Detective Kill

Detective Kill
Bab 13 Misteri yang Baru di Mulai



"Kalian saling kenal" terlihat wajah And yang masih kaget dan tidak percaya.


"Kami sudah kenal lama sekali, bahkan sebelum ibu nikah dengan ayah kamu And" jelas ibu.


"Wah kami tidak menyadarinya, pantas saja And terlihat familiar dengan ayahnya" ucap nenek dengan terlihat bahagia. "Tapi kami tidak melihat ayah And, dimana dia?, apa dia sedang bertugas" tanya kakek.


"Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu, saat And masih berumur 13 tahun dan adiknya ini masih berumur 2 tahun" memperlihatkan wajah ibunya menahan air matanya.


"Maafkan kami sebelumnya, kami juga saat itu tidak tahu kabarnya, karena anak kami juga mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan mereka juga meninggal, kami hanya memiliki cucu yang kami sayangi" nenek menjelaskan dengan pelan.


Mereka saling menceritakan masa lalu yang begitu menyedihkan, dan haripun mulai malam keluarga And di ajak pergi kekediaman rumah kakek dan neneknya Linda, mereka mengobrol berbagai hal bahkan mereka juga membicarakan tentang perjodohan And dengan Linda. Mereka berkumpul dimeja makan, sambil membahas pertemuan mereka dengan And yang disukai oleh cucunya itu.


"Ini terlalu tiba-tiba, And masih ingin berkuliah, belum ada niatan untuk berkeluarga, perjalanan And masih panjang bu, And masih ingin menghujudkan cita-cita, umur And juga masih muda, jadi kalian jangan paksa And dulu, biarkan And memutuskannya sendiri siapa yang akan menjadi istri And dimasa depan" And menjelaskan kepada semuanya.


"Kakak And benci Linda, apa Linda jahat sama kakak And" wajah Linda kini di penuhi dengan kesedihan, setelah mendengar ucapan And yang tidak mau menikahinya.


"And tidak benci Linda kok, kakak masih muda...belum siap menikah jadi Linda juga harus fokus sekolah" kini wajah And terlihat menyesal mengatakan sesuatu yang telah membuat Linda sedih.


"Linda kamu masih berumur 14 tahun dan kakak And masih 18 tahun, itu masih terlalu muda, umur yang bagus itu ketika Linda sudah berumur 20 an keatas" kakek yang berusaha membujuk Linda di meja makan.


"Emmmm" wajah Riri terlihat kesal setelah mendengarkan semua pembicaraan orang dewasa yang ingin mengambil kakaknya yang dia sayangi, makan pun dia tidak bisa meneruskannya, bahkan dia selalu memandangi wajah Linda yang ingin merebut kakaknya itu.


"Iya nak Linda harus besar dulu, agar kakak And tambah menyukai Linda, soalnya kakak And suka wanita dewasa, pintar memasak, menjaga rumah, dan bisa menyenangkan kakak And nanti" Ibu And juga berusaha membujuk Linda yang masih terlihat sedih.


"Benarkah apa yang di katakan tante, kakak And menyukai wanita seperti itu" Linda yang sedang bertanya dengan serius kepada ibunya And, bahkan dia juga menaiki meja makan dengan kedua tangannya.


"Iya..iya Linda, aku sangat suka wanita yang baik juga, dan terlalu malam tidak baik bagi kami meninggalkan rumah kosong" jelas And dengan wajah berkeringat membasahi wajahnya.


"Baiklah, kami akan mengantarkan kalian, oh iya kami ada sedikit oleh-oleh jadi kalian bawa untuk di rumah, pelayan bawakan beberapa hadiah buat mereka, mari kami antar" ucap kakek Linda.


"Makasih jamuan makan malamnya dan oleh-oleh ini juga, lain kali kami nanti mampir lagi, nak Linda harus semangat ya jangan sedih lagi, kakak And tidak suka kalau calon istrinya sering sedih" ucap ibu dengan tersenyum memohon pamit, dan memasuki mobil yang sudah disiapkan keluarga Linda.


"Pakai sabuknya nyonya dan tuan" ucap supir pribadi keluarga Linda.


"Ibu, kenapa ibu sangat senang ketika membahas And dengan Linda, aku berhak memilih wanita yang aku sukai bu!" jelas And di dalam rumah.


"Bruk"


"Maafkan ibu, ibu hanya terbawa suasana melihat cucu mereka sangat menyukaimu, padahal Linda sangat cantik dan baik, sepertinya juga dia cocok banget buat kamu, apakah kamu sudah memiliki seseorang?"


