Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
26. Ada Apa Dengan Zack?



TAK ada lagi respon yang harus kuberikan selain tersenyum dan menggelengkan kepala.


Sebelumnya aku tidak menemukan tanda-tanda bahwa adanya diriku menjalani hubungan dengan pria mana pun hingga pada akhirnya, manusia di sebelahku memberi tahu hal tersebut. Sedikit tidak menyangka saat DJ menyatakan hubungan kami. Seorang manager dengan karyawan sendiri berpacaran sangatlah aneh bagiku.


Seketika terbesit dalam otakku tentang tour karyawan.


"Saat pagi, lo belum selesai bicara tentang tour karyawan. Memangnya, kenapa gue harus mengadakannya?" Aku bertanya saat kami telah menyeberang zebra cross tanpa kendala sedikit pun.


DJ menggeleng kepalanya pelan. "Untuk rapat organisasi kita."


Aku semakin bingung.


"Maksudnya, kita ngelakuin tour lalu melakukan rapat di tempat bersama yang lainnya? Bukannya bersenang-senang untuk meningkatkan produktifitas pegawai?" ujarku dan mendapatkan respon tercengang dari DJ.


DJ meletakkan punggung tangannya pada dahiku dan membolak-baliknya. Dia menolehkan kepalanya hingga wajah kami saling bertatapan.


"Nggak panas dan nggak ada mata panda juga. Lo kenapa, Ley bisa jadi pelupa begini?" DJ menatapku lekat-lekat. Dia pasti melakukan ini karena jawaban dariku tidak sesuai dengan hadapannya.


DJ kembali pada posisi aslinya, dan di saat yang bersamaan, aku melihat Zack pada jarak yang lumayan jauh. Lalu, dia melangkah pergi seraya memasang earphone yang selalu bertengger di lehernya. Mengapa aku selalu merasa diperhatikan olehnya akhir-akhir ini?


Setelah menimpal-nimpal, aku putuskan untuk menyusul Zack agar mengetahui apa yang dia sembunyikan tentang tanggal, kecelakaan dan kematian yang nyaris menghampiriku.


"Ashley! Lo mau ke mana?" teriak DJ seraya menyusulku.


Aku berlari hingga sampai pada kelokan yang dituju oleh Zack. Namun aku kehilangan jejaknya. Lagi-lagi dirinya menghilang dariku. Tapi, bukankah aku harusnya menjauh darinya karena dia salah satu ancaman yang membahayakanku sebelum-sebelumnya? Ah, begitu membingungkan. Aku tidak tahu mana yang harus kulakukan.


"Lo ngejar apa?" Aku menoleh dan DJ menatapku dengan sengit. "Ashley, lo aneh. Ayo pulang dan istirahat."


Tidak, aku tidak aneh. Tapi, aku tidak mungkin mengatakan jika aku sedang mengejar Zack karena DJ mengenalinya. Urusan ini tidak boleh dicampur tangani oleh orang lain.


Pada akhirnya aku sampai diantarkan pulang dan tak hiraukan bagaimana DJ mengeluarkan beberapa kalimat dari mulutnya. Aku benar-benar tak nyaman dan sebenarnya bagaimana jalan hidupku. Sungguh sulit dimengerti.


Aku mengistirahatkan diri dan berharap esok mendapatkan jawaban dari segala pertanyaanku.


Kini tanggal 22 juli pagi. Terbangun dan pergi ke caffe lalu berulang kali kulakukan tanpa aktifitas yang menarik. Yeah, aku melakukan aktifitas seperti biasa hingga akhirnya tak menyangka akan bertemu seseorang tepat di depan gedung apartemenku.


Zack, pada akhirnya dia muncul tanpa kucari.


"Maaf." Zack memandangku dengan air muka welas asih dan tangannya seperti ingin menggapaiku. "Pagi ini, lebih baik jangan berangkat lebih awal. Masuklah lagi ke apartemen."


Aku tertegun sejenak dalam menatap Zack.


"Kenapa?" tanyaku hingga raut wajah Zack berubah pucat. "Kenapa kamu memperingatkan aku seperti itu ...,"


"Ah, aku ingat masih banyak urusan. Sampai jumpa!" Zack mulai pergi dengan berlari, lalu dia kembali menoleh kepadaku. "Ingat kata-kataku! Masuklah!"


