![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
AKHIRNYA aku sampai di depan gedung apartemen setelah menggunakan jasa taxi.
Saat perjalanan tadi, tanganku gemetar dan kengerian yang kurasakan sedari Zack mencekikku masih terasa pada benakku. Tatapannya yang keji, nada bicaranya yang ketus dalam membeberkan seluruh jawaban yang telah kutunggu-tunggu.
Aku memasuki lobi apartemen dan saat baru saja membuka pintu utama, beberapa gadis dengan raut muka berbeda telah berdiri secara serentak dari sofa yang menjadi tempat para tamu tunggu. Dengan tegar, kuhiraukan sekitarku karena bisa kutebak bahwa gadis-gadis itu adalah fansclub Vin. Sekarang aku tak ingin berurusan dengan mereka yang begitu membahayakanku.
"Lah, kok kita dicuekin?"
"Entahlah, apa Ashley marah sama kita?"
"Sial*n, dia pura-pura nggak ngelihat gue yang segede ini?"
Kalimat-kalimat dari mulut mereka telah terdengar olehku dan membuatku semakin yakin jika mereka ingin mencari masalah lagi kepadaku sama seperti dahulu.
"Eits, kok main cabut gitu aja?" Seorang cewek berambut pendek dengan ekspresi riang telah menghalangi lift ala kiper menjaga gawang.
Aku memalingkan wajahku dan langsung bertatap muka dengan cewek yang berwajah keji. Dia pasti akan mengumpat dan menghinaku, mungkin karena sering menyuruh-nyuruh Vin di kafe.
"Ini gue, bukan setan!" tegas cewek tersebut dengan ketus. Dia terlihat begitu galak. "Lo kok kayak udang lagi digoreng?"
"Memangnya kalau udang digoreng kayak gimana?" celetuk cewek yang sedang menghalangi lift dengan wajah polosnya.
"Menciut. Gitu aja nggak tahu lo!" cetus si cewek galak.
Cewek yang menjadi lawan bicaranya menjadi mendengus kesal. "Crap. Memang kagak tahu! Dan gue juga kagak tahu kalau elo pernah masak udang."
"Hei, gue pernah!" sergah si cewek galak. "Jangan remehin gue, lo."
Astaga, mereka justru ribut sendiri dengan aku yang berada di tengah-tengah. Sudah kuputuskan untuk mengambil kesempatan untuk pergi dari mereka dengan memasuki lift. Setelah berhasil lalu jariku hendak menekan tombol lantai, sebuah tangan langsung menghalangi.
Kepalaku reflek menoleh dan melihat cewek berwajah pucat sekaligus memakai hoodie hitam. Wajahnya bak boneka dan ekspresinya yang datar mendukung kesanku tersebut. Aku menjadi teringat akan penampilan Zack.
"Kok kamu kayak mau kabur dari kami? Kenapa, Ley?" kata cewek tersebut.
Belum sempat aku menjawab, seketika dua gadis yang ribut tadi ikut memasuki lift dengan tenang. Lalu cewek berparas boneka hidup itu menekan tombol lantai yang tepat dimana kamar apartemenku berada. Ini gawat dan keterlaluan. Mereka mengetahui letak apartemenku dan pasti sewaktu-waktu diriku bisa dicelakai oleh mereka.
Lift terbuka dan kami serentak melangkah di koridor hingga sampai di depan pintu apartemenku. Aku menghadap ke mereka semua sembari bertanya, "Kalian mau apa ke apartemenku?"
"Apalagi? Ngadain rapatlah," timpal si cewek galak.
Spontan aku mengerjap-ngerjapkan mata lalu teringat tentang ucapan DJ mengenai organisasi yang kami jalani. Siapa lagi yang akan mengadakan rapat apabila bukan pegawai caffe dan organinasi yang kujalani bersama DJ. Jika mereka fansclub Vin, sedari awal pasti beberapa gangguan dan cacian akan terlontar padaku. Ya ampun, aku sudah salah sangka pada mereka.
Buru-buru kukeluarkan kunci dari tas dan membukkan pintu. "Oh, maaf. Aku melupakan itu. Silahkan masuk."
Mereka semua menatapku bingung sembari masuk ke apartemenku. Wajar bagi mereka karena sikapku yang terlihat aneh ini akibat tak tahu apapun mengenai kehidupan dunia ini. Salah satu dunia paralel.
