Detective Kill

Detective Kill
Bab 36 Datangnya Bahaya



"Kakak, mengapa kamu pakai jaket? Biasanya pakai jas? Malahan wajah tampanmu itu tidak terlihat lagi?" Riri yang berdiri didekat mobil penasaran kakaknya yang memakai pakaian yang tebal di pagi hari yang cerah.


"Haha, badanku terasa sedikit kedinginan. Jadi aku lebih baik memakai ini?" And yang sedikit gugup menjawab pertanyaan adiknya.


"Baiklah, nanti aku bisa telat ke upacara kelulusanku?" Riri yang sudah membuka pintu belakang mobil.


"Ayo bu!, Kita berangkat secepatnya?" And yang membukakan pintu depan mobilnya.


"Kok ibu tidak duduk di sampingku?" Riri yang sedikit terkejut melihat kakaknya membukakan pintu depan mobil.


"Ibu duduk dibelakang saja And? Nanti adik kamu nangis?" ucap Ibu sedikit mengejek Riri.


"Baik. Kalau itu kemauan ibu! Kita akan segera berangkat" And yang terlihat sedikit berkeringat karena memikirkan bahaya yang akan terjadi jika dia ketahuan oleh organisasi berjas hitam, kalau dia sudah berada di Indonesia.


Beberapa menit kemudian...


"Kakak, sepertinya dari tadi kita di ikuti oleh beberapa mobil di belakang?" Riri yang mulai curiga dengan puluhan mobil di belakangnya.


"Astaga, apa yang mereka lakukan seperti ini? Sama saja ini mencari masalah!" Gumam And sedikit kesal dengan kebodohan semua bawahannya.


"And, apa kita baik-baik saja? Sepertinya kita seperti di ikuti?" Ibu yang sedikit khawatir setelah menoleh kebelakang mobil.


"Haha. Maaf sebelumnya ibu? Semuanya itu bawahan And? Jadi mereka cuman ingin menjaga kita saja? Aku akan memerintahkan mereka untuk tidak mengikuti lagi!" And yang sedikit gugup menjelaskan kepada ibunya.


"Heh? Seberapa banyak bawahan kamu?" terlihat mereka kaget setelah mendengar penjelasannya.


"Hei kalian, menyebarlah jangan seperti ini? Sama saja ini membuat kita mencari perhatian?" And yang memerintahkan bawahannya lewat telepon sambil menyetir.


Tidak berselang waktu lama, mobil-mobil yang mengikuti mereka menyebar ke seluruh kota, di dekat sekolah dasar adiknya And. Riri dan ibunya sedikit kaget melihat kejadian yang belum pernah mereka lihat, karena And sedikit mencurigakan.


"And sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu tidak pernah cerita? Apa kamu tidak menganggap kami ini keluarga?" Ibu yang sedikit serius menanyakannya.


"Apa yang kakak sembunyikan dari kami? Ini sudah keterlaluan kak?" Riri yang mulai sedikit kecewa dengan kakaknya.


Suasana di perjalanan menuju sekolah Riri sedikit canggung, karena And masih belum bisa berbicara kepada ibu dan adiknya. And juga tidak ingin mereka khawatir, tapi disisi lain dia juga tidak mau keluarga satu-satunya membencinya. And dengan pelan sedikit menjelaskan mengenai masalahnya saat ini, bahwa dia memiliki konflik dengan organisasi berjas hitam. And juga menceritakan bahwa organisasi berjas hitam itu sempat ingin membunuhnya. Mereka sedikit kaget setelah mendengar beberapa rahasia And. Mereka sedikit merasa takut setelah mendengar bahwa keluarga mereka dalam bahaya, ibunya hanya terlihat diam menundukkan kepalanya duduk disampingnya Riri. Adiknya juga sedikit gemetaran setelah mendengar bahwa kakak dan ibunya dalam bahaya. And yang sambil menyetir berusaha membuat mereka tenang, dan dia sedikit khawatir melihat kondisi mereka yang kurang baik setelah mendengarkan ceritanya.


"Ibu dan Adik. Kita pasti baik-baik saja? Jadi kalian jangan khawatir. Aku akan melindungi kalian, semuanya baik-baik saja?" And sedikit menenangkan mereka di dalam mobilnya.


"And kamu tidak boleh menanggung ini semua sendiri. Kita adalah keluarga, jadi kita hadapi sama-sama meski harus mengorbankan nyawa kita?" Ibu yang mulai bertekad untuk melindungi anak-anaknya.


"Ibu, Riri juga akan melindungi ibu dan kakak, Riri tidak takut dengan mereka?" Riri yang sudah meyakinkan dirinya untuk tidak takut lagi.


"Makasih kalian semua, tapi aku janji kalian tidak akan apa-apa?" And yang berusaha meyakinkan mereka sambil menyetir mobilnya menuju sekolah adiknya.


*****


"Akhirnya sudah sampai, wah para orang tua lain sudah banyak?" And sedikit tersenyum mengalihkan pembicaraan yang sedikit canggung.


