![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
SEPERTI biasa, di pagi hari aku bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Akan tetapi, ada satu hal yang berbeda dari hari-hari biasa, yakni diantarkan oleh Zack.
Cowok itu telah menunggu di lobi utama dan menyambutku dengan senyuman yang menyegarkan pandangan.
"Omong-omong, kamu tinggal dimana, Zack?" tanyaku sebelum kami keluar dari lobi. Zack begitu cepat sampai di apartemen ini dan membuatku penasaran seberapa jauh tempat tinggalnya dariku. "Mungkin aku bisa mampir."
"Aku homeless." Jawaban yang sangat mengejutkan.
Reflek aku mengerjap-ngerjapkan mata karena kurang percaya akan perkataannya. Tapi, teringat dahulu sewaktu dia tertidur di bangku taman sebelum kepribadian lainnya mencekikku.
"Aku tidak akan berpikir untuk memiliki tempat tinggal tetap, karena aku adalah pekerja perantauan," sambungnya yang memperjelas kebingunganku.
Apakah pekerjaan yang dia maksud adalah bekerja di perusahaan gelap?
"Jadi, suatu saat kamu akan meninggalkanku untuk pekerjaan?"
Seketika langkah Zack berhenti, lalu memutar badannya sampai berhadapan denganku. Tubuhnya membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya padaku. Apa yang dia lakukan telah membuatku salah tingkah.
"Ashley," panggilnya lembut. "Kamu wanita pertama yang berani bersamaku. Mana mungkin aku tega melakukan itu padamu?"
"Jangan begitu!" sergahku seraya mendorong pelan wajah Zack.
Dia pun tertawa lirih karena sikapku mulai kacau akibat wajahnya yang begitu dekat padaku. Mendengar kata 'wanita pertama' telah membuatku sedikit bangga atau sebenarnya adalah salah tingkah.
Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai ke kampus. Zack langsung pamit dan pergi, kemudian di waktu bersamaan, Kai muncul secara mengejutkan.
"Gue lihat lo jalan bareng si ... Jack? Siapa namanya?" tanyanya dengan menerka-nerka nama Zack.
"Zack," jawabku yang meralat kata-kata Kai.
Kai menjentikkan jarinya. "Nah, si Zack. Kok lo akrab bener sama dia?"
"Karena aku pacar dia." Kalimatku membuat Kai terdiam sejenak, lalu menepuk-nepuk bahuku.
Aku tahu, sangatlah tak wajar jika Zack berkenalan denganku hanya kurun waktu harian. Sedangkan Kai tak berhasil menembakku meskipun sudah berkali-kali.
"Baguslah, kalau begini jadi jelas," kata Kai sekaligus bernafas lega.
Kepalaku menoleh dan bertanya, "Jelasnya apanya?"
"Jelas kalau harapan gue memang sudah pupus dari awal," sambungnya, "dan gue nggak perlu nahan diri untuk pindah hati."
Serta merta aku menyenggol bahu Kai dan memberikan senyum jahil karena tahu maksud dari perkataannya.
"Siapa cewek yang lagi kamu gebet sekarang?" Aku menaikkan alisku berkali-kali sampai Kai tertawa.
Dia menadahkan tangannya kepadaku. "Goban dulu."
Karena aku tidak membawa uang, kutepuk tadahan tangannya dan berpura-pura merajuk sembari berjalan berat memasuki kelas. Baguslah apabila Kai menemukan cewek baru yang tepat untuknya.
Aku merasa pertemanan bersama River dan Kai sudah sangat dekat hingga layak disebut persaudaraan. Maka karena itu, tak mungkin salah satu dari kami menjadi pasangan yang menurutku sedikit tidak cocok dan aneh. Lagi pula, aku tidak memiliki rasa cinta pada Kai maupun River hingga tak mungkin menerima cinta dari salah satu mereka.
Membahas mereka berdua tak akan ada hentinya. Cukup-cukup.
Setelah memenuhi jadwal kampus dan klub seni yang aku urus beberapa pekerjaan, akhirnya aku berangkat menuju caffe untuk bekerja.
Di tengah perjalanan, aku bertemu Zack yang dimana dia mengatakan hendak menjemputku dari kampus, namun sedikit terlambat. Kurasa dia mulai menyisihkan waktu di sela-sela keaibukan.
Sebelum sampai, kami lebih dulu pergi membeli hamburger, dan memakannya sembari berjalan. Tuntasnya makan siang itu, tepat ketika kami tiba di gang kafe.
"Setelah ini, kamu mau ke mana?" tanyaku sebelum memasuki kafe.
