Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
8. First Death



"ASHLEY."


Aku menoleh kepada asal suara yang memanggil namaku dan mendapati bahwa pemilik suara tersebut adalah Kai. Aku mendekatinya dan ia menarik tanganku ke arah meja makan yang di mana River telah duduk sembari memainkan ponselnya. Kai duduk di sebelah River sedangkan diriku duduk menghadap mereka berdua. Jadi, apa yang ingin mereka bicarakan?


"Ashley, apa benar kata Kai kalau elo hilang ingatan?" tanya River yang membuatku shock. Mengapa bisa Kai membocorkan hal ini pada sohibnya? "Atau jangan-jangan hanya alzhaimer?"


Wajahku belum ada yang berkerut ataupun rambutku yang memutih dan dengan teganya si River menebak bahwa diriku menderita alzhaimer.


"Gue amnesia, bukan alzhaimer," balasku seraya menggeleng pelan.


"Oh gitu. Okelah, dengan begini gue bakal jagain elo di tempat kerja. Tentu saja gue bakal bantuin adek tercinta gue." Adik? River dan Kai adalah saudara?


"Oh ya, lo lupa tentang kami ya? Kami ini saudara tiri. Beda ibu," sahut Kai


"Nggak perlu diperjelas begitu kali!" ketus River pada Kai. "Oh, ya. BTW, gue nggak pernah mengakui bahwa elo adik gue."


"Dasar kakak durhaka dan nggak tahu diri."


"Peduli amat."


Begitu asing dan hampa. Andai saja diriku mengingat mereka, pertengkaran sekarang ini pasti membuatku tertawa kecil karena terlihat sangat lucu. Apa seharusnya diriku berkonsultasi pada dokter agar diberi jalan keluar dari kesulitan ini? Tapi, aku takut jika dirawat inap hingga melupakan segalanya.


"Ashley." Kai menjetik-jentikkan jarinya di depan wajahku. "Jangan bengong, hujan udah reda tuh."


Akhirnya yang kami tunggu-tunggupun muncul. Dengan cepat semua orang ke luar dari vila dan kembali mempersiapkan acara barbeque dengan wajah gembira. Masing-masing diberi tugas dan bahkan si manager ikut membantu.


Dari mempersiapkan panggangan, batu bara, daging-dagingan dan pembuatan saus. Semua orang menikmati acara barbeque yang begitu mengasyikan. Bahkan diriku tak segan-segan mengambil kentang mini yang begitu banyak dari meja utama. Nyam-nyam.


"Woi! Jangan nyolong daging asap gua!" teriak Vin pada Kai yang ngacir sembari membawa tusukan berisikan daging besar. Dasar cowok jail.


"Ah, Vin. Punya gue aja ini ambil. Ayo buka mulut, gue suapin nih," goda salah satu cewek yang dimana dia adalah fans Vin.


"Aduh... Sini sini. Gue suapin, aduh lucunya."


Tak luput pula kedua fans Vin yang mulai charming di depan cowok tersebut.


"Ashley!" panggil Sherly dengan mulut penuh.


"Si Megan katanya diet, tuh. Ayo kita sikat jatah dia!" Astaga, apakah diriku partner makan si Sherly hingga rela menyikat jatah milik orang? Tapi tak apalah, lagi pula ruangan dalam perutku masih lebar untuk menampung daging lain.


"Kalau kurang, bisa ambil lagi kok, Ley," ucap Vin padaku seraya menggedik bahunya kearah pemanggangan. "Jangan digerogoti gitu tulang sum-sumnya."


Astaga, pantas saja dirinya mengatakan hal tersebut. Aku seperti orang rakus yang baru pertama kali memakan daging-dagingan.


"River! Hamburger-nya belum jadi dan jangan main comot!" bentak Kurt pada River yang memasukkan hamburger setengah jadi pada mulutnya. Ternyata Kai dan River benar-benar saudara yang mirip. Maksudku adalah mirip jahilnya.


Setelah acara barbeque selesai, kami semua membersihkan diri dengan mandi dan berganti pakaian untuk bersiap-siap menuju puncak lalu menonton hujan meteor leonid dengan jelas. Usul punya usul, puncak adalah tempat yang sempurna dan kami akan berkemah di tempat tersebut. Aku mengetahui hal ini dari Megan saat barbeque-an yang sedari tadi sibuk berbicara daripada makan.


Tepat di jam delapan malam, kami semua berangkat menuju puncak menggunakan bus mini. Kamu pun membawa tas kemah sekaligus beberapa persiapan lainnya yang telah dibawa oleh manager pada bagasi bus mini. Sepanjang perjalanan para cowok duduk di belakang dengan bernyanyi secara bersamaan yang tentu saja kecuali si manager. Beliau kan selalu jaga imej.


