![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
RASANYA seperti hanya memejamkan mata dalam sedetik, lalu terbangun dengan keadaan tubuh yang terasa begitu lelah.
Kupandangi area sekeliling lalu mendapati diriku sedang berbaring di atas kasur dan terselimuti dengan hangat nan nyaman. Terlalu nyaman hingga aku baru menyadari bahwa diriku masih berada pada apartemen Kurt, belum pulang ke apartemenku.
Sungguh tidak etis.
Aku melirik jam dinding yang menunjukan jam sembilan pagi dan sekarang adalah tanggal 22 juli. Aku mengatakan pagi karena tampak sinar mentari telah terlihat dari sela-sela jendela ruangan ini.
Dalam seperkian detik, Kurt muncul dalam menghampiriku. "Akhirnya kamu terbangun. Ayo kita sarapan. Aku sudah membuatkan makanan lezat."
"Apa kita nggak berangkat kuliah?" tanyaku sembari beranjak dari kasur dan duduk di dekat meja pada saat Kurt meletakkan dua piring buritto dan waffle berselimuti sirup mapple. Kurasa, penekuk sudah dianggap bosan untuk dikonsumsi hingga tergantikan oleh waffle.
"Nggak perlu, kamu sedikit demam saat kuperiksa menggunakan termometer tadi," balas Kurt. "Lebih baik istirahat di sini saja."
Sejujurnya, aku tidak merasakan apa-apa. Tubuhku merasa sehat dan bugar, tapi mengapa suhu tubuhku bisa dikatakan sebagai demam? Pertanyaan itu memancingku untuk memegangi dahiku dengan punggung tangan. Alih-alih mendapati suhu yang tinggi, justru aku tetap merasa normal.
"Mungkin, seharusnya aku ke apartemenku saja dan ...,"
"Sudahlah." Kurt memotong ucapanku sembari beranjak dari duduknya dan pergi kembali ke dapur, lalu saat ia kembali, kedua tangannya memegang gelas yang berisikan teh panas dengan uap di atasnya. "Merepotkan jika kamu berpergian ke sana ke mari. Lagi pula, tak ada salahnya jika kamu di sini."
Kurt menyuap burittonya dengan lahap. "Lalu, kamu tidur dimana?" tanyaku dan mendapatkan respon dari Kurt dengan gedikan kepala yang mengarah pada sebelah kasur kutempati. "Tidur di bawah?"
"Iya," jawab Kurt dengan tersenyum.
"Justru aku lebih merepotkan jika berada di sini." Kulahap burrito yang superenak tersebut hingga cita rasanya telah menari-nari di lidahku.
"Enggak ada yang direpotkan. Santai saja dan istirahatlah." Mendengar ucapan Kurt tersebut, langsung membuatku tenang dalam mengunyah.
Namun, dalam suasana tenang nan hening seperti ini, aku merasa ada hal yang begitu mengganjal. Aku pun menoleh ke segala arah, bahkan hingga memeriksa bagian bawah meja.
"Apa kamu lihat tasku, Kurt?" tanyaku.
Kurt mengangguk pelan. "Ada di atas meja kerjaku."
Serta merta aku bangkit dan mengambil tas selempang yang selalu kubawa kemana-mana. Isinya tidak terlalu penting. Hanya ponsel, sapu tangan yang selalu kubawa dan uang untuk berjaga-jaga.
Aku pun memeriksa ponsel dan mendapati batrainya yang telah habis. "Kamu ada charger, nggak?" tanyaku pada Kurt.
"Enggak." Kurt menggelengkan kepalanya. "Tipe chargermu berbeda dengan milikku. Ukurannya juga beda. Mustahil untuk digunakan."
Responku hanya bisa menghela nafas berat dan kembali duduk untuk menyantap makanan.
Setelah menghabiskan burrito, aku meminjam kamar mandi Kurt untuk mencuci muka untuk menyegarkan diri sementara waktu. Kurasa, menunda mandi tidaklah buruk.
Setelah menghabiskan beberapa menit di kamar mandi, aku langsung mengambil teh yang disediakan Kurt padaku, lalu meneguknya hingga perlahan rasa kantukku kembali hadir.
Kurt memintaku untuk beristirahat lagi dan mengatakan bahwa tubuhku benar-benar lemah hingga cepat lelah. Bukankah istirahat berlebihan tanpa bergerak adalah hal yang tidak menyehatkan? Seharusnya aku lebih banyak beraktifitas agar otot-ototku tidak tegang.
