Detective Kill

Detective Kill
Bab 11 Takdir yang Berbeda



"Selamat And, aku tidak menyangka kamu juara satu nasional, kapan kamu sepintar ini" ucap Sofia dengan kagum.


"Aku ini sebenarnya sudah pintar dari dulu, aku saja yang malas belajar" And terlihat menyombongkan dirinya.


"Iya..iya..And adalah yang terpintar disekolah" ucap Sofia menyerah melihat tingkah lakunya And.


"Sofia kamu tidak pulang, padahal upacara kelulusan sudah berakhir" tanya And dengan penasaran.


"Kalau kamu kenapa juga tidak pulang" Sofia juga bertanya kepada And.


"Eh aku duluan bertanya" ucap And terlihat kesal.


"Kamu itu yang terlihat mencurigakan" ucap Sofia dengan biasa.


"Seperti ada yang aneh dari perilaku Sofia akhir-akhir ini" pikir And terlihat bingung.


"Kok malah bengong saat ditanya" ucap Sofia dengan menyentuh pundak And.


"Eh maaf, kamu bilang apa tadi Sofia" tanya And.


"Apa yang kamu pikirkan And" tanya Sofia dengan kesal.


"Oh iya aku baru ingat, pulang nanti aku mau belikan Riri coklat, apa kamu mau ikut juga" ucap And mengalihkan pembicaraan.


"Oh benar kah, aku ikut" ucap Sofia terlihat senang.


"Tapi aku mau kekantor guru dulu, ada yang mau aku bicarakan" ucap And meninggalkan Sofia.


"Baiklah aku tunggu di gerbang sekolah" ucap Sofia.


"Lama sekali And di kantor, apa yang dibicarakan di sana" gumam Sofia dengan penasaran.


"Ah..maaf Sofia, pasti lama menunggunya" ucap And yang terengah-engah.


"Tidak apa-apa kok, aku ngerti, kamu mungkin banyak yang di urus di sana" ucap Sofia dengan tersenyum.


"Wah makasih Sofia" ucap And terlihat bahagia.


"Iya sama-sama" memperlihatkan wajah Sofia memerah karena malu.


"Wah And sudah punya pacar ya?" ucap pak Satpam dengan tiba-tiba mendekati mereka.


"Pa..pa..ca.." memperlihatkan wajah Sofia memerah karena terkejut mendengar ucapan pak satpam.


"Ah pak satpam bisa saja, kami baru saja lulus sekolah masa pacaran" ucap And menjelaskan.


"Oh kirain bapak kalian pacaran, nanti dulu pacarannya, kalian harus sukses dulu baru berhubungan serius itu baru anak baik" ucap pak satpam dengan tersenyum.


"Baik pak!" ucap mereka.


"Kami mohon pamit dulu pak" ucap And meninggalkan pak satpam. "Hati-hati jaga dia jangan sampai menyakiti dia" ucap pak satpam.


"Iya pak" ucap And dengan tersenyum.


"Sofia kenapa kamu, apa kamu sakit" ucap And terlihat khawatir kepada Sofia yang dari tadi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak apa-apa kok And" ucap Sofia terlihat gugup.


"Kalau ada apa-apa bilang saja kepadaku" ucap And.


"Ayo kita beli coklat buat Riri, nanti dia menunggu kamu" Sofia mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya aku hampir lupa" ucap And.


*****


"Kita duduk di taman dulu yuk" ajak Sofia.


"Apa kamu sudah lelah" ucap And.


"Iya dari tadi kita sudah keliling mencari coklatnya" ucap Sofia dengan tersenyum.


"Ah gitu saja udah kelelahan" ejek And.


"Heh! Mentang-mentang kamu tidak lelah" ucap Sofia memalingkan wajahnya. "Emmm sebenarnya aku ingin tanya sesuatu kepada kamu" ucap Sofia dengan gugup.


"Tanya apa, tentang aku dapat juara satu" ucap And menyombongkan dirinya.


"Eh! bukan itu" ucap Sofia terlihat kesal.


"Aku cuma bercanda, serius amat sih" ucap And dengan membujuk Sofia.


"Emmm" terlihat Sofia manahan malu.


"Nanti keburu sore kalau kelamaan duduk disini" ucap And.


"Eh kamu! Tunggu sebentar bisa tidak" ucap Sofia terlihat kesal.


"Iya..iya..makanya jangan kelamaan mikir" ucap And sambil mengejek.


"Ya sudahlah tidak jadi" ucap Sofia berdiri dari bangku taman.


"Cieee ngambek" ucap And terlihat mengejek Sofia. "Iya..iya..aku minta maaf" And membujuk Sofia.


"Sudahlah aku mau pulang" Sofia yang tiba-tiba berjalan meninggalkan And.


"Hadeh!, benar kata orang-orang memahami perempuan itu sangat rumit" pikir And. "Oh Sofia tunggu! aku mau tanya kamu kuliah dimana nanti" terlihat And mengejar Sofia.


"Bukan urusan kamu" terlihat Sofia tidak peduli.


"Ah jangan begitu Sofia, aku minta maaf banget sama kamu" And memohon kepada Sofia. "Janji aku tidak mengulanginya lagi" ucap And berusaha membujuk Sofia.


"Aku di universitas didekat sini saja" ucap Sofia yang terlihat masih marah kepada And.


"Wah aku mau ke sana juga, kita bisa barengan perginya" ucap And berusaha baikan kepada Sofia.


"Iya agar aku bisa jaga kamu" ucap And.


"Maksud kamu apa And" terlihat wajah Sofia kaget mendengar ucapan And.


"Agar aku bisa jaga kamu, takutnya kamu kenapa-kenapa di sana nanti" ucap And.


