![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
SEMENJAK membolos kampus dan bekerja, aku menjadi terus berkelanjutan meminta izin pada kedua pihak tersebut untuk absen sementara waktu. Kakiku tidak mau melangkah keluar dari apartemen ataupun membuka pintu balkon.
Seperti yang diduga-duga, aku merasa patah hati dan marah akibat kejadian kemarin.
Berkali-kali bel apartemenku berbunyi. Entah itu Zack atau bukan, tidak aku pedulikan sama sekali. Berkali-kali deringan ponsel terdengar dengan menunjukkan panggilan bahwa Zack menelepon dan mengirimkan pesan teks.
Inbox || Zack:
■ Maafkan aku perihal kemarin. [ 09:30 ]
■ Ashley? Angkat teleponku. [ 10:18 ]
■ Aku berada di depan pintu apartemenmu. Ayo bukakan untukku. [ 13:44 ]
■ Kumohon. [ 00:00 ]
■ Ashley, aku minta maaf. Tapi, kamu tidak ingin berangkat ke kampus? [ 06:30 ]
■ Bisakah memaafkanku? [ 09:10]
■ Ashley [ 15:40 ]
[ PESAN 80× ]
Beberapa hari mendekam di ruangan sempit ini. Mencoba tidak melihat langit ataupun melangkah ke luar sejengkal saja. Rasa bosan sudah pasti akan tiba dan udara segar ingin sekali terhirup ke paru-paru yang muak mencium bau AC.
Akhirnya aku memutuskan membuka pintu apartemen dan melangkah ke luar untuk berjalan-jalan di pagi hari. Di lantai mulai terhalangi oleh barang-barang dan makanan. Mungkin saja semua ini adalah pemberian Zack. Jika bukan, benda-benda ini tidak mungkin berada di sini. Nanti saja bisa kubereskan. Sesudah mengunci pintu, sebuah pelukan erat telah menghampiriku dari belakang. Wajahnya terbenam di bahuku, sekaligus napas hangat begitu terasa menembus baju.
"Ashley ...." gumamnya, lalu terdiam lama sebelum melanjutkan, "Maaf."
"Iya, aku memafkanmu. Sekarang, lepaskan," balasku sembari mengelus pelan rambutnya.
"Maaf."
"Zack ...."
"Maafkan aku."
Dia mengulang-ulang kata yang sama dan akan terus begini. Kuputuskan untuk diam tidak merespons kata tersebut meski harus ribuan kali terdengar.
"Aku hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap," bisiknya di dekat telingaku. "Kamu tahu sendiri bagaimana kehidupanku sebelumnya yang tidak mengenal cinta. Aku masih perlu beradaptasi juga."
Bukankah dari perkataannya tersebut sudah mengartikan bahwa dia tidak akan mengulangi sikap yang sama? Meskipun mngakui apa yang menjadi kesalahan sendiri masih kurang cukup, dia masih perlu menunjukkan usaha dalam berubah. Maka karena itu, aku memaafkannya dalam sekejap.
"Aku ingin berjalan pagi. Apa kamu mau terus begini sampai siang hari?" tanyaku yang berhasil membuatnya melepaskan pelukan.
"Apa aku boleh ikut?" Wajahnya menatapku dengan pasi dan senyuman pahit tersebut membuatku iba.
"Tentu," jawabku. "Tidak ingin berganti pakaian dahulu?"
Kepalanya menggeleng tanda menolak. Aku jadi kepikiran mengenai bagaimana caranya membersihkan satu pakaian tersebut yang pastilan dicuci dalam laundry.
"Kamu tidak menyukaiku jika memakai pakaian ini?"
"Bukan begitu." Aku memegangi bagian belakang leher dan melanjutkan, "Rasanya pasti lumayan panas jika berkeringat untuk jalan-jalan berolahraga."
Zack tampak menahan senyum dengan menutup mulutnya dengan satu tangan. "Kamu mengkhawatirkan kenyamanku?"
Topik pembicaraan ini akan merambat ke mana-mana dan membuat waktu berolahragaku berkurang. Aku pun mengangguk pelan dan meraih tangannya.
"Ayo, kita pergi. Jangan menghabiskan banyak waktu."
Kami keluar dari gedung apartemen dengan menggunakan tangga. Kemudian berjalan sembari mengobrol berbagai banyak hal di jalan. Semoga saja tidak ada penghuni kampus yang mengenalku dan menegur mengapa aku tidak memasuki jam pelajaran akhir-akhir ini.
"Ashley, aku khawatir berat saat kamu tidak mempedulikanku kemarin." Zack meletakkan kepalanya pada pergelangan tangan yang ditaruh di pembatas pagar.
