
Beberapa tahun sudah berlalu..
"Bu! Cepat, nanti Riri terlambat!"
Terlihat Riri yang terburu-buru pergi keluar rumah dengan memakai pakaian perpisahan sekolahnya. Dia sekarang sudah berumur 19 tahun, saat ini dia akan pergi ke sekolah bersama ibunya. Dalam acara perpisahan sekolah di SMA.
"Sebentar, ibu lupa menaruh ponsel!, Kamu masuk ke mobil saja lebih dulu, nanti ibu akan menyusul" ibu yang terlihat masih mencari ponselnya di semua tempat.
"Biarkan pelayan saja yang akan mencarinya, aku akan terlambat nanti bu!" Riri yang terlihat sudah menarik-narik tangan ibunya untuk segera pergi ke sekolah.
"Ya sudah. Pelan-pelan nanti jatuh!"
Ibunya yang sudah mengikuti Riri untuk keluar rumah. Ibunya juga terlihat masih sedikit khawatir takutnya ada orang yang meneleponnya nanti.
"Apakah sudah siap?" Tanya supir pribadi kepada mereka.
"Iya, cepat kita ke sekolah, jam sudah pukul 08.25 bisa-bisa aku terlambat dengan acaranya" Riri yang terlihat menyuruh supirnya untuk pergi secepatnya.
*****
"Kenapa ponsel ibu tidak aktif? Apa dia sedang sibuk. Ya sudahlah, nanti saja aku hubungi lagi" And yang sudah berada di bendara pesawat di Indonesia.
Akhirnya And pulang ke Indonesia dalam beberapa tahun yang sudah berlalu. Dia juga tidak tahu bahwa ibu dan adiknya sedang pergi dari rumah, dia ingin mengejutkan mereka bahwa dia sudah pulang.
"Selamat datang pemimpin. Bagaimana urusannya di Jepang" terlihat Zero sudah baik-baik saja, namun dia juga terlihat memiliki bekas luka di wajah, akibat sayatan pisau dari pertarungannya dulu.
"Wah! Zero kamu sudah sehat. Kapan kamu sudah bangun?" Terlihat And terkejut bahwa yang menjemputnya adalah Zero, dia juga langsung memeluknya sangat erat.
"Lima bulan yang lalu, saat itu aku khawatir kamu tidak ada di Indonesia, ternyata kamu pergi ke Jepang. Semua nomor kamu tidak dapat di hubungi, semua orang khawatir namun nyonya besar memerintahkan kita untuk menunggu, jadi kami terpaksa mengikutinya, namun jika kamu tidak ada kabar sama sekali, kami akan berusaha mencarinya ke sana!" Zero yang sedikit menjelaskan keadaan tentang sesuatu yang sudah terjadi semenjak And tidak ada di Indonesia beberapa tahun ini.
"Aku sibuk banget, semua perusahaan di sana tugasnya tiba-tiba numpuk. Jadi mau tidak mau, aku harus mengerjakannya. Sangat sulit untuk menghubungi ke Indonesia, menyentuh ponsel saja tidak bisa, dan ponselku mati kehabisan baterai beberapa tahun" And yang berusaha menjelaskan tentang sesuatu yang sudah And alami di Jepang beberapa tahun ini.
"Baiklah, sebaiknya kita pulang sekarang. Masukkan tas dan kopernya ke bagasi mobil. Oh iya, bagaimana masalah tentang keluarga yang kamu rawat juga di sana?" Zero yang penasaran tentang keluarga Yuna yang pernah And ceritakan kepada salah satu bawahannya dulu.
"Jangan bahas itu dulu, kita pulang saja!" Terlihat wajah And yang tidak mau membahasnya, dia juga terlihat sedih ketika mengingatnya.
"Baik pemimpin!"
Zero langsung menjalankan mobilnya untuk menuju rumah, dia sedikit gugup karena melihat wajah And yang tiba-tiba berubah. Dia juga tidak berani bertanya dan berusaha untuk tidak ingin mengganggu urusan And.
--
Akhirnya mereka sampai ke halaman rumah. Dia sempat terdiam sejenak melihat pemandangan rumahnya yang sudah lama dia tidak lihat, air matanya mulai menetes sedikit, karena sekarang dia bisa bertemu dengan keluarganya lagi. Dia langsung masuk kedalam rumah, dan mencari-cari ibu dan adiknya.
"Hah! Kemana mereka? Apa mereka sedang pergi?"
And yang terlihat bingung karena rumah yang begitu besar saat ini sangat sepi sekali. Bahkan pelayan di rumahnya tidak ada, semua pelayan di liburkan oleh ibunya karena di anggap sebagai hadiah hari dari kelulusan Riri sekolah SMA. And langsung keluar rumah lagi, dia langsung bertanya kepada Zero yang sudah berada di dalam mobil.
"Eh, mau kemana?"
Terlihat And menahan mobil Zero yang sudah hendak keluar pagar rumah. Zero langsung terkejut melihat And berada di depan mobil dengan terengah-engah.
"Ada apa pemimpin?"
Zero yang masih terlihat kebingungan dengan And yang menahan mobilnya. Dia juga langsung keluar mobil untuk berbicara kepada And, tentang apa yang sudah membuat dia mengejar mobilnya ini.
"Oh, aku mau tanya dimana semua orang di rumah, kenapa semuanya tidak terlihat sama sekali?" And yang terlihat masih terengah-engah menanyakan semua orang.
