
Sekarang And sudah terikat di samping kasur tidak sadarkan diri, And mulai sadar ketika sudah pagi, membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sudah terikat membuat dia merasa takut, dia berusaha melepaskan ikatan itu, namun ikatannya terlalu kuat. And tidak berhenti di sana, dia selalu memikirkan bagaimanapun caranya untuk bebas, dia melihat pisau kecil di atas meja membuat hatinya sedikit memberikan harapan untuk melepaskan ikatan itu, tangan terikat kebelakang membuat dirinya sedikit kesusahan dalam mengambil pisau karena kakinya juga terikat tali. Dengan sedikit gerakan kecil And berusaha untuk berdiri, namun saat And hampir mengambil pisaunya, suara langkah kaki mendekati pintu, And terlihat berkeringat dan berusaha secepatnya mengambil pisau, jika tidak dia mungkin saja bisa terbunuh.
"Krik"
Suara pintu terbuka, terlihat And yang berpura-pura masih pingsan, dengan sedikit membuka mata, dia melihat kaki seseorang mendekati dirinya, seseorang itu membawakan makanan untuknya, And yang mengintip dari mata terbuka sedikit merasa bingung dengan apa yang dilihatnya ini.
"Apa aku di buat gemuk dulu baru dibunuh" pikir And sambil memotong tali ditangannya sedikit demi sedikit.
"Kak, apa lelaki itu sudah sadar, apa dia baik-baik saja?" Suara wanita dari luar ruangan yang menanyakan kabar And.
"Hah, sejak kapan penjahat memperdulikan kabar korban" pikir And sedikit kesal dengan ucapan wanita itu.
Setelah itu seseorang yang mengantarkan makanan itu keluar dari kamar, And segera cepat memutuskan talinya, setelah And bebas, dia bergegas untuk keluar, namun hari sudah mulai terang, orang sudah banyak di jalanan, jika ketahuan keluar dari jendela pasti bisa menjadi masalah, bisa dikira orang pencuri, And yang masih terlihat gugup dengan situasinya saat ini, dan And memutuskan keluar dari bangunan ini lewat life atau tangga agar tidak dicurigai orang luar. Sebelum And bisa keluar, dia harus melewati ruang tamu, dibsana ada wanita muda yang sedang duduk sambil menonton TV bersama kakak wanitanya. And mengendap-endap keluar menuju pintu keluar supaya tidak ketahuan oleh mereka.
"Kamu bisa bebas?" Tanya seorang wanita yang sudah berdiri didekat And yang sedang merayap.
"Hah" And hanya terdiam sambil menoleh ke wajah wanita itu yang lumayan cantik, And hanya bisa terdiam dengan badan yang sedang tiarap di lantai di belakang sofa diruang tengah.
"Kau sudah masuk ke apertemen kami tanpa izin, apakah kamu bisa menjelaskannya?" tanya wanita itu sambil berjongkok di dekat And sambil memegangi pemukul baseball.
"Hehe, kemarin malam aku dikejar orang jahat, jadi aku terpaksa masuk kesini" And menjelaskan kepada mereka dengan terlihat gugup.
"Mana kartu nama kamu?" kakak wanita itu meminta And memberikan kartu nama atau KTP nya. And segera memberikannya.
"Oh kamu juga kuliah di universitas ternama" ucap kakak wanita itu dengan tersenyum.
"Bolehkah aku pulang" ucap And memohon sambil ketakutan dengan wanita yang sedang memegang pemukul baseball.
"Jangan takut, aku tidak jahat" ucap nya dengan tersenyum manis kepada And yang sudah duduk melihatnya.
"Baik apaan, orang baik mana ada selalu memegang pemukul itu" ucap And yang tidak percaya dengan perkataan wanita itu.
"Kakak biarkan saja dia pergi, sepertinya dia bukan orang jahat" jelas adik wanita itu yang masih berada di atas sofa.
"Iya lebih baik lepaskan aku, aku tidak akan berbuat jahat" jelas And yang masih waspada dengan wanita didekatnya.
"Emmm.., tapi ada syaratnya, berikan ponsel kamu sebentar" wanita itu tersenyum melihat And yang ketakutan terhadapnya.
"Untuk apa kamu dengan ponselku, ponsel ku ini harta satu-satunya" And khawatir dengan keadaan ponselnya nanti takut di hancurkan oleh wanita itu.
And memberikan ponselnya sambil gemetar ketakutan, dan wanita itu mengambil ponselnya dan menekan sesuatu di ponsel And, wajah And terlihat lemas tidak berdaya dihadapan wanita itu, wanita itu mengembalikan ponsel dan berkata bahwa dia sudah memasukkan nomornya di ponsel And, wajah And semakin takut mengapa wanita itu memasukkan nomor ke ponselnya.
