![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
KAMI berdua menggunakan taksi untuk pergi ke pusat berbelanjaan besar. Berbagai barang mewah dari pakaian, perhiasan dan alat kecantikan. Ada juga restoran in door dan wilayah bermain game. Untuk awal, aku menyarankan untuk menghampiri kedai roti kecil yang aromanya begitu memikat. Kemudian, barulah kami bersenang-senang ke area game.
Sejujurnya, sekarang adalah pertama kalinya bagiku ke tempat seperti ini sejak terakhir kali diajak oleh nyokap Kai di sepuluh tahun yang lalu. Kini aku mulai mandiri dan mustahil untuk berfoya-foya ke mall hanya untuk menyenangkan diri sendiri.
Sebuah game arcade tembak-tembakan terpajang di sudut tempat ini dan aku mengajak Zack untuk bermain bersama karena terdapat dua pemain dengan dua pistol. Musuh-musuh yang tertera adalah zombi dan rupanya jumlah peluru sekaligus waktu begitu terbatas. Aku yang amatiran hanya dapat score super rendah karena selalu meleset.
"Selamat, anda pencetak rekor baru!"
Zack menggedik bahunya ke arahku dan menahan tawa di kala melihat score milikku yang sudah pasti terlampau jauh darinya.
"Nggak apa-apa, aku curang kok," katanya yang pasti hanya untuk menghiburku.
"Curang apanya? Kamu meretas mesin dingdong ini? Ada ada saja."
"Bukan begitu."
Dua koin dimasukkan olehnya dan memberiku pistol rifle mainan tadi.
"Tahun kemarin, aku sempat belajar menggunakan senapan. Terasa sulit karena berat, namun pada arcade ini sangat ringan dan maka karena itu aku mencetak kemenangan tinggi."
Kepalaku diposisikan oleh Zack dengan mendekatkan pipi ke sisi pistol. Permainan dimulai dan para zombie bermunculan.
"Apa perusahaanmu menyediakan benda-benda gelap seperti itu?" tanyaku.
Kedua tangan Zack pun ikut membantuku dalam menyelarasi cara bermainnya. Musuh-musuh jelek itu tumbang satu persatu, dan score perlahan naik sampai akhir, meskipun tidak sebanyak pria ini.
"Bisa dibilang begitu," jawab Zack bersamaan dengan deretan karcis hasil mesin dingdong pun keluar cepat.
"Kalau kita banyak bermain, karcisnya bisa ditukar dengan hadiah!" Kepalaku menoleh ke arah konter utama game dan melihat banyak sekali barang-barang lucu sebagai hadiah penukaran karcis.
"Tidak perlu begitu. Kalau kamu mau, aku bisa belikan."
Uangnya sangat banyak, namun tidak pernah digunakan. Sepertinya, dia menjadikanku tempat sampah tumpukan uangnya.
"Mau minuman?" Zack menunjuk ke arah mesin minuman dan aku menyetujui penawarannya.
Di tengah perjalanan menuju mesin tersebut, mendadak terdengar, "Siapa pun! Ayo bermain denganku, aku kelebihan memasukan koin dan game dijadikan dua player!"
Mendengar hal tersebut membuatku terpancing dan akhirnya mendapati sebuah permainan arcade menari yang begitu populer akhir-akhir ini. Animasinya pun begitu lucu, sehingga menambah suasana hati dalam bermain.
Itu adalah pump it up!
"Zack, aku ingin ..."
Ucapanku terhenti karena terlalu asik melihat permainan dansa tadi hingga baru sadar bahwa Zack sudah lebih dulu menghampiri mesin minuman. Karena tidak ada gunanya jika menghampirinya, lalu berujung game tadi berakhir. Secepatnya, aku berlari ke arcade tersebut dan ikut bermain dengan izin si peneriak tadi.
Rasanya seperti menari dengan riang, walaupun beberapa kali meleset di bagian lantai yang harus terinjak. Lantunan lagunya sangat menggembirakan, sampai-sampai mulutku bergumam dalam menyanyikannya.
BRAK!
Permainan berakhir dengan suara keras yang mengganggu. Aku menoleh ke arah pemain utama dan mendapatinya terjatuh keluar area permainan, kemudian dengan tidak disangka-sangka, Zack menaiki bagian lantai pemain seraya menatapku lemas.
"Woi, lagi cari masalah, ya? Enak aja nendang orang sembarangan!" gertak orang tersebut ketika bangkit dari posisi tersungkur.
Diam dan menatap tajam, itulah yang Zack lakukan tanpa menggerakan anggota tubuhnya. Pemain utama itu menjadi tergagap, seolah-olah tersihir hanya dengan aura mencekam cowok di sebelahku ini. Dia pun pergi sambil bermisuh-misuh dan membuatku merasa tidak enak hati.
"Mainkan seperti tadi," ucap Zack lirih.
"Zack, itukan ..."
"Mainkan."
Aku tersentak kaget. Faktanya, dia tidak menaikkan intonasi bicara sama sekali, tapi terasa menegangkan dan membuatku membeku. Jadi, inilah yang dirasakan orang tadi.
"Game Over."
"Tidak mau bermain denganku?" Matanya menatapku, terasa tajam meskipun terpasang sayu. "Kenapa Ashley?"