Mereka keluar mobil dengan wajah yang masih sedikit khawatir. Namun And berusaha membuat mereka untuk melupakannya terlebih dulu, dan fokus terhadap acaranya. And mengantarkan mereka untuk memasuki sekolah dan bersiap-siap untuk menunggu acara kelulusan Riri dimulai. Setelah And mengantarkan mereka keruangan acara kelulusan, dia keluar sekolah untuk menelepon beberapa bawahannya, untuk selalu waspada dan teliti dalam mengintai keadaan seluruh area sekolah. Terlihat ratusan bawahannya sudah menyamar di seluruh area sekolah untuk menjaga keluarga And tetap aman. Beberapa bawahan menjadi tukang sapu, guru, wali murid, orang tua murid, berada di atas atap sekolah, tukang kebun, orang biasa, penjual, dan sisanya mengelilingi area seluruh sekolah. Bawahan yang sekarang hampir mencapai 1.000 orang, And kerahkan untuk menjaga keluarganya, dan jika organisasi berjas hitam mulai membunuh, mungkin And terpaksa memerintahkan bawahannya untuk membantai mereka semua tanpa ampun lagi.


"Semua area sudah aman, tapi perasaanku masih kurang enak. Apa mereka juga ada yang menyamar di dalam sekolah ini?" Gumam And berada di luar pintu gerbang sekolah.


"Buk"


"Jangan berada ditengah-tengah jalan, kamu menghalangi orang lain lewat!" Lelaki itu berbicara setelah menabrakkan dirinya.


"Maaf pak! Aku tadi sedikit bingung?" And yang sedikit khawatir karena telah membuat masalah dengan orang lain di sekolah adiknya.


"Iya. Lain kali jangan di ulangi?" Lelaki itu berjalan masuk, meninggalkan And yang masih berdiri didepan gerbang sekolah.


"Aku terlalu fokus memikirkan cara melindungi keluargaku, sampai aku lengah, jika orang itu berbuat jahat, bisa saja aku langsung terbunuh karena tertusuk. Lain kali aku harus tetap hati-hati!" And yang bergumam karena membuat dirinya lengah dan tidak waspada disekitarnya sendiri.


"Zero bagaimana suasana di lapangan sekolahnya?" And yang menelepon Zero untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan.


--


"Pemimpin, semuanya aman tidak ada gerak gerik yang mencurigakan di lapangan?" Zero yang berada di atas atap sekolah.


"Baiklah, terus pantau? Jangan sampai lengah sedikitpun. Ini adalah perang terakhir kita jangan sampai keluargaku dalam bahaya?" suara And yang terdengar dari alat khusus yang menempel di telinga Zero.


"Baik. Ibu dan adik pemimpin juga sudah aku anggap keluarga sendiri?" Zero yang bertekad untuk melindungi keluarganya.


"Baiklah, beritahu semua saudara lainnya untuk tetap waspada sampai kita berhasil pulang dengan selamat?" suara And yang terdengar serius memerintahkan Zero.


"Baik pemimpin!" Zero yang mulai fokus memantau seluruh area yang dapat di jangkau matanya dari atas atap sekolah.


--


And sekarang sudah berada di ruangan acara kelulusan, dan duduk di samping ibunya, melihat berbagai acara pertunjukan sebelum pembagian raport untuk murid-murid. And masih terlihat melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada bahaya yang masuk kedalam sekolah ini.


"Ting.."


Bunyi notifikasi chat dari ponsel And. Yuna yang bertanya kabar suaminya di sana?. Wajah And yang terlihat kaget, karena takutnya notifikasi itu dari bawahannya yang memantau jalan raya.


"Aku baik-baik saja? Sebenarnya aku masih sibuk, masih dalam urusan yang mendesak, nanti aku hubungi kamu lagi setelah pekerjaan aku selesai!" Terlihat And membalas chat dari Yuna yang mengkhawatirkannya.


"Oke sayang. Jangan lupakan aku ya? Awas saja kamu sampai lupa?" Terlihat balasan dari Yuna dari ponsel And.


"Sayang, siapa itu? Apa itu dari seorang wanita?" Ibu yang sedikit penasaran melihat And yang terlihat gugup memegangi ponselnya.


"Ah. Ibu? Ini dari asisten aku dari Jepang, katanya bisnis And berjalan lancar?" And terlihat gugup mencoba menjelaskan kepada ibunya.


Beberapa jam kemudian...


Beberapa mobil hitam sedikit menambah kecepatannya menuju sekolah adiknya And. Bawahan yang di perintahkan And untuk memantau jalan raya langsung memberikan kabar kepada And secepatnya. Karena puluhan mobil dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke sana.


"Ting, ting.."


Notifikasi chat yang beberapa kali di ponsel And berbunyi. Namun sialnya And terlalu fokus dengan acara pembagian raport kepada adiknya. Ibunya yang sudah menaiki panggung untuk mendampingi Riri yang mendapatkan hadiah juara satu dikelasnya.


"Ting..tong..ting.."


Bunyi telepon And terdengar sangat keras. Semua orang yang duduk di sekitarnya sedikit merasa terganggu. And segera berdiri dan menjauh untuk mengangkat teleponnya. And sedikit bingung kenapa Zero meneleponnya beberapa kali, dan melihat notifikasi dari bawahannya yang memantau jalan yang belum sempat dia baca.