berbagai tempat. Mereka langsung menyerbu ke seluruh sekolah menggunakan senjata api, agar tidak ada satu orangpun yang bisa melawan atau memberi tahukan polisi. Organisasi berjas hitam itu langsung memasuki ruangan acara, dan menembakkan beberapa peluru untuk memberikan sedikit peringatan, agar semua orang berdiam. Namun And yang begitu pintar, tidak akan kalah dengan organisasi yang pernah dia bantai di Jepang, dia memanggil seluruh polisi yang ada di kota, untuk segera datang ke sekolahan adiknya.
Beberapa menit kemudian...
"Bos gawat!! Beberapa puluhan mobil polisi menuju kesini?" Salah satu bawahan Viki yang terengah-engah memberikan kabar.
"Tidak apa-apa dengan polisi? Mereka tidak akan berani bertindak jika kita memiliki sandera begitu banyak di ruangan ini?" Viki yang sedang berdiri di atas panggung melihat semua sandera yang duduk rapi di lantai.
--
"Satu, dua, ..., Tiga puluh? Semua di ruangan ini ada tiga puluh orang berjas hitam, bagaimana caraku untuk melumpuhkan mereka semua?" And yang sedang duduk menjadi sandera, dan memikirkan cara untuk menyelamatkan semua sandera yang ada di ruangan ini.
"Nak, apa kau pernah melihat orang ini di ruangan ini?" Salah satu lelaki berjas hitam menanyakan kepada anak perempuan di depan barisan, foto itu adalah wajah And.
"Aku tidak pernah melihatnya om? Aku baru sekolah disini? Aku tidak tahu?" Anak itu menangis ketika lelaki berjas hitam itu menanyainya.
"Ah.. begitu saja sudah menangis? Kalau tidak diam aku bunuh kamu?" Lelaki itu mengancam anak perempuan itu untuk menghentikan tangisnya yang berisik. Dengan mengarahkan senjatanya ke kepala anak perempuan itu.
"(....)"
Semua langsung terdiam, setelah mendengar ancaman lelaki itu jika berisik dalam ruangan ini.
--
Puluhan mobil polisi mengelilingi area sekolah, mereka menunjukkan senjata mereka, untuk mengancam organisasi berjas hitam untuk menyerahkan diri secara baik-baik.
--
"Hadeh.. mengganggu saja mereka ini? Mungkin di beri sedikit peringatan boleh juga sepertinya?" Viki yang berjalan menuju jendela sekolah untuk melihat kumpulan orang-orang yang mengganggunya sedang berada di bawah.
"Durr"
Bunyi tembakan dari lantai atas sekolah, yang mengarah kepada salah satu polisi yang berjaga di bawah bangunan sekolah itu.
"Ahgrr"
Jeritan polisi yang terkena tembakan di bahunya, polisi lainnya langsung berlindung di balik mobil mereka, karena serangan Viki tadi.
"Hahaha. Seru sekali!!"
Viki yang tertawa melihat tembakannya tidak meleset, dia tertawa sambil berjalan menuju atas panggung lagi. Semua sandera yang melihat kekejaman Viki langsung gemetar ketakutan melihatnya. Mereka hanya menundukkan kepala dan tidak berani memandangi Viki yang terus tertawa memegangi senjata.
"Ambilkan aku pengeras suara juga? Sepertinya seru bermain sambil mencari targetku? Terus cari dia di kerumunan tikus-tikus penakut ini?" Viki yang memerintah segera temukan And yang berada di kerumunan sandera.
"Ting.."
Pesan dari Zero yang berhasil menemukan posisi yang tepat, untuk memantau keruangan And dan keluarganya berada.
"Bagus Zero. Kau selalu bisa di andalkan, waktunya sangat tepat, jika tidak aku akan mati terbunuh di tempat ini?" Gumam And terlihat senang melihat pesan dari Zero.
"Kami siap mendengarkan perintah?" Terlihat semua bawahan Zero, penembak jitu sudah berada di atas atap, siap membidik target yang berada di ruangan And.
"Tolong jangan bunuh mereka, pastikan untuk tidak mengenai tempat yang bisa membuat mereka mati?" And yang bergumam memerintahkan semua penembak jitu lewat alat khusus.
"Baik pemimpin!"
Semua penembak jitu mendengar perintah And, yang sudah mulai bersiap-siap untuk segera membidik sasaran mereka.
"Satu, dua, tiga!!,...Durr!"
Puluhan tembakan menembus kaca jendela. Peluru yang berasal dari bangunan sebelahnya, langsung lurus mengenai beberapa target. Viki yang begitu profesional langsung menangkis peluru yang menuju bahunya, dengan melempar senjatanya sendiri, agar membuat peluru itu tidak mengenainya. Dia langsung berlari keluar ruangan untuk menuju tempat aman. And yang melihatnya langsung berdiri untuk mengejar Viki agar tidak bisa melarikan diri. Namun itu hanyalah tipuan Viki saja untuk memancing And keluar dari kepura-puraannya menjadi sandera.
"Durr"
Suara tembakan yang berasal dari kerumunan sandera. Peluru itu mengenai perut samping And, membuat And sedikit mengalami luka. Tapi dia tetap meneruskan untuk mengejar Viki. Setelah kerumunan sandera mengetahui bahwa salah satu dari mereka ada yang menyamar, mereka memberanikan diri untuk memukuli orang yang telah menembak And. Dan akhirnya Sandera selamat, namun mereka tidak dapat keluar dari ruangan itu. Karena masih banyak bawahan organisasi berjas hitam menjaga bangunan itu.
"Ah..luka ini memperlambat aku mengejarnya?" And yang terus berlari mengejar Viki sambil memegangi luka dari tembakan itu.
"Haha.. rupa-rupanya kau juga bodoh?" Viki yang tertawa mengejek And yang berhasil dia pancing.
Akhirnya mereka berdua berada di sebuah ruangan yang aman dari pantauan sniper bawahan And. Ruangan seni yang di penuhi alat-alat musik dan tidak ada senjata tajam. Viki begitu tersenyum bahagia melihat And yang sudah banyak mengeluarkan darah dari luka tembakan itu. And masih terengah-engah memandangi musuhnya yang terlihat kuat darinya. And berusaha membalut lukanya dengan baju tipis yang dia gunakan di dalam jaket.
"Baiklah aku akan menunggumu membalut luka itu? Aku tidak mau musuhku tidak serius menghadapiku?" Viki yang sedikit percaya diri dengan kekuatannya untuk menghadapi And yang sudah terluka.
"Selesai, kali ini aku akan sedikit memberikan kamu hukuman ringan, ya itu sedikit mematahkan lengan atau kakimu?" And yang terlihat sudah tidak memakai baju, dan perut yang di perban oleh kain bajunya untuk menghentikan pendarahannya.
"Oh benarkah. Apa kau begitu percaya diri?" Viki sedikit berjalan perlahan mendekati And yang sudah bersiap-siap menangkis serangan jika Viki langsung tiba-tiba menyerangnya.