Aku tahu jika dia sudah memperingatkanku berarti akan ada suatu kejadian yang tak terduga. Namun, kali ini aku akan melanggarnya dengan alasan tertentu. Satu sisi, aku juga perlu membuka caffe karena hanya aku yang memegang kuncinya.


Kakiku melangkah pergi dan ketika baru saja keluar dari komplek perumahan, aku tersadar bahwa tali sepatu ketsku belum terikat. Untung saja aku tidak terjerembab akibat tali ini. Aku berhenti di depan area luar perkomplekan untuk mengikat tali sepatu, dalam seketika sebuah pohon tumbang hadir tepat di hadapanku. Kemungkinan hanya berjarak setengah meter dan jika saja aku tidak berhenti untuk mengikat tali sepatu, maka aku pasti akan menjadi korban timpa pohon yang berukuran besar tersebut.


Terdengar suara langkah pelarian ke arahku dan nafas yang terengah-engah.


"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" Lagi-lagi Zack muncul. "Sudah kuberi tahu untuk berdiam sebentar di apartemen. Tapi, ya sudahlah. Lebih baik segeralah ke caffe. Tapi ingat, jangan pergi ke kampus dulu untuk hari ini."


Aku terdiam dan sulit untuk berpikir jernih di kala masih dalam rasa shock seperti ini.


"Aku pergi dulu!" pamit Zack.


Untuk kesekian kalinya, dia pergi lagi dan aku tidak sempat untuk mengajaknya bicara.


Pada akhirnya aku sampai di caffe tanpa halangan perjalanan. Kudapati seluruh pegawai sedang berdiri di depan pintu belakang dan menatapku secara serentak.


"Maaf, saya terlambat," kataku seraya membuka pintu caffe.


Aktivitas biasa mulai terjalani dan aku teringat dengan ucapan DJ bahwa sekarang adalah waktuku untuk pergi ke kampus. Namun peringatan Zack tak bisa ditolak karena sudah kesekian kalinya aku melihat penyebab dari ucapan cowok tersebut dalam melarangku. Dia seperti peramal.


"Nona Manager mana? Woi, lihat Nona enggak?!" teriak Kai dengan air muka panik. "Nona lagi nggak di kampus, 'kan?"


"Enggak, dari kemarin beliau nggak ngampus. Tuh Nona ada di sana," sahut Sherly sembari menunjuk ke arah diriku yang hendak memasuki ruang kerja pribadiku.


"Untung saja!" ujar Kai yang mengusap dahinya seakan-akan ada keringat yang mengalir.


"Ada apa?" Aku bertanya untuk ingin tahu apa penyebab kepanikan Kai.


"Ini-ini Manager." Kai mengeluarkan ponselnya dan menampilkan sebuah berita terkini yang dimana terdapat sebuah gambar gedung terbakar. "Di kampus yang Nona dan saya masuki terjadi kebakaran akibat ledakan di labaratorium."


Seketika semua orang berkumpul dalam menonton ponsel Kai. Aku merasa aneh jika memiliki jabatan dalam pekerjaan namun satu kampus dengan pegawaiku sendiri, meskipun kami berbeda sift sih.


"Untung saja Manager nggak ke kampus!" sambung Vin dengan memaksa dalam menyempilkan kepalanya untuk melihat ponsel Kai. "Manager ngampus di sift malam saja kayak kami. Jangan pagi-pagi."


"Dih, ngatur lo," sergah Megan. "Kecelakaan ada dimana-mana dan tak terduga. Meskipun sift malam, bisa jadi ada kecelakaan lain."


Semua orang mengangguk tanda setuju dari ucapan Megan. Kulihat DJ ikut melihat berita ini dan dia menatapku dengan pasi.


"Hei, ayo jaga pintu, Megan!" panggil River dengan intonasi keras kepadaa Megan, lalu saat aku menoleh kepadanya, seketika ekspresi River menjadi kalem.


Aku merasa terlalu galak terhadap mereka di masa lampau. Padahal River tergolong manusia ketus dan jika dia sampai berubah sikap seperti itu terhadapku, sifatku benar-benar keterlaluan.


