![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
HENTIKAN.
Aku mohon. Hentikan ... siapa saja, tolonglah ... bukan hal seperti ini yang ingin kudapatkan. Sungguh, tidak kuat menghadapinya jika terus menerus berperilaku buruk dan menakuti kehidupan normalku.
Sejak aku pergi dan mengucapkan kata putus, rupanya Zack berani mengejarku dengan berlari tanpa menyerah. Walaupun sudah berhasil lolos dan pulang, aku masih terus ditunggu untuk tertangkap. Lebih menegangkannya lagi, kini dia berada di depan unit apartemenku. Menggedor-gedor pintu dengan kuat dan nyaris membuatku membayangkan bagaimana penghalang tersebut berhasil hancur olehnya. Suara kencangnya dalam mengutarakan permohonan, tetapi justru berkesan ancaman.
Aku benar-benar sudah meminta para security atau staf lobi untuk mencegahnya naik ke lantai atas. Akan tetapi, entah bagaimana bisa dia lolos begitu cepat.
DRAK! DRAK! DRAK!
"Ashley! Buka pintunya! Aku ingin bicara serius padamu!" pinta Zack yang sedang menggedor-gedor pintu apartemenku, bukan menekan bel atau menungguku dari luar.
Begitu memaksa dan membuatku seolah terdesak sampai terpojok. Ini mulai keterlaluan. Tidak henti-hentinya dia menggedor keras pintuku sehingga rasanya terbumbui teror akan ketakutan. Haruskah aku pindah dari apartemen ini? Namun, Zack pasti mampu menemukanku.
Tidak ada lagi pemotretan selama 24 jam atau diawasi dengan begitu dekat sampai-sampai mustahil bagiku untuk menyadari keberadaannya. Aku bisa menggila jika diperlakukan seperti itu!
Karena terlalu emosi, aku berjalan mendekat ke arah pintu dan berteriak, "Hentikan, jangan kemari!"
"Tidak bisa, Ashley! Kita harus berbicara!"
"Tidak! Aku tidak mau!" teriakku di sela-sela isakan kepanikan dan ikut menggedor pintu sampai Zack terdiam. "Kumohon ... pergilah ... pergilah!"
Aku kembali pergi untuk terduduk di lantai sebelah sofa dan meringkuk ketakutan, sampai-sampai tidak sadar jika sedang menggigit ujung kuku jari telunjuk. Menangis dan kebingungan untuk melakukan sesuatu agar dapat kabur dari kejaran horor. Pada masa kesialan ini, sebuah ide terlintas, dan secepatnya aku mengeluarkan ponsel, lalu menekan panggilan pada River.
"Halo, ada apa Ashley?"
Bagus, terangkat!
"River, River. Tolong aku! Pergilah ke apartemenku dan usir Zack!" bisikku agar tidak terdengar bahwa aku sedang meminta pertolongan. "Cepatlah."
"Kenapa dengan cowok itu?"
"Dia ingin melukaiku! Cepat kemari!" desakku tanpa memberi jeda pada River yang hendak menebak-nebak.
Aku mematikan telepon dan bersandar di bawah sofa dengan pasrah untuk menunggu pertolongan.
Tanpa menghubungi Kai, aku sudah tahu bahwa River akan mengajak saudaranya tersebut. Semoga saja mereka bisa mengusir Zack dari depan sana. Aku tidak mau seperti ini terus. Sejak awal, seharusnya tersadarkan bahwa seorang pembunuh mustahil mendapatkan kewarasan dalam menjalin hubungan cinta.
Seharusnya, akhir bagiku tidaklah seperti ini.
Mendadak suara keributan Zack dari luar menjadi hening. Tidak ada teriakan atau pintu tergedor-gedor keras. Bibirku menyeringai dan mendadak tertawa kecil akibat bahagia. Sudah pasti, Kai dan River berhasil membantuku. Mereka teman yang bisa diandalkan.
Aku bangkit dan langsung pergi mencuci muka agar dapat lebih menenangkan diri. Namun, seketika sesuatu terlintas dalam pikiranku.
Keheningan ini tidak terlalu normal. Sejenak ... atau begitu terasa lama. Mungkinkah bukan teman-temanku yang membuat ketenangan ini hadir.
"OH TIDAK!"