"Nama aku Lisa dan adik aku Dina, aku juga kuliah di universitas ternama, sedangkan adikku masih SMA kelas 3, salam kenal pencuri" ucap Lisa dengan tersenyum sambil berdiri menjauh.
"Hah!, kita tidak perlu kenalan, aku sudah banyak kenalan jadi kita tidak perlu lagi" And yang terlihat ketakutan dengan wanita itu mencari alasan untuk tidak berhubungan apapun padanya.
"Kita hanya ingin berteman sama kakak And" Lisa yang tiba-tiba membalikkan badannya dan tersenyum kepada And.
"Ah, aku mohon pamit segera" seketika And langsung berdiri keluar apartemen mereka.
"Pfft"
Lisa yang memandangi And yang berlari ketakutan menahan tawanya dengan sebelah tangannya.
"Kakak, apa kamu menyukainya" tanya Dina dengan penasaran.
"Emmm..tidak, aku cuma ingin berteman dengannya saja, karena dia itu genius di universitas" ucap Lisa menjelaskan ke adiknya bahwa And adalah pemegang juara satu di universitas di semester 2 ini. "Dua tahun lagi kelulusannya, mungkin ada baiknya berteman dengan orang pintar" Lisa berjalan menuju dapur.
"Kalau kakak sampai suka nanti ayah marah" ucap Dina melihat kakaknya berjalan menuju dapur.
"Iya..iya dasar anak kesayangan ayah" Lisa yang terlihat kesal dengan ucapan Dina yang sedang memperingati dirinya.
Akhirnya And sudah keluar dari bangunan itu, And yang berada diluar bangunan melirik kembali ke jendela apartemen mereka, tanpa sadar Dina sedang menyiram tanaman yang ada diluar jendela, And yang melihatnya terhenti karena kecantikan Dina disaat angin menerpa wajahnya, dengan rasa malu And langsung membalikkan wajahnya dan pergi dari sana. Dina yang sempat melihat And yang malu-malu membuat dia tersenyum, dengan tingkah lakunya And setelah melihatnya itu.
"Aku akan kembali menyelidiki tempat cafe nanti, aku akan menghancurkan semua bisnis mereka di kota ku ini" And yang bergumam sambil berjalan pulang sambil memikirkan tempat yang akan di selidiki selanjutnya. Sampai dirumahnya And yang berada di meja depan komputernya menyusun kembali rencana untuk masuk kedalam bisnis yang ada di cafe nanti, dan menyusun rute untuk pergi dari cafe agar tetap aman, waktu yang hampir sore terlihat And yang selalu disibukkan dengan ide-ide balas dendamnya. Sampai And lupa bahwa tanggal ini adalah tanggal dimana rentenir datang kerumahnya.
"Tok..tok..tok.."
Bunyi ketukan diluar pintu rumah, membuat ibu dan Riri berada diluar merasa kaget. Ibu segera membuka pintu, ternyata itu adalah rentenir yang ingin menagih hutang yang telah telat dibayar, ibu yang masih belum bisa membayarnya minta beberapa waktu lagi, dari jawaban itu membuat beberapa pria itu merasa emosi, pria itu masuk kedalam rumah mengambil sebuah televisi yang berada di dekat ruang tamu dan mengambil beberapa barang berharga lainnya, ibu melihat keadaan itu berusaha menahan pria itu mengambil barangnya, pria lain merasa kesabarannya habis, ibu And di dorong kesamping dinding membuat kepala ibunya terbentur keras, pria itu memberi beberapa hari lagi jika belum bisa bayar maka nyawa mereka akan terancam, Riri yang melihatnya tidak berdaya dia memeluk ibunya yang sudah tersandar di samping dinding, ketika pria itu pergi Riri baru berteriak kepada kakaknya.
"Kakak"
Riri berulang kali berteriak kepada kakaknya yang belum keluar dari kamar, ketika Riri melihat ibunya yang sudah pingsan membuat dia takut, dia segera berlari naik keatas tangga untuk memberi tahu kepada kakaknya. Mengetuk-ngetuk pintu kamar And yang belum ada jawaban dari kakaknya membuat hati Riri makin ketakutan dan merasa sedih, Riri menangis sangat kencang bersandar di depan pintu kamar kakaknya.
Terlihat And yang memakai Earphone sambil menulis-nulis rencana balas dendamnya nanti, karena And terlalu fokus membuat ibunya dalam bahaya, beberapa menit akhirnya And dapat menyelesaikan rencananya, And membuka Earphone mendengar Riri yang menangis di luar pintu kamarnya yang terkunci, And segera membukanya, Riri menceritakan semuanya sambil menangis membuat hati And khawatir, And segera berlari kebawah memeriksa keadaan ibunya, melihat ibunya yang sudah pingsan And segera membawanya ke rumah sakit.