
Satu minggu kemudian...
And tiba-tiba terbangun di sebuah ruangan rumah sakit, dia terbaring dengan tubuh lumayan sehat tanpa merasa sakit sama sekali. Dia sedikit kebingungan padahal kali itu tangannya sudah retak menerima tendangan Deck. Namun dia sekarang dapat menggerakkan tangannya tanpa ada masalah sama sekali. Dia mulai teringat dengan keadaan Zero waktu itu. Ketika dia berdiri dari kasur untuk keluar ruangan, dia di tahan oleh bawahannya yang sudah berjaga di depan pintu kamar itu.
"Pemimpin, anda ingin kemana?"
Salah satu bawahannya sedikit khawatir, mereka ingin menjaga pemimpinnya. And terlihat kesal karena di larang keluar, dia sedikit memberontak. Namun bawahannya tetap tidak mengizinkannya untuk keluar. And tidak bisa apa-apa lagi karena yang menugaskan mereka adalah ibunya sendiri. Dia terpaksa menuruti perintah ibunya itu dan kembali memasuki ruangan kamarnya.
"Aku ingin tahu tentang keadaan Zero"
And yang bertanya dengan bawahannya yang berada di luar pintu kamarnya. Dia juga sedikit penasaran kenapa tubuhnya ini begitu cepat sembuh, bahkan jika itu retak paling tidak sembuhnya bisa beberapa bulan.
"Zero baik-baik saja!! Dia sedang berada di rumah sakit milik kita, dia juga masih dalam keadaan koma. Namun bisa dipastikan bahwa dia masih hidup. Jadi pemimpin tidak perlu khawatir, anda harus menjaga kesehatan saat ini lebih dulu. Soalnya pemimpin sudah tertidur satu minggu. Saya sudah memberikan kabar kepada keluarga anda, bahwa anda sudah sehat" salah satu bawahannya menjelaskan kepada And, dia sedang berdiri di dekat pintu mendengar penjelasan itu.
"Hah!! Cuman satu minggu? Padahal tangan ku ini retak, tapi aku rasa tidak sakit sama sekali!" And yang terlihat kaget mendengar dari penjelasan bawahannya itu.
"Retak? Dari yang kami tahu, pemimpin baik-baik saja. Saat pertama kami membawa anda waktu itu. Anda cuman mengalami luka yang tidak begitu parah" bawahan itu terlihat bingung dengan ucapan And.
"Hah!! Apa kalian tidak memeriksa tanganku ini?"
And yang terlihat mencoba meyakinkan bawahannya, karena dia tidak berbohong sama sekali, bahwa tangannya retak waktu itu saat bertarung dengan Deck. Bawahannya masih tidak percaya, karena mereka memiliki bukti bahwa And tidak apa-apa.
"Pemimpin, sebenarnya pertama kali kami membawa anda ke rumah sakit ini, tubuh anda sudah kami periksa seluruhnya. Bahkan semuanya sudah di ulang beberapa kali, tapi tetap saja anda tidak memiliki luka yang serius" salah satu bawahannya menjelaskan apa yang sudah mereka lakukan saat pertama kali membawa And ke rumah sakit ini.
"Jadi bagaimana tentang bisnis ketiga mereka?" And yang bertanya kepada bawahannya, tentang situasi bisnis ketiga yang belum sempat dia serang.
"Semuanya sudah selesai pemimpin! Kami sudah memeriksa semuanya, tidak ada yang tersisa di bisnis ketiga. Meskipun banyak saudara kita yang gugur dari perang ini, tapi kita berhasil mengalahkan mereka. Saya tidak sempat membantu, karena kami di tugaskan Zero untuk membersihkan seluruh situasi. Jadi kami berusaha menghilangkan semua bukti dan menghancurkan bangunan mereka juga!" Salah satu bawahannya memberikan informasi, tentang tugas mereka yang masih hidup.
"(???)"
And terlihat kebingungan memikirkan yang tidak dia ingat sama sekali, waktu itu dia hanya mengingat bahwa dia pingsan di bisnis kedua, namun yang membuat dia kebingungan adalah siapa yang memimpin penyerangan di bisnis ketiga tanpa perintah dari And sendiri.
"Siapa yang memimpin penyerangan di bisnis ketiga waktu itu?" And terlihat penasaran dengan seseorang yang sudah memimpin bawahannya, untuk menyerang bisnis ketiga milik organisasi berjas hitam.
"Apa pemimpin tidak mengingatnya!!" Bawahannya sedikit kebingungan dengan pertanyaan And itu kepada mereka.
"Mungkin pemimpin masih kelelahan!!" Salah satu bawahannya sedang berbisik-bisik kepada temannya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, tolong ceritakan semuanya yang kalian tahu, tentang kejadian malam itu. Aku benar-benar tidak mengingatnya sama sekali, jadi jelaskan secara rinci dari awal sampai aku berada di rumah sakit ini" And terlihat mengajak bawahannya masuk kedalam kamar dan sambil duduk di sebuah kursi yang tersedia di ruangan itu, sambil menjelaskan semuanya.
