Detective Kill

Detective Kill
Bab 38 Kekuatan Baru



"Bos! kita di kepung oleh ratusan polisi yang baru datang?" suara yang terdengar dari alat khusus komunikasi yang berada di telinganya Viki.


"Baiklah kalian segera mundur, jangan sampai ketangkap, aku sudah menemukan target kita?" Viki yang berbicara dengan bawahannya lewat alat khususnya.


"Kalian pasti tidak akan pernah akan bisa kabur dari sini?" And yang mengingatkan kepada Viki di depannya.


"Aku harus segera menyelesaikan dengan cepat urusan kita? Jika tidak bosku akan kecewa!" Viki yang sudah terlihat melepaskan jas hitamnya.


"Oh! Mungkin kau akan serius menghadapiku?" And yang sudah mempersiapkan kuda-kuda seni bela dirinya.


"Maafkan aku jika terlalu kasar? Soalnya aku harus cepat?" Viki yang sudah bersiap-siap menyerang And.


"Wuss"


Viki yang mulai menendang dengan memutar tubuhnya untuk menyerang kepala And. Dia sedikit tersenyum melihat And yang tidak sanggup menahan serangannya dari kakinya yang begitu cepat.


"Argh"


Mata And sedikit buram dengan terkena tendangan Viki yang begitu keras, bahkan setelah And menahan menggunakan kedua tangannya. And sudah berusaha menahan tendangan itu, tapi tetap saja tubuh And tergeser dengan kekuatan tendangan Viki.


"Oh!! Argh?"


Tendangan yang begitu cepat mengarah ke perut And yang terluka akibat tembakan. Membuat And sedikit mengeluarkan darah di mulutnya.


"Haha"


Viki terus menendang And yang tidak ada perlawanan sama sekali, hanya berusaha menahan dan menghindar.


"Argh!! Sialan luka ini menghambat pergerakanku?"


And yang terlihat masih di pukul tanpa ada perlawanan, Viki sangat menikmati menyiksanya. And sedikit merasa kesakitan karena darah yang terus keluar dari luka tembakan di samping perutnya, membuat dia sedikit kehilangan kesadaran.


"Aku tahu? Kau begitu lemah! Bahkan aku tidak semangat memukulimu lagi?" Viki yang sudah terlihat berhenti menyerangnya, karena And yang sudah tengkurap di lantai dengan penuh luka di seluruh badan dan wajahnya.


"Tolong..bangun tubuh sialan? Apa kamu mau mati kedua kalinya!" Pikiran And yang berusaha memaksa tubuhnya untuk bergerak.


"Saatnya untuk membawamu ke markas?" Viki yang berusaha menarik kaki And untuk membawanya keluar dari ruangan seni.


"Argh?"


Tiba-tiba Viki terpelanting keluar pintu ruangan seni. Akibat tendangan And yang begitu keras di belakangnya.


"Oh! Ternyata masih sadar?"


Viki merasa kaget karena serangan And yang tiba-tiba menyerangnya, ketika dia menarik salah satu kaki And untuk di bawa. Viki berusaha mendekati And yang terlihat hanya berdiam di dalam ruangan seni.


"Wuss"


Viki yang mengerahkan seluruh kekuatannya, untuk menendang And yang berdiri terdiam.


"Oh? Tampak rumor beredar bukan sembarangan rumor saja?" Tendangan Viki dapat And tangkap dengan salah satu tangannya.


"Wuss?"


Serangan Viki kini tidak ada yang dapat mengenai And sedikitpun, Tidak tahu kenapa And hanya terlihat diam dan fokus dalam menghadapi Viki yang berulang kali berusaha menyerangnya.


"Wuss"


"Bugh"


Viki yang ingin memukul wajah And dengan kepalan tangannya, dapat di hindari And dengan sangat mudah, bahkan And menyerang balik dengan memukul perut Viki dengan sangat keras.


"Argh?"


Wajah Viki kini terlihat begitu kesakitan dengan satu pukulan yang And keluarkan itu. Viki langsung terdiam bertekuk lutut setelah menerima pukulannya.


"Ukgh..ukgh?"


Viki langsung batuk-batuk setelah satu kali menerima pukulan And. Dan And mulai sedikit berjalan mendekati Viki yang masih terlihat kesakitan.


"Ukgh! Ku akui kamu memang sangat kuat? Tapi aku tidak boleh kalah!" Viki yang berusaha memaksa tubuhnya untuk berdiri lagi menghadapi And yang sedikit terlihat berbeda.


"(???)"


And hanya terlihat sedikit memiringkan kepalanya, melihat Viki yang selalu mengoceh-ngoceh ketika dalam keadaan yang tidak baik.


"Haha! Bahkan aku yang nomor 3 terkuat di organisasi di coeki oleh dia? Akan ku buat kau berbaring di lantai lagi?" Viki yang mulai serius menghadapi And, dan membuka baju putih lengan panjangnya, untuk memperlihatkan otot-ototnya yang bersemangat.


Viki yang terus menyerang And yang masih terlihat diam menangkis dan menghindari serangan Viki. Wajah Viki begitu marah merasa kekuatannya di permainkan seperti ini. And terlihat sedikit tersenyum menikmati pertarungannya dengan Viki. Dia hanya menangkis dan menghindari serangannya, tidak terlihat untuk membalas serangan dan tendangan Viki.


"Apa kamu hanya bisa menangkis dan menghindarinya saja?" Viki yang sudah terlihat terengah-engah melihat And yang mulai tersenyum ditengah-tengah pertarungannya.


"Wuss?"


