Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
45. Masa Lalu Zack



Sesampainya di unit apartemenku, sebuah pizza yang sudah kuhangatkan sebentar beserta jus jeruk mulai kusajikan di meja antara TV dan sofa. Tidak hanya itu, potongan buah apel dan pir juga kukeluarkan sebagai sajian pembuka.


"Oh ya, apa sosial mediamu?" Aku duduk di sebelah Zack dan mengeluarkan ponsel.


Dia menjulurkan tangan dan aku menyerahkan ponselku begitu saja. Kemudian, ponselku kembali dalam keadaan menampilkan akun yang berisikan foto-foto pemandangan super indah. Pemandangan kota di malam hari, pantai, langit, hujan dan lain-lain. Daftar pengikutnya lumayan banyak dengan mencetak angka ribuan.


"Sejak kecil, pengurusku suka mengajariku dalam memotret keindahan alam. Maka karena itu, sekarang aku menjadi photografer," ujar Zack seraya mengambil sepotong pizza dengan tisu.


Aku menatapnya dengan canggung. "Aku bisa mengambil sendiri ..."


Sesudah meletakkan ponsel di pahaku, Zack berkata, "Tidak perlu. Buka mulutmu."


Rupanya dia menyuapiku. Kukira, hanya mengambilkan untuk menunjukkan kesopanannya. Serta merta aku membuka mulut dan melahap pizza yang dilapisi keju mozarella tersebut. Setelah itu, Zack bergantian melahap pizza yang sama. Lagi-lagi, kukira hanya untukku.


"Memangnya, sejak kecil siapa yang mengurusmu?" tanyaku. Sepotong pizza kuambil dan melahapnya sembari menunggu jawaban Zack.


"Ya ... pengurus, aku dahulu tinggal di panti asuhan." Lengannya diletakkan pada punggung sofa dan menatapku yang sedang menelan hasil kunyahan.


"Lantas ... kenapa kamu bisa mendapatkan dark job? Bukankah setelah keluar dari panti, pemerintah akan memberi tunjangan hidup dua atau tiga juta rupiah?"


Aku menjadi berpikir, jika bukan dari pihak panti asuhan yang memberi pekerjaan, maka anak-anak yang sudah menginjak dewasa diperbolehkan keluar dengan memegang secuil biaya hidup.


"Semuanya juga berawal dari panti asuhan itu," lanjutnya.


"Kenapa?"


Zack menghela napas dan mebersihkan sudut bibirku dari noda pizza menggunakan ibu jarinya. "Kamu ini, Ashley. Terlalu banyak bicara."


Terus terang saja, pertanyaanku sangat menumpuk di otak dan sangat ingin kulontarkan bertubi-tubi ke arahnya.


"Kukira, kamu tahu segalanya, sehingga tidak ada rasa takut jika mendekatiku." Ucapan Zack membuatku meminta maaf akibat menukil masa lalunya yang mungkin tidak ingin diungkap. "Nggak perlu begitu." Hening sejenak. "Panti asuhan yang menampungku telah takut dengan sikap anak-anak yang tidak suka bergaul, namun agresif."


"Agresif seperti apa?" Lagi-lagi aku melontarkan pertanyaan.


"Dahulu aku hanya berpikir untuk membantu pihak pengurus panti dengan menambahkan pasokan makanan. Jadi, saat itu aku sering memburu tikus di jalanan dan memberikannya ke tukang masak di dapur." Tangan kiri menutupi wajahnya yang sedang menahan tawa. "Sungguh konyol. Oleh karena itu, tidak ada yang merekomendasikanku untuk diadopsi oleh orang tua mana pun."


Kepalaku menggut-manggut tanda menyimak.


"Saat itu, ada keluarga yang hendak mengadopsi banyak anak. Namun, mereka meminta kriteria anak-anak yang ingin tidak bisa dikeluarkan dari panti dengan alasan perlu dididik lebih keras sebelum diadopsi oleh pengadopsi," sambungnya. "Karena ditawari sejumlah uang banyak, permintaan mencurigakan tersebut dikonfir. Rupanya, kuluarga tersebut adalah buruh perusahaanku yang sekarang. Alhasil, aku dan anak-anak yang lain akan dijadikan bahan jual-beli anak."


"Jadi, kamu kabur?" Mataku membeliak kaget dan mulutku ternganga saat mendengar informasi tersebut.


"Enggak juga." Zack menyodorkan ujung pizza ke mulutku. "Sistem jual-belinya adalah anak-anak tersebut akan diajarkan cara membunuh hewan-hewan kecil seperti burung, kucing atau tikus. Tidak beda jauh seperti tingkahku di panti asuhan. Jadi, kami dijual kepada pelanggan seperti orang tua, pebisnis yang membutuhkan buruh gratis, pedofil dan lainnya. Namun, kami akan membunuh hewan-hewan kecil di depan mereka sehingga mereka berpikir bahwa kami sangat berbahaya jika terus dipelihara."


Mengerikan. Aku baru tahu bahwa sisi dunia gelap ada yang seperti ini.


"Anak-anak sekecil itu, akan mencoba bermain alat-alat tajam kepada orang yang membeli mereka. Beruntung bagi yang dibuang atau dikembalikan ke tempat transaksi awal mula dijual-belikan. Tidak sedikit anak-anak yang tetap dibawa oleh pelanggan dan berakhir tanpa kabar."