Sebelum ini mereka tak ada satupun yang muncul di hadapanku. Bahkan tanda-tanda kehidupan mereka di sekitarku tidak ada sama sekali. Mungkin seharusnya wajar karena ini adalah kehidupan yang berbeda dari dunia paralel yang kupijaki di masa lampau. Tapi, perbedaan dari dunia ke dunia lain sangat berbeda tipis. Entah mengapa aku merasa yakin bahwa gadis-gadis ini memiliki hubungan erat denganku di dunia lain juga.
Mereka bertiga langsung duduk di sofa panjangku seperti sudah familiar dengan apartemenku. Selang beberapa detik, pintu terketuk menandakan tamu telah datang. Ketika aku membuka pintu dan lupa memeriksa kaca cembung, DJ berdiri di hadapanku disertai cewek berrambut gelombang.
"Maaf, tadi kami ada urusan," ucap DJ dengan canggung sembari masuk ke apartemenku.
Cewek berambut gelombang tersebut ikut masuk dan menepuk-nepuk bahuku sebentar. "Nggak usah cemburu. Gue cuma ngebahas misi doang, nggak lebih."
Aku baru teringat jika DJ adalah pacarku. Tak heran cewek ini mengatakan hal itu yang pastinya dengan tujuan agar aku tidak salah sangka. Sejujurnya, aku juga tak berpikiran seperti itu.
Kini aku mengerti mengapa memiliki sofa yang memuat tamu banyak. Rupanya untuk saat-saat seperti ini. Semua orang duduk termasuk diriku, kecuali DJ. Dia menepuk sekali tangannya sebelum membuka percakapan.
"Oke, kita sudah ngumpul. Sekarang, mari bahas tentang misi kita dalam menangkap target," ungkap DJ dengan serius. Aku menjadi tegang saat mendengar kata 'target' yang berkesan sedikit menakutkan. "Seperti yang kita ketahui, Ashley membatalkan tour pegawai yang menjadi awal mula pergerakan kita dalam menangkap target."
Aku yang sedang duduk di sofa panjang tepat di sebelah cewek ramah berambut pendek seketika menjadi pusat pusat perhatian seisi ruangan.
"Apa alasannya, Ley?" tanya cewek di sebelahku yang memutar posisi duduknya hingga menghadap kepadaku. "Apa gara-gara dihasut Vin, ya?"
Rupanya dia mengenal Vin, si cowok yang populer entah dari segi apa. Mungkin ketampanannya. Jika diingat-ingat, wajah Vin begitu manis dan sedikit tampak blasteran jepang atau korea. Aku tidak bisa membedakan.
"Tidak, bukan karena Vin," jawabku cepat-cepat.
Tidak mungkin aku menjelaskan tentang tak adanya ingatanku tentang mereka ataupun masa lampau sebelum diriku terbangun dari kematian sebelumnya. Mereka pasti menganggapku mengada-ngada tentang dunia paralel yang dikatakan oleh Zack. Tapi, sebaiknya aku memancing mereka untuk menjabarkan apa yang menjadi topik pembicaraan ini.
Aku pun berusaha bersikap percaya diri. "Lo kenal dengan Vin?"
"Zeha kok ditanya begitu. Ada-ada aja pertanyaan lo, Ley," celetuk cewek berambut gelombang yang duduk di sofa tunggal. "Mereka 'kan HTS-an."
"Jangan ngaco lo kalau ngomong, Crys!" kilah cewek di sebelahku yang tentunya bernama Zeha. Nama cewek berrambut gelombang itu tidak begitu jelas karena hanya disebut dengan setengah nama. "Dan jangan out of topic."
Aku yang hanya sekedar teman kerja Vin mendapatkan rundungan yang begitu menakutkan. Lantas, bagaimana dengan Zeha yang memiliki hubungan sedekat itu? Apakah dia senasib denganku, atau tidak?
"Jadi, bisakah jelaskan secara rinci topik yang kita bahas ini?" ujarku.
Mendadak DJ berdiri di sebelahku dan memegangi dahiku dengan punggung tangannya. "Separah ini insomnia lo, Ley? Kok makin lama kepikunan lo makin parah?"
DJ menatapku sebentar lalu melirik ke arah Crys. Mereka seperti memberikan kode melalui mata yang tak bisa kuartikan. Kurasa hubungan mereka lebih dekat dari yang aku lihat.
