Detective Kill

Detective Kill
Bab 23 Kehidupan Mempunyai Seorang Istri



And sekarang berada dikelasnya untuk mengikuti pelajarannya seperti biasa, berhubung And masih mahasiswa kuliah, dia tidak bisa terlalu banyak izin untuk tidak menghadiri kelasnya tersebut. Karena And ingin menjadi lebih pintar lagi dari masa depan yang telah dia lalui dulu, dia berusaha sangat keras dalam pembelajarannya di kampus. Setelah jam pelajaran berakhir And biasa istirahat di taman kampusnya, namun dia sangat terkejut ketika Yuna beberapa kali menelponnya, membuat And sedikit khawatir dengannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" And yang kembali menelpon Yuna.


"Kenapa kamu tidak mengangkat teleponnya dari tadi sayang?" Yuna yang sedikit kesal dengan And.


"Tadi aku sibuk jadi teleponku jadikan mode senyap" And yang menjelaskan kepada Yuna agar dia tidak marah lagi.


"Kakek ingin bertemu dengan kamu saat ini, apakah kamu bisa pergi sayang?" Yuna yang bertanya kepada And dengan sedikit suara rayuan.


"Hah! kakek?" And yang sedikit kaget mendengarnya.


"Iya, kita kan baru saja menikah, kakek ingin bertemu dengan suami baru aku, apa tidak boleh!" Yuna yang menjelaskan kepada And untuk tidak menunda-nunda lagi.


"Emmm.. tapi 10 menit lagi aku akan masuk kelas, mungkin bisa 2 jam kelas akan berakhir, bagaimana aku bilangnya ya?" And yang berusaha memikirkan alasannya untuk menunda pertemuannya dulu. "Meeting aku mungkin 2 jam lagi habis, jadi tunggu sebentar lagi, nanti kirim saja alamatnya agar nanti aku bisa ke sana setelah urusan aku selesai disini" And yang berusaha memberikan alasan untuk Yuna agar membujuk kakeknya.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama" Yuna yang berusaha menjadi istri yang pengertian.


"Bagaimana sayang, apakah dia bisa kesini?" kakek yang sedang bertanya kepada Yuna tentang And.


"Sekitar 2 jam lagi kek, katanya dia masih dalam meeting, setelah meeting dia akan kesini, maaf ya kakek menunggunya lama" Yuna yang berusaha membujuk kakeknya.


"Tidak apa-apa, biarkan saja dia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu" kakek yang berusaha mengerti dengan menantu cucunya.


"Makasih kakek, Yuna sayang kakek" Yuna yang terlihat senang dan memeluk kakeknya.


Di taman And sedikit khawatir setelah wanita itu menelponnya, And merasa urusannya bertambah kacau setelah bertemu dengan wanita itu. Balas dendam saja tertunda hanya gara-gara merawat wanita yang mengalami hilang ingatan itu, sekarang And disuruh menemui anggota keluarganya yang ada di sini, bagaimana jika anggota keluarganya tahu And yang bukan suami aslinya. Karena And yang tidak ingin terlibat masalah lebih dalam, And hanya bisa menjelaskan sebenarnya nanti di rumah kakeknya tersebut.


*****


Akhirnya jam pelajaran kelas And berakhir, dia segera pergi ke alamat rumah yang telah di kirim Yuna, tanpa And sadari rumah yang ditujunya adalah rumah orang terkaya di sana. Setelah And sampai di depan pagar rumah, dia di sambut oleh beberapa pelayan dan dilayani seperti tamu terhormat. Dengan layanan tersebut membuat dirinya sedikit terkejut karena tidak terbiasa, bahkan jasnya di minta untuk di bawa oleh pelayan, And terkejut dengan pelayanan yang ada di sana seperti setingkat bangsawan, And sedikit khawatir setelah memasuki rumah yang begitu besar dan di antar oleh beberapa pelayan untuk menemui tuan besar yang sudah menunggu di ruang tamu bersama Yuna.


"Sayang akhirnya kamu sampai" ucap Yuna yang sedang duduk di samping kakeknya.


"Salam kakek" ucap And sedikit gemetar dan menunjukkan rasa hormatnya.


"Tidak perlu terlalu sopan, duduklah dulu" ucap kakek yang sedikit senang dengan sopan santun And kepadanya.


"Baik kakek" And yang segera berjalan menuju tempat duduk di atas sofa.


"Bagaimana pekerjaan kamu disini?" Kakek yang bertanya tentang pekerjaan And di Indonesia.


"Semuanya sudah selesai kek" sahut And dengan terlihat sedikit gugup. "Bagaimana berkata jujur ya, wajahnya saja sedikit seram" pikiran And yang sedikit takut dengan lelaki tua yang ada didepannya.


"Kalian boleh tinggal beberapa hari dulu disini, sambil menikmati hari-hari pengantin baru" ucap kakek terlihat senang bisa bersama dengan cucu perempuannya.


"Makasih kek, tapi kami tidak mau ngerepotin kakek, kalau kami tinggal disini" ucap Yuna menjelaskan kepada kakeknya.


"Tidak ngerepotin, malahan kakek senang, kakek hanya tinggal di rumah ini sendiri!" Jelas kakeknya kepada Yuna untuk membujuk cucunya.


"Sendiri apaan?, dengan pelayan puluhan gini" pikir And sedikit kesal dengan tingkah laku kakeknya yang begitu sayang dengan cucunya.


