Detective Kill

Detective Kill
Bab 45 Bisnis Kedua



"Persiapkan saja dirimu!"


And yang sudah bersiap-siap untuk bertarung melawan Deck. Dia juga menggunakan pisaunya untuk menghadapi Deck, dia mau membalas semua kematian bawahannya yang telah di bunuh Deck.


"Oh! Sepertinya kamu sudah yakin!"


Deck yang sudah bersiap-siap bertarung dengan And. Dia juga sedikit tersenyum melihat And yang sedang menahan air matanya.


"Wus..!!"


And langsung menyerang dengan kecepatan penuh. Deck sangat terkejut karena And sudah berada disampingnya, dan ingin menusuknya.


"Wah!!"


Deck dapat menghindari serangan And yang hampir menusuk perut sampingnya. Terlihat hanya sedikit goresan kecil mengenai perutnya. And juga tidak berhenti menyerang setelah itu.


"Sialan!!"


"Argh!!"


Tendangan And yang berhasil mengenai perut Deck. Ketika dia lengah sedang menangkis semua serangan And, dia menggunakan tendangan keras untuk melumpuhkan Deck, yang dari tadi fokus kepada serangan tangannya.


"Haha"


Deck mulai tertawa. Dia kaget karena tendangan And lumayan keras, dia juga terlihat menggunakan dua pisau untuk menghadapi And. Dia mulai serius bertarung dengan And yang sudah berhasil menendangnya.


And tetap diam saja. Dia berusaha untuk selalu fokus dalam pertarungannya, agar dia tidak kalah lagi seperti menghadapi Viki waktu itu. Dia berusaha mengatur nafasnya agar tidak kehabisan nafas dan juga menjaga jantungnya untuk tidak terlalu tegang. Jika dia membuat jantungnya berdetak kencang di saat pertarungan, maka itu akan menjadi kekalahannya. Karena jika jantung berdetak sangat kencang, bisa membuat tubuh kehilangan konsentrasi dan membuat mata menjadi buram (pusing).


"Jika kamu menunda waktu lagi? Maka bosmu ini, bisa saja akan mati! Jadi jangan menundanya lagi!" Deck yang terlihat memperingatkan And untuk segera membawa Zero ke rumah sakit.


"Tetap fokus, jangan sampai kehilangan fokus!!"


And yang berusaha untuk tetap fokus, dia selalu bersiap-siap untuk segera mengakhiri pertarungan ini. Karena Deck yang dari tadi terlihat berjalan-jalan mengitarinya, mungkin dia sedang mencari titik buta And.


"Wus..!"


Deck sudah mulai menyerang And dari samping, menggunakan kedua pisaunya untuk berusaha melukai And. Dia juga berusaha untuk menusuk tubuhnya. Namun And sebisa mungkin menghindarinya, tapi tetap saja menghadapi Deck tidak akan mudah. Meskipun And memiliki kekuatan yang dapat melihat pergerakannya. And mengalami luka di pergelangan tangannya akibat mencoba menangkis dan menghindari serangan pisau Deck.


"Haha, sebentar lagi!! Aku akan membuatmu seperti yang lainnya"


Deck yang merasa bahagia karena sudah membuat And terluka, dia juga ingin segera membunuh And secepatnya. And yang sudah sedikit terlihat terengah-engah membuat Deck semakin bersemangat. Dia langsung menyerang untuk segera membunuh And dalam keadaan lelah itu.


"Argh!!"


"Krak!!"


And langsung kesakitan mencoba menahan tendangan Deck yang begitu keras mencoba menargetkan kepalanya. Retakan tulang yang terdengar setelah mencoba menahan serangan dengan kedua tangannya, terdengar sedikit oleh And.


"Ah. Mungkin saja tanganku retak!"


And yang sedikit terlihat menahan sakitnya setelah mencoba menahan tendangan dari Deck. Dia mencoba untuk tetap tenang memikirkannya, agar bisa menang melawan monster yang begitu brutal sedang dihadapinya sekarang ini.