"Memangnya insomnia bikin pikun?" sahut cewek galak yang sedang duduk secara bermalas-malasan di sofa tunggal kedua.
"Bisa, mengurangi daya ingat lebih tepatnya," sambung Zeha yang memiliki kesan paling pintar di antara semua orang.
Baguslah alasanku sedikit masuk akal hingga mereka dapat percaya jika sikapku ini karena insomnia.
Cewek galak tersebut mengerutkan dahinya dan berdecak kesal. "Mitos. Buktinya gue tidur teratur tapi suka lupa wajah orang."
"Lo itu prosopagnosia, kelainan susah ngenalin wajah orang, Aya!" sergah Crys hingga mendapatkan respon tahan tawa dari Zeha. Akhirnya aku tahu nama cewek galak tersebut.
Aya melotot ke arah Crys dan mengubah posisi duduknya menjadi tegap. "H*ll. Woi, kaca! Siapa yang lo sebut kelainan?"
"Nama gue Crystal, bukan kaca!" bentak Crys, maksudku Crystal.
Baguslah, pertengkaran ini membuatku bisa mengenali nama mereka. Pada moment ini, sepertinya akan menghabiskan adu cercaan daripada membahas topik utama.
"Crystal dengan kaca sama-sama bening!" bentak Aya tak senang. Selanjutnya dia menoleh ke Zeha sebelum berkata, "Diem lo, nggak usah bahas sains!"
"Beginilah jika rapat, ribut melulu," keluh DJ seraya menggeleng kepala dan melepaskan kacamatanya. "Untung setengah anggota, bukan semuanya."
Astaga, apabila setengah dari anggota saja seribut ini, sudah terbayang bagaimana seluruhnya mendatangi apartemenku dan membuat keributan. Kuperhatikan sedari tadi, cewek yang memakai hoodie hitam terdiam dan tidak ikut angkat bicara seperti yang lainnya. Wajahnya memberikan tatapan kosong dalam menyimak obrolan dari tiga cewek yang begitu ribut.
Terbesit di otakku bahwa memiliki tamu harus memberikan jamuan.
Aku pun bangkit seraya mengucap, "Gue bikinin kalian minum dulu. Silahkan lanjut obrolannya."
"Gara-gara lo, si Ashley jadi nggak betah dan kepingin kabur!" cerca Crystal sembari menunjuk-nunjuk Aya.
Aku pun pergi ke dapur dan telingaku tetap terpasang untuk mendengarkan keributan mereka.
"Lo sekali lagi ngomong, akan gue banting," timpal Aya yang tak kalah meninggikan intonasi bicaranya.
"Sakit Crys kalau si Aya banting manusia. Gue pernah." Zeha menyahuti dengan nada memelas. Ternyata Aya adalah tukang pukul.
Aku mengambil soda dari kulkas dan menuangkan pada enam gelas hurricane. Kemudian kubawa dengan nampan kayu hingga dihidangkan di meja.
"Gue ulangi rencana yang dimana Ashley sendiri yang membuatnya, namun dia juga yang melupakannya," ujar DJ yang berhasil membuatku malu. "Tour pegawai akan diadakan dan kelompok dua alias kalian semua akan mengisi caffe clair de lune untuk menyamar sebagai maid di sana."
"Gue lagi bayangin Aya make kostum maid yang hitam putih dengan rok pendek banget," goda Zeha yang menatap ke arah Crystal yang sedang menahan tawa.
"Bayangin elo aja, Ze. Apalagi elo bodygoals, wuish! Parah." Aya tak kalah untuk membalas ucapan Zeha.
Jika dilihat-lihat, lucu juga membayangkan mereka dengan kostum maid yang dimaksud. Terutama Aya yang penampilannya begitu tomboy lalu mendadak berubah feminim.
"Seragam di caffe tidak seperti yang kalian bayangkan." Aku mulai menyela obrolan mereka saat DJ sudah berusaha kembali ke topik awal.
Yeah, beginilah wanita jika sudah berkumpul maka obrolan akan menjadi bercabang ke mana-mana.
"Ketika si Target masuk dan duduk, gue yang di posisi sebagai waiter dekat pintu langsung mengunci." Zeha ikut berdiskusi.
"Nggak usah ba-bi-bu lagi, langsung sergap saat itu juga agar dia nggak bisa melawan," tegas Crystal.