Saat aku mulai bangkit, tak sengaja dari ekor mataku telah melihat sebuah ponsel tergeletak di atas meja kerja Kurt. Itu adalah milikku.
Bagaimana bisa benda itu berada di Kurt tanpa izinku? Sebelum mulutku bergerak untuk menanyakan hal tersebut, rasa kantuk telah melandaku sepenuhnya hingga kesadaranku menjadi hilang saat sampai di sisi kasur. Lagi-lagi aku tertidur. Tidur dengan perasaan menjanggal.
Rasanya seperti tidur dalam waktu singkat, lalu aku kembali terbangun.
Ternyata aku hanya tertidur dua jam.
"Sudah bangun?" Kurt menyambut bangunku dengan aroma masakan yang enak. "Aku masak steak dan kentang tumbuk. Ini memang masakan sederhana. Tapi, kurasa kamu akan menyukainya."
Aku pun mengerjap-ngerjapkan mata. "Tapi, kita 'kan baru makan dua jam yang lalu."
"Coba tanyakan pada perutmu," balas Kurt yang membuatku reflek memegangi perut. Aku merasa lapar. Aku benar-benar lapar seperti tidak makan begitu lama.
Kurt meletakan sajian pada meja kecilnya dan kembali menuju dapur.
Aku langsung duduk di hadapan makanan-makanan yang disediakan dan mulai tergiur akan aromanya.
Ketika Kurt kembali, aku pun mendongakkan pandangan seraya berkata, "Aku boleh menggunakan kamar mandimu?"
"Pakailah sesukamu," kata Kurt dengan tersenyum tipis. "Jika ingin mandi atau berganti pakaian, ambil aja spare pack milikku di lemari kaca kamar mandi."
"Kamu punya baju ukuran perempuan?" tanyaku terheran. Tentu aneh jika seorang cowok bisa menyimpan pakaian cewek.
Kurt menaikkan kedua alisnya. "Tidak, tapi aku menyimpan bajumu di lemari kaca. Terkadang kamu menitipkan baju laundry padaku dan lupa untuk mengambilnya, 'kan?"
Seketika wajahku menjadi merah padam. Ternyata, aku yang sebelum ini benar-benar tak terduga dalam menjalani hubungan bersama Kurt.
"Makan saja dulu." Kurt duduk berseberangan denganku dan mulai menyantap makanannya. Kuturuti permintaan Kurt untuk makan terlebih dahulu.
Setelah selesai, aku membereskan diri dengan mandi hingga rasa segar menyelimutiku.
Di antara perasaan tenang nan segar ini, ada sesuatu yang aneh pada benakku. Aku merasa begitu lama dalam menetap di apartemen Kurt. Namun, waktu mengatakan bahwa aku berada di sini hanya satu setengah hari saja. Cukup lama, tapi perasaanku lebih daripada itu. Apa mungkin aku harus pulang saja?
Setelah selesai mandi, aku diberikan jus jeruk oleh Kurt dan kuminum hanya beberapa tegukan.
"Kayaknya, aku harus pulang," kataku sembari mengambil tasku yang isinya masih lengkap.
Bahkan ponsel yang sebelumnya kulihat berada di meja Kurt, kini berada di tasku kembali.
Kutatap layar ponselku yang masih mati akibat kehabisan daya selama beberapa saat. "Terlalu merepotkan jika di sini terus menerus."
Kurt menghela nafas berat lalu menggeleng pelan. "Baiklah, aku akan antarkan."
Baru saja aku berjongkok di depan pintu untuk memakai sepatuku dan memperbaiki solnya, pandanganku menjadi kabur. Mulutku menguap, kepalaku berat dan tubuhku menolak untuk bergerak.
"Kurt, kayaknya aku..." belum selesai aku melanjutkan kata-kata, tingkat kesadaranku telah berkurang drastis.
"Kenapa?" Suara Kurt terdengar samar-samar hingga aku tidak bisa mencerna apa yang ia katakan selanjutnya.
Sekarang aku berada di depan pintu dan berusaha untuk meraih handlenya dengan sulit.
Untuk kesekian kalinya, aku tertidur dengan rasa kantuk yang kuat dan tak bisa kukontrol.
- ♧ -