"Kenapa terdiam!! Apa sudah mau menyerah!!"


Deck yang sombong melihat tangan And yang gemetaran. Dia sedikit tersenyum karena And begitu lemah. Dia tidak berhenti memikirkannya untuk segera bisa membunuhnya, dia terus menyerang tanpa ampun. Karena Deck sangat suka sekali membunuh mangsanya ketika sedang merasa ketakutan.


"Argh!!"


And yang terlihat kesakitan mencoba menahan pukulan Deck yang mengarah ke wajahnya, menggunakan kedua tangannya yang sudah retak dari serangan tadi.


"Orgh!"


And yang sudah terlihat bertekuk lutut karena muntah darah, akibat tendangan Deck yang mengenai perutnya. And yang sudah terlihat lemas karena tendangan Deck yang begitu keras mengenai perut, membuat dia tidak berdaya untuk bangkit.


"Wuss..!!"


"Argh!!"


Tendangan sekali lagi di arahkan ke kepala And. Membuat dia tersungkur dilantai dan tak berdaya lagi untuk berdiri. And sudah mulai lemas menghadapi Deck yang begitu kuat. Deck melihat momen itu membuat dia sedikit bosan, dan segera ingin membunuh And secepatnya.


"Hah??"


Deck kaget. Melihat And yang tiba-tiba berdiri lagi, setelah menerima tendangannya tadi?. Deck langsung mencoba menyerangnya. And tetap terlihat berdiri diam menunggu Deck yang mencoba berlari ke arahnya.


"Wuss!!"


"Argh??"


Terlihat Deck yang berusaha ingin menusuk And dengan pisaunya, dan dapat di tangkap oleh And dengan sangat mudah. Deck kesakitan karena di pukul oleh And di bagian perutnya sangat keras, dan tangannya masih di pegang erat oleh And.


"Argh!!"


Deck yang begitu kesakitan, karena terus di pukul And, tangannya yang masih di pegang erat, tidak memberi kesempatan untuk Deck untuk melepaskannya dari cengkeraman And.


"Krak!!"


Suara tulang yang patah terdengar sangat keras. Membuat Deck berteriak kesakitan, karena salah satu tangannya sudah dipatahkan oleh And dengan begitu mudahnya.


"Orgh!!"


Darah yang keluar sangat banyak dari mulutnya Deck, karena serangan lutut yang begitu keras mengenai bagian perut, membuatnya sangat kesakitan.


"A-apa k-k-kamu..tadi hanya berpura-pura le..lemah?"


Suara Deck yang tersendat-sendat karena lehernya sedang di cekik oleh And. Wajah Deck sangat merah seperti sudah kehilangan nafasnya. Dia mencoba memberontak agar cekikan And lepas dari lehernya. Namun semua tindakannya sia-sia, cekikan itu begitu kuat dan membuat Deck hampir tak berdaya lagi.


"Hehe!!"


Deck terlihat sedikit tertawa karena dia akan mati ditangan And begitu mengenaskan, dia tetap saja tersenyum melihat mata And yang begitu marah kepadanya.


"(???)"


Deck sudah terlihat tidak bergerak sama sekali. And yang melihatnya melemparnya ke samping. Deck terlihat terpelanting dan tergoling-goling di lantai penuh luka di sekujur tubuhnya.


Tiba-tiba...


"Wah!! Apa Deck sudah kalah?"


Luzon yang tiba-tiba datang ke ruangan ketiga, ketempat pertarungan And. Di seluruh badannya penuh luka datang ketempat itu?, dia baru datang dari bisnis pertama untuk segera pergi membantu Deck. Namun dia terlambat karena Deck sudah tergeletak di lantai tak berdaya, karena sudah di kalahkan oleh And.


"(???)"


And hanya terlihat memiringkan sedikit kepalanya, seperti kebingungan siapa yang datang itu. Dia bahkan tidak berbicara sama sekali, memandangi Luzon yang sedang berdiri dengan badan yang penuh luka.


"Apakah kamu?, yang membuat dia seperti itu?"