"Baiklah. Rinciannya kami juga tidak terlalu pasti, namun yang kami tahu dari penyerangan yang di lakukan waktu itu di bisnis ketiga, mereka di pimpin oleh anda sendiri. Semua bawahan anda banyak yang mati, dan ada juga yang masih hidup, namun mereka harus di rawat karena mengalami luka yang begitu parah. Kabar gembiranya kita berhasil menang, bisa menghancurkan seluruh bisnis mereka. Tidak ada lagi yang namanya organisasi berjas hitam, semuanya sudah kita hapus. Tentang masalah anda, kami menemukan anda di atas atap bangunan hotel, anda tidak sadarkan diri dengan pakaian yang penuh darah. Karena kami tidak melihat pertarungannya, jadi kami hanya menyimpulkan bahwa anda lah yang membantai mereka semua. Soalnya kami belum dapat informasi dari bawahan anda yang ikut penyerangan itu. Mereka masih dalam keadaan koma tidak sadarkan diri, jadi kami hanya menyimpulkan dari bekas pertarungan itu. Hanya anda yang tersisa baik-baik saja dari sekian banyaknya mayat di sana" salah satu bawahannya menjelaskan tentang kejadian waktu itu.
"Aku bahkan tidak mengingatnya, aku hanya ingat saat itu, ada juga seseorang yang membantuku mengalahkan musuh di bisnis kedua. Namun Aku pingsan karena tubuhku yang terasa sakit, sedang berada di bisnis kedua. Tapi dari cerita mereka aku berada di bisnis ketiga. Apa aku punya kepribadian ganda, tapi itu mungkin saja, kenapa aku tidak mengingat sama sekali tentang kejadian malam itu, bagaimana bisa aku mengalahkan pasukan yang begitu banyak. Ah!! Kepala jadi pusing karena memikirkannya" And yang terlihat memikirkan apa yang sudah terjadi dengan tubuhnya.
"Apa pemimpin baik-baik saja?" Bawahannya sedikit khawatir melihat And yang sedang memegangi kepalanya yang sedikit terasa sakit itu.
"Baiklah. Kami akan keluar dulu, jika ada perlu apa-apa panggil saja kami!" Mereka terlihat meninggalkan ruangan itu.
"Iya, terimakasih sudah mau menjaga!" And yang berterima kasih kepada bawahannya.
Beberapa hari kemudian...
And akhirnya sudah di izinkan untuk pulang kerumahnya. Sebelum pulang, dia berniat untuk mengunjungi Zero di rumah sakit miliknya, Zero di rawat tidak jauh dari tempat rumah sakit kota ini. Sebelum dia pulang ke sana, dia sedikit kaget di tengah perjalanan. Tidak jauh dari ruangan And di rawat, dia bertemu dengan Sonia yang juga sedang berada di sana. Saat itu Sonia tidak melihat And, dia terus berjalan membawa kantong kresek yang terlihat terdapat buah-buahan segar. And yang sedikit penasaran mengikutinya secara perlahan-lahan.
"Kenapa Sonia berada di rumah sakit ini?"
And yang terlihat mengikuti Sonia yang dari tadi sedikit mencurigakan. Sonia terlihat seperti menghawatirkan sesuatu, dia juga seperti sedang melihat-lihat sekitar. Semua itu membuat And semakin penasaran dengan melihat tingkah laku itu.
--
Sonia terlihat memasuki sebuah kamar rumah sakit pribadi. Tempat para orang kaya dirawat. Dia lupa mengunci pintu kamar itu dan membuat And dapat mengintipnya. And sangat terkejut melihat seseorang yang sedang dikunjungi Sonia begitu parah, bahkan seluruh tubuh pasien itu di perban termasuk wajahnya juga.
"Apa yang kamu lakukan disini tuan?"
Tiba-tiba perawat di sana menyapa And yang sedang asik mengintip itu. And sangat kaget dan membuat dia ketahuan oleh Sonia. And ingin segera pergi namun melihat wajah Sonia yang begitu pucat, membuat And tidak enak meninggalkannya dengan keadaan itu.
"And, mengapa kamu bisa berada disini?"
Sonia yang penasaran kenapa And berada di rumah sakit, bahkan And tidak terlihat sakit sama sekali. Dia juga terlihat menutup pintu kamar agar And tidak melihat kedalam ruangan itu.
"Haha. Aku kebetulan lewat saja! Tadi aku dari ruangan kesehatan saja. Memeriksa tubuhku apa ada penyakit!!" And yang terlihat gugup mencari alasan untuk menjelaskan kepada Sonia. Mereka juga sudah terlihat duduk di kursi tunggu depan pintu kamar pasien.
"Oh! Apa kamu sehat!"
Sonia yang sedikit khawatir dengan keadaan And, namun dia juga sedikit menghawatirkan tentang keadaan ayahnya yang sedang di rawat.
"Aku sehat!! Kalau boleh tahu, siapa yang dirawat didalam kamar ini?" And yang penasaran ingin mengetahui siapa yang berada di kamar dengan keadaan tubuh yang penuh perban.
"Oh, dia ayahku. Dia mengalami kecelakaan!" Sonia yang terlihat tenang menjelaskan kepada And yang duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaannya?" And yang berusaha mengakhiri pembicaraannya itu agar tidak menambah kesedihan Sonia.
"Keadaannya sudah mulai membaik, mungkin sekitar 3 bulan atau 6 bulan lagi dia akan segera sembuh" Sonia yang berusaha memaksakan senyumannya.
"Iya! Semoga dia cepat sembuh. Kamu harus sabar, jika kamu ada perlu apa-apa hubungi aku!!" And yang terlihat memberikan semangat kepada Sonia. Dia juga memberi secarik kertas yang berisi nomor teleponnya.
"Makasih And!" Ucap Sonia dengan sedikit menundukkan kepalanya menghadap ke lantai.
"Baiklah! Jaga ayah kamu dengan baik, aku ingin pulang dulu, soalnya keluargaku sudah menunggu di rumah!" And yang sudah terlihat buru-buru untuk berpamitan kepada Sonia.