Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
24. Fourth Life



"NONA Ashley, bangun!"


Suara yang terdengar menggema dan menganggu ketenanganku, apakah aku sedang dipanggil oleh malaikat untuk ke alam lain?


"Nona Ashley, bangun!"


Mengapa aku dipanggil nona? Ah, terasa basah dan dingin pada wajahku. Pasti aku masih di dalam telaga sebelumnya dan belum mengalami kematian yang jelas. Akan tetapi, rasanya seperti hujan gerimis yang jatuh di wajahku. Bahkan aku tak merasa basah di area sekitar.


"Nona Ashley!!!"


Suara teriakan dalam memanggil namaku tersebut telah membuatku tersontak bangun. Nafas yang terengah-engah, mata membelalak, dan kupegangi seluruh bagian tubuhku untuk memastikan apakah aku baik-baik saja.


Aku tidak tenggelam. Tapi, aku selamat.


Kuedarkan pandangan ke segala arah. Tidak ada telaga, ataupun area rumah sakit. Sesuai dugaanku, aku bangkit kembali. Reflek tanganku memegangi rambut dan kondisi rambutku sama pendeknya seperti sebelumnya.


Sekarang aku kembali hidup di tempat yang berbeda dan waktu yang terhitung mundur kembali. Alih-alih sama seperti sebelumnya, aku mati dan bangkit di tempat yang sama, kini berbeda. Diriku berada di caffe, caffe clair de lune yang jauh dari rumah sakit!


Baru kusadari bahwa semua orang menjadikanku pusat perhatian dan memandangiku dengan bingung. Semuanya. Tuan manager, Sherly, Megan, Vin, Kai bahkan Kurt dan River! Sejak kapan Kai bekerja sebagai pelayan clair de lune? Dan River ada di sini juga! Ditambah Kurt yang jutek dengan kacamata di wajahnya pun membuatku kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Nona Ashley, apakah nyawa anda sudah kembali 100% setelah tidur yang nyenyak ini?" tanya Sherly dengan gugup dalam menunduk ke arahku. Ternyata yang sedari tadi memanggilku adalah dia.


Sherly membawa sebuah gelas dan di sebelah tangannya terlihat air menetes beberapa kali di ujung jari-jarinya. Bisa-bisanya dia menyiramku dengan memercik air.


Sekarang, aku berada di sofa ruang tunggu pegawai. Mataku melirik jam dinding dan mendapati jam 18:00, lalu kuperiksa saku baju dan rokku hingga menemukan ponsel. Setelah kuhidupkan dayanya, sesuai dugaanku, sekarang menunjukan tanggal 20 juli.


"Eh, cuy. Nona Ashley kenapa? Sakit, ya?" bisik Kai pada River yang terdengar olehku.


"Entah, gue cuma mau pulang. Tinggal nunggu instruksi," balas River yang tak kalah berbisik.


Ada yang aneh. Kusadari, rok yang kugunakan terasa ketat. Bahkan kemeja yang kugunakan. Kuperhatikan semua orang yang sedang memakai seragam pegawai caffe seperti biasa, terkecuali dengan aku. Oh tidak, sepertinya aku adalah pelanggan yang nyasar ke kafe ini dan tak sengaja numpang tidur!


"Maaf-maaf, aku ketiduran," kataku canggung dan tersenyum keki. Kupandangi dekat sekitarku dan langsung menemukan tas selempang yang sama seperti sebelum-sebelumnya kupakai.


"Aku?" Megan menaikkan alisnya dalam merespon, lalu menoleh ke arah Sherly seakan-akan mereka sedang berbicara melalui batin.


Apa ada yang salah denganku?


"Aku jadi merasa nggak enak. Maaf sekali lagi. Aku pergi dulu." Aku beranjak dari sofa dan memegangi leherku yang terasa pegal. Pasti posisi tidurku tidak nyaman.


"Nona Ashley mengigau, ya?" bisik Kai lagi ke River. "Beliau ini kenapa?"


"Nona Ashley, anda mau ke mana? Sedari tadi, kami menunggu," panggil River ke padaku hingga kakiku berhenti melangkah ke pintu keluar. "Anda pasti kelelahan dalam mengurus kami hingga begini."


Aku mematung dalam menatap River. Aku memang rindu padanya, bahkan saat melihat wajahnya setelah sekian hari yang terasa lama, hatiku merasa sedih. Tak terkecuali dengan Kai dan Kurt.


Kuhempaskan fantasi tersebut dan aku mulai berusaha memahami situasi. Mereka semua memanggilku dengan sebutan 'Nona' dan berbicara dengan gaya formal. Bahkan pakaianku berbeda dengan mereka. Kemeja dan rok hitam ketat berbahan licin, sepatu heels dan rasanya bibirku begitu berat. Pasti aku menggunakan riasan. Di kehidupan ini, diriku justru terlihat lebih rempong. Ada yang lebih mengganjal dari semua yang kuobservasikan. Mengapa Pak Manager memakai seragam pegawai? Bahkan sikap beliau tak ada wibawanya sama sekali! Apa mungkin jangan-jangan...


