Detective Kill

Detective Kill
Bab 27 Negara Jepang



Keesokan harinya...


Mereka bersiap-siap untuk pergi ke Jepang, berpamitan dengan kakeknya, sebelum mereka pergi Yuna dan And terlebih dulu dipeluk oleh kakeknya dengan begitu erat. Mereka menaiki mobil bawahannya untuk diantarkan ke bendara pesawat. Kakeknya hanya melambaikan tangannya untuk kedua cucunya. And dan Yuna juga melambaikan tangannya di jendela pintu mobil di kursi belakang.


"Sayang, apa kita beli oleh-oleh dulu buat orang tua kita?" Yuna yang ingin membawa sesuatu dari Indonesia.


"Apa yang ingin kamu beli?" And yang penasaran dengan oleh-oleh yang akan di beli Yuna.


"Ada deh, itu rahasia? nanti kamu juga tahu?" Yuna yang tidak ingin memberi tahu And.


"Ya sudah aku tidak mau menemani kamu!" terlihat And menyilangkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.


"Ciee ngambekkan?" ucap Yuna mengejek And.


"Pfft"


Terdengar suara seseorang yang sedang menahan tawanya di tempat kursi di depan mereka.


"Haha" Yuna tertawa mendengar supir pribadinya tertawa melihat And yang bisa ngambek.


"Hah?, Diam kalian?" And terlihat kesal dengan mereka yang menertawakannya.


"Maaf pemimpin!" suara supir pribadinya yang terlihat takut meminta maaf kepadanya.


"Sayang tidak boleh marah ya?" Yuna yang menegur And untuk tidak marah dengan bawahannya.


Mobil mereka berhenti disebuah mall yang lumayan besar. And dan Yuna membeli beberapa pakaian, kue, cemilan, dan lainnya untuk di bawa ke Jepang sebagai oleh-oleh dari Indonesia. Mereka juga bersenang-senang di dalam mall, beberapa permainan mereka mainkan bersama, makan siang bersama, suana mereka semakin romantis seperti pasangan yang begitu cocok.


"Aaa" terlihat Yuna ingin menyuapi And dengan sebuah daging yang telah dia potongkan untuknya.


"Aku sudah kenyang?" And yang sedikit malu-malu memberikan alasannya.


"Sedikit kok? Masa sudah kenyang!" Yuna yang terus menyodorkan daging di depan mulutnya.


"Aamm, sudah aku makan nih?" And yang sedikit terpaksa memakannya akibat paksaan Yuna.


"Aku juga suapin?" Yuna yang meminta And menyuapinya.


"Tidak mau, banyak orang lihat?" And sedikit merasa malu dilihat orang-orang disekitar.


"Hah?, haha kitakan sudah menikah, kenapa harus malu?" Yuna yang tertawa melihat suaminya malu-malu karena masalah kecil.


"Emmm... baiklah? Buka mulutnya?" wajah And memerah melihat Yuna menyeka rambutnya ke telinganya sebelum memakan makanannya.


"Sayang kamu kenapa?" Yuna terlihat khawatir melihat wajah And yang memerah seperti orang demam.


"Tidak apa-apa kok?" And yang berusaha memalingkan pandangannya untuk tidak melihat wajah Yuna.


"Pfft"


Yuna yang menahan tawanya melihat And yang sudah terpesona dengannya, dia merasa senang mungkin And sudah mulai mencintainya.


"Cepat habiskan makanannya, nanti pesawatnya keburu terbang?" And yang masih terlihat malu-malu memandangi Yuna.


"Aku tinggalkan nih?" And yang sudah tidak tahan dengan rasa malunya diejek oleh Yuna.


"Hehe..maaf Yuna tidak lagi kok?" Yuna yang masih tersenyum meminta maaf karena ancaman And itu.


Beberapa jam kemudian...