"Eh! 30 menit lagi bakal muncul hujan meteornya! Ayo ke puncak paling atas untuk nonton," ucap River seraya membawa senter dan memakai jaket tebal.


Semua orang pun menurutinya dan mulai berjalan dengan antusias. Ada satu hal yang kuherankan, bisa-bisa Sherly memakan kripik kentang sambil berjalan dengan dua tangan yang begitu penuh akan makanan dan senter. Aku berjalan berdampingan bersama Sherly di paling belakang, sedangkan para cowok asik berjalan didepan sembari berteriak-teriak tidak jelas. Rasanya ingin sekali menghampiri Kai, tapi kurasa hal tersebut akan menganggu kesenangannya yang sedang bersama teman-teman kerjaku.


"Aduh, susah banget nyongkel bagian kripik kentang yang terakhir di tabung ini!" ucap Sherly yang bermuka bete dalam mengurusi cemilannya.


Mendadak diriku terpeleset hingga terjatuh di tanah. Tidak terlalu sakit namun semua orang tidak menyadari hal tersebut, bahkan Sherly tetap berjalan sembari sibuk dengan tabung kripik kentangnya. Aku tak sadar akan kehadiran seseorang yang berada di belakangku dan seketika sebuah tangan membungkam mulutku. Kemudian tangan yang lainnya membantuku bangkit dan menyeretku dengan kasar hingga menjauh dari rombonganku.


PLAK!


Aku pun mengerjap-ngerjapkan mata untuk membiasakan pandanganku pada kegelapan hutan ini pada saat sebuah tamparan melayang pada pipiku. Sialnya, senterku tertinggal dan sekarang diriku tidak bisa mendapatkan cahaya untuk membantu dalam perjalanan.


"Dasar keras kepala. Lo masih saja gatel sama Vincent."


Aku terseret hingga punggungku tersandar pada sebuah pohon dan pelakunya adalah dua cewek fansclub Vincent. Apa yang mereka inginkan? Sedari tadi diriku tidak ada mendekati Vincent sama sekali, tapi mengapa mendadak mereka ribut seperti ini?


"Cewek seperti elo ini harus diberi pelajaran!"


"Iya nih, ngelunjak banget nih cewek."


Seketika rambutku terjambak dengan keras oleh satu tangan. Namun, hal tersebut bukanlah hal yang lebih menakutkan daripada sebuah batu besar yang diacungkan kepadaku pada cewek satunya saat mataku sudah dapat fokus dalam memandang di kegelapan. Gawat, aku harus menyelamatkan diri. Aku pun memandang ke bawah dan melihat sebuah target yang akan menjadi kunci pelarian ini. Kuinjak kaki si cewek yang menjambakku dan spontan kakiku berlari secara pontang-panting dari dua cewek gila tersebut. Aku heran pada mereka hingga bisa begitu terobsesi pada Vin yang notabenenya bukan siapa-siapa mereka.


"TOLONG!" teriakku yang berharap mendapatkan respon dari teman-temanku.


Tak ada jawaban. Ini gawat.


Sekarang lebih parahnya lagi, terdapat sebuah jalan bercabang dua. Mana yang harus aku pilih? Ke mana arah teman-temanku melangkah pergi? Aku tahu bahwa dua cewek tersebut takkan melepaskanku dan menyusulku tanpa suara agar tidak ketahuan dari semua orang. Tanpa berpikir panjang lagi, diriku berlari kearah cabang jalan kiri sembari berteriak-teriak tolong tanpa ada jawaban sedikit pun.


Baru kusadari bahwa diriku berlari dalam keadaan menangis saat melihat sebuah cahaya terang dari ujung jalan. Berarti pilihan jalanku sudahlah benar.


"STOP! JANGAN BERLARI LAGI!"


Terdengar sebuah teriakan suara yang tak asing. Aku pun menoleh ke belakang namun tetap menggerakan kakiku dalam berlari. Di saat itu pun aku melihat sosok yang berkulit putih pucat hingga glow in the dark, mata yang membelalak, senter yang terjatuh ke tanah yang mungkin baru ia genggam setelah meneriaki hal tersebut.


"Ashley! Elo dimana?!"


Suara Kai! Itu suara Kai, aku akan selamat karena Kai menyadari kehilanganku. Sebelum hatiku merasa tenang, mendadak kakiku merasa melayang. Kakiku tidak menyentuh tanah lagi. Angin lebih kencang berhembus dan seakan-akan membuatku melayang di antaranya.


Justru semua itu baru kusadari bahwa diriku telah terjatuh kedalam jurang. Hal yang kualami ini bagaikan deja vu.


"KUMOHON! JANGAN LAGI!"


Tak dapat kudengar jelas teriakan yang begitu menggema tersebut. Lagi-lagi, seketika semua duniaku menjadi gelap.


- ♧ -