Kepanikan pun hadir. Aku langsung berlari ke luar dari kamar mandi, menuju pintu utama unit apartemen. Buru-buru aku memutar kunci pintu dan membukanya dengan keras. Mataku menatap ke segala arah, lalu berjalan maju dan akhirnya reflek membekap mulut sendiri akibat terkejut.
Ketika hendak melangkah mendekati mereka, mendadak kakiku terhenti.
"Ashley ...."
Mulutku hampir saja menjerit ketika sebuah tangan melingkar di perutku. Terdengar suara napas hangat di dekat telingaku. Ritme jantungku menjadi melonjak cepat, seperti sedang diterkam oleh sesuatu. Namun, kuusahakan diri untuk tetap tenang agar tidak menimbulkan masalah lebih banyak.
"Akhirnya kamu keluar. Bisa kita bicara sebentar saja?" bisik Zack yang membuatku merinding.
Ketakutanku pasti bisa tercium olehnya. Perlahan, napas kuembuskan dan mengatakan, "Bicaralah. Tapi sebelum itu, kenapa Kai dan River seperti ini?"
Kepala Zack semakin menunduk dalam membenamkan wajahnya di pundakku. "Ah, mereka ya. Aku hanya membuat mereka pingsan sementara. Mereka pasti ingin mengganggu malammu."
Tidak sadarkan diri bahwasannya dialah yang menggangguku sampai ketakutan. Akan tetapi, baguslah Kai bersama River hanya pingsan dan tidak lebih.
"Bukankah seharusnya kamu pergi bekerja malam ini?" Aku mengalihkan topik, tetapi dia masih saja memelukku. "Per-pergilah, jangan sampai terlambat, Zack."
"Baiklah jika begitu."
Aku dilepaskan begitu saja? Bagus, dia berhasil pergi dengan baik-baik!
"Sebelum itu, biar kubereskan dua orang ini," ucap Zack sembari melepaskan diri dariku, lalu melangkah pergi.
Buru-buru kuraih tangannya dan mengatakan, "Tidak perlu. Biarkan saja mereka tertidur di sini sampai security mengurus mereka."
Sejenak, dia terbungkam. Kemudian, tersenyum ke arahku. "Baiklah jika itu yang kamu mau, Ashley. Sayangnya, para security juga bernasib sama seperti mereka."
Rasa tegangku menjadi dua kali lipat. Begitu berbahaya, sekolompok keamanan bisa ditumbangkan dengan cepat. Aku beruntung jika dia tidak mau membuatku pingsan juga dan melakukan hal seenaknya.
Zack melangkah pergi begitu saja, tanpa bersikap agresif seperti sebelumnya. Ketika memasuki lift, tangannya melambai kecil ke arahku dan hilanglah kehadirannya tersebut.
Jadi, untuk apa aku menangis ketakutan tadi? Mungkin, sedari tadi aku harus menghadapinya terang-terangan, bukan berlari seolah dia berniat membunuhku layaknya target-target pekerjaannya.
Aku berjongkok dan menggoyang-goyangkan tubuh Kai, lalu River. Akan tetapi tidak ada respons. Oleh karena itu, aku menghubungi ambulans yang berhasil datang ke apartemen ini dengan reaksi sepertiku sebelumnya.
"Ini sudah ke sekian kalinya orang-orang pingsan yang dipastikan bagian tengkuk terpukul dengan tebasan tangan atau mungkin tersikut," ucap salah-satu paramedis padaku. Mengerikan, untung saja tadi Zack berada di belakangku dan tidak melakukan hal tersebut padaku. "Jika ada orang yang mencurigakan melakukan hal ini. Tolong, hubungi ke polisi, Nona."
Kepalaku mengangguk dengan ragu.
Apakah aku harus menghubungi polisi? Lagi pula, Zack sedang melakukan tugasnya dan siapa tahu saja polisi lebih mudah menangkapnya saat dia beraksi. Tidak-tidak, pikirkan juga bagaimana kekuasaan perlindungan di belakangnya yang pastinya mudah terbebas dari jeratan polisi.
Esok, aku harus pergi dari sini.
Aku langsung memasuki apartemen dan membereskan semua barang-barangku. Mulai dari pakaian dan perlengkapan lainnya. Kota ini harus kutinggalkan. Meskipun Zack bisa saja mengejarku, setidaknya aku ada usaha untuk menyelamatkan diri.
Oh ya. Aku baru ingat jika bisa meminta tolong pada organisasi Cate! Mereka pasti mau menjadi tamengku!
- ♧ -