And yang tiba-tiba bergerak kehadapan Viki dan mengeluarkan tendangan seperti Viki lakukan kepadanya. Tendangan itu langsung mengenai kepala Viki dan membuat dia langsung terpelanting ke dinding.


"Aargh?"


Viki langsung tersandar di dinding dengan beberapa darah yang bercucuran keluar di dekat keningnya. Wajahnya sedikit takut melihat tendangan itu lebih keras dari yang dia lakukan sebelumnya kepada And.


"Urgh.."


And sekali lagi menginjak Viki yang sudah tidak berdaya tersandar di dinding. Viki hanya berusaha memegangi kaki And, untuk menahan kekuatannya yang sedang menginjak dadanya.


"Emmm!"


And tersenyum melihat Viki berusaha menahan kakinya. Dia menambah sedikit kekuatannya menginjak dada Viki.


"Aaargh...!!"


Viki memuntahkan banyak darah di mulutnya, karena injakan And yang begitu kuat. Sedikit membuat Viki susah bernafas, kaki Viki sedikit memberontak menahan rasa sakit ketika di injak And.


"A-ampuni a-aku...ukgh!"


Darah yang keluar dari mulutnya berusaha memohon ampunan. And yang terus menekan kakinya ke dada Viki begitu keras seperti ingin membunuhnya. Wajah And begitu senang, bahkan dia lebih keras lagi menekan kakinya ke dada Viki tanpa ampun.


"(???)"


Wajah And sedikit bingung melihat Viki yang tidak bergerak lagi, bahkan tangan Viki yang tadinya memegangi kakinya, kini sudah lemas tak berdaya. And mengangkat kakinya dari dadanya Viki, dan berbalik badan untuk berjalan menuju pintu keluar ruangan seni.


"Bukk!"


Tiba-tiba And langsung lemas jatuh kelantai sebelum bisa keluar ruangan. And langsung terjatuh dengan tengkurap melihat pintu ruangan seni.


--


Akhirnya para sandera dapat diselamatkan oleh puluhan polisi, dan organisasi berjas hitam sudah di ringkus dengan borgol untuk di bawa ke penjara. Beberapa atasan polisi juga sedikit bingung kenapa organisasi berjas hitam ini kebanyakan mengalami luka tembak, padahal mereka tidak ada menembak mereka sama sekali. Polisi juga bingung kenapa organisasi jahat ini menyerang sekolah dasar anak-anak, mereka akan diselidiki lebih lanjut di kantor polisi. Dan sebagian organisasi berjas hitam ada yang berhasil kabur.


****


"Bagaimana situasinya? Apakah berhasil menangkapnya?" Di sebuah ruangan khusus, duduk di di kursi mewah di depan meja besar, bertanya kepada dua bawahan kepercayaannya berdiri di depan mejanya.


"Semuanya gagal! Viki tidak ada kabar sama sekali, mungkin dia sudah tertangkap atau bisa juga di bunuh oleh mereka?" Bawahan yang sedikit berbadan tinggi, dengan wajah lumayan tampan dan rambut hitam panjang, urutan yang pertama dari tiga bawahan terkuat. Namanya adalah Deck.


"Viki lemah! Mengalahkan beberapa puluhan orang saja sangat lama?" Bawahan yang begitu arogan di hadapan bosnya sendiri. Badan yang begitu besar dengan rambut pendek, mantan pasukan khusus di Jepang dia bernama Luzon.


"Oh! Gagal lagi ya? Kapan kita akan bisa memenangkan pertarungan ini?" Bos yang sedikit marah melihat bawahannya yang tidak becus.


"Tenang bos! Biarkan kali ini aku yang akan bergerak?" Luzon meminta izin untuk mengatasi masalah.


"Tidak! Sekarang kita harus istirahat dulu, kalau terlalu terburu-buru tanpa rencana, kita akan berakhir kalah lagi?" Bos yang ingin mempersiapkan cara untuk menghadapi organisasi And.


"Baik! Aku akan menunggu perintah?" Luzon yang sedikit kecewa karena rasa haus darahnya tertunda.


"Kalian boleh Liburan? Tinggalkan ruangan ini, aku ingin sendirian dulu?" Bos itu memperlihatkan sedikit kekecewaan, memiliki bawahan yang begitu bodoh.


"(???)"


Deck hanya tersenyum melihat Luzon tidak mendapatkan izin, karena Deck dan Luzon tidak begitu akrab, mereka selalu berselisih karena Luzon tidak bisa mengalahkan Deck yang begitu kuat darinya.


"Kenapa kamu tersenyum melihatku?" Luzon yang sedikit kesal melihat Deck yang selalu memandanginya dari ruangan bosnya tadi.


"Tidak! Kenapa juga aku senyum-senyum, aku ini masih normal, tidak suka lelaki? Apalagi yang berotot besar kek kamu ini?" Deck yang berjalan di depan meninggalkan Luzon menuju lift.


"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja? Ngeladenin kamu, aku juga bisa jadi gila nanti?" Luzon yang sedikit mengejek Deck didepannya.


"Iya.. terserah kau saja? Semoga kamu tidur selamanya?" Deck yang sudah terlihat memasuki lift memandangi Luzon yang masih berjalan.


****


Dimalam hari. Deck sudah berada di sebuah bar, tempat dia suka bersenang-senang. Dia sangat suka minum-minum dan berteman dengan wanita-wanita cantik, bahkan dia juga sering mengajak wanita yang baru dia kenal di bar itu untuk tidur bareng di hotel. Kebiasaan itu membuat dia sangat senang, bahkan dia paling suka membunuh wanita yang sudah hamil anaknya sendiri. Pantas saja Luzon menyebut Deck adalah lelaki gila.