Detective Kill

Detective Kill
Bab 17 Rencana Balas Dendam



Wajah semua orang dikamar rumah sakit kini bahagia melihat And yang sudah sadar dari komanya, yang hampir 2 minggu terbaring lemas di kasur setelah operasi, tangis kekhawatiran ibunya kini sudah mereda melihat And yang masih hidup, Riri juga menangis bahagia melihat kakaknya sudah sadar, Linda, dan kakek neneknya juga ikut senang diruang itu.


"And akhirnya kamu sudah bangun" ucap ibunya yang duduk disampingnya, senyuman bahagia melihat anaknya kini sudah sadar dari koma.


"Bu!, bagaimana keadaan Sofia?" Suara pelan And yang terlihat masih khawatir dengan Sofia setelah dia membawanya ke rumah sakit ini.


"Mereka sudah pulang membawa Sofia satu minggu yang lalu" ibunya yang menjelaskan, Sofia yang telah dibawa orang tuanya pulang ke rumah.


"Sayang kamu harus jaga kesehatan saat ini jangan terlalu banyak stress, nanti kesehatan kamu ini semakin memburuk" ayah Sofia yang begitu peduli pada anaknya yang sedang merenung di atas sofa.


"Aku cuma khawatir dengan And, apa dia belum sadarkan diri" ucap Sofia dengan wajah terlihat pucat, bibir ke abu-abuan yang menandakan Sofia yang sedang tidak sehat.


"Nanti ayah akan menelepon ibunya lagi, menanyakan kabar And di rumah sakit" ucap ayahnya yang duduk di samping Sofia sambil merangkul dengan sebelah tangan.


Setelah itu ayahnya menelepon ibunya And untuk mengetahui keadaan And saat ini, dan ibunya And menjelaskan secara rinci bahwa And sudah sadar, mungkin beberapa hari lagi And bisa pulang. Mendengar itu ayahnya langsung menceritakan semuanya kepada Sofia, kini wajah Sofia terlihat senang mendengarnya, tapi disisi lain juga Sofia terlihat sedih memikirkan sesuatu yang tidak dia ingin ceritakan baik itu sama ayah ataupun ibunya.


Satu minggu sudah berlalu, And sekarang bisa beraktivitas seperti biasanya, dan dia sekarang bersama di sebuah taman, Sofia yang ingin mengucapkan rasa terima kasihnya yang telah menyelamatkannya waktu itu, jika And tidak datang waktu itu mungkin Sofia sudah dibunuh, Sofia juga menceritakan ciri-ciri sekumpulan berjas hitam itu dan juga Sofia mengatakan kebanyakan dari mereka memiliki logat bahasa asing yang sama, kemungkinan logatnya itu seperti bahasa Jepang, perkataan itu membuat And memulai berpikir mungkin sama dengan sekumpulan orang yang telah membunuhnya waktu dulu. Setelah itu And mengubah pembicaraannya tentang mengapa waktu itu Sofia tidak ingin menemuinya, sontak membuat Sofia terdiam sejenak, dia hanya meminta maaf dan tidak berkata lain lagi. And merasa Sofia yang tidak ingin menceritakannya membuat dirinya tidak menanyakan hal itu lagi tentang masalah ini. Akhirnya mereka baikan dan hubungan mereka kembali seperti sebelumnya yang masih sekedar teman dekat biasa.


"Makasih sudah mengantarkan aku pulang" Sofia yang terlihat senang dengan hubungannya saat ini bersama And.


"Sama-sama, jaga kesehatan kamu!" And yang khawatir dengan keadaan Sofia yang tidak terlihat baik, dari wajah Sofia yang sedikit pucat.


"Iya, aku tidak apa-apa, jangan khawatir" Sofia membalas sambil memberikan Senyuman manisnya.


"Baiklah aku juga pulang dulu" ucap And sambil melambaikan tangannya untuk berpamitan dengan Sofia yang berdiri di depan pintu rumahnya.


*****


Di perjalanan pulang And bertemu 2 orang lelaki besar sedang berada di depan sebuah rumah seseorang, karena And sangat ingin mengetahuinya, dia mengendap-endap untuk mendekati apa yang mereka ingin lakukan di rumah itu.