Tanganku diraih dan ditarik perlahan untuk mengikutinya berjalan ke luar area bermain. Berakhir pada sebuah celah antar dinding yang sedikit sempit dan Zack berdiri di depanku untuk menutupi bagian ujung jalan. Wajahnya yang tanpa ekspresi mulai mendekat padaku, membuatku sedikit gugup.
Sejak awal, tebakanku adalah benar. Dia tidak mau aku berdekatan dengan lawan jenis selainnya. Bukankah ini berlebihan? Tidak ada salahnya berinteraksi dengan ramah yang sekiranya tidak akan menimbulkan suatu masalah dalam hubungan kami. Lagi pula, sangat mustahil bagiku untuk menyukai orang lain dalam sekali pandang hanya dalam bersenggama sekali.
Tangannya mencengkram pelan kedua pipiku sampai kepala ini mendongak tegap. "Jangan diulangi lagi." Kemudian, posisi tangannya berubah menjadi menggenggam tanganku. "Ayo kita lanjutkan."
Mulutku terasa kaku untuk membalas ucapannya. Akhirnya aku mengikutinya pergi dan dia membelikanku gula kapas dengan tersenyum, seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara kami sebelum ini.
Kami melanjutkan waktu berduaan atau bisa disebut kencan dengan berbelanja, makan bersama seperti pasangan pada umumnya. Di otakku masih teriang-iang bagaimana tatapan kecemburuan Zack saat itu. Sebaiknya aku menepiskan pikiran yang menganggu ini. Aku merasa tidak enak hati jika dia mengetahui ketidaknyamananku karena terbatasi seperti peringatannya tadi. Tapi, sepertinya bukan salah Zack jika dia betul memiliki sifat pencemburu tinggi. Seharusnya, aku mengerti dirinya.
Kepalaku mencoba berpikir positif, namun tidak hanya sampai di situ.
Di kala mendatangi bar kecil di salah satu stan market, kami memesan segelas champagne dan makanan ringan. Ingat, jangan meminum kandungan alkohol dengan perut kosong. Sebenarnya perutku tidak kosong karena selalu tertransfer makanan yang dibelikan Zack cuma-cuma.
"Aku ingin ke toilet lebih dulu," kataku dengan keadaan sedikit tipsy.
"Ingin kutemani?" Zack menahan lenganku, akan tetapi kulepaskan.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Sepertinya, aku harus keluar stan untuk ke toilet. Atau mungkin sebaiknya bertanya pada staf dan siapa tahu mereka mau meminjamkan WC khusus.
Secara tak sengaja, aku menyenggol bahu seseorang sampai nyaris terjatuh. Tanganku tertangkap cepat dan buru-buru mulut ini mengatakan maaf.
"Nona, kamu terlalu mabuk."
Rupanya laki-laki. Kukira seorang wanita glamor yang akan memaki-makiku.
"Ah ya, maaf lagi," kataku, lalu lanjut berjalan.
Bahuku tertahan olehya hingga kaki pun ikut berhenti. "Tunggu-tunggu, mejamu dimana? Biar aku antarkan."
"Mau ke toilet kok, Kak. Maaf." Aku terlalu banyak mengucapkan kata maaf.
Lagi-lagi tubuhku ditahan olehnya ketika hendak melangkah. "Kalau begitu, aku minta nomor telepon, boleh?"
Kutepis secara kasar tangannya dari lenganku.
Mendadak, tubuhku ditarik pelan sampai bersandar pada dada seseorang yang mengatakan, "Tentu tidak. Dia sudah ada kekasih."
Rupanya Zack.
"Oh, gitu." Penganggu itu pun pergi dan sesekali menoleh ke arah kami dengan sinis. Baguslah, aku merasa risih jika diminta nomor dengan cara seperti itu.
"Zack, rasa tipsy ini menganggu," keluhku sembari lebih menempel padanya.
"Baik, kita pulang. Biar aku bawakan belanjaanmu. Akan kupesankan taksi lebih dahulu."
Mall kami tinggalkan, namun tidak ada satu pun taksi yang datang. Selama beberapa saat, barulah Zack mengatakan posisi pesanannya dan membawaku ke tempat terpencil di dekat sini.
Lalu, menamparku.
Sial, pipiku terasa perih. Mataku yang terasa sedikit lelah menjadi membelalak. Aku disakiti oleh pria di depanku ini. Sulit dipercaya.
"Apa peringatanku tadi kurang dipahami?" tanyanya yang membuatku seolah-olah sedang dihakimi. "Sudah kuberi tahu bahwa aku mudah cemburu."
"Kamu ... nampar aku?" Aku menatap dengan tidak percaya.
"Kenapa? Ingin memprotes atas apa yang kamu perbuat?"
Kantong mataku berkedut-kedut sewaktu tatapan kami semakin tajam. Tunggu dulu, sepertinya benar akulah yang keliru. Aku yang salah karena membuat orang yang kucintai sudah salah paham.
"Sikapmu bisa membuat laki-laki tadi salah paham, sadarlah."
Iya, mungkin akulah yang harus sadar. Tapi ... Apakah aku harus ditampar seperti ini? Kesalahanku, perlukah diberi peringatan begini? Tidak-tidak, Zack sudah mengatakan untuk menjaga perasaannya dan aku melupakan hal itu. Namun, kenapa harus menghukum secara fisik?
Apa ini benar?
- ♧ -