Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
41. Pendekatan



MULAI dari sini dan setelah ini, Zack dan aku semakin akrab. Kedekatan kami ada kemajuan, bahkan saat dimana aku dan dia sering bertemu tanpa sengaja di jalan. Atau mungkin Zack yang bersedia menemaniku untuk pulang dari bekerja. Semua berjalan dengan lancar dan sesuai keinginanku. Semoga saja takkan ada perubahan yang dimana dapat memisahkan kami untuk kesekian kalinya.


Namun, kutemukan sebuah penganggu hidupku untuk kesekian kalinya. Bukan organinasi Cate ataupun marabahaya alam, melainkan fans club Vin yang sangat gila. Gara-gara mereka, aku yang tak tahu apa-apa sampai ketakutan dan terjun ke jurang. Mengingat hal itu membuatku menggertakan gigi.


Sekarang adalah waktu pulang dari kafe dan seluruh pegawai kafe pergi secara bersamaan hingga memenuhi gang keluar. Tambahan dengan para fans girl yang sedang menunggu Vin. Melihat mereka terus menerus telah membuatku kesal.


"Siapa mereka?" Zack bertanya ketika aku baru sadar sudah berjalan di dekatnya. Dia ikut memperhatikan tiga cewek yang mengelilingi Vin dengan heboh.


Salah satu dari mereka memindahkan padangannya dariku dan berdecak kecil seakan-akan mengkode agar aku berhenti melihat mereka.


"Mereka klub penggemar si Vin," kataku pada Zack tanpa memalingkan pandangan sedikit pun. "Apa kamu tahu? Aku bisa terbunuh karena kegilaan mereka."


Gerombolan Vin berhenti di pinggir jalan setelah keluar dari gang kecil ini. Sedangkan aku dan Zack tetap melanjutkan langkah kami dengan cuek. 


"Apa itu?" Kulihat suatu lembaran di tangan Zack yang akan dia tunjukan kepadaku.


"Ini fotomu yang sudah kucetak." Dia menyodorkan foto berukuran 2R itu padaku. Sebaiknya aku membeli figura untuk memajang foto itu di meja nakas kamarku.


"Apa maksudmu tadi? Terbunuh?" Lagi-lagi Zack bertanya dan aku menjadi bingung untuk menjelaskannya. 


BRUK!


Tubuhku nyaris terjatuh dan Zack sedikit tersenggol olehku ketika seorang cewek saling menabrakan bahu kami dari belakang. Dia melewatiku tanpa meminta maaf, kemudian menoleh ke arahku seperti sedang memeriksa keadaan. Wajahnya yang menatapku telah membuat gigiku menggertak kesal. Cewek itu adalah salah satu fans girl Vin yang menjahatiku pada saat itu. Terlebih lagi, dialah yang pernah menampar dan menggunting rambutku.


Meskipun waktu itu dia telah meminta maaf secara paksa, dan aku tidak ada keberanian untuk melawan akibat amnesia yang menjadikanku lugu. Kini aku tahu harus melakukan apa agar suatu saat nanti dirinya tak mengacaukan hidupku lagi. 


Spontan kakiku melangkah cepat, lalu langsung mencengkram bahu cewek itu dengan kasar hingga dia berteriak disebabkan terkejut dan kesakitan. Kulihat penampilannya yang sangat modis dari atas ke bawah. Sedangkan dia hanya anak SMA biasa, namun penampilannya bak wanita dewasa. Aku jadi teringat seorang cewek berseragam SMA yang memecahkan kaca apartemen Kurt menggunakan batu.


"Ada masalah apa hingga mendorongku dengan sengaja?" Kulemparkan pertanyaan dan cewek itu hanya diam sembari menatapku dengan sinis. "Bisu, ya?"


Dia pernah menyebutku bisu, dan kali ini kulontarkan sebelum dia mencoba umpatan itu padaku. 


Tangannya berusaha menyentak dariku dan cewek itu memberikanku tatapan permusuhan. "Apaan, sih? Nggak usah pegang-pegang, dasar jal*ng!"


PLAK!


Tanpa merasa bersalah, aku menampar pipi cewek itu ketika mulutnya melontarkan umpatan yang sama sekali tidak pantas untuk didengar. Aku hanya bertanya dan membalas apa yang dia perlakukan padaku, namun jawabannya sama sekali tidak mengenakan. 


Dia tidak akan lari lalu mati setelah ditampar seperti ini, dan jelas-jelas tidak akan bernasib sepertiku. 


"Hanya karena aku menatap Vin, dirimu sampai berperilaku seperti ini?" Aku menunjuk-nunjuk bahunya dengan kasar dan menaikan intonasi suara. "Meskipun kamu merundung siapa pun yang dekat dengannya, dia nggak akan mendadak jatuh cinta padamu!"


Mataku nyaris menangis saat mulai teringat bagaimana ketakutanku saat tak mengenal dunia, namun mendapatkan teror dan rundungan dari komplotan cewek ini. 


Cewek itu melangkah pergi dengan menghentak-hentakan kaki dan aku yang menatap kepergiannya reflek menghela nafas berat. Semoga saja ucapanku dapat menyadarkan sifat buruknya tersebut. Atau mungkin aku harus memberi tahu Vin tentang sikap fans girl-nya. Tapi, pasti percuma, karena aku pernah melaporkan hal ini padanya pada saat itu, namun tanggapannya sangat mengecewakan.