Aku hanya bisa diam untuk mencerna obrolan mereka.
"Sudah jelas, bukan?" DJ menoleh kepadaku. "Ashley, lusa kita adakan tour pegawai dan serahkan rencana ini pada mereka semua."
Reflek aku menelan saliva dan terlintas ingatan yang dimana diriku jatuh di jurang akibat berlari dari fans-fans Vin. Mungkin tidak hanya itu, bisa faktor lain yang akan menghampiriku untuk mendatangkan kematian.
"Sudahlah Ashley, jangan diulur-ulur rencana ini." Crystal menatapku dengan tajam dan dia mulai beranjak dari sofa. "Fix lusa! Dan sekarang gue mau manisin mulut gue."
"Manisin?" tanyaku kebingungan apa makna dari kata tersebut.
"Ngerokok maksudnya," bisik Zeha padaku.
Crystal melangkah ke balkon apartemenku dan membuka pintunya hingga berdiri di sana dengan hembusan angin malam.
"Saat kita menyamar, apakah si Target tidak curiga?" Cewek berhoodie untuk pertama kalinya membuka mulut dalam obrolan ini.
Sepertinya mereka merencanakan menangkap seorang pelanggan. Tapi, tak mungkin ada kecurigaan karena jarang sekali pelanggan sering berinteraksi dengan pelanggan.
BRAK!
Serentak semua menoleh ke asal suara yang dimana Crystal menutup pintu balkon dengan keras lalu berdiri dengan bersandar di pintu tersebut.
"Si Target, ada di sini! Di pinggir pantai!" teriak Crystal dengan air muka panik.
Bagian belakang apartemen ini memang benar adalah pantai.
Apakah target yang mereka maksud adalah penjahat kelas kakap yang harus ditangkap? Dilihat dari ekspresi Crystal, dia begitu panik dan menandakan sesuatu yang berbahaya akan datang dari si target tersebut.
Kini aku juga merasa panik. Ada orang jahat di sekitar tempat tinggalku! Sebenarnya, organisasi apa ini? Apakah mereka polisi atau detektif belaka?
Seketika DJ menyahuti ucapan cewek berhoodie. "Bisa jadi, Rua. Terlebih lagi dia adalah langganan kafe yang mengenal semua pegawai."
DEG!
Jantungku berhenti berdetak dalam sedetik. Mataku terbelalak dan perasaan tegang menjalar di seluruh tubuhku setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut DJ. Jangan membuatku percaya bahwa orang yang ada dalam bayanganku adalah target mereka!
"Dia nggak tahu tentang kita, dan buat apa dia berada di dekat sini?" tanya cewek yang terpanggil Rua dengan panik sembari menatap Crystal lekat-lekat.
"Bodoamat. Hei, Ashley! Cepat tanyakan mengapa dia berada di sini lalu usir!" bentak Crystal padaku. "Kalau ada apa-apa, gue yang maju."
"Ke-kenapa harus gue?" Cara bicaraku mulai tergagap akibat memikirkan kepanikan mereka semua.
"Ya karena cuma lo yang kenal dia, misi lo di antara kita yang terpenting," pekik Crystal yang menatapku lekat-lekat. "Lo udah jalani tugas untuk PDKT dengan dia 'kan akhir-akhir ini?"
Yang mereka maksud adalah cowok dan aku tak pernah menemui ataupun akrab dengan cowok di sini kecuali DJ. Jangan katakan atau membuatku percaya bahwa dugaanku adalah target yang mereka maksud!
TRING!
Suasana menjadi hening.
Ponselku berdering dan saat kubuka adalah nomor tak dikenal. Dengan gemetar, diriku menekan fitur 'accept' dan menempelkan layar di telingaku.
"Halo?" sapaku lebih dahulu.
"Hai, keluarlah ke balkon apartemenmu."
Tubuhku berdesir ketika mendengar lawan bicaraku memiliki suara yang sangat familiar. Sembari berdoa dan berharap jika dugaanku adalah salah, aku melangkahkan kaki dan membuka pintu balkon.
Spontan sebelah tanganku membekap mulut saat sampai ke balkon dan tak percaya tentang apa yang kulihat.
"Lebih baik jika kita berbicara dari jarak yang jauh seperti ini, maka aku tidak akan bisa melukaimu."
- ♧ -