Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
6. Memulai Dari Awal



KEBERUNTUNGAN. Itulah judul yang tepat untuk mengisi awal kehidupanku pada hari ini.


Seharusnya diriku mengakui tentang amnesia ini agar Kai membantuku dalam memperkenalkan dan mengingat semuanya dari awal. Tapi ya, sudahlah, semua sama saja.


Kami berjalan kaki menuju kampus yang tak jauh dari apartemenku. Suasana yang tak begitu ramai yang kemungkinan karena saat ini adalah masih jam kelas. Terdapat empat gedung mengelilingi satu lapangan dan satu menara jam. Selanjutnya, Kai menunjukkan bahwa diriku mangambil jurusan ekonomi dan menempati gedung kedua.


"Nih, gedung club yang hobi lo satronin. Elo tuh aktif banget dengan kegiatan club seni," ujar Kai seraya membuka sebuah pintu ruangan yang terlihat begitu penuh dengan kerajinan-kerajinan dan lumayan berantakan.


Kira-kira, bakat dalam seniku itu apa ya? Apakah melukis? Memahat? Lettering?


"Dulu awal-awal masuk, lo selalu nunjukin lukisan lo yang abstrak dan jelek banget." Astaga, tega sekali Kai menghina usahaku dalam melukis! "Tapi lama-lama jadi cakep. Lihat tuh gambar air terjun, itu gambaran elo."


Kai menunjuk ke arah sebuah papan lukisan yang tampak realistis dan di sudut bawahnya terdapat sebuah tanda tangan. Apakah benar itu lukisanku? Benar-benar fantastis!


"Ihh, apa ini?" Aku mencolek pipiku dengan ujung telunjuk dan mendapati sebuah noda cat merah. Kai pun tertawa keras dan tidak salah lagi bahwa ini adalah ulahnya.


"Lo itu anti banget dijailin, Ley! Kalau gue kerjain begini, lo pasti dendam. Buahahaha!" ucap Kai dengan membuat suara tawa bak penjahat denfan volume keras. Dasar menyebalkan. Jika salah satu sifatku adalah balas dendam, aku tidak akan segan untuk melakukannya.


Dengan cepat aku mencolek sebuah cat biru dari palet yang tergeletak di meja lalu mencoret pipi Kai sebelum ia menyadari akan tindakanku.


"Wah, perang nih!" Kai menantang dan langsung mengambil beberapa kanvas.


Parah, aku terserang.


Aku dan Kai saling mencoret satu sama lain menggunakan cat lukis bekas pada beberapa palet yang tergeletak. Kami masih ada kesadaran diri untuk berhenti dan melihat waktu yang akan terkuras dengan sia-sia. Kai meraih sebuah tisu basah dari laci kecil di dekat pintu dan mengusap tangan dan wajahnya hingga bersih. Tak luput pula diriku yang ia ikut membersihkan dengan perlahan dan tetap diiringi dengan tawa. Benar-benar menyenangkan. Setelah puas memperkenalkan area kampus, Kai membawaku menuju taman besar yang tak jauh dari kampus. Ia mengatakan bahwa kami sering sekali ke tempat tersebut sembari menonton anak-anak kecil yang bermain di area taman bermain. Apakah aku pecinta anak kecil?


"Oke," kata Kai seraya beranjak dari bangku kayu panjang yang kami duduki bersama lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku yang masih terduduk. "Semua kenangan yang kita miliki sudah sirna di elo. Jadi, kita ulangi dari awal."


Dia pun menghirup nafas segar sedangkan diriku hanya bisa menatapnya dengan kebingungan.


"Gue Xu Kai Chen, jangan hiraukan nama gue yang begitu chinese." Pantas saja matanya sedikit terlihat sipit dan kulitnya seputih pualam. "Kita ini teman masa kecil dan sudah berkali-kali gue nembak lo semenjak kita SMA. Akhirnya dua bulan yang lalu baru diterima." Malangnya, ternyata diriku yang dulu sangat kejam padanya. "Jadi, wahai Ashley yang begitu cantik rupawan, mau nggak lo jadi pacar gue?" ucap Kai dalam sekali nafas. Lucu sekali dirinya.


Tapi, aku masih kepikiran tentang mimpi buruk tersebut. "Tapi ...,"


"Eits, nggak ada tapi-tapi. Kita aslinya memang berpacaran dan tidak boleh diganggu gugat. Dan ...," Kai memotong ucapanku lalu menarik sebelah tanganku dan menggenggamnya dengan erat. "Kita jalani dulu saja, ya? Pelan-pelan lo bakal terbiasa kok. Gue agak maksa sih, tapi ini pilihan terbaik."


Aku menghela nafas berat dan tersenyum. Mungkin aku menbutuhkan Kai dalam menjalani kehidupan asing ini. Jadi, aku harus menerimanya walaupun terasa begitu hampa dan membingungkan.


