Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
17. Paradox (?)



AKU benar-benar tidak dapat fokus sepanjang waktu berada di kampus, maka karena itu diriku langsung pergi tanpa memikirkan jadwal kedua dari jam kuliah.


Peduli amat akan di alva, lebih baik aku menenangkan pikiran daripada otakku semakin memanas di setiap detiknya. Tapi sekarang bukanlah waktu untuk bekerja, jadi aku memutuskan pergi menuju taman yang dimana diriku pernah terkunjungi bersama Kai.


Setahuku tempat-tempat sekitar tidak akan berubah seperti orang-orang yang berada di sekitarku. Dengan cepat diriku berjalan menuju taman dan ketika sampai, aku langsung menduduki bangku taman seraya menghela nafas lega. Aku lelah.


TLING!


Inbox || Kurt: Kamu berada dimana?


Tak ada henti-hentinya cowok cuek berwajah datar ini mengirimiku pesan teks sedari kemarin. Lebih baik aku menemuinya daripada ia terus menerus mengetik pesan yang sangat menganggu.


Sent: Di taman dekat kampus, kamu bisa ke sini?


Aku harus menyesuaikan gaya bicaraku pada setiap orang agar terlihat akrab. Tapi, bagaimana jadinya jika aku mencoba mengakui amnesia ini pada orang-orang lalu menolak melakukan perawatan rumah sakit? Mungkin aku harus mencobanya, tak ada salahnya jika mengambil resiko. Alih-alih mendapatkan balasan pesan, Kurt langsung mendatangiku dengan wajah datarnya menghadap kepadaku. Rasanya seperti seorang ayah yang sedang menyatroni anak gadisnya yang baru saja ngacir dari rumah.


"Ngapain di sini?" tanya Kurt dengan kedua alis yang terangkat. "Nggak biasanya seperti ini."


Kurt duduk di sebelahku dan aku merasa tidak begitu nyaman di sebelahnya. Begitu asing dan lebih parahnya, sangatlah asing. Aku ingat saat pertama kali menginjak tanggal dua puluh juli yang dimana Kai adalah pacarku dan saat waktu kembali mundur, River lah yang menggantikan posisi Kai. Apa kali ini Kurt yang menjadi kekasihku?


"Aku nggak bisa baca pikiran orang, aku juga nggak tahu apa yang mau kamu katakan kalau diam begini," ujar Kurt dengan datar yang sama sekali tidak kupahami. "Walaupun aku enggak sesuai harapanmu, aku cuma bisa berusaha sebisa mungkin dan..."


Apa yang sedang dia bicarakan? Aku tidak bisa memahaminya sama sekali. Bahkan diriku tidak tahu apa judul topik pembicaraannya. Yang bisa terdengar jelas oleh telingaku hanyalah teriakan girang dari anak-anak sekitar yang sedang bermain-main di sekitaran kami, sekaligus hembusan angin sepoi-sepoi hingga menghasilkan suara melodi dari gesekan-gesekan antara dedaunan pada pohon-pohon sekitaran. Itu semua bagaikan kehampaan yang mengisi kekosongan pikiranku.


"Apa kita perlu ke caffe seperti biasa?" Aku mulai menoleh dan tertarik untuk merespon saat mendengar kata 'caffe' dari mulut Kurt. Apa maksudnya seperti biasa?


"Sudah waktunya, ya, sekarang untuk pergi ke caffe?" tanyaku yang memastikan pemberangkatan jam kerja. "Bukannya ini terlalu awal?"


"Apa maksudnya terlalu awal?" timpal Kurt dengan raut wajah kebingungan dan tatapan sinisnya. "Bukannya cafe itu selalu buka dari pagi?"


Tapi sift kerjaku adalah waktu siang. "Nggak apa-apa memangnya kalau kita pergi ke sana sekarang?"


Entah aku atau Kurt yang berbicara berlawanan arah, kurasa cowok ini lebih merasa kebingungan terhadap percakapan ini dariku.


"Memangnya ada yang salah dengan sekarang?" ucap Kurt dengan air muka selidik. "Apa dilarang oleh Vin?"


Apakah Vin itu adalah Vincent? Tapi, mengapa tahu-tahu dia menyebut cowok itu? Memangnya ada apa antara aku dan Vin hingga bisa ada sebuah larangan di antara kami menuju caffe?


"Jam kerjaku adalah siang hari, kalau pagi-pagi begini ke sana rasanya agak nggak enak dan ...,"


"Kerja?" Kurt mengerutkan dahi yang membuat wajahnya semakin masam. Kenapa dari tadi aku selalu mengkritik wajah milik Kurt? Sungguh tidak berakhlak. "Kamu kerja? Sejak kapan?"


Sedari tadi percakapan kami hanyalah sebuah pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan. Jadi, dari pertanyaan cowok ini adalah bermakna bahwa aku tidaklah bekerja di sana.


"Maaf, kayaknya aku ngelantur," kataku yang berusaha mengelak dari percakapan ambigu ini.


"Kenapa mendadak bahas pekerjaan? Apa kamu kepingin kerja? Apa uang dariku kurang?"