"Nona Ashley, katanya ingin rapat untuk tour pegawai? Sepertinya anda pusing dalam mengurus hal seperti ini. Bisa kami bantu?" ucap Megan dengan senyum lebar namun berkesan kaku.


Kulirik saku kemejaku dan terlihat sebuah name-tag bertuliskan 'Manager Staff. Lilian Ashley'. Oke, sekarang aku mulai panik.


Semua orang menjadi pegawaiku. Tak ada yang terkecuali. Tunggu dulu, sebelumnya aku mengingat dengan pasti jika Zack juga bekerja di sini dahulu. Syukurlah jika tidak, maka aku tidak akan terbayang-bayang tentang perilakunya terhadapku sebelum ini.


Kutarik nafas dan hembuskan perlahan, lalu kusatukan kedua tanganku disertai senyuman manis ke hadapan mereka semua.


"Oh, maafkan saya. Sepertinya efek amne ... eh, insomnia. Makanya saya seperti ini," dustaku yang berusaha tampil natural.


Seketika semua orang terkejut dan saling memandang satu sama lain. Bahkan Sherly dan megan membekap mulut mereka dalam merespon ucapanku. Apakah aku salah bicara?


"Astaga Nona Manager! Syukurlah anda terkena insomnia ... Ouch!" Ucapan Kai terpotong saat River menyikut perutnya.


Kurt pun menahan senyumnya dengan menunduk dan menutup mulutnya dengan keren. Bahkan Vin memalingkan wajahnya seakan-akan tak kuasa menatapku. Apakah aku berbuat kesalahan yang fatal?!


"Apakah saya salah bilang?" tanyaku dengan panik.


"Enggak kok, Nona!" balas Sherly.


"Iya, malahan bagus!" sambung Megan.


Apa maksud dari kata bagus?


"Hei, sstts!" Sherly berdesis dengan menempelkan satu telunjuknya di bibir Megan.


Aku pun hanya bisa tersenyum keki dan memutar otak untuk menangani situasi. "Baiklah, katanya, tadi ingin membahas perihal tour pegawai, ya?"


Semua orang mengangguk pelan. Aku jadi teringat hal-hal negative yang menimpaku saat tour pegawai sebelum ini. Jika aku tidak ikut dan tetap mengadakannya, maka tidak akan ada yang mengkoordinasikan mereka semua. Tapi, aku tidak ingin kesalahan yang sama terulang. Maka karena itu, akan kuputuskan jalan tengahnya.


"HAH?!" Sherly dan Megan terperangah hebat.


"Bagus tuh, Nona! Saya juga mager!" celetuk Vin.


Aku tahu bahwa keputusan ini gila. Tapi tidak apa, ini demi keselamatanku hingga tanggal yang ditentukan. Pasti kali ini adalah tanggal dua puluh enam.


"Apakah ada uang patungan sebagai anggaran?" tanyaku ke arah Kurt. Entah kenapa pandanganku justru ke Kurt.


"Tidak ada, Manager. Program peningkatan produktifitas karyawan melalui tour pegawai ini adalah tanggungan anda," ucap Kurt dengan tegas.


Aku mengangguk pelan. "Mungkin bisa kita tunda hingga tanggal 27 juli atau barang kali bulan depan."


Tampaknya Sherly dan Megan sedikit kecewa. Vin dan Kai terlihat sebaliknya, mereka saling fist bump seakan-akan satu pikiran.


Ini sudah termasuk malam, dan aku tidak memiliki teman dekat jika posisiku menjadi manager. Jika aku memiliki pendamping, mau semalam apapun, aku bisa kemana pun. Biasanya, aku memiliki pacar entah siapa itu, aku hanya bisa menunggu cowok tersebut datang ke padaku. Atau mungkin aku tidak punya?!


Kuedarkan pandangan ke semua orang seraya berkata, "Saya tutup pembicaraan kita. Karena saya merasa tidak begitu enak badan, maka dari itu, pulanglah kalian lebih awal."


Aku berlanjut berjalan menuju pintu dan ke luar dengan setenang mungkin.


"Kunci kafe siapa yang akan bawa, Nona?" tanya Megan dengan panik.


Aku menoleh dengan bingung. "Memangnya, ada berapa kunci kafe?"


"Satu di Nona dan satu lagi di loker kasir sebagai cadangan. Jika anda pulang duluan, siapa yang mengunci kafe?" Kurt memandangku dengan tajam. Aku merasa seperti dipojokkan.


"Ah, kau saja, Kurt," ucapku terburu-buru. "Maaf, saya pamit, ya."


Aku benar-benar tidak terbiasa dengan situasi ini!


Saat kututup pintu tersebut setelag berhasil kabur, terdengar obrolan dari mereka semua yang membuatku terpancing untuk mencuri dengar.