Aku penasaran apa yang akan Zack lakukan apabila tanpaku.
"Makan di kafe ini," jawabnya. Apakah dia belum kenyang setelah memakan hamburger tadi?
Aku pun masuk ke ruang karyawan dan sesudah berganti baju, River menyambar tanganku buru-buru.
Dia memegangi kedua bahuku dengan memasang wajah terkejut. "Lo serius udah jadian sama Zack?" Kepalaku mengangguk dan River melajutkan, "Sialan, gawat juga."
"Gawat kenapa?" Kutepiskan tangan River dari bahuku dan berjalan menuju meja barista.
"Ya gawat. Kai sudah ada cewek, dan lo udah ada cowok. Lah, gue?" Ucapan River sedikit mengejutkanku.
Rupanya mereka berdua sudah menggosipkanku di kampus tadi.
"Ternyata mulut Kai penggibah handal," cibirku, lalu pergi ke posisi biasa yakni di depan pintu untuk menyambut pelanggan.
Belum saja aku sampai, Megan mendatangiku sembari sedikit menunduk seperti ingin membagi rahasia.
"Zack minta dilayani sama lo, Ley," katanya dan menarikku kuat dari pinggir pintu. Kalimat Megan terdengar ambigu dan hampir membuatku salah tanggap. "Sana buru, gue gantiin posisi lo."
Aku baru sadar jika sedang berada Zack di caffe. Dia duduk di dekat barista yang tertutupi oleh pelanggan di depannya. Semoga saja dia tak berpikir bahwa aku telah cuek karena tak meliriknya dari awal.
"Selamat siang, anda ingin memesan apa, Tuan?" kataku saat menghampiri Zack. "Ada beberapa menu rekomendasi yang bisa anda coba."
Tanpa menyentuh menu, dia memberiku senyuman seraya berkata, "Bisakah berikan saya rekomendasi dari anda pribadi sendiri?"
Sejenak aku terdiam karena tak terlalu menghafal menu kafe. Kemudian, terbesit sebuah omurice, matcha rollcake dan vanilla blue ice.
"Baiklah, saya merekomendasikan ..."
Ucapanku terpotong ketika dia sedikit mengangkat tangannya. "Langsung antarkan saja, tak perlu diucapkan. Saya yakin, apapun yang direkomendasikan, pasti yang terbaik."
Tundukkan kepala terlaksanakan sebagai ucapan pamit, dan aku pergi mengambil beberapa pesanan yang menurutku lezat.
Selanjutnya, aku kembali dengan membawa pesanan pada Zack dan dia mengatakan, "Terima kasih. Jadi, setiap saya ke sini, bisakah anda saja yang melayani saya?"
Seperti pekerjaan tambahan dan lucu juga saat dia memintaku untuk melayaninya secara khusus.
"Tentu, akan saya diskusikan bersama Manager," jawabku dengan formal, namun berunsur candaan yang menganggap ucapannya hanyalah sekadar gombalan biasa. Akan tetapi, tatapan Zack justru berubah menjadi serius.
Sepertinya aku salah bicara.
"Kalau begitu, akan kubuat managermu menyetujui permintaanku," kata Zack dengan cara bicara santai dan menatapku lekat-lekat hingga terasa menusuk.
"Aku hanya bercanda," ucapku sembari menunduk formal. "Pelayanan dalam mengantarkan makanan dariku akan kulakukan khusus untukmu."
Mencampur bahasa santai dengan gaya formal membuatku mulutku kaku. Tapi, tak apa, setidaknya Zack memberi reaksi bagus terhadapku.
Posisiku bertukar kembali kepada Megan dan tetap menjalani pekerjaan dengan lancar jaya tanpa ada hambatan. Pikirku begitu, sampai waktu pulang telah tiba.
Karena ponselku telah mati daya sedari masuk caffe, aku tidak tahu jika mendapatkan notifikasi pesan sejak satu jam yang lalu.
Inbox || Zack: Aku akan menjemputmu nanti. Jika pulang lebih cepat, tunggulah sebentar.
Setelah membaca pesan tersebut, pesan berikutnya terkirim seketika.
Inbox || Zack: Maaf, aku akan terlambat karena sedikit urusan. Tunggulah lima menit lagi.
Seharusnya jika dia sibuk, tak perlu menjemputku. Tapi, mungkin Zack sedang menunjukkan perilakunya sebagai pacar yang baik.