"Nah, Ashley. Kalau gitu," Kai menarikku untuk bangkit dari bangku. "Elo persiapan kerja dan mulai besok baru bisa ngampus lagi, oke? Karena kalau lo nggak kerja, nggak ada gunanya juga beristirahat dalam penyakit amnesia ini."


Apa yang dikatakan Kai adalah benar.


Aku mengangguk dan ikut melangkah pergi bersama Kai dengan bergandengan tangan yang mesra. Andai saja tidak ada dirinya, aku akan merasa sangat sedih dan kesulitan dalam menghadapi keasingan ini.


Setelah sampai pada apartemenku, aku pun beristirahat sebentar dan Kai meninggalkanku sebelum memberiku pesan, "terima tugas sebagai waiter saja, jangan mau diperintahkan memasak atau menyiapkan sajian, ya. Suruh saja si Vin. Oke bye."


Tentu saja pesan singkat itu telah aku terima dan kuturuti hingga waktu bekerja dimulai. Aku mulai terbiasa dengan semuanya, syukurlah para rekan kerjaku sangatlah ramah namun managerku memiliki sifat sensitif yang tidak bisa melihat sebuah kesalahan sedikit pun. Astaga, aku dibuat bergidik karenanya.


"Berbicaralah dengan nada yang lembut!"


"Semua ini akan berpengaruh pada penilaian caffe kita!"


"Jangan bersantai-santai, cepat bekerja!"


Benar-benar manusia bersifat bossy, tidak heran dirinya memiliki gelar manager. Sepertinya semua orang di sini sudah terbiasa dengan sikap manager tersebut hingga menanggapi beliau dengan tenang.


"Hai," sapa sang pelanggan bergender cowok kepadaku yang telah memasuki caffe.


"Selamat datang tuan di Caffe Clair de lune." Aku menyambut pelanggan tersebut menggunakan senyuman ramah.


Cowok tersebut masih memandangiku beberapa saat tanpa berkedip dengan mata sayunya yang dihiasi area gelap di bagian bawah dan tatapannya begitu memperlihatkan sebuah kesedihan. Wajahnya yang putih pucat bagaikan vampir dan penampilannya seperti remaja kekinian dengan hoodie abu-abu sekaligus earphone yang bertengger pada lehernya. Apakah sebelumnya diriku telah mengenalnya? Akhirnya dia pun melanjutkan jalannya dan duduk pada salah satu bangku hingga sang waiter lain menyambutnya dengan buku menu.


Aku bertanya-tanya siapakah dirinya.


Caffe sudah ditutup setengah jam lebih awal dari biasanya dan seluruh pegawai dikumpulkan di depan meja barista dengan berbaris rapi atas perintah manager.


"Jadi, besok adalah waktu kita Tour karyawan menuju dataran tinggi desa selatan. Jadi, persiapkan diri kalian," ujar sang Manager dengan wibawa yang menyeruak ke seisi ruangan.


Kami semua pun serentak berteriak "yey" dan memandang satu sama lain dengan girang.


"Jam delapan pagi sudah harus ada di sini. Jadi, jangan sampai terlambat jika tidak ingin ditinggal." Sang manager melanjutkan pengumumannya seraya memperbaiki posisi kacamata berbingkai tanduknya.


"Pak, memangnya berapa hari kita tour?" Sherly bertanya sebelum mengangkat tangannya.


"Hanya tiga hari. Kalian boleh pulang sekarang," jawab si manager lalu meninggalkan kami lebih dahulu.


Kami semua pun berganti pakaian dan satu persatu meninggalkan caffe dengan wajah ceria untuk menunggu hari esok. Ini adalah kesempatanku untuk mengakrabkan diri pada semua teman-teman di sini.


"Wah, cerah-cerah banget wajah kalian. Ada apa nih?" tanya Kai yang menatap wajahku saat keluar dari mulut gang.


"Besok tour, bro. Seperti biasa, lo pasti ikut, 'kan?" River menyahuti dengan muncul dari belakangku seraya merangkul tasnya di sebelah bahu.


"Ah, gampang, gue bakal ikut. Manager kalian, 'kan juga kawan gue," balas Kai dengan pede. Aku tidak menyangka bahwa manager killer itu dapat berteman dengan Kai yang humoris dan tengil ini. "Ayo, Ley! Kita pulang."


Kami berjalan pulang menuju apartemenku dengan jalan yang sama seperti dua hari yang lalu. Tepat saat berdiri di lampu lalu lintas yang menampilkan warna merah, diriku menjadi merinding karena mengingatkan tentang kecelakaan bodoh yang aku alami saat itu.


Dari seberang, aku dapat melihat seorang cowok yang tidak asing. Dia yang tadi menjadi pelanggan caffe. Wajah yang pucat namun terlihat sedu sedang menatapku. Di saat sebuah truk lewat dalam sekejap mata, seketika cowok misterius tersebut menghilang dari pandanganku.


Ke mana dirinya pergi, dan siapa dia? Apakah aku harus menemuinya untuk bertanya apakah ia mengenalku?


- ♧ -