"Insomnia Nona Manager menguntungkan. Saking lelahnya beliau, hingga bersikap baik dengan kita untuk pulang cepat. Eh, bentar, gue ganti baju dulu," kata River. Apakah sebelumnya aku begitu galak?


"Baguslah. Kalau begini gua bisa ngacir sebelum ke kampus," ucap Vin. Ternyata mereka ngampus di sift malam.


"Kira-kira, Manager kenapa?" tanya pegawai yang awalnya adalah managerku. Aku tidak tahu namanya, sebaiknya kutanyakan esok.


"Entahlah, tapi aku suka Manager yang seperti ini." Terdengar seperti Kurt. Dia menyukaiku yang seperti ini. Seberapa menyebalkannya aku yang berada di dunia ini sebelum tanggal dua puluh?


Memangnya, aku yang sebelumnya seperti apa? Sebelum mereka semua ke luar dari pintu ini, kusegerakan diri untuk pergi dari sini.


BRUK!


Aku menabrak seseorang karena begitu terburu-buru hingga tak melihat sekitaran saat keluar dari area gang kecil ini.


"Maaf-maaf." Aku menaikkan pendanganku karena orang yang kutabrak sedikit lebih tinggi dariku. Sontak kakiku mundur selangkah dan terpaku dalam menatap orang yang di hadapanku ini.


Zack, si cowok berwajah pucat. Penampilannya sama seperti sebelumnya. Earphone yang bertengger di lehernya, jaket tebal se paha dengan tempelan hoodie kepala, mata panda yang menampilkan betapa lelahnya dia menjalani hidup. Mungkin aku terlambat atau terlalu cepat untuk pulang dari kafe dan kematianku di tangan cowok ini lebih cepat dari perkiraanku.


"Oh, iya. Maaf juga karena tidak lihat-lihat," jawab cowok tersebut dengan begitu ramah. Aku berusaha menampilkan senyuman, lalu langsung melangkah sebelum cowok tersebut melakukan aksinya.


Beruntung tempat ini lumayan ramai hingga tak ada kesempatan baginya untuk melukaiku.


"Tunggu dulu," ucap cowok tersebut tanpa kugubris. Aku pun tetap berjalan dengan gugup. "Jangan lewati lampu merah untuk menyeberang!"


Dia pasti ingin aku mengambil jalan lain dan berencana untuk mencelakakanku di tempat sepi. Aku tidak akan menurutinya. Aku pun tetap berjalan dengan langkah yang cepat hingga pada akhirnya, sampailah di dekat lampu merah untuk menyeberang. Namun, setelah sampai beberapa meter menuju lampu merah, aku terdiam sejenak. Teringat olehku tentang kecelakaan yang aku alami bersama River.


Aku sedikit takut. Kakiku menimbang-nimbang untuk melangkah dan mulai mematung seperti menolak perintahku. Apa yang sedang kupikirkan ini begitu aneh. Kuputuskan untuk tetap berjalan dan saat sedikit lagi sampai untuk menyeberang zebra cross karena lampu merah telah berdenting, seorang wanita paruh baya menarikku dengan kuat hingga aku terjerembab ke belakang.


"Tunggu dulu! Lihat di sana." wanita yang menarikku tersebut menunjuk ke arah sebuah mobil yang melaju cepat dan pada akhirnya menerobos lampu merah.


Jika saja aku tak terlambat dalam berjalan karena tidak menahan diri untuk ke sini, sudah pasti sekarang aku berada di tengah-tengah jalan tersebut. Mungkin lebih parahnya, aku tertabrak. Untung saja ada wanita paruh baya yang menarikku, jika tidak, bisa saja aku terserempet sedikit oleh mobil tersebut dan mengalami luka ringan. Ini berbahaya.


Aku menunggu beberapa saat dan ikut menyeberang bersama segerombolan orang karena menurutku lebih aman jika berramai-ramai. Setelah menyeberang dan beberapa kelokan lagi akan sampai pada apartemenku. Semoga saja apartemenku sama seperti sebelumnya.


Saat sampai, aku merogoh-rogoh isi tas dan mengambil kuncinya lalu berhasil masuk. Ternyata apartemenku sama seperti sebelumnya, kukira jika kenaikan pangkat menjadi manager, akan diberikan fasilitas lebih bagus daripada ini.


Ruangan yang sama, tak ada perubahan. Aku memeriksa bagian kamar tidurku dan tak ada tanda-tanda kehidupan romantis yang tertinggal di sini. Foto figura bersama seseorang ataupun sebuah ciri khas khusus tentang aku yang sekarang, itu semua tidak ada. Bahkan aku mencoba membobol sebuah buku diary yang persis sama seperti sebelumnya, namun tak terdapat tulisan apapun.


Kubuka ponselku dan tak mendapatkan apapun yang menarik selain penuh akan dokument pekerjaan.


Tunggu dulu, aku adalah seorang manager. Jadi, apakah aku tidak kuliah?


- ♧ -