Waktu aku membuka pintu keluar, Rua berdiri di hadapanku. Lagi-lagi dia, mau sampai kapan anggota cate mendatangiku meskipun tertolak ribuan kali? Mereka hanya akan mencelakakan diri sendiri apabila mendekatiku terus menerus.
Masih bisa kuingat bagaiman naasnya keadaan mereka akibat mengambil resiko dalam menangkap Zack. Lebih baik aku berpura-pura tak melihat.
Di kala aku mencoba tak acuh dan melenggang pergi, lenganku tergenggam erat olehnya.
"Ashley," panggil Rua. "Itu namamu, bukan?"
"Rua," balasku tanpa menoleh, tapi dapat melihatnya dari ekor mataku. "Dan itu namamu, bukan?"
Wajahnya tak menampilkan ekspresi apapun. "Oh, jadi kamu salah satu dari mereka?Jika bukan, untuk apa kamu bisa berani mendekati cowok itu. Apa tebakanku salah?"
Bisa kupahami. Dia mengacu pada Zack dan perusahaan haram yang dimana menjadi musuh terbesar organisasi cate. Tak heran apabila aku dicurigai sebagai komplotan musuh mereka, karena berani mendekati Zack meskipun sudah diperingati.
"Nggak, aku hanya orang biasa yang kebetulan tahu segalanya," jawabku yang tak kalah mendatarkan wajah seperti Rua.
"Oh, ya?" Dia langsung berjalan melewatiku. "Apakah kamu yakin mengetahui segalanya? Jika iya, ikutlah denganku."
Bukankah dia sudah paham saat aku telah menyebutkan namanya tadi?
Reflek aku berdecak kecil. "Maaf, ada seseorang memintaku untuk menunggu."
"Dan kamu akan tahu apa yang sedang dikerjakan seseorang itu sampai memintamu menunggu," kata Rua tanpa berhenti melangkah.
Rasa penasaran menyelimutiku dan aku tertarik untuk ikut. Apa yang Zack lakukan?
Jarak antar tujuan kami lumayan jauh, atau lebih tepatnya lebih jauh dari apartemenku. Kukatakan seperti itu karena perjalanan dipenuhi kelokan pada gang-gang sempit yang tak pernah kulewati. Kemudian, sampailah di sebuah gang kecil yang dimana lumayan gelap, namun masih dapat dilihat mata.
"Di depan akan ada kelokan. Pergi dan lihatlah," perintah Rua sembari membalikkan diri dan pergi. "Jika butuh bantuan, berteriak saja."
"Tempat ini sedikit mengerikan, aku tak ingin."
Perkataanku berhasil membuatnya berhenti dan menoleh sejenak. "Aneh. Kamu sangat berani mendekati penjahat, tapi tempat seperti ini justru ..."
Sebelum dia melanjutkan kalimatnya, aku langsung melangkah pergi maju dengan kesal. Ucapannya benar-benar hinaan.
Baru saja beberapa langkah, muncul di pangkal gang seseorang berkaos hitam yang dimana wajahnya terlihat jelas akibat warna kulitnya, walaupun dalam gelap sekalipun.
Siapa lagi yang kubicarakan jika bukan Zack.
Aku terdiam sejenak akibat terkejut, kemudian menoleh ke belakang dan kehadiran Rua sudah tiada.
Spontan mulutku berteriak kecil saat tiba-tiba wajah Zack muncul tepat di depanku. Tatapannya yang datar, mendukung suasana kengerian di tempat ini.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Ashley?" tanyanya tanpa bergerak sedikit pun.
Wajah Zack tampak kotor dengan noda-noda percikan gelap. Aku pun merogoh-rogoh tas dan mengeluarkan sapu tangan yang biasa kubawa. Setelah itu, kuusap wajahnya perlahan hingga terlihat cukup bersih.
"Dimana jaketmu?'' tanyaku balik. Mataku menatap keseluruhan tubuhnya walau sedang sedikit membungkuk kepadaku. "Tanganmu juga kotor."
Kuambil tangan Zack dan mengelapnya perlahan.
"Ashley, bagaimana bisa kamu ada di sini?" Dia bertanya untuk kedua kalinya seperti tak menyukai kedatanganku.
"Mungkin karena aku tak sabaran untuk pulang," kataku.
Mana mungkin aku menjawab bahwa Yurika yang membawaku ke sini.
Zack meletakkan kedua lengannya pada bahuku dan memiringkan kepala. "Tempat ini lumayan terpencil. Jangan katakan, kamu menempelkan alat pelacak padaku."
Barang yang mahal dan tak mampu kubeli. Perkiraannya benar-benar konyol.