Luzon yang bertanya kepada And, tentang keadaan Deck yang sudah tergeletak di lantai. And hanya terlihat diam memandangi Luzon yang berulang kali bertanya-tanya. Dia sedikit kesel karena And tidak menjawab pertanyaannya itu.


"Wus.."


Luzon langsung berlari ke depan And. Dia berusaha untuk memukul And, yang dari tadi tidak mau menjawab pertanyaannya. Pukulan Luzon berulang kali dapat di hindari oleh And dengan sangat mudah. Semuanya itu malah menambah Luzon semakin kesal, kerena And hanya menghindari pukulan itu.


"Mengapa terus menghindar!!"


Luzon yang berteriak sambil mencoba terus untuk memukul And, namun pukulan terus di hindari sangat mudah. Dia sangat marah dan langsung ingin mengalahkan And. Namun semuanya tetap sia-sia. And saat ini sangat terlihat berbeda, bahkan kekuatannya tidak dapat di prediksi lagi.


"Argh...!!"


Terlihat And merunduk dan memukul perut Luzon dengan sangat keras. Membuat Luzon langsung merasa kesakitan, dia langsung bertekuk lutut di hadapan And.


"A-argh...!!"


And langsung menjambak rambut Luzon yang sudah bertekuk lutut di depannya itu. Dia juga terlihat memandangi mata Luzon yang dari tadi marah kepadanya. Wajah Luzon merasa sangat ketakutan ketika And memandangi wajahnya sambil menarik rambutnya.


"Heee!!"


And terlihat membuka penutup mulutnya dan tersenyum sinis memandangi Luzon. Dia juga sudah terlihat bergerak kebelakang Luzon sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"A-am..puni aku!!"


Luzon yang sudah sangat ketakutan dengan And yang berada di belakangnya sambil memegangi kepalanya. Luzon berusaha untuk memohon ampun, agar dia tidak di bunuh.


"Se-selamat Ti-dur!!"


Terlihat And membisikkan suaranya ke telinga Luzon. Tangan yang sudah terlihat seperti mau mematahkan lehernya. Luzon langsung gemetar setelah mendengar bisikan itu, dan membuat dia pipis di celana.


"Krak!!"


Suara tulang leher yang langsung terdengar keras. Leher Luzon langsung patah dengan sekejap, dia langsung mati di tempat dan langsung jatuh ke lantai dengan ke adaan tengkurap, mata Luzon yang masih terbuka memandangi Deck.


Semuanya berakhir. And dapat mengalahkan Deck dan Luzon. Dia berjalan mendekati Zero yang terlihat dengan badan yang penuh luka. Dan dia tiba-tiba terjatuh kelantai sebelum sampai menuju tempat Zero.


Beberapa jam kemudian...


"Argh..!!"


And tiba-tiba sadar dari pingsannya. Dia juga langsung kaget karena mengingat Zero sedang dalam keadaan kritis. Dia segera mencoba bangun, namun tubuhnya tidak mau mengikutinya. Dia merasa sangat kesakitan di sekujur tubuhnya. Dia juga mencoba melirik-lirik sekitar, namun di tempatnya sudah terlihat orang-orang yang sudah mati. Dia juga melihat Deck telah membuatnya pingsan tadi, sudah tergeletak dilantai.


"Apa ada yang membantuku? Siapa yang sudah mengalahkannya?"


And yang sedikit bingung, karena melihat Deck yang sudah tergeletak di lantai tidak bergerak sama sekali. Dia memikirkan bahwa ada seseorang yang sudah membantunya. And masih terlihat berbaring di lantai, dia tidak sanggup berdiri, bahkan menggerakkan tangannya saja tidak bisa.


"Ah, aku tidak sanggup lagi!!"


And yang sedikit merasa lelah. Dan akhirnya dia memejamkan matanya, dia tidak sanggup lagi menahan sakit di sekujur tubuhnya. And pingsan lagi, karena mencoba memaksakan dirinya terlalu keras untuk bangkit dari cederanya itu.