
Satu minggu kemudian...
Sekarang And sudah terlihat bersiap-siap untuk pergi ke Jepang dalam waktu yang cukup lama, mungkin And sekalian menyelesaikan kuliahnya di sana. Masalah dendamnya sekarang sudah selesai, kini saatnya dia menjalani kehidupan barunya. Dia juga sudah mulai mencintai Yuna, mungkin dia akan menikahinya sekali lagi, agar hubungannya menjadi sah.
And sudah terlihat berpelukan dengan ibunya, dia juga memeluk Riri yang terlihat sedih karena kakaknya akan pergi meninggalkannya. And meminta maaf kepada adiknya dan mengelus-elus kepalanya, dia juga tidak lupa memberinya coklat sebagai salam perpisahan kepada adiknya yang sangat dia sayangi.
"Dadah, jaga kesehatan kalian!"
And yang melambaikan tangan di jendela di kursi belakang mobilnya. Ibu dan adiknya juga terlihat membalas lambaian, keduanya tidak dapat menahan rasa sedih saat mereka melihat And yang sudah pergi jauh dari rumah. Riri juga terlihat memeluk ibunya sambil menangis, karena kakak yang selalu menyayangi dan memanjakannya sudah pergi.
"Riri, kakak kamu sedang ada tugas yang harus dia selesaikan, karena dia juga sudah dewasa. Dia tidak bisa terus berada disisi kita, namun dia akan pulang. Jadi kita harus menunggu dan mendo'akannya agar tetap sehat".
Ibunya berusaha menenangkan Riri yang sedang menangis sambil memeluk tubuhnya. Dia juga terlihat mengelus-elus kepala Riri. Dengan bujukan itu Riri sedikit mulai merasa tenang. Dia langsung mengusap air matanya dan langsung tersenyum kepada ibunya.
"Ibu, apa And akan pulang?"
Riri yang terlihat tidak sedih lagi, sedang menanyakan tentang kapan kakaknya akan pulang kembali. Ibunya langsung bertekuk lutut dan memegangi kedua belah pipinya, sambil memberikan senyuman.
"Riri, dengarkan ibu. Kakak kamu akan pulang, tapi setelah dia menyelesaikan kuliah dan kerjaannya di sana. Jadi kamu harus fokus belajar, agar saat kakak sudah pulang, kamu sudah berada di kelas satu SMA. Riri harus semangat sekolahnya ya!".
"Baik bu, Riri akan membuat kakak terkejut ketika pulang nanti. Aku harus lebih pintar dari kakak, agar aku bisa bantu kakak mengatasi pekerjaannya itu, agar dia lebih banyak waktu buat kita. Benarkan bu?"
Riri terlihat semangat, dan termotivasi untuk membantu kakaknya suatu saat nanti. Dia juga langsung menarik tangan ibunya untuk segera masuk kedalam rumah, karena harinya sudah hampir sore.
*****
And juga tidak lupa untuk berpamitan dengan keluarga Linda, dia juga mengunjungi keluarga Linda untuk memberi tahukan bahwa dia akan sedikit lama berada di Jepang. Mendengar hal itu Linda sedikit terlihat sedih, namun dia berusaha untuk tetap mengerti agar tidak membuat And terbebani.
"Kakak, jangan lupakan Linda bersama kakek dan nenek, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kakak. Jadi jangan sungkan mampir ketika kakak sudah pulang, kami selalu menunggu kedatangan kakak disini".
Dengan wajah sedikit sedih melihat And yang sudah pergi jauh. Meninggalkannya setelah memberikan sebuah kalung mutiara. Linda tidak bisa menahan air matanya ketika laki-laki yang dia cintai kini sudah pergi. Namun dia berusaha tenang melihat keadaan kakek dan neneknya kini sudah semakin tua, dia berusaha agar tidak membuat mereka khawatir lagi. Kini dia sudah semakin tumbuh menjadi wanita cantik dengan kepribadian yang baik dan terus optimis.