Kakiku mengikuti Megan dan mendapati pelanggan pertama hadir. Itu adalah Zack. Cowok itu tersenyum ke arahku dan aku mengartikan bahwa dia merasa lega jika aku tidak pergi ke kampus untuk menuruti peringatannya. Baguslah, jika ada dirinya, aku bisa menghindari kecelakaanku hingga tanggal 26 juli tiba.


Hari yang singkat sampai tak terasa masa untuk menutup caffe telah tiba.


"Gue ada urusan dengan organisasi. Lo pulang duluan aja," ucap DJ yang berbicara lebih dahulu sebelum aku melangkah pergi dari caffe.


Cowok itu berlari pergi seperti terburu-buru akan sesuatu.


"Permisi," kataku yang berusaha membangunkan Zack. Dia tidak terbangun dan aku mulai menyentuh tangannya. "Zack ...,"


Spontan matanya terbuka, lalu dia terduduk dengan terkejut dan nafasnya terengah-engah seperti telah tertimpa mimpi buruk. Zack menoleh kepadaku dengan tatapan tajam, kemudian kedua tangannya langsung mencengkram bahuku.


"Kau lagi, kau lagi! Kau ingin membunuhku, ya?!" bentak Zack hingga membuat nyaliku menciut saat menatap ekspresinya yang begitu gahar.


Air mukanya persis seperti dahulu di kehidupanku sebelumnya yang dimana dia menerorku ketika malam hari. Lalu, apa maksudnya aku membunuhnya? Bukankah sebelum ini justru dia yang sudah berhasil membunuhku?


"Eh ...," Cengkraman tangan Zack terlepas dan ekspresi pada wajahnya memudar. Kini matanya membelalak dalam menatapku dan seakan-akan sesuatu yang telah merasukinya kini telah sirna. "Maafkan aku! Seharusnya, kamu jangan mendekatiku."


Zack bangkit dan langsung berlari pontang-panting. Aneh, belum semenit dia telah bersikap menyeramkan dan menganggap aku adalah seorang pembunuh. Kini dia menjadi ketakutan dan menjauhiku. Padahal sebelum ini dia selalu mendekatiku dengan urusan peringatan yang nyata.


Kulangkahkan kakiku untuk mencari Zack dan berniat untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Pada akhirnya setelah berkeliling-keliling sedikit, kutemukan cowok itu sedang terduduk di gang kecil dan dia membenamkan wajahnya pada kaki yang ia tekuk.


"Hallo? Bisakah kita berbicara?" ucapku sembari mendekat kepada Zack.


Suara tawa sumbang muncul dari Zack. Tawa yang dimana mengingatkanku akan dirinya sebelum mendorongku ke telaga buatan sebelum ini. Kakiku melangkah mundur saat Zack berdiri dengan ekspresi menyeramkan yang sama seperti awal dia terbangun dari tidur.


"Dasar keras kepala. Sudah diperingatkan untuk jangan mendekatiku, masih saja mendekat." Zack pun berjalan ke arahku dengan senyuman yang pernah kulihat sebelumnya saat dia menjadi peneror malamku.


Dia pun berlari lagi, namun melewatiku seperti kabur untuk kesekian kalinya dariku.


Tanpa berpikir panjang lagi, tentu saja kukejar dirinya sembari berteriak. "Hei, tunggu!"


"Sudah kubilang! Jangan mendekatiku," racau Zack dengan intonasi rendah dan tak seperti sebelumnya lagi. "Pergi dariku!"


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu!" teriakku.


Kini kami berlari di perkomplekan rumah yang lumayan sepi. Zack menoleh ke belakang alias kepadaku dan mendadak dirinya memutar haluan untuk menderap ke arahku.


BRUK!


Sebuah pot bunga terjatuh pada titik dimana diriku sebelum terdorong oleh Zack untuk menghindari tertimpanya pot tersebut. Aku melihat ke atas dan seseorang di salah satu bangunan sedang kabur. Dia pasti orang yang sama seperti dahulu menjatuhkan pot bunga kepadaku, siapa lagi jika bukan para fans Vin.


Kami yang masih terposisikan terbaring di tanah menjadi saling bertatapan satu sama lain hingga pada akhirnya cowok di hadapanku meneteskan air mata.


"Sudah kubilang, menjauhlah dariku," isak Zack sembari berusaha bangkit. "Cukup aku saja yang mendatangimu ketika memang diperlukan."