"Hah"


And terlihat kaget melihat lelaki besar yang sangat mirip dengan seseorang waktu itu menyiksanya, yang telah memukul dia saat disekap di gudang tua di Jepang dulu. And telah menemukan beberapa orang yang telah membunuhnya, balas dendam And kini sudah dekat pikirnya. And segera meninggalkan tempat itu agar tidak di ketahui mereka, And mulai menyusun rencanannya untuk mencari beberapa bukti lagi untuk pembalasan dendam.


Dua tahun kemudian...


Setelah dua tahun And mencari bukti, And memberanikan dirinya masuk kedalam sebuah bar menggunakan jaket dan menutup wajahnya dengan rambut panjang palsu agar tidak dikenali mereka. "Pesanan yang saya telah tunggu dari bos" itu lah kode yang di ucapkan And ketika didepan kasir bar, dan sang kasir langsung memanggil beberapa pelayan untuk mengantarkan And keruangan khusus, sebelum masuk And di periksa terlebih dulu, membawa ponsel atau benda tajam dilarang, didalam ruangan dia diberi satu topeng untuk dikenakan agar indentitasnya tidak diketahui oleh beberapa orang yang sudah ada didalam ruangan rahasia bisnis.


"Emmm"


Senyuman And terlihat sedikit, di dalam ruangan rahasia itu And mengetahui bisnis yang dilakukan mereka, seperti menjual obat -obatan ilegal dan penjualan organ manusia. And secara rahasia membeli kamera tersembunyi yang dia siapkan untuk mendapatkan beberapa bukti ini. Akhirnya And berhasil mendapatkan 100% bukti di bisnis bar itu, And berpura-pura juga membeli beberapa obat di sana agar tidak di curigai, And juga mengobrol dengan beberapa orang di sana untuk mengetahui berapa hal yang masih membuat dia penasaran.


Setelah And berhasil keluar dari bar, And menemukan hal yang mencurigakan lagi, And melihat asisten mantan bos sedang berada di dekat toko bar itu, sedang melakukan transaksi dengan beberapa orang luar negeri. Sebelum pergi And memfotonya tapi sialnya malam itu lupa mematikan blitz kamera, tidak jauh dari tempat mereka, And langsung diketahui dan dia dikejar oleh beberapa anak buah asisten itu. karena And adalah seorang detektif terhebat, kejaran itu tidak membuat dia takut. Otaknya yang dipenuhi berbagai cara untuk kabur selalu ada. Jika berhasil ditangkap And juga lulusan juara satu beberapa seni beladiri. And begitu cepat berlari membuat beberapa orang itu tidak dapat mengejarnya, apalagi saat malam hari membuat kemapuan And menjadi sangat berbahaya, dan bahkan pencari profesional tidak akan bisa menemukannya.


"Uh, hampir saja"


And terlihat sudah berada di atas gedung dengan membuka tudung jaketnya dan juga membuang rambut palsunya, dia melihat kebawah sekumpulan berjas hitam masih mencarinya. "Wah mereka semakin banyak, kalau ketangkap bisa terbunuh" terlihat And membuka jaket dan celana panjangnya untuk menghindari kecurigaan dan sekarang menggunakan pakaian kaos putih dan celana pendek, And secara hati-hati turun agar tidak ketahuan, saat itu mereka belum melihatnya.


"Ting..tong..ting..tong"


Bunyi telepon And berbunyi disisi samping gedung tinggi, membuat sekumpulan berjas hitam itu melihat ke atas.


"Hah, itu hampir saja" And yang sudah terbaring dilantai di sebuah ruangan gelap, masuk melalui pintu jendela yang terbuka. "Untung aku masih memiliki keberuntungan" And yang sambil memegang detak jantungnya dengan sebelah tangan berbaring dilantai.


"Kamu siapa? di atas ranjang dalam kegelapan terdengar suara perempuan yang merasa ketakutan dengan kehadiran And di dekat pintu jendela.


"Suttttt"


And yang tiba-tiba terkejut dengan suara itu, tanpa sadar And langsung menyuruh untuk diam, dan menjelaskan dia sedang dalam bahaya, akhirnya perempuan itu mau diam, And juga melihat-lihat kebawah dari ruangan itu, apakah sekumpulan itu sudah pergi atau tidak.


"Buk"


Tiba-tiba And yang masih melihat kebawah di pukul oleh sebuah pemukul baseball, karena ruangan itu masih gelap And tidak bisa melihat wajah yang memukulnya dan akhirnya And pingsan tak sadarkan diri.