Aku membalikan badan dan mendapati Zack yang membulatkan matanya dalam menatapku. Mungkin dia sedang terheran-heran dengan sikapku pada cewek tadi. 


"Ada apa?" tanyaku sembari mendekat kepadanya.


Reflek aku memiringkan kepalaku dan menatapnya dengan bingung. "Memberi penegasan pada cewek itu? Bukannya itu hal wajar? Dia berbahaya bagiku."


Mendadak Zack memegangi kedua pipiku dan tertawa kecil hingga aku melonjak kaget. Ini adalah pertama kalinya dia melakukan kontak fisik padaku.


"Apa katamu tadi? Wanita seperti itu bisa membuatmu terbunuh? Justru sikapmu jauh lebih cocok untuk membunuh mereka," ujar yang masih terkekeh dalam menatapku.


Mata yang selalu terlihat redup akibat sayu dan terhiasi gelapnya kantung mata, kini menjadi berubah. Dia menatapku dengan nyalang hingga aku teringat oleh sisi keji dari Zack. Tatapan inilah yang aku takuti. 


"Walaupun sudah tahu dia berbahaya. Kamu tetap bertekad untuk memberinya penegasan?" Zack melanjutkan ucapannya dengan lirih. "Aku suka, Ashley! Aku suka dengan sikap seperti itu! Itu kusebut keberanian!"


Reaksinya sangat berlebihan. Mungkinkah aku sudah menjadi tipe wanita yang disukainya? Padahal aku bisa saja bersikap tegas pada siapa pun yang sekiranya akan merugikanku. Bukan hanya salah satu fans girl Vin yang aku perlakukan seperti itu, sebelum ini adalah Zeha.


"Reaksimu terlalu berlebihan." Kulepaskan tangan Zack dari wajahku dan menggeleng pelan. Ekpresinya tadi mulai memudar, kemudian senyumku terukir. "Aku hanya bisa sebatas memperingatkan seperti tadi. Bukan berarti benar-benar bisa melawan apa yang akan membahayakan diriku."


Membayangkan bagaimana sebuah pot terjatuh di atasku oleh ulah cewek-cewek gila tersebut sudah membuatku ngeri. Mereka benar-benar bertekad mencelakaiku di dunia paralel mana pun. Aku tidak bisa memungkiri jika ulah mereka akan terjadi pada kehidupan asliku. 


"Jadi, mana fotoku tadi?" Aku melirik ke bawah lalu menatap wajah Zack yang juga sedang mencari-cari keberadaan benda tersebut.


"Mungkin terbang karena terjatuh saat aku tersenggol," jawabnya yang masih melihat-lihat sekitaran. Padahal tak ada angin yang cukup kuat untuk menerbangkan kertas. "Tak apa, aku bisa mencetakan lagi untukmu."


Kuhembuskan nafas sejenak dan merasa kecewa. Semoga saja foto itu kembali padaku.


Mataku menjadi salah fokus saat melihat ke langit yang berada dari belakang Zack. Bintang-bintang telah berjatuhan hingga menghiasi malam ini. Tanpa bicara, aku menunjuk ke arah langit hingga Zack menoleh ke belakang dan ikut mematung dalam mengagumi pemandangan yang jarang sekali bisa didapatkan. Dia pun mengeluarkan kamera dan mengabadikan kerlipan-kerlipan malam tersebut.


Kusatukan tanganku dengan mengisi ruang-ruas jari, lalu memejamkan mata. "Kuharap, apa yang telah hilang dari bagian hidupku akan kembali secepat mungkin."


Kata kebanyakan orang, apabila ada bintang jatuh, cobalah untuk memanjatkan doa. Siapa tahu akan terkabul.


"Apa bintang jatuh bisa mengabulkan doa?" Aku membuka mata dan langsung mengangguk ketika Zack bertanya. Dia pun mengikutiku dan memanjatkan doa seraya mendongakan kepala.


"Dan aku berharap agar bisa selalu bersama dengannya di kehidupan mana pun," sambungku yang kembali berdoa.


"Siapa orang yang kamu maksud?" Bibirku tersenyum tipis tanpa membuka mata saat mendengar Zack bertanya untuk kesekian kalinya.


Selama beberapa detik, aku baru membuka mataku dan langsung melihat Zack yang berwajah innocent dalam menunggu jawaban atas pertanyaannya.


"Kamu," jawabku seraya tersenyum lebar dan membuatnya terbungkam hingga memalingkan wajah.


"Apa aku boleh bertanya lagi?" Kepalaku mengangguk tanda menyetujui permintaan Zack. "Apa yang hilang hingga kamu berharap sekali menemukannya?"


Jari telunjukku menunjuk ke arah dadaku seraya berkata, "Aku," Sebelum dia bertanya lagi karena tidak memahami perkataanku, aku lanjutkan ucapanku sembari merubah arah jari telunjukku ke kepala Zack. "Di ingatanmu."


Angin berhembus kencang hingga menerpa rambut kami berdua. Hening, dan tak ada lagi pertanyaan yang terlontarkan kepadaku.


- ♧ -