Perpisahan itu akan menjadi semangatnya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi, dia berharap suatu saat nanti takdir baik akan datang. Dia berkeinginan takdir itu bisa membuat dia bisa bahagia selamanya. Kakek dan neneknya juga mengetahui kalau Linda sangat mencintai And, namun mereka juga tidak bisa memaksa hati And untuk menikahi cucu mereka. Tapi yang paling penting mereka hanya berharap suatu saat nanti cucunya bisa bahagia, bersama seseorang yang dapat menjaga dan tulus kepada cucu mereka.
--
"Kakek nenek, Linda berangkat sekolah dulu!"
Linda yang berpamitan kepada kakek dan neneknya, dia langsung pergi setelah menghabiskan makanan di atas meja. Dia juga tidak lupa bersalaman kepada mereka, dengan wajah yang sangat manis, begitu semangat untuk pergi ke sekolah.
"Wah suana pagi selalu enak!"
Linda yang terlihat sambil menikmati angin yang bertiup-tiup masuk kedalam pintu mobilnya. Dia juga terlihat sangat menikmati seluruh jalan yang penuh dengan pohon-pohon besar di samping jalan. Membuat suana di dalam mobil semakin sejuk. Dia lebih suka dengan angin alami ketimbang memakai AC mobilnya.
"Apa kakak And sudah sampai di Jepang!"
Linda yang tiba-tiba kepikiran dengan And, dia juga sedikit merindukannya, padahal baru semalam dia ketemu. Harapannya terlalu besar kepada And, dia juga tidak mengetahui bahwa And sudah memiliki istri. Namun cinta Linda kepada And tidak akan pernah berubah, hanya takdir sajalah yang dapat menyatukan mereka suatu saat nanti.
--
"Nyonya. Kita sudah sampai!"
Terlihat supir pribadinya sudah membukakan pintu belakang mobilnya. Linda segera keluar dan berjalan memasuki pintu gerbang sekolahnya, di depan sekolah teman-temannya sudah menunggu kedatangan Linda. Karena Linda adalah salah satu anggota voli ball putri yang terkenal dengan kehebatannya, dia juga memiliki wajah yang cantik, tidak heran juga banyak menyukainya.
"Nah loh, si artis kita sudah datang!" Salah satu temannya bernama Lilia menyadari bahwa Linda sudah datang ke sekolah.
"Wah, aku harus minta foto dulu nih!" Temannya yang sedikit tomboi bernama Nia sedang mengejek Linda yang sudah mendekati mereka.
"Sudah-sudah malu dilihat yang lain, cepat kita masuk kelas!" Linda yang tidak suka menjadi pusat perhatian, dia langsung menarik teman-temannya untuk segera pergi dari sana.
"Iya-iya bawel amat sih jadi cewek! Hei..mata kalian dijaga, kalau tidak mau aku colok nanti" Terlihat Nia yang sedikit kurang suka melihat laki-laki sedang memandangi Linda.
"Is jadi cewek tidak boleh seperti itu, bagaimana nanti laki-laki itu pada takut sama kamu!" Linda yang sedikit menegur Nia yang masih terlihat kesal.
"Biarin, aku masih punya kamu, jadi kamu harus berada di sisiku!" Terlihat Nia yang merangkul tangan Linda sambil berjalan menuju kelas mereka.
"Hah! Kok gitu, kamu tidak boleh nikah. Nanti aku sama siapa?" Nia yang terlihat sedih mendengar ucapan Linda.
"Pfft..Haha..kamu masih punya Lilia, jadi jangan sedih!" Linda yang tertawa melihat Nia begitu kaget mendengar ucapannya itu.
"Heh, Lilia itu menyeramkan. Kalau dia marah yang ada aku jadi sate goling!" Nia yang tanpa berpikir panjang langsung mengutarakan isi hatinya.
"Hei..hei kamu bilang apa tadi!" Lilia yang tiba-tiba menoleh kebelakang karena mendengar suara Nia sedang membicarakannya.