Tunggu dulu, uang darinya? Jadi, uang untuk memenuhi kehidupan sehari-hariku di versi ini adalah dari Kurt. Ini benar-benar sulit untuk dipercaya.


Berbagai versi diriku di setiap memulai tanggal 20 juli selalu memiliki beragam kepribadian. Entah itu cerewet, pemalas, rajin, begitu persiapan atau disiplin, bucin dan pemarah sekalipun. Sekarang diriku versi yang ini adalah gadis manja tanpa pekerjaan. Aku benar, kan?


"Enggak kok, udah kubilang tadi hanya ngelantur," timpalku.


"Ya sudah, jadi ke caffe seperti yang kamu minta?" Oh, ternyata aku-lah yang memintanya untuk ketemuan sebelum ini.


Aku pun mengangguk tanda setuju dan kami langsung pergi menuju caffe tanpa bicara lagi. Sialnya, langkah kaki Kurt begitu lebar hingga diriku tertinggal jauh di belakangnya. Bahkan sesekali dirinya menanyaiku mengapa berjalan begitu lambat, apakah dia tidak menyadari bahwa caranya berjalan tidak seperti orang-orang pada umumnya?


Kami sampai pada caffe clair de lune yang dimana tempat kerjaku dahulu sebelum pintasan waktu berputar mundur. Alih-alih melewati pintu belakang khusus karyawan, kami memasuki pintu depan untuk para pelanggan. Langkahku terhenti dan seketika rasa terkejut menyelimutiku saat melihat seorang pelayan penyambut pelanggan yang berdiri pada pintu caffe—tentunya bukan aku—adalah si cowok berkulit pucat. Dia yang pernah menerorku. Dia yang pernah muncul saat diriku mengalami kecelakaan di jalan lampu lalu lintas. Kulirik nametagnya dengan tertera nama "Zack" yang langsung kuingat-ingat dari sekarang. Dahulu dia menjadi pelanggan, tapi kini kuambil posisinya. Lalu, aku yang dahulu sebagai pelayan penyambut, kini dialah yang menggantikan.


"Selamat datang di caffe clair de lune." Selama beberapa detik diriku dan cowok itu bertatapan sampai Kurt bertanya bangku mana yang aku inginkan untuk duduk.


Aku pun memilih bangku kosong terdekat dan Kurt langsung memesankan dua mochacino pada waiter. Padahal aku menyukai kopi latte. Mungkin aku yang versi ini menyukai mochacino. Benar-benar terasa asing. Aku tidak terbiasa duduk di bangku caffe sebagai pelanggan yang dimana awalnya diriku hanyalah pelayan tempat ini.


"Ada sesuatu yang salah?" tanya Kurt yang memulai pembicaraan. "Kayaknya kamu dari tadi mikirin sesuatu."


Iya, aku memikirkan semua hal tentang dunia ini. "Nggak ada kok."


Apakah Kurt bisa membantuku dalam menemukan jawaban-jawaban masalah ini?


"Oh, gitu ya," balas Kurt dengan singkat seraya menyesap mochacino yang baru saja datang dibawakan oleh Vincent dengan memainkan alis dan lirikan mata  kearahku seperti memberikan sebuah kode namun tidak dapat kupahami.


"Aku nggak tahu harus membicarakan apa. Tapi, ada beberapa tugas praktek akhir-akhir ini padaku dan beberapa berkas yang harus kuselesaikan esok hari."


"Apa lagi? Psikologi." Oh, berarti Kurt bisa membantuku dalam masalah kejiwaan tak jelas yang telah menimpa diriku. Atau mungkin tidak. Tapi orang-orang yang menjorok ke sistem kejiwaan manusia seperti calon-calon psikiater pasti akan mau mendengarkan dengan tenang tentang keluh kesah orang-orang untuk diterapi.


"Ah iya, aku lupa," dustaku yang mendadak salah tingkah saat mataku yang tak sengaja telah saling bertatapan dengan Zack secara sekilas.


"Ya, sudah. Kalau begitu setelah ini, bisa temani aku ke studio kerjaku, bukan?"


Aku tidak perlu menanyakan alasa tersebut agar tidak menimbulkan kecurigaan sebelum diriku bercerita tentang permasalahan ini. "Oke."


Setelah Kurt memesankan cinnamon roll cake padaku dan rain choco eclairs untuk dirinya, kami langsung pergi menuju studio kecil milik Kurt yang terdapat di apartemen tak jauh dari caffe. Ruangan yang hanya terdapat dua sofa yang saling berhadapan dengan di batasi oleh meja panjang. Komputer yang berada di atas meja dekat jendela sekaligus rak-rak berisikan penuh akan buku dan berkas-berkas.


"Ambil air apa saja yang kamu mau di kulkas pada pojokan," ucap Kurt seraya duduk di depan komputernya dan diriku langsung membuka kulkas tersebut.


Dia mengatakan untuk mengambil air apa saja yang berada di kulkas. Aku mengiranya ada bermacam-macam air hingga di perbolehkan memilih. Ternyata hanya ada air mineral berbotol. Kuambil satu botol untukku dan meminumnya seteguk lalu aku letakkan di atas meja depan sofa.