Aku mengeluarkan sapu tangan yang selalu kubawa di tas dan menyodorkannya pada Zack agar dia menghapur air mata yang keluar tanpa sebab tersebut.


Tanpa kusangka-sangka, Zack mengeluarkan dari kantong celananya sebuah sapu tangan yang sama seperti punyaku. Namun, miliknya terdapat bercak noda merah.


Kutatap cowok ini lekat-lekat sebelum berkata, "Itu seperti milikku."


"Memang milikmu," timpal Zack.


"Apakah sebelumnya kita saling mengenal?"


Zack mengangguk tanda membenarkan ucapanku dan dia tertawa kecil. Kepalanya mendongak ke atas seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kamu pernah memberikan ini padaku. Apapun yang kukatakan, kamu pasti tidak akan mempercayaiku, 'kan, Ashley?"


"Akan kucoba," kataku dan berhasil membuat Zack kembali menatapku. "Akan kupercayai apapun yang kamu katakan."


"Omong kosong," sergah Zack dengan senyuman pahit. "Menjauhlah jika kamu tidak ingin mati di tanganku seperti di telaga dahulu."


Aku tersentak kaget setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut cowok itu. Dia tahu segalanya! Zack bukan orang-orang yang berbeda pada umumnya, dia sama sepertiku! Seceparnya aku menahan tangan Zack saat dia memutar tubuhnya untuk pergi lagi dariku.


"Ada apa? Kenapa kamu nyuruh aku untuk menjauh dan ....," ucapanku terhenti saat Zack menoleh kepadaku. "Kenapa kamu membunuhku saat di telaga?"


Dengan perlahan Zack melepaskan tanganku darinya dan kembali melanjutkan perjalanannya yang kebetulan akan melewati jalur kereta api.


"Pergilah dan menjauh dariku." Lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


Ketika aku melangkah untuk menyusul, tiba-tiba sepatuku tersangkut pada rel kereta api. Terasa deja vu, aku pernah mengalami hal ini sebelumnya.


Aku berusaha menarik kakiku untuk terlepas dari jepitan rel pada sepatuku. Rasanya begitu sulit hingga suaraku memancing Zack menoleh.


"Jangan lagi!" pekik Zack seraya menghampiriku dan mulai membantuku dalam kaki ini dari rell.


"Apa maksudmu dengan kata 'lagi'? Kamu tahu jika sebelumnya aku pernah seperti ini?" tanyaku dengan panik.


Zack tak menggubrisku dan masih sibuk dengan membantu mengeluarkan kakiku dari rel. Mendadak bell pagar lalu lintas berbunyi menandakan sebentar lagi kereta api akan hadir. Selama seperkian detik, akhirnya kami berhasil terlepas dari rel dan melangkah menjauh sebelum kereta datang.


"Kamu tahu semuanya, cepat katakan siapa dirimu ini?!" bentakku yang sudah kehabisan kesabaran dalam mencari jawaban dari Zack. "Aku mati di telaga, di rell kereta api. Semua kamu ketahui dan kenapa baru sekarang dirimu muncul untuk menyelamatkan?"


Cowok ini memalingkan wajahnya dan menghembuskan nafas berat.


"Dan apa maksudmu jika aku akan membunuhmu, padahal jelas-jelas kamu yang berusaha membunuhku?" tanyaku lagi dengan lirih.


"Kamu bilang akan berusaha percaya tentang apapun yang kukatakan. Bisakah?" Zack menatapku lekat-lekat dan aku mengangguk tanda membenarkan. "Jika aku katakan aku adalah ...,"


Seketika kereta api lewat dan suaranya yang kencang telah memudarkan ucapan Zack yang terdengar di telingaku.


"Apa kau percaya?" sambung Zack setelah mengatakan apa yang tidak kudengar dan yang bisa kudapatkan hanyalah melihat pergerakan mulutnya.


Aku menggeleng pelan dan merasa sedikit kesal dengan gangguan suara kereta api. "Bisa kau ulang?"


Zack menghela nafas. "Aku adalah ...,"


Lagi-lagi suara mesin kereta api muncul dan yang bisa kulihat hanyalah gerakan mulut Zack.


"Aku adalah kekasihmu."


...- ♧ -...