"Sekarang belum, tapi aku sudah menyukai seseorang, dia juga baik dan juga pintar, tapi...


"Tapi kenapa And"


"Tidak tahu aku bingung, aku belum siap saja menikah, aku ingin menjalani kehidupanku seperti apa yang aku inginkan, tidak ada namanya percintaan dulu bu!"


"Baiklah jika itu maunya, oh iya dimana Riri?"


"Tadi And melihat Riri sudah memasuki kamarnya ketika kita masuk ke rumah, mungkin dia sudah mengantuk soalnya jam sudah 10.00 malam, And juga ingin beristirahat, masih banyak hal yang ingin dikerjakan besok, ibu juga langsung istirahat juga, jaga kesehatan ibu!" And yang menaiki tangga untuk menuju kamar tidurnya dilantai atas.


"And tunggu dulu, bukan kah kamu tidak merasa ada yang salah dari cerita mereka mengenai kecelakaan itu, hari dan waktunya juga sama dengan kematian ayahmu dan bahkan saat itu ayahmu bilang ingin bertemu dengan temannya, ayahmu meninggal saat melaksanakan tugas, tapi yang ibu ingat ayah hanya mengatakan ingin bertemu teman, ini hanya pikiran ibu saja"


"Emmm.. sepertinya And baru ingat juga, kematian ini seperti ada kaitannya dengan mereka, bahkan mayat ayah langsung di bawa pulang, mengapa tidak di bawa ke rumah sakit terlebih dulu" terlihat And yang masih berada di atas tangga bersama ibunya.


"Tapi itu hanya tebakan ibu, mungkin itu hanya kebetulan saja, kematian mereka sama persis, ibu ingin istirahat juga, kamu segera lah ke kamar, jangan larut malam tidurnya, tidak baik untuk kesehatan" tegas ibu dengan menuruni tangga.


"Iya ibu, masalah kematian aku dulu saja belum selesai, sekarang aku harus mencari tahu tentang kematian ayahku, tapi untuk kebahagiaan keluargaku, dan tidak ada lagi yang mengganggu keluarga ini, aku harus menyelesaikan semua yang dapat mengancam keluarga ini" And yang terlihat begitu serius memikirkannya sambil berjalan menuju pintu kamar.


"Sebelum itu, aku harus menyelesaikan masalah keuangan keluarga ini, aku harus butuh penghasilan agar aku bisa kuliah dan mencukupi kebutuhan keluargaku, aku harus bekerja agar aku memiliki cukup penghasilan, aku harus berusaha dengan keras, jika aku hanya berpikir dan tidak ada niatan berusaha mana bisa aku memiliki penghasilan, ayo And jangan malas ini semua demi keluarga" terlihat And memukul kedua belah pipinya.


"Oh iya, sekarang aku harus menyelesaikan novel ku juga, jika aku malas membuat mana bisa juga aku mendapat penghasilan dari sana, aku tidak boleh malas, kalau aku malas kehidupan keluargaku tidak akan pernah berubah, aku harus fokus dalam tiga bulan ini untuk mencari penghasilan" memperlihatkan And berada di depan komputernya.


"Tit...tit...tit.." bunyi alarm


Sekarang And yang masih tertidur karena kelelahan, akibat terlalu memaksakan dirinya. Kini alarm itu berhenti sendiri, And yang masih tertidur pulas tanpa ada gerakan.


"And tolong aku, tolong And, teriakan Sofia yang kini minta pertolongan kepada And yang begitu keras, ah mengapa aku tidak bisa bergerak ke sana, bahkan rasanya seluruh badan ku terikat. And maafkan aku, aku harus pergi, maafkan aku And, selamat tinggal And"


"Tidak!!! Sofia jangan pergi..ah..ah hanya mimpi, seperti nyata sekali mimpi ini, bahkan itu benar-benar terjadi" And yang tiba-tiba bangun dari tidurnya wajah yang di penuhi keringat membasahi seluruh badannya.


"Apa yang terjadi kepadaku, rasanya hati ini terasa sakit sekali seperti ketika kehilangan beberapa bagian dari dalam tubuhku" And yang sudah berada dikamar mandi membasahi seluruh wajah hingga badannya dengan air keluar dari shower di atas kepalanya. "Apa aku akan kehilangan Sofia lagi, apa aku tidak bisa merubah takdirnya, mengapa begitu sulit, aku harus mencobanya terlebih dulu sebelum itu aku tidak boleh menyerah" And yang masih memikirkan kesedihan nya yang tersimpan lama ketika Sofia meninggalkan dirinya dengan begitu cepat.