Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
53. Obsesif



HARI ini kulakukan aktivitas seperti semula dan tidak ada bedanya dengan sebelum-sebelumnya. Pergi ke kampus, lalu bekerja. Variatifnya hanyalah berkencan sebentar bersama Zack. Ya, hanya itu keseharianku.


Aku memikirkan perihal tour yang akan diadakan tanggal 20 juli nanti. Rasanya seperti sudah dibocorkan bagaimana suasana nanti saat di puncak. Menonton meteor lonid, mendaki, bermain kanu, berkemah dan melakukan barbeque. Hal yang seharusnya menjadi pertama kali bagiku, tetapi ini sama saja dengan mengulang hal yang pernah kulakukan.


"Rambutmu panjang sekali, Ashley." Tangan Zack merapikan rambutku yang sedari tadi memasuki jaket kukenakan. "Sayang sekali jika dipotong."


"Begitulah. Lagi pula, aku tidak berniat untuk memotongnya," kataku yang ikut memegangi rambut bergelombang ini.


Kami sedang berjalan bersandingan koridor berkarpet merah setelah tadi menonton bersama di dalam bioskop. Film yang ditampilkan bergenre thriller-romance yang menceritakan seorang wanita tengah kabur dari kejaran mantan kekasihnya sampai melintasi waktu. Terdengar aneh, tetapi aku menyukainya.


Akhirnya kami mencari tempat duduk dan memesan kopi pada stan kafe kecil.


"Jika ada keadaan darurat, kamu bisa memotong rambutmu," lanjut Zack yang membuatku kebingungan akan ucapannya.


Memangnya, hal darurat apa yang dimaksudkannya?


"Tubuhmu sedikit panas. Apa kamu lupa jika sebelum tidur untuk menambal celah jendela? Kamu bisa saja sakit karena angin malam meskipun menggunakan selimut."


Perkatannya membuatku tertegun sejenak.


"Oh, ya. Aku ingin bertanya, apa maksudnya dunia paralel?"


Mengapa mendadak membahas hal ini? Bukankah hanya aku yang tahu mengenai dunia paralel? Apakah Zack mengingat kebersamaan kami saat itu? Tidak, Zack yang kukenali sudah meninggal dan kini pria di sampingku sama seperti diriku yang dahulu bangkit dari kematian dalam keadaan amnesia.


Yang mengetahui itu aku dan ... buku diary-ku.


"Aku tidak pernah cerita jika ada jendela di kamarku," ucapku canggung. "Lalu, dunia paralel? Teori-teori itu hanya kutuliskan di buku diary. Lantas, apakah kamu ..."


Mulutku ingin bertanya, namun terasa kaku untuk melontarkan kalimat yang ingin sekali kukatakan.


"Aku pernah masuk ke kamarmu."


Rasanya seperti disambar petir ketika mendengar kalimat dari mulut pria di sebelahku ini. Itu tindakan di luar izinku.


"Memangnya kenapa? Aku pacarmu. Aku juga ingin tahu bagaimana barang-barangmu, sekitaranmu dan hal-hal pribadi yang sudah pasti akan kuketahui jika kita hidup bersama nanti," lanjut Zack yang membuatku lebih terkejut dan membeku.


"Itu melanggar privasi!" bentakku sampai berdiri akibat merinding dengan perkataannya tadi.


Zack menarikku pelan untuk duduk, lalu berkata, "Privasi apanya, Ashley? Bukankah nanti kita akan tinggal bersama sebentar lagi? Apa yang kulakukan tidak salah."


"Salah!"


Tangannya membelai pipiku dan membalas, "Lebih baik, tidak ada yang disembunyikan di antara kita." Kemudian, ekspresinya berubah menjadi datar, seolah-olah hendak mematahkan tulang leherku. "Benar, bukan?"


Terbungkam, tidak ada keberanian dan rasa tegang langsung menjulur di tubuhku. Apa yang dia katakan ada benarnya, tapi seharusnya bukan berlebihan seperti ini.


"Sepertinya aku harus ke toilet." Dia pun bangkit dan menggeser kursi. "Tunggu di sini, Ashley."


Kepergiannya membuatku seakan-akan terlepas dari jeratan. Mataku tidak henti-hentinya membelalak. Situasi ini benar-benar di luar nalar. Sementara itu, ponsel milik Zack berada pada meja dan rasa ingin tahuku membeludak hingga mencoba mengotak-atiknya. Akan tetapi, apa yang harus aku cari?


