
Yuna membawanya kesebuah bukit yang lumayan tinggi, dimana bukit itu bisa melihat pemandangan seluruh kota Jepang. Keindahan itu mengingatkan And bahwa Linda juga pernah mengajaknya melihat pemandangan kota di Indonesia. Ketika And mengucapkan terima kasih kepada Yuna, tiba-tiba dia sedikit khawatir melihat Yuna yang memegangi kepalanya karena kesakitan.
"Aku tidak apa-apa?" ucap Yuna yang melihat bayang-bayang Andreas Rew yang pernah juga mengungkapkan terima kasih kepadanya di bukit itu.
"Apa kita ke rumah sakit saja?" And sedikit khawatir dengan keadaan Yuna yang sedang menahan sakit di kepalanya.
"Sayang, aku tidak apa-apa? Nanti juga sembuh?" ucap Yuna yang berjalan menuju mobil sambil di papah And.
"Ya sudah, kita pulang ke rumah saja kalau begitu?" ucap And memapahnya untuk masuk kedalam mobil.
"Ting..tong..ting..."
Tiba-tiba telepon And berbunyi ketika dia berjalan menuju pintu kemudi mobilnya. Dia langsung segera mengangkatnya karena telepon dari pihak rumah sakit.
"Maaf tuan, keadaan pasien sedang kritis? dimohon tuan segera kesini" suara wanita yang memberi kabar kepada And.
"Baiklah, aku akan segera ke sana?" Setelah And mematikan ponselnya, dia segera memasuki mobil dan menjelaskan kepada Yuna karena keadaan ibunya sedang kritis. mereka akhirnya pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya.
*****
Terlihat And dan Yuna sedikit mempercepat jalan menuju ruangan kamar ibunya dirawat. Dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu menyarankan untuk segera menemui ibunya yang sudah sadar. And dan Yuna segera memeriksanya, namun ibunya Andreas Rew sudah terlihat memprihatinkan, wajah pucat, bibir yang sudah berwarna ungu memaksa untuk tersenyum kepada anaknya.
"Ibu kamu harus sembuh?" ucap And sedikit khawatir dengan keadaan ibunya Andreas Rew yang mungkin tidak akan bertahan lama lagi.
"Kamu sudah punya istri? Tidak perlu lagi mengkhawatirkan ibu?" Ibunya yang sedikit tersenyum terbaring di atas kasur.
"Aku masih memerlukan sosok ibu?" And yang masih ingin mencari informasi tentang keluarga Andreas Rew.
"Jaga dirimu ya? Yuna tolong jaga And untukku? Jika dia nakal, pukul saja?" Ibunya yang mencoba bercanda untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Pasti itu, Yuna akan menjaga dia untuk ibu?" Yuna yang sedikit menahan air matanya melihat keadaan ibunya And.
"Terima kasih, jaga Yuna juga ya anakku?" senyuman terakhir yang bisa diberikannya kepada mereka yang melihatnya.
"Tit...."
Bunyi monitor jantung. Menandakan bahwa ibunya yang sudah meninggal. And yang melihatnya juga merasakan kesedihan, mungkin And juga merasa takut ketika ibunya meninggal didepannya. Yuna juga tidak bisa menahan air matanya melihat ibu mertua yang sudah tidak bernafas berada di depannya. Yuna berusaha menenangkan And yang masih menangis di samping ibunya, dia berusaha membuat And tetap tenang, dan memeluk erat suaminya.
Beberapa hari kemudian...
Setelah kematian ibunya Andreas Rew. And selalu mencari barang-barang yang bisa memberikan dia sebuah informasi mengenai sejarah masa lalu atau berhubungan dengan hubungan keluarganya. Dia bahkan mencarinya ke kamar ibunya Andreas Rew, agar And bisa menemukan sesuatu yang bisa membuat dia mengetahui hubungan ibunya Andreas Rew dengan ayahnya. Ketika And ingin menyerah mencarinya, dia melihat foto keluarga yang terpajang di dinding kamar ibunya, foto itu sedikit mencurigakan. Dia segera berdiri dari kasur untuk memeriksanya, dia melepaskan foto keluarga yang lumayan besar yang terpajang di dinding kamar. Namun benar dibalik foto tersebut terdapat sebuah berangkas kecil. And yang sudah penasaran berusaha mengeluarkan berangkas tersebut.
"Tok..tok..tok.."
Tiba-tiba bunyi ketukan diluar pintu kamar. And yang terlihat kaget segera menyembunyikan berangkas tersebut kebawah kasur ibunya. Dan mengembalikan foto itu ke tempatnya lagi agar tidak di curigai.
"Mengapa dia tahu aku sedang berada dikamar sini?" Gumam And sedikit penasaran, karena mencarinya secara tiba-tiba.
"Apa dia didalam? Mungkin dia tertidur?. Kata bawahannya dia masuk kemar ibunya. Mungkin dia ingin mengenang kepergian ibunya?" Gumam Yuna yang sedikit memikirkan keadaan suaminya, dan dia memilih untuk tidak menggangunya dulu.
"Kok tidak ada suara lagi? Apa dia sudah pergi?" And yang sedikit penasaran mencoba untuk memeriksanya di luar pintu.
Setelah And memeriksa keluar pintu kamar, Yuna sudah tidak ada. And segera kembali untuk membuka berangkas peninggalan yang telah ibunya Andreas Rew simpan. And yang sudah terlatih membuka berangkas tidak membuat dia kesulitan, berangkas itu dengan mudah dia buka. Didalam berangkas terdapat beberapa kartu bank, surat tanah, perusahaan, dan surat untuk anaknya.