"Tidak ada apa-apa kok, benarkan Lin!" Nia yang tiba-tiba gugup berlindung di belakang Linda.
"Awas saja kamu sekali lagi ngomongin aku!" Lilia yang sedikit kesal dengan Nia yang selalu membicarakannya di belakang.
"Bukannya kalian ini teman masa kecil, masa bertengkar terus!" Linda yang merasa bingung kenapa kedua temannya ini tidak pernah berdamai saja, maunya bertengkar saja.
--
Istirahat jam makan siang...
Mereka sedang makan di sebuah kantin sekolah, mereka juga terlihat asik sedang membahas sesuatu, namun tiba-tiba sesuatu terjadi di sebuah kantin itu. Terlihat senior voli putri sedang memarahi anggota voli Linda, dia langsung berdiri dan mendekat untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.
Siswi itu di marahi seniornya karena sudah memberantakan tempat penyimpanan perlengkapan voli putri. Linda yang sebagai teman wanita itu, dia mencoba melerainya. Dan senior itu sedikit terkejut karena Linda ikut campur dalam urusannya.
"Senior maafkan anggota kami"
Linda yang berusaha meminta maaf, agar senior itu berhenti memarahinya di tempat umum ini. Karena senior itu mengenali Linda, dia sedikit berbaik hati dan menyuruh agar Tiana bisa merapikan kembali tempat yang sudah dia berantakan itu.
"Apa kamu baik-baik saja Tiana?" Linda yang sedikit khawatir dengan anggotanya, Tiana berbeda kelas dengan Linda, namun dia satu tim.
"Aku tidak apa-apa, makasih kalian sudah mau membantuku!" Tiana yang sedikit menundukkan kepalanya, karena sudah merepotkan mereka.
"Nanti pulang sekolah, kita sama-sama merapikan tempat itu, jika tidak! Senior akan marah lagi!" Nia yang mencoba membantu dengan idenya agar lebih cepat.
"Makasih semuanya!" Tiana sedikit senang mendengarnya.
--
Gudang olahraga putri.
"Maaf sudah membuat kalian seperti ini!" Tiana meminta maaf kepada mereka.
"Sebenarnya, kenapa bisa berantakan seperti ini?" Lilia yang sedikit penasaran apa yang sudah terjadi.
"(....)" Tiana sedikit terdiam setelah Lilia bertanya dengannya.
"Tidak apa-apa, ceritakan saja! Takutnya nanti kami bisa membantu!" Linda yang berusaha membuat Tiana lebih tenang, dia juga terlihat sedang menyentuh pundaknya.
"Sebenarnya bukan aku yang membuat berantakan ini, aku di fitnah oleh lawan tim kita waktu itu. Mereka ingin aku mengambilkan mereka bola voli, setelah aku memasuki gudang, semuanya sudah berantakan. Dan saat itu senior tiba-tiba juga berada disini, aku kaget dan bell sekolah berbunyi. Aku langsung berlari menuju kelas dan tidak sempat lagi membereskannya".
Setelah mereka mendengar ceritanya, mereka sedikit kesal, karena tim yang mereka kalahkan waktu itu, menggunakan trik seperti ini, agar senior marah kepada tim mereka.
Beberapa jam kemudian...
"Akhirnya selesai juga! Ayo kita pulang!" Nia yang terlihat meregangkan tangan-tangannya.
"Iya, mungkin kakek dan nenek sudah menungguku!" Linda yang terlihat khawatir dengan kakek dan neneknya.
"Makasih kalian sudah membantu!" Tiana yang terlihat senang kepada teman-temannya.
"Kita ini teman, wajar saja saling membantu" Lilia yang terlihat tersenyum mencoba menghibur Tiana.
Setelah itu mereka mengunci ruangan itu kembali, mereka juga langsung pulang karena sudah terlalu lama berada di sekolah. Semua teman-teman Linda berpisah, mereka saling melambaikan tangan karena tujuan yang berbeda-beda. Keseharian Linda di sekolah sangat menyenangkan, bisa terus bersama teman-teman baiknya.