"Kamu juga mau tinggalkan disini bersama Yuna" ucap kakek yang sedikit melotot ke wajah And.


"Iya..iya kita akan tinggal beberapa hari disini sampai kita memutuskan untuk pulang" ucap And yang tiba-tiba kaget melihat mata kakeknya yang melotot kepadanya.


"Lihat Yuna suami kamu saja mau" ucap kakek dengan tersenyum dengan cucu yang sedang berada disampaikan.


Merekapun mengobrol banyak pertanyaan yang ditanyakan kepada And oleh kakeknya, untung dengan bantuan Yuna, And tidak kesulitan dalam menjawabnya. Pernikahan mereka baru sekitar lima hari di Jepang, namun dengan paksaan kakeknya terhadap orang tua Yuna agar Yuna pergi segera menemui kakeknya. Setelah And mendengar dari penjelasan Yuna, And menyadari bahwa Yuna adalah cucu dari orang yang begitu kaya, dengan pemikiran And mungkin Yuna hanya di culik oleh organisasi berjas hitam untuk dimintai tebusan. Mereka juga makan malam bersama, akhirnya dimana And dan kakeknya ingin berbicara secara berduaan di meja makan.


"Aku hanya berpesan jangan pernah buat cucu aku menangis" tegas kakeknya kepada And untuk selalu menjaga Yuna.


"Baik kek" And hanya bisa mengiyakan di kerena dia berada di rumah kakek Yuna sendirian yang dengan dipenuhi puluhan pelayan dan penjaga yang And lihat mereka semua adalah ahli.


"Bagus, aku suka jawabannya" kakek yang sedikit menyukai And.


"Apa aku kasih tahu saja tentang apa yang sudah terjadi dengan Yuna" And yang berpikir untuk memberi tahu kakeknya Yuna.


"Sepertinya kamu, ada yang kamu pikirkan" kakek yang sedikit penasaran dengan perilaku And di hadapannya.


"Ah kakek tidak ada, aku hanya memikirkan beberapa pekerjaan yang masih belum aku selesaikan" And yang sedikit kaget menjelaskannya.


"Oh baiklah, hari sudah malam nikmati malam pengantin kalian, agar aku bisa melihat kalian juga punya anak nantinya" kakeknya yang sedikit senang menantikan kehadiran anak kecil.


"Haha kakek bisa saja, kami baru juga menikah" And yang sedikit tertawa dengan ucapan kakeknya.


Setelah pembicaraan selesai, And di antar ke kamar yang sudah disediakan oleh kakeknya Yuna, dengan kamar yang di penuhi bunga merah dan suasana yang begitu romantis, didalam Yuna yang sudah menunggu kedatangan And dikamar itu, mengenakan pakaian yang begitu cantik, And yang melihatnya seketika terpesona dengan kecantikannya. And yang masih sadar berusaha menghindarinya dan berjalan menuju kamar mandi, alasan And agar tidak terlalu dekat dengan wanita yang begitu cantik, dan berduaan di dalam kamar itu sangat berbahaya jika belum menikah.


"Ah mengapa aku berada di situasi yang sangat membahagiakan ini, eh maksudnya di situasi yang begitu berbahaya" And yang sedang bercermin di dalam kamar mandi.


"Sayang apa kamu sedang mandi" suara Yuna yang memanggil And.


"Iya aku mau mandi dulu" ucap And yang sedikit gugup. "Apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku mencari alasan kali ini" gumam And mencari cara agar tidak melakukan hal yang dia tidak ingin lakukan.


"Jangan terlalu lama, nanti kamu bisa masuk angin kalau mandi malam terlalu lama" Yuna yang mengingatkan And untuk cepat-cepat keluar.


Beberapa menit kemudian...


And akhirnya selesai mandi, dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian baru, namun pakaiannya hanya tersedia jas dan pakaian biasa tidak ada, And yang hanya menggunakan baju handuk melirik-lirik ke atas kasur yang telah di pandangi oleh Yuna dengan senyuman manis.


"Sayang kamu mencari apa?" Yuna bertanya dengan senyumannya.


"Baju kaos aku mana, masa baju jas saja yang ada disini" ucap And yang sedikit khawatir.


"Buat apa kamu pakai baju kaos kalau tidur" Yuna yang masih tersenyum di atas kasur menjawab pertanyaan And.


"Kalau aku kedinginan gimana?" Ucap And yang masih mencari alasan.


"Ini ada selimut, kamu itu jangan banyak alasan?" Yuna yang mulai kesal dengan tingkah lakunya And. "Ini juga pertama kalinya bagi aku, jadi jangan malu-malu seperti itu" Yuna yang terlihat malu mengatakannya.


"Hah!" And yang sedikit kaget dengan ucapan Yuna, bahwa dia belum pernah melakukannya dengan suaminya. "Tapi bisa tunggu aku siap dulu tidak" And yang berusaha memberikan alasan lagi.


"Baiklah" Yuna yang sedikit kecewa dengan permintaan And. "Cepat kita tidur" ucap Yuna dengan memberikan ruang di sampingnya.


"Baiklah" And yang pelan-pelan menaiki kasur.


"Bruk"


"Ah tidak"


And yang tiba-tiba tersandung saat menaiki kasur karena terlalu gugup dalam situasi yang begitu menegangkan.