"Oh! aku sudah besar aku bisa jaga diri" Sofia terlihat kecewa mendengarnya.


"Kok kamu sepertinya tidak senang" And terlihat penasaran.


"Aku tidak apa-apa" terlihat Sofia mempercepat langkahnya.


"Hadeh! Apa aku salah lagi" pikir And terlihat bingung dengan kemauannya. "Aduh Sofia jangan cepat-cepat jalannya nanti jatuh" And karena khawatir kepadanya.


"Iya..iya..aku tahu" Sofia terlihat tidak peduli.


*****


"Aku duluan ya, makasih sudah mau nganterin aku sampai depan rumah" Sofia masih terlihat marah.


"Maaf kalau aku ada salah sama kamu" And memohon kepada Sofia.


"Aku duluan ya, kamu hati-hati dijalan" ucap Sofia meninggalkan And.


"Sudah lah lebih baik aku pulang saja" And menjauh dari halaman rumah Sofia.


"And bodoh" gumam Sofia di balik jendela kaca rumahnya melihat And pergi.


"Ah mungkin Riri sudah tunggu aku" ucap And terlihat senang. "Apa?, jam sudah 05.00 sore" memperlihatkan wajah And kaget melihat jam tangannya. "Aku harus cepat pulang, ini sudah terlambat" And bergegas pulang ke rumah.


"Hai kakak And" ucap adik perempuan yang berpapasan dengan And.


"Oh! kamu yang ingin jadi calon istri aku" And tiba-tiba teringat.


"kok kamu?, nama aku Linda kakak" ucap adik perempuan itu.


"Hah! Linda" terlihat And yang sedang bingung.


"Iya, nama aku Linda apa kakak sudah tahu" tanya Linda.


"Sebentar sepertinya aku mengingat sesuatu" ucap And terlihat bingung.


"Sayang sarapan kamu sudah siap" memperlihatkan ingatan And yang memiliki istri.


"Emmm kalau aku boleh tahu nama ayah kamu siapa?" tanya And dengan penasaran.


"Linda cepat kita pulang, nanti keburu malam" ucap nenek sedang menunggu didalam mobil.


"Maaf kak!, Linda mau pulang dulu, tadi Linda cuma beli baju, eh tidak tahunya bisa ketemu kakak And" ucap Linda terlihat bahagia bertemu And.


"Eh! hati-hati dijalan" ucap And yang masih terdiam kaku.


"Sampai jumpa lagi kakak" ucap Linda didalam mobil.


"Iya" terlihat And yang melambaikan tangan.


"Nenek aku tadi ngobrol sama kakak And" ucap Linda didalam mobil.


"Wah kenapa tidak bilang sama nenek tadi" ucap nenek.


"Eh! Linda kira nenek sudah lihat" ucap Linda.


"Ya sudah lain kali kalau ketemu lagi ajak main ke rumah lagi" ucap nenek dengan tersenyum.


"Iya nek" terlihat Linda sedang bahagia.


"Linda? seperti nama istri dimasa depan aku" pikir And sambil berjalan pulang. "Apa ini sudah takdir" gumam And yang masih terlihat bingung. "Apa dia memang Linda istri aku" pikir And terlihat bingung. "Tapi saat aku kenal Linda di kehidupan dulu, aku tidak pernah ketemu kakek dan neneknya" gumam And. "Saat aku ketemu dulu, dia sedang menangis di taman" And yang masih bingung. "Aku akan bertanya nanti nama ayahnya, kalau benar nama ayahnya itu, berarti dia emang istri aku di masa depan" ucap And.


*****


"Ah akhirnya sampai di rumah" ucap Linda memasuki rumah.


"Kenapa cucunya kakek terlihat bahagia" ucap kakek karena penasaran.


"Tadi aku ketemu kakak And di depan toko baju" ucap Linda dengan bahagia.


"Kenapa tidak di undang kesini" ucap kakek dengan tersenyum.


"Aku lupa kek" ucap Linda.


"Sudah-sudah Linda mandi cepat, hari sudah hampir malam" ucap nenek.


A"Emmm tadi kakak And tanya nama ayah kenapa ya?" terlihat Linda juga penasaran.


"Terus kamu jawab" tanya nenek.


"Hehe aku lupa, tadi nenek juga manggil aku" Linda sambil tertawa.


"Oh lain kali kalau kakak And tanya, nama ayah Linda, Leam harus ingat" ucap nenek.


"Emmm ayah dulu jendral, apa Linda harus bilang juga" ucap Linda.


"Tidak usah nanti kakak And takut" ucap kakek sambil tersenyum.


"Ayo cepat mandi" ucap nenek.


"Iya nenek" ucap Linda.


*****


"Kenapa aku masih mikirin adik itu ya" And yang sedang rebahan di kasurnya. "Ah aku jadi bingung, aku juga suka Sofia dan aku masih mencintai istri aku. Siapa yang aku harus pilih di antara mereka" pikir And sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Adik yang bernama Linda itu aku juga penasaran apa dia benar-benar istri masa depan ku. Ayahnya adalah mantan jenderal dan dia meninggal bersama istrinya, dan adik Linda itu juga kedua orangtuanya meninggal" And terlihat penasaran. "Tidak mungkin ini hanya kebetulan, pasti dia benar Linda, mungkin karena dia masih muda jadi belum dewasa jadi tidak terlihat mirip, dulu aku menikah saat umur aku 31 tahun dan istri aku 27 tahun, seingatku adik Linda baru umur 14 tahun" pikir And mengingat kehidupan dimasa depannya dulu.


"Ah kepalaku jadi sakit" And yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Ah lebih baik aku tidur, nanti saja kalau aku ketemu lagi aku akan bertanya" And sambil mematikan lampu kamar.