"Semuanya di liburkan oleh ibu, mereka di beri libur 2 hari, jadi dalam dua hari ini meraka libur dan tidak bekerja dulu" Zero yang sudah menjelaskannya secara perlahan-lahan.
"Oh pantas saja tidak ada seorangpun di rumah sebesar ini!" And yang tampak tenang setelah mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu, aku mau ke sekolahan juga, soalnya hari ini ada acara perpisahan. Aku di undang ibu juga untuk menghadiri acara tersebut!" Zero yang sedikit ingin terburu-buru masuk ke mobilnya.
"Hari ini kelulusan adik kamu? Oh iya aku lupa kasih tahu!!" Zero yang menepuk kepalanya karena lupa memberi tahu And tentang acara kelulusan Riri di SMA.
"Sekarang dia sudah lulus apa?" And yang tampak melupakan sekolah adiknya sendiri.
"Dia sudah lulus SMA hari ini, jadi kamu pas banget datang. Sebenarnya dulu, mereka terus tanyakan kabar kamu, namun kamu-nya saja yang tidak dapat di hubungi dalam 7 tahun terakhir ini!" Zero yang mulai mengingatkan And tentang sesuatu yang sudah terjadi kepada adiknya.
"Ya sudah, kita sekalian saja pergi sama-sama ke sekolahan. Aku ingin menemui mereka sebagai hadiah kejutan!" And yang tampak senang ingin menemui mereka di sekolah nanti.
--
"Wah bukankah ini sekolahan ku dulu!, Kenangan sekali. Makin banyak saja muridnya!" And yang tampak terkejut memasuki halaman sekolah SMA-nya dulu.
"Woii, bukankah kamu And?" Seorang laki-laki yang mendekati And dengan menggunakan sebuah pakaian olahraga.
"Siapa kamu? Sepertinya aku tidak kenal?" And yang tampak bingung melihat lelaki itu, karena badannya yang terlihat besar. Dia tidak pernah memiliki kenalan yang berbadan besar.
"Haha..aku ini Fizi, masa kamu tidak mengenalinya?" Lelaki itu sambil merangkul leher And dengan tiba-tiba.
"Hah?, Sejak kapan Fizi tumbuh sebesar ini?" And yang terlihat tidak mempercayainya, bahwa Fizi waktu dulu lumayan kurus.
"Haha..kamu saja yang tidak ketemu aku! Sekarang aku sudah sukses, jadi makan lebih banyak dari biasanya" Fizi yang tampak bahagia berbicara bersama And.
"Oh, iya. Perkenalkan nama dia Zero!" And yang terlihat memperkenalkan Zero kepada Fizi.
"Wah, dia memiliki luka diwajahnya. Apakah dia seorang gangster disini?" Fizi yang tampak terkejut melihat bekas luka di wajah Zero.
"Haha..ini hanya kecelakaan kecil saja!" Zero yang mulai tertawa sedikit karena berhadapan dengan teman And.
"Aku tahu, kamu kesini menghadiri acara kelulusan adikmu kan?" Fizi yang mulai merayu And lagi.
"Kamu ini mulai lagi ya?, Aku tidak merestuinya?" And yang mulai kembali kesal dengan Fizi.
"Eh, eh. Aku sudah punya istri loh!" Fizi yang tidak terima di fitnah oleh And.
"Wow. Kamu sudah punya istri, kemana istrimu? Kok tidak terlihat?" And yang sedikit melirik-liril sekitarnya untuk mencari istri Fizi.
"Dia sedang berada di rumah, dia ngerawat anak kedua kami?, Aku disini jadi guru olahraga loh, body adik kamu sangat bagus!!"sifat Fizi yang belum berubah sama sekali, dia sangat suka membuat And kesal.
"Mau aku hajar kamu ya!! Oh untungnya hari ini dia sudah lulus, siapa sih yang menerima kamu jadi guru olahraga disini?" And yang berusaha menahan emosinya karena Fizi adalah temannya.
"Ya sudah, aku mau pergi dulu. Acaranya sudah mau dimulai!" Fizi yang sudah terlihat terburu-buru pergi meninggalkan And yang masih berada di depan halaman sekolah.
--
Acara kelulusan akhirnya selesai, And masih tidak berani menemui keluarganya. Karena dia merasa banyak salah, membuat mereka sedih karena sudah tidak pernah memberi kabar semenjak berada di Jepang. Dia terlalu takut untuk bertemu keluarganya saat ini, dia masih berada di depan sekolahan.
"Wow, siapa lelaki tampan itu? Apa dia menunggu seseorang?" Terlihat teman di samping Riri membicarakan And yang berada jauh dari mereka.
"Kamu itu kebiasaan kalau melihat lelaki tampan, nanti kamu di sakiti gimana Vivi?" Riri yang menegurnya karena takut temannya nanti sedih.
"Kita deketin yuk, kalau dia jomblo bisa nikahin aku yang sudah lulus ini?" Lucy yang mulai suka dengan And yang sudah melihat mereka dari kejauhan.
"Tuh!! Dia lihat kesini, aku juga jadi malu kalau kalian bertingkah seperti ini?" Riri yang terlihat malu di lihat oleh kakaknya sendiri dari kejauhan.
--
"Siapa sih mereka, kok dari tadi lihat kesini terus!, Ngeselin saja?" And yang mulai risih dilihat oleh teman-temannya Riri.
"Dimana ibu dan Riri ya! Aku sampai lupa wajah mereka!! Gara-gara aku terlalu lama di Jepang" And yang terlihat sedih sambil berjalan keluar pagar sekolahan.