Mereka sudah berada di sebuah bendara pesawat, dan akan segera menuju pesawat yang akan menunju ke tujuan negara Jepang. Di dalam pesawat And dan Yuna terlihat senang dengan perjalanan kali ini, Yuna yang bahagia bisa terus bersama dengan suaminya, dan And bahagia karena bisa mencari informasi yang lebih, untuk membalaskan dendamnya dengan organisasi berjas hitam itu.


*****


Sesampainya mereka di bendara Jepang, mereka sudah di jemput beberapa orang berjas hitam, And melihatnya sedikit kaget dengan beberapa orang itu. Tapi tiba-tiba mereka menyebut And sebagai tuannya, mereka adalah bawahan setia dari Andreas Rew. Ternyata Andreas Rew juga memiliki bawahan yang setia dibawahnya, karena wajah And begitu mirip dan dia juga bersama Yuna, membuat dia tidak di curigai sama sekali. Di perjalanan menuju rumah orang tua Yuna, mereka dikawal beberapa mobil hitam untuk menjaga tuanya tetap aman. And yang sedikit penasaran dengan tugas dari bawahan Andreas ini, karena terlihat begitu menjaga tuanya dengan mengerahkan puluhan penjaga hanya untuk mengawal pulang. Padahal And biasa di Indonesia hanya bersama supir pribadinya, tidak perlu terlalu banyak pengawal. Banyak yang harus And pelajari di Jepang untuk menyesuaikan dirinya sebagai Andreas Rew.


Setelah sampai di depan rumah Yuna, And di tahan oleh supirnya untuk mengikutinya kesebuah tempat, dan Yuna di suruh And untuk pergi terlebih dulu kedalam rumah, setelah selesai urusannya dia akan menyusu. Yuna sedikit khawatir, tapi atas permintaan And, dia mau mengikutinya. And dibawa ke sebuah markas kecil yang di depannya adalah sebuah cafe sebagai samaran, mobil mereka masuk lewat garasi belakang cafe, di dalam garasi yang lumayan luas beberapa bawahannya sudah menunggunya. Pintu mobil dibuka oleh seseorang berjas hitam, And sedikit khawatir ketika keluar mobil, semuanya menundukkan kepala mereka memberikan hormat seperti tradisi Jepang pada umumnya, dengan membungkukkan badan mereka. Karena And sudah mempersiapkan bahasanya dalam 2 tahun ini, dia sudah lumayan fasih berbahasa Jepang.


"Salam, Ketua! ( Gokigen'yō, chīfu! )" dengan membungkuk mereka memberi salam kepada And yang keluar dari mobil.


"Baiklah, kenapa kalian membawaku kesini? ( Wakatta, naze watashi o koko ni tsurete kita no? )" And yang sudah dari bendara penasaran dengan puluhan bawahan Andreas Rew.


"Tuan!, sebenarnya kami sempat menerima nomor telepon baru dari anda, meminta pertolongan di Indonesia. Apa itu benar anda? ( Sā! Jissai, watashitachi wa anata kara atarashī tenwabangō o uketori, Indoneshia de tasuke o motomete imasu. Sōdesu ka? )" salah satu bawahannya bertanya.


"Iya, itu aku. Kenapa kalian tidak menolongku? ( Hai, sore wa watashidesu. Tetsudatte kuremasen ka? )" And yang berusaha tegas dengan bawahannya.


"Kami ingin ke sana, tapi suara anda begitu berbeda, membuat kami tidak yakin. Maafkan kami tuan, lain kali kalau itu dari anda kami akan segera pergi! ( Watashitachi wa soko ni ikitai nodesuga, anata no koe ga chigai sugite, watashitachiha kakushin ga motemasen. Mōshiwakearimasenga, jikai anata kara no renrakudeshitara, sugu ni shuppatsu shimasu. )" ucap salah satu bawahannya dan semua meminta maaf dan membungkukkan badan mereka lagi.