Kami berada di taman atas yang dahulu menjadi tempat pertemuan kedua berdua. Pagi hari memiliki suasana sejuk dan menyegarkan mata saat melihat pemandangan bawah.
"Baiklah, aku bisa melampiaskan emosiku dengan hal lain." Bibirnya tersenyum sampai mengerut dan mengangkat kelopak matanya sampai tertutup. "Ah ya, aku mau memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?"
"Apa kamu mau berpergian bersamaku?"
Pertanyaannya membuatku merasa bingung sejenak dan melemparkan kalimat, "Maksudmu, berlibur?"
Dia kembali berdiri tegap setelah menidurkan kepalanya di pagar pembatas besi. "Bukan, berpergian bersamaku."
"Memangnya, kamu mau ke mana?"
Kepalanya mendongak sedikit ke arah langit sebelum menjawab, "Tugasku akan usai di kota ini dan aku harus pergi ke wilayah lain untuk melanjutkan pekerjaanku."
"Tidak bisakah kamu pensiun saja dari pekerjaan itu?"
Hening sejenak. Aku tahu perkataanku sangat buruk, namun tidak seburuk pekerjaannya tersebut. Jika dia memiliki banyak uang yang bisa memenuhi kebutuhan, terlebih lagi mudah untuk bertahan hidup sendirian.
Kedua tangannya memegangi pipiku dan menatapku dengan senyuman lebar. "Kontrak kerjaku akan tercabut jika nyawaku juga tercabut, Ashley."
Tubuhky berdesir akibat terkejut mendengarkan pernyataan itu.
"Kamu bisa kabur saja dan hidup normal seperti biasa!" Aku mengusulkan dengan asal bicara.
"Dan membiarkanku menjadi buronan perusahaan itu, termasuk polisi juga dan aku tidak memiliki backingan sedikit pun?" Ibu jarinya mengelus pipiku. "Apa kamu mau kehilanganku?"
Kepalaku menggeleng dan membuatnya memelukku lembut.
"Yah ... aku tahu kamu tidak ingin aku seperti itu." Suaranya terdengar sedu. Dagunya diletakkan pada ubun-ubunku, seraya mengatakan, "Apa kamu benar-benar nggak bisa ninggalin kota ini agar terus bersamaku?"
Jika posisi kami dibalik, dia sudah pasti akan mengekorku ke mana mana. Jangankan antar kota, pada dunia-dunia paralel saja dia rela mengikutiku.
"Cohabit?" tanyaku sedikit gugup.
Zack melepaskan pelukannya. "Kamu mau seperti itu?"
Meskipun kami tergolong dewasa, itu adalah ide yang buruk. Tapi, bukankah hidup bersamanya akan membuatku bahagia?
"Mungkin akan kupikirkan lagi, atau kurasa akan aku setujui juga," jawabku kaku yang membuat Zack memiringkan kepalanya. "Ah, entahlah."
"Tak apa." Bahunya menggedik sejenak. "Maafkan aku, karena membuatmu sedikit kamu kebingungan. Itu bisa dipikirkan nanti."
Seusai mengobrol, kami turun dari taman karena sudah menghabiskan satu jam penuh di luaran hanya untuk berjalan pagi.
BRUK!
Bahuku tertabrak pelan oleh seorang pejalan dan mulutku nyaris saja mengeluarkan kata-kata reflek untuk mengeluh.
"Kamu tidak apa-apa?" Zack langsung merangkul dan mendekatkanku kepadanya. "Maafkan aku. Seharusnya, aku merangkulmu sejak awal."
Sejak tadi, sering kali mengucapkan kata maaf padaku. Bahkan saat daun-daun kering jatuh di kepalaku, atau menginjak permen karet pada trotar dan mencium aroma seloka, semua itu selalu diwakili perkataan maaf dengan berbagai alasan. Seolah-olah, hal kecil tersebut akan kubuat sebagai bahan untuk menyalahkannya sewaktu-waktu.
Mungkin, perasaannya menjadi sensitif semenjak aku menyikapi dengan menjauhinya kemarin.
"Zack, memangnya kamu bertugas apa di kota ini?" Aku bertanya ketika kami tiba di depan gedung apartemenku.
"Aku tidak bisa memberitahunya secara detail. Pointnya, misiku hanya merusak fasilitas sebagai bentuk ancaman target." Ucapannya memberikan nada keyakinan padaku. "Tidak akan ada korban jiwa, aku janji."
"Baguslah kalau begitu."
"Hanya membakar suatu gedung, dan aku akan pergi dari sini."
- ♧ -