Detective Kill

Detective Kill
Bab 16 Bukti Keberanian And



Sofia terus berlari dari kejaran beberapa orang yang berjas hitam itu, napas yang terengah-engah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dirinya. Disisi lain And yang terus berlari menuju rumah Sofia, rasa takut diwajahnya semakin kuat ketika dia melihat jam tangan yang hampir menunjukkan jam 10.00 malam. Seingatnya dulu Sofia terbunuh kurang lebih jam 10.10 malam.


"Ah.. aku lupa, bahwa ini tanggalnya" gumam And yang terus berlari, rasa takut membanjiri seluruh badannya, sambil memohon agar Sofia selamat kali ini. Terlebih lagi jalanan yang sudah sepi tanpa ada seorang lewat menambah keyakinan And bahwa Sofia sadang dalam bahaya.


Terlihat Sofia kini menutup mulutnya dengan kedua tangannya di sebuah semak-semak dekat hutan. Tidak jauh dari Sofia terlihat beberapa orang berjas hitam sudah hampir mendekati tempat Sofia berada. Wajah Sofia dipenuhi rasa takut dengan berlinang air mata yang terus keluar, dalam hati kecilnya memohon pertolongan.


And yang sudah berada tidak terlalu jauh dari Sofia terhenti secara tiba-tiba, dikarenakan dia melihat beberapa orang berjas hitam berkeliaran di jalanan. And sempat termenung melihat apa yang dilakukan mereka, tapi untungnya And sempat melihat mereka memegangi salah satu sendal yang biasa dikenakan Sofia. Membuat hati And yakin yang ingin membunuh Sofia adalah sekumpulan orang berjas hitam itu. And berusaha mengingat di masa depan ketika mayat Sofia ditinggalkan, And segera menuju lokasi sesegera mungkin untuk menyelamatkannya.


Salah satu seorang berjas hitam mulai curiga dengan gerak gerik semak-semak di dekatnya, dia mulai mendekati semak-semak itu secara perlahan. Sofia yang melihat tempat persembunyian yang mulai dicurigai membuat hatinya menjadi semakin takut. Keringat yang bercucuran di seluruh wajahnya tak berhenti keluar, lelaki berjas itu semakin dekat dengan semak-semak didepan wajah Sofia, tangan yang hampir menyentuh semak-semak terhenti secara tiba-tiba. karena mendengar teriakkan salah satu temannya menemukannya pergi kedalam hutan. Semua lelaki berjas hitam itu berlarian menuju tempat tersebut.


Kini Sofia melepaskan rasa leganya, karena merasa selamat, badan yang masih lemas ketakutan membuat dia tidak bisa bergerak lagi, rasa takut itu membuat kakinya tidak sanggup berdiri, dia hanya bisa menunggu di sana menenangkan pikiran dan mengistirahatkan seluruh badannya.


"Wuss"


Tiba-tiba tangan datang secara cepat menutup mulutnya Sofia, memeluk erat Sofia, mata Sofia yang mulai kabur tidak sempat lagi menoleh siapa yang telah memegangnya, Sofia secara cepat terbujur lemas dan pingsan. "Akhirnya aku menemukan mu", suara yang terakhir didengar Sofia sebelum pingsannya.


"Tolong" teriakan Sofia merintih minta pertolongan, disaat itu dia mulai pelan-pelan membuka matanya, dia terkejut bahwa dia sekarang sudah berada di rumah sakit dengan selamat.


"Sayang akhirnya kamu sadar" ucap ibunya yang berada di samping tempat tidur, menghawatirkan anak satu-satunya kini terbaring lemah di rumah sakit.


"Siapa yang membawa aku ke rumah sakit?" suara pelan dari Sofia menanyakan kepada orang tuanya. Wajah yang begitu lemas tak berdaya dengan keadaan yang mulai semakin memburuk.


Beberapa menit sebelumnya...


Sebelum kesadaran Sofia. Dokter berpesan kepada ayah dan ibunya agar tidak membuat dia stress dulu, jangan bebankan semuanya saat keadaan yang belum membaik. Mungkin itu bisa mengakibatkan kepatalan ( mati ).


"Sayang kamu perlu istirahat dulu, setelah kondisimu mulai membaik baru ayah ceritakan semuanya" ucap ayahnya yang mengelus-elus kepala Sofia.