"Baiklah, aku akan memaafkan kalian kali ini? Tapi ingat tidak ada yang kedua kalinya? ( Yoshi, kondo wa yurusu ka. Shikashi, futatabime wanai koto o oboete imasu ka? )" And yang mencoba memperlihatkan wajah yang kecewa kepada bawahannya.


And meminta dari bawahannya untuk di bawakan beberapa berkas tentang semua informasi semua bisnisnya, dan tentang tugas bawahnya juga. Setelah perkataan And itu semua bawahannya sedikit panik mendengarnya dan membubarkan pertemuan di markas cafe itu. And kembali memasuki mobilnya untuk di antarkan kerumahnya terlebih dulu, sebelum ke rumah orang tua Yuna. Di depan halaman rumah Andreas Rew sudah beberapa puluhan mobil sudah menunggu kedatangannya, ternyata Andreas Rew juga memiliki bawahan yang begitu banyak. And sedikit terkejut melihatnya, dan rumahnya juga begitu besar bisa menampung semua bawahannya tinggal di sana. And yang keluar dari mobil di hormati semua bawahan yang sudah berbaris menunggu di depan halamannya. And sedikit gugup karena tidak pernah di perlakukan seperti ini di Indonesia oleh bawahannya. Bawahannya bahkan berbaris dibelakang And yang sedang berjalan memasuki rumah. Karena And tidak mau di curigai dia hanya terdiam mengikuti alurnya terlebih dulu.


"Kamu sudah pulang? ( Ie ni iru? )" seorang wanita tua yang sudah menunggu kedatangannya, duduk di atas kursi sofa paling besar dari kursi sofa lainnya.


"Iya, aku sudah pulang? ( Hai, watashi wa ie ni imasu ka? )" And sedikit takut dengan wanita yang berambut hitam dengan bibir merah merona memandanginya begitu penuh nafsu.


"Sayang, kok seperti itu kepada ibumu? ( Hanī, dōshite okāsan ni son'na koto o? )" wanita tua itu terlihat sedih anaknya seperti biasa coek dengannya lagi.


"Maafkan aku? ( Watashi o yurushite? )" And yang meminta maaf dan duduk berjauhan berhadapan dengan wanita itu.


"Selamat datang, Ketua! ( Yōkoso, chīfu! )"


Semua bawahannya berdiri dan berbaris, barisan mereka hampir memenuhi ruangan itu. And melihatnya sangat terkejut memiliki bawahan yang begitu banyak menemani hanya ngobrol dengan ibunya sendiri.


"Apa kamu baik-baik saja di sana? katanya kamu dalam bahaya? ( Daijōbudesuka? Kare wa anata ga kiken ni sarasa rete iru to itta? )" Ibunya penasaran dengan anak satu-satunya.


"Aku di serang oleh organisasi berjas hitam di Indonesia, mereka ingin membunuhku dan ingin menjual organ ku, tapi aku berhasil kabur dari sana...? ( Indoneshia de burakkusūtsu no soshiki ni osowa re, korosa retai, zōki o ura reyou to shite itaga, nantoka soko kara nogareru koto ga dekita…? )" And yang menjelaskan semuanya kepada ibunya dengan serius.


"(....)"


Setelah mendengar semua cerita And semua terdiam dan sedikit memberikan hawa membunuh yang begitu mencekam diruang itu. And yang sedikit merasakan hawa membunuh mereka sedikit merasa takut, dengan orang-orang didekatnya.


"Tolong antar anakku kepada istrinya? ( Watashi no musuko o tsuma ni tsureteitte kudasai. )" Ibunya memberikan perintah kepada bawahannya diruangan itu.


And segera berdiri tanpa sepatah kata langsung keluar rumah, sebelum keluar And melihat foto besar di ruangan itu yang terpajang di dinding rumah membuat dia kaget melihatnya. Dia berhenti di depan foto besar yang di pajang di ruangan itu, dan menayangkan kepada ibunya tentang foto besar tersebut.