"Dan akhirnya kamu berhasil dibuang oleh orang yang membelimu ..."


"Tidak juga." Zack menyela ucapanku. "Tapi aku yang kabur dan pihak penjualku justru senang aku kembali sehingga bisa dijual kembali. Semua anak diajarkan menjadi sadis agar mereka dibuang oleh pelanggan dan mereka akan kembali ke tempat mereka dijual untuk dijual kembali."


"Kenapa tidak kabur saja?" tanyaku buru-buru.


"Sepertinya tidak bisa, karena bagian pengawasan selalu sigap memerhatikan inventori penjualan."


Sedikit merasa mual dan iba dalam mendengar kisah ini. Secepatnya, aku meneguk jus jeruk di gelas dan menatap langit-langit. Bagaimana bisa ada manusia kejam yang mengajarkan anak-anak menjadi psikopat dan menjualnya bolak-balik?


"Sampai sekarang?" Sudah tidak tahu berapa kali aku bertanya, sebegitu ingin tahunya diriku dalam mengorek cerita gelap ini.


"Enggak, Ashley. Pangkatku naik akibat terus menurut hingga menjadi anggota eksekutif. Para atasan melihat sikapku yang cocok di keanggotaan tersebut."


Membunuh orang. Pasti itulah pekerjaan para anggota eksekutif yang dia maksud. Rasanya nyaris menggila setelah menyimak semua hal ini. Sial, sekarang aku satu ruangan bersama kekasihku yang notabene-nya tidak memiliki perasaan dalam melukai manusia. Jika begitu, bagaimana bisa dia memiliki perasaan lembut dan begitu mencintaiku seperti yang terlihat ketika aku amnesia dahulu?


"Kamu berkelana untuk menjalani tugas eksekutif sampai ke kota ini?" kataku.


"Benar ... ya ampun, aku lupa jika tanganku kotor." Zack mengurungkan niatnya untuk mengelus ubun-ubunku.


Kepalaku menunduk dan memberanikan diri untuk berkata, "Apa kamu nggak memiliki rasa iba ketika membunuh seseorang?"


"Hmm?" Zack memiringkan kepalanya. "Suatu kebiasaan akan tetap terasa biasa. Seperti tukang jagal, apakah mereka memiliki perasaan seperti para vegan ketika memotong leher ayam?"


Perumpamaan tersebut masuk akal. Aku tidak memiliki opini untuk menyangkalnya.


"Maka karena itu, sikapku yang seperti ini membuatku kesepian." Seketika, Zack meletakkan kepalanya di atas bahuku. "Aku ... aku kaget ketika kamu mendekatiku."


Tubuhku membeku, namun bukan rasa takut yang mengelilingiku. Melainkan kesedihan dari ucapan yang dikeluarkan Zack.


"Aku tidak pintar dalam menampilkan ekspresi normal. Aura wajahku sudah menjadi gelap sehingga siapa pun menjadi tidak nyaman di dekatku," racaunya lirih. "Pekerjaan buruk ini, tentu tidak bisa terlepas begitu saja dariku. Aku juga ingin hidup normal, tapi lari dari kenyataan sangatlah sulit."


Zack memutar sedikit kepalanya hingga berhasil menatapku. Tidak ada reaksi sedih seperti apa yang dia ucapkan, mungkin inilah yang dia maksud aura gelap.


"Bisa beritahu, mengapa kamu tidak takut padaku?" tanyanya dengan suara serak.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu? Kenapa kamu tidak takut pada orang yang berani meskipun tahu semua kenyataanmu?" Aku balik bertanya.


Kepalanya kembali berputar dan wajahnya tenggelam di bahuku. "Entahlah, aku tidak takut apa pun."


Di balik kata 'tidak' tersebut, membuatku teringat bagaimana racauan Zack saat menerangkan seberapa takutnya kematianku hadir di depan matanya. Itulah yang membuatku mulai jatuh hati padanya. Akankah Zack yang sekarang menjadi cowok yang sangat mencintaiku, seperti dahulu?


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi ..." Dia diam sejenak. "Terima kasih."


Aku berdeham kecil akibat terkejut dan bingung.


"Makasih karena mau bersamaku." Setelah mengatakan itu, Zack memelukku perlahan. "Apa otakmu sudah gila karena mau bersamaku, Ashley?"


"Tidak," jawabku tanpa membelas pelukannya. "Mungkin saja otakku yang kehilangan ingatan hingga seperti ini."


"Jika iya, maka akan kubawa ke rumah sakit."


"Jangan pernah melakukan itu," tukasku dan Zack melepaskan pelukannya sampai memandangiku bingung. "Jika aku amnesia, jangan bawa ke rumah sakit."


"Kenapa begitu?"


"Hilang ingatan mengenai semua hal, yang tersisa hanyalah ingatan dalam cara bertahan hidup. Jika aku terkurung di rumah sakit, bisa jadi aku tambah melupakan semua hal, sampai-sampai lupa cara minum atau makan atau ..."


"Bernafas?" sambung Zack, lalu aku mengangguk.


Apa yang kukatakan adalah informasi dari dirinya sendiri. Tapi, sudah pasti dia tidak mengingat hal itu. Lagi pula, mana mungkin aku amnesia lagi, pikirku begitu.


...- ♧ -...