Dikamar rumah sakit lainnya And berada dalam keadaan koma, akibat operasi pengambilan 2 peluru panas yang salah satu hampir mengenai jantungnya, dan peluru lainnya berada di pundaknya. Akibat And memancing sekumpulan pria berjas hitam untuk masuk kedalam hutan, mereka melepaskan beberapa kali tembakan agar menghentikan pergerakan And saat berusaha lari, And selamat dari kejaran mereka dan mengendap-endap kembali ke semak-semak dimana saat itu Sofia berada. Dalam keadaan luka tembakan And masih berusaha pergi ke rumah sakit sambil menggendong Sofia yang sedang pingsan, saat berada di rumah sakit akhirnya tumbang akibat kehabisan banyak darah. Dalam keadaan darurat pihak rumah sakit menghubungi nomor yang sempat di berikan And, setelah ayah Sofia di hubungi dia bergegas ke rumah sakit bersama istrinya sesegera mungkin.


"Bagaimana kondisinya dok!" tanya ayah Sofia yang berada dikamar And, melihat keadaannya yang lumayan cukup parah setelah menolong Sofia. Dari penjelasan dokter yang dia ketahui And menggendong Sofia dengan keadaan terluka.


"Dia akan baik-baik saja dalam beberapa hari" ucap dokter disampingnya, sambil menjelaskan keadaan And yang masih belum sadarkan diri setelah selesai operasi.


"Terimakasih banyak And" ucap ayahnya Sofia yang sedang duduk di samping badan And yang belum sadarkan diri. "Kamu rela melakukan semua ini untuk anakku" curhatnya dengan menatap wajah And yang terlihat kepucat-pucatan, bibir ke abu-abuan membuat hatinya sedih melihatnya.


"Ting..tong..ting..tong.."


"Hello" terdengar suara lelaki tua menjawab panggilan telepon ibunya And.


"Anda siapa? dimana anak aku?" tanya ibunya dengan sedikit khawatir.


"Saya ayahnya Sofia teman dari anak anda" ucapnya sambil menjelaskan apa yang sudah terjadi beberapa waktu ini.


Setelah mendengar apa yang telah terjadi, ibu And segera mematikan telepon dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, dan bahkan dia sempat memberi kabar nenek dan kakeknya Linda lewat pesan yang dikirim lewat ponsel, dengan wajah yang begitu gugup sambil membangunkan Riri yang masih tertidur.


Beberapa menit kemudian...


"And" Suara yang hanya bisa mengucapkan namanya melihat keadaan anaknya yang terbaring dengan wajah pucat, membuat hatinya merasakan kesedihan yang begitu dalam.


"Kakak" wajah Riri yang terlihat kaget melihat kakaknya terbaring tidak berdaya diselimuti di atas kasur rumah sakit, sambil mendekati dengan air mata yang bercucuran melihat keadaan kakaknya itu.


"Tuan apa yang sudah terjadi?" tanya ibunya yang masih penasaran, mengajak keluar untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan anaknya ini.


"Sebenarnya" ucap ayah Sofia diluar ruangan And, menjelaskan semua rincian kejadian yang telah menimpa anak laki-lakinya itu.


Setelah mendapat penjelasan dari ayah Sofia, ibu And hanya terdiam menahan semua air matanya yang ingin terus keluar, sambil berjalan menuju tempat duduk di samping kasur And. Memegang tangan anaknya yang belum sadarkan diri.


"Baiklah aku keruangan kamar anakku dulu, jika ada keperluan bilang saja" ayah Sofia yang meninggalkan mereka. Wajah ibunya And yang hanya membalas pandangan tanpa sepatah kata apapun.


"Sayang bagaimana keadaan putri kita" ayah Sofia yang tiba-tiba masuk memanggil istri yang sedang berada di samping tempat tidur Sofia.


"Dia sedang tertidur, biarkan dia beristirahat" balasnya kepada suaminya yang terlihat khawatir keadaan putri satu-satunya itu.


Beberapa hari kemudian...


Terlihat And sedang berada di suatu tempat ruang kosong yang semua dinding dan atapnya berwarna putih. "Apa aku sudah mati" ucap And melihat sekitar dengan merasa kebingungan.


"Dorr"


Suara tembakan menuju badannya, sontak itu membuat And langsung terbangun dari masa kritisnya di rumah sakit. Semua keluarganya yang sudah berdiri disampingnya dan bahkan Linda bersama kakek neneknya juga menantikan kesadaran And. Tanpa bersuara gerakan mata And mulai melihat sekeliling ruang kamar. Seperti And terlihat kebingungan, wajah pucat yang sudah mulai menghilang, gerakan bibir yang mulai membuat sedikit senyuman melihat anggota keluarga yang sudah berada disampingnya.