"Kurt," panggilku yang mendapatkan respon dehaman oleh cowok tersebut. "Aku punya masalah, mungkin kamu bisa memberiku solusi."


"Kenapa? Kotak make-up milikmu pecah lagi?" tanya Kurt yang membuatku malu level dewa.


Benar-benar memalukan, pasti Ashley yang sekarang begitu manja hingga sering mengeluh akan riasannya yang rusak. Atau mungkin saja Kurt menebak hal tersebut karena kali ini diriku tidak memakai riasan seperti biasanya.


"Bukan," sangkalku yang masih menahan malu. "Tapi, ada hal yang aku ingin tanyakan lebih dahulu."


Kurt menghentikan jari-jarinya dalam mengetik dan melirikku dengan raut wajah bingung. "Ada apa?"


"Kita pacaran, 'kan?" Aku melihat perubahan ekspresi pada Kurt yang mendadak terkejut dan menampilkan senyum miring sekilas.


Mungkin aku salah lihat, tapi tak perlu kupikirkan hingga cowok itu menjawab, "iya."


"Sebenarnya, aku ini bukan Ashley yang kamu kenal," ujarku dengan gugup. Aku bisa merasakan Kurt yang tidak terkejut dalam menanggapi perkataanku.


"Lalu?"


"Awalnya aku terbangun dalam keadaan tanpa ingatan apapun pada tanggal dua puluh juli," kataku yang mengartikan bahwa hari itu adalah kemarin. "Tapi setiap aku mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa, selalu saja aku bangkit di tanggal yang sama seperti sebelumnya."


Kurt hanya terdiam yang menandakan hanya ingin menyimak ceritaku sampai selesai sembari menopang wajahnya menggunakan sebelah tangan di atas meja.


"Akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk, tapi anehnya semua mimpi itu menjadi kenyataan," lanjutku. "Seperti bukan mimpi, melainkan prediksi masa depan."


Aku pun tidak melanjutkan kalimatku dan Kurt langsung melemparkan pertanyaan yang sangat membuatku kebingungan.


"Jadi, kamu siapa?" Kurasa tampangku sangat terlihat blo'on saat menatap Kurt.


"Aku adalah Ashley, tapi bukan pacarmu." Sulit rasanya untuk menjelaskan. "Aku merasa bahwa ini bukanlah duniaku."


"Mungkin kamu mengalami paradox," ujar Kurt seraya menegakkan cara duduknya. "Seperti yang kamu bilang, kamu awalnya terbangun dalam keadaan hilang ingatan. Aku bisa beropini bahwa itu bukan pertama kalinya kamu terbangun, lalu mati dan bangkit kembali di tanggal yang sama seperti sebelumnya."


"Maksudnya?" tanyaku yang tak paham dengan perkataannya.


"Jadi, untuk kesekian kalinya kamu sudah mengalami hal yang sama. Mati dan bangkit berulang kali hingga ada sebuah kecelakaan yang membuat kamu kehilangan ingatan yang mungkin saja kamu memiliki ingatan tentang penyebab paradox ini. Seperti bisa saja kepalamu pernah terbentur hingga hilang ingatan saat sebelum kematian menghampirimu pada kebangkitanmu yang kesekian kalinya."


"Ohh, sebelum aku merasa itu adalah pertama kalinya aku bangkit. Sebenarnya itu bukanlah pertama kali, melainkan kesekian kali," balasku yang mulai memahami kesimpulan Kurt. "Pada kehidupanku yang sebelumnya telah mengalami kecelakaan hingga amnesia. Lalu meninggal dan bangkit seperti keadaan yang sebelumnya namun kali ini dalam keadaan otak kosong tanpa memori."


"Iya."


Haish, benar-benar ribet dan berputar-putar.


"Bisa kupercayai." Kata Kurt dengan tersenyum tipis. "Sikapmu dari tadi memang berbeda seperti sebelumnya, hingga aku berpikir jika ada yang salah pada perlakuanku untukmu."


Serta merta Kurt memandangi langit-langit dan melanjutkan kalimatnya. "Kukira, paradox hanyalah fiksi ilmiah belaka. Ternyata itu adalah fakta di depan mataku sendiri."


"Kamu yakin kalau apa yang kualamo adalah paradox?" Sejujurnya, aku masih merasa ragu.


Kurt menatapku lekat-lekat. "Aku hanya bisa menyimpulkan itu."


Aku tidak bisa menjawab apa yang dikatakan Kurt dan hanya bisa menatap wajahnya dengan sedih. "Apa kamu bisa memberiku solusi dari permasalahan ini?"


"Ada." Spontan diriku menjadi tegang dan memasang telinga sefokus mungkin dalam mendengarkan kunci jawaban dari permasalahanku. "Jangan mati."


Seketika wajahku menjadi pucat bagaikan seluruh darah yang berada di tubuhku telah terhisap keluar hingga habis tanpa tersisa.


- ♧ -