"Aku tidak seposesif itu."
Pada akhirnya Zack melepas tangannya dariku. Baguslah, dia percaya perkataanku dan tak memperpanjang obrolan.
"Baiklah, ayo kita pulang."
"Ke mana jaketmu? Ambil dahulu," sergahku cepat-cepat.
"Tidak perlu."
Kepalaku menggeleng. "Jangan begitu. Jaket itu sudah seperti ciri khasmu."
Perdebatan tak berlanjut dan Zack membalik badan, lalu pergi kembali hingga hilang ke kelokan gang.
Akibat ingin tahu apa yang dia lakukan, aku pergi menyusulnya dan langsung mematung ketika sampai di sudut gang.
Earphone yang selalu bertengger di leher Zack, kini terpakai. Sembari mengenakan jaket berhoodie, kakinya menginjak dada seseorang yang duduk bersandar dalam keadaan tak sadarkan diri. Baru kusadari selama beberapa detik, orang tersebut mengenakan jaket berhoodie berwarna putih.
Dari keseluruhan, yang bisa membuatku lebih terkejut adalah genangan kecil di dekat mereka. Tidak bening atau transparan, dan sudah pasti itu adalah darah karena mengalir dari dada orang tak sadarkan itu.
Aku paham, Zack telah mengincar seseorang yang pernah menguntitnya. Seharusnya aku tak mengatakan mengenai dia yang diikuti oleh seseorang apabila berujung seperti ini. Mulai sekarang, aku harus berhati-hati dalam berbicara.
"Aku lupa untuk mengatakan agar kamu berdiam diri dan tidak kemari, Ashley."
Perlahan, Zack berjalan mendekat.
Kuusir perasaan takut dan berusaha setenang mungkin. Ini adalah sisi aslinya, maka aku tak perlu terkejut ataupun lari. Dia takkan menyakitiku karena bukanlah Zack yang terposisikan pada sisi kejinya, aku yakin mengenai itu.
Astaga, aku sedang berhadapan dengan psikopat sungguhan!
Laki-laki yang sekarang sudah di hadapanku ini, dia merelakan nyawanya hanya demi melihatku dahulu. Aku tidak bisa menganggapnya jahat. Di kala aku amnesia, dia tetap berusaha melindungiku dan mana mungkin aku melupakan penderitaannya. Kini, dia tak mengingat apapun tentangku dan aku harus berbalik membalas budi padanya dengan cinta yang ia harapkan.
Zack tak memiliki kepribadian ganda karena sisi kejinya muncul apabila adanya rasa sakit akan kematian. Oleh karena itu, aku tak perlu khawatir akan apapun.
"Bagaimana Ashley? Apa kamu tidak lari dariku?" tanya Zack yang mengulang tindakannya dengan sedikit membungkuk dan mengsejajarkan wajahnya padaku.
Aku lepaskan earphone dari telinganya agar dapat mendengarkan ucapanku. "Tidak, untuk apa aku lari?"
Reaksinya terlihat tak percaya oleh ucapanku. Benar, untuk apa aku berlari jika sudah tahu bahwa dia takkan menyakitiku? Sejujurnya, aku sedikit merinding. Tapi, kupaksakan diri untuk berani.
"Sudah selesai dengan urusanmu? Jika belum, aku akan menunggu," kataku.
Earphone-nya kembali terpasang di telinga seraya menyunggingkan senyum melegakan. "Tunggulah di depan sana, sebentar lagi aku akan selesai."
Serentak Zack membalikkan badan dan secepatnya aku pergi ke luar gang agar tak melihat kelanjutan dari yang kulihat tadi. Tetapi, Rua tak ada untuk menemuiku. Kemana dirinya pergi?
Aku jadi berpikir, mungkinkah fungsi earphone tadi hanya untuk mungtulikan telinganya dari teriakan penderitaan korban? Dia memasang earphone itu juga dahulu ketika membantai habis anggota cate.
Beberapa detik berlalu, dan Zack kembali padaku.
Aku meraih tangannya dan dia diam sejenak dalam menatapku seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Kulihat ada noda darah di dekat kelopak matanya, lalu kubersihkan dengan sapu tangan tadi.
"Tidak ada," jawab Zack.
Aku rasa dia sedang bertanya-tanya mengapa aku tak mengambil kesempatan untuk kabur saat sudah menjauh.
"Mungkin kamu perlu ini. Simpanlah." Kuberikan sapu tangan tadi padanya, dan dia langsung memasukkan ke dalam saku jaket.