Aku harus cepat sebelum dia kembali


Begitu banyak applikasi yang tidak aku ketahui. Media sosial dan situs internet yang asing. Terdapat pula note berisikan kode-kode angka yang tidak bisa dipahami. Terakhir, aku memutuskan membuka gallery. Lagi-lagi rasa terkejut hadir dikarenakan tingkah Zack. Begitu banyak foto-fotoku di berbagai macam tempat. Mulai dari berkencan bersamanya, terpotret bagian punggung, berjalan ke luar dari kafe clair de lune, memasuki kampus atau bahkan berada di kelas sekali pun. Sungguh, aku tidak pernah menyadari jika dia memotretku sebanyak ini!


Tidak hanya semua itu. Beberapa foto yang lebih mengejutkanku adalah aku yang terpotret ketika tidur di kamar, menyiapkan sarapan, bahkan berdiri pada balkon.


Kepalaku menggeleng pelan akibat tidak percaya bahwa keberadaannya benar-benar selalu di sekitarku, tetapi tidak dapat kuketahui hawa kehadirannya sama sekali. Benar-benar keahlian seorang penyusup profesional dan tidak heran dia bekerja sebagai pembunuh bayaran.


"Ashley."


Namaku terpanggil yang membuatku tersentak kaget. Ponsel tersebut terjatuh, lalu terpungut oleh pemiliknya.


Tangan Zack menggoyang-goyangkan ponsel itu dengan berkata, "Apa aku mengizinkanmu untuk membuka ini?"


Sontak aku berdiri dan membentak, "Apa-apaan itu? Kamu menguntitku!"


"Menguntit apanya?"


"Kamu memfoto-fotoku tanpa izin, bahkan di tempat yang seharusnya menjadi privasiku."


Kepalanya dimiringkan dalam memberi reaksi bentakkanku. "Aku hanya penasaran."


Wajahnya menampilkan ekspresi tanpa dosa, seolah-olah aku hanya bicara pada tembok. Ini sudah keterlaluan, Zack benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku hanya melihat setengah dari banyaknya foto di gallery tersebut. Bagaimana jika ada potret hasilnya yang lebih parah, semisal ketika aku mandi atau berganti pakaian?


"Itu bukan alasan, Zack." Kakiku spontan melangkah mundur. "Itu bukan penasaran, melainkan obsesi!"


TRAK!


Ponselnya terjatuh ke lantai, kemudian dia menginjaknya sampai layar tersebut terlihat retak dan kemungkinan rusak.


"Selesai." Zack menatap ponselnya tersebut. "Tidak ada lagi yang harus dipermasalahkan."


Melihat perilakunya tersebut, membuatku reflek menelan saliva dan ketakutan.


"Apa aku juga harus mengancurkan ini, Ashley?" Sebuah kamera yang dahulu digunakan untuk memotretku juga dia tunjukkan kepadaku.


Kepalaku menggeleng dan langsung terpejam ketika Zack juga menjatuhkan kamera tersebut sampai rusak. Aku menggigit bibir setelah melihat sikapnya yang begitu aneh.


Begitu buruk dan berlebihan. Jika dia rela menghancurkan barang yang selalu menemaninya ke mana pun, bukankah artinya dia bisa kapan saja merusak hal penting, termasuk aku? Terlebih lagi, tempramentalnya sebagai seorang psikopat yang di mana sikap baiknya harus diragukan.


"Maafkan aku jika tidak membuatmu nyaman ..."


"Tidak ...." Aku menatapnya dengan penuh permusuhan, lalu mengambil tas dan menekan-nekan nomor ponsel. "Perbuatanmu tidak bisa ditutupi sekadar ucapan maaf atau bujukan barang hadiah. Ini terlalu di luar batas, kamu terobsesi denganku!"


Benar, ini semua adalah kesalahan fatal.


Aku langsung melangkah dan melanjutkan, "Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Kita lebih baik putus."


"Ashley!" Zack memanggil setelah aku berjalan pergi meninggalkannya.


"Jangan menguntitku lagi," tegurku sembari menoleh padanya.


Secepat kilat, dia menghampiri dan memelukku. Tanganku mencoba mendorongnya terus-menerus, sampai berhasil terlepas.


"Jangan dekati aku. Atau tidak, maka akan kulaporkan ke polisi. Aku serius!"


Kakiku langsung berlari dan pergi keluar. Taksi yang kupesan tadi pasti sudah datang dan buru-buru aku memberi lokasi apartemenku untuk kabur dari Zack.


Apakah perbuatanku sudah benar? Zack sudah tahu betul apartemenku. Jangan-jangan, dia akan mencariku seperti dahulu. Apa mungkin aku harus pindah dan meminta bantuan Kai bersama River?


Jika saja aku melapor ke polisi, bukankah dia pasti bisa terbebas karena memiliki backingan, lalu justru akulah yang akan tertangkap karena menuduhnya sembarangan. Andaikata benar terjadi, dia pasti akan memberi penawaran agar aku kembali hidup bersamanya atau lebih baik melaksanakan hukuman dari pihak polisi.


- ♧ -