
Akhirnya And pulang bersama dengan supir pribadinya, satu minggu lebih dia sudah dirawat. Yuna juga sudah khawatir dengannya, dan sudah menunggu suaminya yang belum pulang-pulang dari Indonesia. Kali ini And ingin bersama dengan Yuna dalam waktu yang lama, dia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya yang sudah dia cintai.
Diperjalanan pulang, dia bertemu bibi pembantu di rumah Sofia, dia menghentikan mobil untuk berbicara dengan bibi itu, tentang bagaimana kabar Sofia. Dalam waktu hampir 3 tahun ini. And sama sekali tidak tahu tentang informasi keberadaan Sofia.
"Bibi, tolong tunggu sebentar!"
Terlihat And yang memanggilnya, terlihat dia masih sedang duduk di kursi belakang. Bibi itu sedikit kaget dan menoleh ke sampingnya, dan dia sedikit bingung melihat lelaki muda yang telah memanggilnya.
"Maaf tuan, apa anda memanggil saya?"
Bibi itu sedikit bingung, melihat And yang dia tidak kenali sama sekali. Dia juga sedikit gugup melihat And yang menaiki mobil yang mewah.
"Apa bibi lupa denganku! Aku ini And teman masa kecilnya Sofia?"
And yang keluar dari mobilnya, untuk memperkenalkan dirinya kembali. Bibi itu sedikit melirik-lirik wajah And dan mengingat-ingat wajahnya.
"Oh! Kemana saja kamu! Hampir 3 tahun kita tidak bertemu. Kamu bahkan sekarang punya supir pribadi dan mobil yang mewah, apa kamu...?" Ucap bibi itu terlihat senang dengan pertemuannya dengan And. Namun And menyela pertanyaannya itu.
"Bagaimana kabar Sofia? Apa dia baik-baik saja!"
And yang terlihat serius menanyakan tentang kabar Sofia, bahkan nomor Sofia tidak aktif lagi dalam 2 tahun terakhir. Bibinya sedikit menundukkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan And itu.
"Maaf tuan, dia pernah mencarimu, namun kamu sedang berada diluar negeri waktu itu. Dia pulang waktu itu dengan keadaan sedih, mungkin itu adalah...hikss..hikss..dia ingin menemuimu..??" Bibi itu menangis membahas tentang Sofia. And yang melihatnya sedikit merasa khawatir, dia segera mencoba membuat bibi itu agar tenang terlebih dulu sebelum menceritakan semuanya.
"Sebaiknya tuan, lebih baik ikut ke rumah saja, agar tuan lebih tahu kebenarannya" Bibi itu sedikit mengusap matanya karena teringat untuk segera pulang, untuk segera membawa barang-barang belanjaan yang telah dia beli dari pasar.
"Baiklah, mari bibi aku antar sekalian. Aku ingin tahu sebenarnya juga!" And yang terlihat membukakan pintu belakang mobilnya.
"Maaf ngerepotin!" Bibi itu terlihat tidak enak memasuki mobil And.
"Tidak kok, sekalian aku mampir ke sana!" And yang sudah terlihat berada duduk di samping bibinya.
"Kalau bibi masih tidak bisa menceritakannya, tidak apa-apa kok, aku tidak akan memaksa!" Anda yang terlihat tidak tega membuat bibi itu menangis lagi.
"Maafkan aku tuan, aku tidak sanggup membahas tentang keadaan nyonya Sofia!" Bibi itu meminta maaf kepada And, karena hatinya tidak sanggup mengingat tentang kondisinya Sofia.
"Baiklah tidak apa-apa! Bibi tidak perlu sedih lagi!" And yang berusaha menenangkannya yang masih terlihat ingin menangis ketika dia mengingat Sofia. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sofia, membuat And sedikit penasaran.
*****
"Tuan, ada tamu!"
Bibi itu memanggil ayahnya Sofia yang sedang duduk di atas sofa, dia terlihat bersantai-santai sambil menikmati secangkir kopi. Dia sedikit terkejut karena bibi memanggilnya, dengan bersama seorang tamu.
"Oh! Ada tamu? Siapa dia?"
Ayah Sofia sedikit terkejut karena tamu yang tiba-tiba datang tanpa memberi kabar terlebih dulu. Dia langsung segera berdiri dan menyuruh bibi itu untuk segera mengajak tamu itu masuk kedalam.
"Salam om!"
And yang terlihat memberi salam kepada ayahnya Sofia, namun Ayahnya Sofia juga tidak mengenali And. Karena mereka tidak bertemu hampir 3 tahun lamanya.
"Iya, ada perlu apa tuan kesini?"
Dengan sopan ayahnya Sofia menanyakan maksud kedatangan And, dia juga menyuruh bibi itu untuk segera menyiapkan air untuk tamu.
"Apa om tidak mengenaliku?"
And yang berusaha membuat ayahnya Sofia untuk mengingatnya. Namun ayahnya Sofia malah bingung melihat tingkah laku And yang terlihat akrab dengannya.
"Aku And om, temannya Sofia. Masa om lupa!"
And sedikit tersenyum memberi tahu kepada ayahnya Sofia. Namun ayahnya langsung berubah, dia terlihat sedih ketika mendengar ucapan And.
"Om ada apa? Mengapa om terlihat sedih! Apa aku ada salah?" And terlihat khawatir karena ayahnya Sofia langsung sedih mendengar perkataannya, And sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi. Apa ucapannya ada yang salah atau tidak.
"Kamu tidak salah, aku cuman mengingat masa lalu saja!" Ayahnya Sofia terlihat mengusap matanya, dia juga berusaha tenang untuk berbicara dengan And.
"Ini minumannya tuan!"