"Maafkan ibu. Mungkin ketika kamu membaca surat ini, ibu sudah tidak ada. Aku harap kamu bisa memaafkan ibu karena belum bisa menjadi ibu yang baik buat kamu?. Ibu juga minta maaf karena selama ini, ibu sudah berbohong sama kamu, bahwa ayah kamu sudah meninggal, padahal dia masih hidup. Dia berada di Indonesia, sebelum kamu lahir saat itu ibu sedang mengandung kamu yang baru berumur 3 minggu. Ayah kamu mengalami kecelakaan saat kita sedang berada di tengah laut untuk memancing ikan. Tiba-tiba angin dan hujan lebat datang, membuat kita berdua di kapal mengalami hal buruk, saat itu kepala ayahmu terbentur untuk menyelamatkan ibu yang hampir jatuh ke laut. Namun karena hujan yang begitu deras disertai angin yang kencang membuat ibu juga terbentur ke dinding kapal dan membuat ibu pingsan. Setelah ibu sadar, ibu sudah berada di rumah sakit, dan bertanya kepada pihak rumah sakit tentang keadaan ayah kamu. Namun mereka menjawab hanya aku yang selamat dari kapal yang tenggelam itu. Namun ibu yakin ayah kamu saat itu mungkin masih hidup, setelah beberapa bulan ibu akhirnya menemukan dia, tapi dia kehilangan ingatannya. Dia juga sudah memiliki istri saat ibu mengandung kamu, dia berada di Indonesia dan ibu juga tidak terlalu yakin mengapa ayah kamu bisa sampai di sana?. Ibu juga menyusulnya ke Indonesia untuk mencari dia, setelah ibu bisa bertemu dengannya, dia yang sudah menjadi pemimpin polisi di sana, tiba-tiba tidak mengenali ibu sama sekali. Sampai ibu melahirkan kamu di sana tetap saja dia tidak mengingat ibu sama sekali. Istrinya bernama Tania Indriani saat itu juga mengandung anaknya, saat kamu sudah berumur 4 tahun".
"Hah?, Bukan kah itu nama ibuku?" And yang terlihat kaget setelah membaca surat peninggalan ibunya Andreas Rew.
"Ibu memilih untuk menyerah untuk meyakinkan ayah kamu saat itu, dan memutuskan kembali ke Jepang untuk membesarkan kamu disini. Jika kamu ingin menemui ayah, pergilah untuk melihatnya, tapi ibu mohon, jangan rusak keluarga mereka. Dan surat-surat di berkas ini sudah ibu pindah atas nama kamu, semoga ini bisa membantu kamu untuk membahagiakan keluarga kamu nanti". Ibunya Andreas Rew menceritakan semua rahasia yang tidak di ketahui anaknya sendiri.
"Berarti dia ibu tiri dan saudara tiriku. Pantas saja aku bisa mirip karena kita memiliki ayah yang sama. Makasih bu, sekarang aku sudah mengetahuinya, semoga kamu tenang di sana bersama anakmu. Aku akan membalas semua dendam yang telah membuat kalian seperti ini" ucap And setelah selesai membaca pesan terakhir dari surat yang telah di tulis ibunya Andreas Rew.
Setelah And keluar dari kamar, dia langsung pergi menuju markas bawahannya. Dia memerintahkan beberapa bawahnya untuk memberikan kabar kepada yang lainnya, untuk menyelesaikan balas dendam yang sempat tertunda.
Lima hari persiapan, malam hari jam 12.00...
Beberapa puluh bawahan And yang sudah memakai pakaian khusus berwarna hitam untuk menyamarkan diri di kegelapan. Dengan latihan yang telah And latih untuk menerobos markas mereka tanpa ketahuan. Mereka yang sudah mengepung seluruh gudang tempat markas terbesar organisasi berjas hitam. Serangan yang dilancarkan dari sisi kegelapan satu persatu bawahan berjas hitam yang berjaga dilumpuhkan. Mereka mulai memasuki gudang terdalam. Pasukan And yang lebih banyak dari organisasi berjas hitam membuat mereka terpojok tanpa perlawanan.
"Cari ke seluruh tempat jangan sampai mereka kabur?" And yang memerintahkan seluruh bawahannya untuk tetap berhati-hati melakukan tugas.
And yang sudah berada di depan pintu ruang rahasia, dimana dia mengingat bahwa dia terbunuh setelah dia di bawa ke ruang yang berada di bawah gudang. And memasuki ruangan bawah tanah itu sendirian, sedikit waspada berjalan ke ruangan yang sedikit ada bau darah yang masih segar. And tiba-tiba berhenti melangkah setelah melihat lelaki yang berlumuran darah memegang sebuah pisau sedang memotong-motong daging di atas meja.
"Wah-wah mangsa datang sendiri?" Suara lelaki yang merasa bahagia ketika And yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Siapa kamu? Perlihatkan wajahmu?" And yang sedikit gugup masih penasaran dan mendekati lelaki itu.
"Silahkan duduk dulu, sarapan hampir matang?" ucap lelaki itu setelah selesai memotong daging di atas meja di depannya.
"Aku sudah makan? Langsung ke intinya saja? kamu juga organisasi berjas hitam inikan?" And terlihat sudah menyiapkan pisaunya bersiap-siap untuk menyerang.
"Wah galak sekali? Sepertinya kamu perlu merasakan tajamnya pisauku? Lelaki itu membalikkan badannya dan menjilat pisau yang penuh darah.
"Heh!, Menjijikkan sekali?" And yang terlihat kesal dengan tingkah laku lelaki itu.
"Wuss"
"Benarkah"
Lelaki itu langsung berlari menyerang And di depannya, mengarahkan pisaunya ke leher And. Namun And sanggup menghindarinya dengan cepat, meskipun pipinya terkena sedikit sayatan pisau.