"Aku sudah membunuh orang," Setelah mengatakan itu, dia menelengkan kepalanya. "Kamu tidak takut jika aku menjadikanmu target selanjutnya karena sudah menjadi saksi mata?"
Dia tidak akan melakukan itu padaku.
"Aku justru lebih takut jika kamu meninggalkan jejak," dustaku agar tak terlihat takut di hadapannya.
Zack terkekeh dan menggenggam tanganku. "Ah, begitu. Baiklah, ayo kuantarkan pulang. Ingin makan malam bersama dahulu?"
"Oke."
Semoga saja dia tak mendengar degup jantungku yang berkecepatan tinggi. Aku sudah berkali-kali melihat kengerian seperti tadi pada diriku sendiri dan tak seharusnya tegang hingga berniat kabur.
Zack adalah laki-laki yang sangat mencintaiku. Aku tidak boleh melepaskannya begitu saja mengenai apa yang sudah dia perjuangkan dahulu.
Pada akhirnya, malam ini diisi dengan makan malam bersama, namun masih membuatku sedikit bergidik akibat teringat hal tadi. Kami bersama dengan obrolan dan tawa lepas, seakan-akan tak ada suatu kejadian yang terjadi tadi.
Khusus hari ini, aku akan tidur terlambat karena berkencan bersama Zack yang sudah menghabiskan banyak waktu. Tambahan pula dengan kami yang berbelanja ke mini market untuk membeli stok bulananku. Sebenarnya, aku bisa membeli secara online, tapi Zack menawarkan diri untuk menemaniku berbelanja. Walaupun begitu, aku tak perlu memprotes.
Zack mengeluarkan ponselnya ketika kami telah sampai di kasir. "Bayarlah terlebih dahulu, saat pulang nanti akan kuganti uangmu."
Bibir ini tidak bisa menahan senyuman. "Lagi pula ini belanjaanku. Kamu nggak perlu membayarkannya," jawabku sembari menyerahkan seluruh isi keranjang belanjaan.
Aku jadi bertanya-tanya, kenapa harus membayarkan belanjaan dengan cara mengganti uangku? Bisa saja dia lakukan di tempat ini juga.
Seluruh barang habis dengan jumlah RP. 998.000.00 dan parahnya, padahal aku hanya membeli makanan beku dan kebutuhan primer lainnya. Jika ditambah sekunder, bisa-bisa dompetku kosong sebelum gajian.
Pada akhirnya aku pulang menggunakan taxi dan Zack mengantarkanku sekaligus membantu dalam membawakan barang-barang.
"Periksa rekeningmu nanti," ucap Zack sebelum berpamitan dan pergi.
Aku belum sempat memberitahu mengenai nomor rekeningku. Tapi, aku tidak terlalu mengharapkan pemberian uang yang dimana tak seharusnya kudapatkan. Sekarang sudah mulai tengah malam, mungkin besok saja membereskan barang belanjaan ini. Kuletakkan saja di atad meja dapur. Masih ada waktu lebih untuk esok.
TLING!
Sontak aku membuka ponsel setelah mendengar notifikasi ponsel.
|| TRX Rek ××××× transfer EDC Shaka to Lilian Ashley - Rp.10.000.000.00 ||
Siapa Shaka? Bukankah seharusnya atas nama Zack yang mengirimkan uang ini? Mataku berkedip-kedip sampai menyadari bahwa nominal yang tertera bukanlah satu juta, melainkan sepuluh juta! Cowok ini benar-benar ceroboh dalam mengetik.
Kuhubungi Zack cepat-cepat dan seketika panggilanku terangkat olehnya.
"Halo, Ashley. Aku baru saja keluar dari komplek apartemenmu," sapanya.
"Ah, halo Zack. Aku ingin mengembalikan uang lebih yang kamu kirimkan. Tapi, nama pengirim tadi bukan darimu."
Terdengar suara kebingungan dari ponsel, dan dia menjawab, "Terima saja uang itu. Kita bukan antar penjual dan klien."
"Tapi ..." Saliva tertelan otomatis. "Sepuluh juta?"
"Apa kurang banyak, Ashley?" Dia mulai lanjut berjalan sampai terdengar suara ribut kendaraan.
Sedikit sulit dipercaya. Dia begitu santai dalam memberi dan bertanya perihal kertas bernominal. Sepertinya, pekerjaan berbahayanya tersebut telah memberinya penghasilan tinggi. Tapi jika iya, kenapa dia tunawisma?
"Nanti kuhubungi lagi." Telepon terputus olehnya dan aku hanya dapat tercengang.
- ♧ -