Bibi itu tiba-tiba langsung menyuguhkan air susu kesukaan And, bibi itu langsung menyuruh dia segera minum terlebih dulu. And langsung kaget kenapa bibi itu bisa tahu minuman kesukaannya, bahkan susu itu tidak ada gula sama sekali. Semua itu hanya ibunya dan Sofia yang tahu.
"Bibi, kok kamu tahu minuman kesukaanku?" And yang sedikit penasaran kenapa bibi itu bisa mengetahuinya.
"Sebenarnya nyonya Sofia yang memberi tahu saya, bahwa tuan And sangat suka susu, namun tidak boleh pakai gula. Dia sangat senang ketika bercerita tentang tuan And" bibi itu sedikit sedih kembali mengingatnya.
And terlihat sangat kebingungan ketika mereka membahas tentang Sofia langsung saja sedih, dia juga tidak berani bertanya takut membuat mereka semakin sedih.
"And, sebenarnya Sofia sudah meninggal 2 tahun yang lalu!. Dia mengalami kanker paru-paru stadium akhir. Semenjak dia mulai menghindari kamu, dia tidak mau membuat kamu khawatir. Jadi dia berusaha membuat kamu membencinya, saat kita pergi keluar negeri. Itu semua keinginannya sendiri, dia tidak mau kamu melihat keadaannya yang semakin memburuk. Dia juga sangat mencintaimu, namun dia ingin kamu bahagia bersama wanita lain yang lebih sehat darinya. Saat hari-hari terakhirnya dia ingin bertemu denganmu, namun kamu waktu itu sedang berada di luar negeri. Dia sangat sedih waktu itu, kondisinya tiba-tiba semakin memburuk, saat kami membawanya ke rumah sakit..".
"Hiks...hikss...!!"
And yang terlihat meneteskan air matanya, mendengar semua cerita dari ayahnya Sofia. Dia juga terus meminta untuk melanjutkan ceritanya sampai habis.
"Saat di rumah sakit, dia sempat tersenyum dan sambil menangis. Dia juga tidak lupa berpesan sesuatu untuk kamu. Jika suatu saat nanti And mengetahuinya aku harap dia tidak sedih, dan terus tersenyum seperti biasanya. Dia langsung memejamkan matanya dengan senyuman manis di bibirnya untuk yang terakhir kalinya".
Ayah Sofia juga terlihat menetes air matanya, menceritakan masa lalu sebelum anaknya meninggalkan mereka. Dia juga berdiri mendekati And yang sudah terlihat sedih setelah mendengar semua cerita itu. Ayahnya Sonia terlihat juga mengelus-elus belakang And untuk membuatnya lebih tenang.
And terus menangis, dia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi, ditinggalkan oleh seorang yang telah dia cintai sangat lama. Dia sudah berusaha merubah masa depan untuk menyelamatkan Sofia, namun takdir kematiannya tidak bisa And ubah. Dia kembali kehilangan Sofia yang sudah menemaninya dari kecil. Kenangan And bersama dengan Sofia terus bermunculan di kepalanya, hatinya kembali sakit karena masa lalu tentang kematian Sofia kini terulang kembali, meskipun dengan keadaan yang berbeda. And sangat sedih sampai dia memeluk ayahnya Sofia dengan sangat erat.
"Hikss..maafkan And yang tidak berguna ini om!"
And terlihat menangis memeluk erat ayahnya Sofia di atas sofa. Dia juga terus menyalakan dirinya karena sudah membuat Sofia sedih, dia terus meminta maaf dan dia juga tidak berhenti menangis.
"Kamu tidak salah, semua itu keinginan Sofia, dia tidak mau kamu mengetahui penyakitnya. Jadi kamu tidak salah sama sekali!" Ayah Sofia berusaha menenangkan And yang sedang menangis di pelukannya.
Beberapa jam kemudian...
"Lain kali mampir lagi!"
Ayah Sofia yang terlihat senyum memandangi And yang sudah duduk di kursi belakang mobilnya, dia melambaikan tangan untuk And yang sudah ingin pulang. Ayahnya Sofia terlihat sedih berada di depan pintu rumahnya, setelah And sudah pergi jauh dari rumahnya.
"Maafkan ayah Sofia, aku mengingkari janji kita. Aku sudah menceritakan semuanya kepada And. Dulu kamu tidak mau dia mengetahuinya, ayah sangat minta maaf. Ayah tidak sanggup merahasiakan ini kepadanya. Kalian saling mencintai, kenapa tidak mengungkapkannya saat itu. Maafkan ayah".
Ayah Sofia berbicara sendiri sambil berjalan masuk kedalam rumah. Karena dia sudah memberi tahu semuanya kepada And, dia tidak mau masalah ini nantinya terus di simpan.
*****
Setelah And dari rumah Sofia, dia juga meminta agar di beri tahu dimana makam Sonia, dan ayahnya Sonia juga memberi tahu tempat dimana Sonia dimakamkan. And segera pergi untuk melihatnya dan dia mungkin ingin mengucapkan perpisahan.
--
"Sonia, maafkan semua kesalahanku. Aku tahu kamu pasti tidak memaafkannya iyakan. Aku tahu kok, sifatmu itu begitu bawel, bahkan aku benarpun tetap saja salah. Makasih Sonia kamu sudah menemaniku selama ini, selamat jalan. Semoga kamu juga bahagia di sana. Aku disini sudah bahagia kok, kamu tidak perlu khawatirkan aku lagi. Sekarang aku sudah sukses, lain kali aku akan datang lagi kesini ya".
And yang terlihat tenang sambil berbicara di depan makamnya, dia juga berusaha tetap tersenyum bahagia menyampaikan isi hatinya. Dia juga terlihat memberikan bunga di atas makam Sofia dan setelah itu dia pergi.