![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
AKU menahan rasa sakit pada kepalaku dan mulai membuka mata dengan perlahan hingga alam bawah sadarku telah kembali. Kulihat area sekitar dalam keadaan langit berwarna gelap sekaligus suasana yang begitu sepi dan sunyi.
Ternyata diriku pingsan dan tidak ada yang menolong. Lagi pula, aku tidak mengharapkan apa pun setelah terbangun dari ketidaksadaran tersebut.
Dengan kepala yang masih merasakan sakit, aku berjalan menuju kamar apartemenku lalu masuk dan langsung membaringkan diriku di atas sofa ruang tengah. Kupegang rambut yang telah terpotong dan menariknya ke atas untuk melihat lebih detail. Memandangi rambut ini telah membuatku takut dan berpikir bahwa perlakuan para cewek itu sungguh keterlaluan. Dahulu mereka tak sungkan-sungkan dalam mengancamku perihal mendekati Vin, dan sekarang terulang lagi.
Dalam seperkian detik, aku bangkit dari sofa dan pergi menuju kamar tidurku. Aku melirik ke arah meja belajar dan melihat sebuah buku diary. Rasanya seperti memiliki ketertarikan pada buku tersebut, tapi itu tidak penting. Lagi pula buku itu terkunci dan aku tidak perlu bersusah-susah untuk membukanya yang pasti isinya hanyalah kertas kosong dan sama seperti terakhir kali kulihat.
Kuambil gunting dari laci meja nakasku, lalu berdiri di depan kaca yang tertempel pada pintu lemari. Jadi, seperti inilah penampilanku yang sebenarnya. Wajah yang tirus dan bibir pucat hingga benar-benar tidak sedap untuk dipandang siapa pun. Rambut yang ikal kini telah menjadi pendek di area juntaian sebelah sisi kiri poniku. Serta merta aku mengangkat gunting yang berada di tanganku, lalu memotong rambutku sependek juntaian tadi.
Helai demi helai berjatuhan di lantai, bayangan pada cermin pun perlahan berubah menjadi Ashley berambut bob yang begitu malang. Iya, aku memang begitu malang. Penampilan ini, begitu familiar. Mungkin, aku pernah memotong rambutku sebelum ini dan semoga saja aku dapat mengingat hal kecil seperti tadi.
Inilah awal dari diriku memulai permainan dunia maut ini. Akan kuhindari ancaman-ancaman kematian yang dahulu membunuhku hingga membuatku mengulang-ngulang perjalanan waktu.
Aku pun berjongkok dan memunguti semua rambut-rambut yang berada di lantai lalu membuangnya ke dalam tong sampah dapur. Setelah membereskan semua itu, aku membaringkan diri dan berusaha membenamkan di atas kasur untuk tertidur dengan tenang hingga melupakan semua hal yang terjadi.
TLING!
Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel yang membuatku langsung membukanya dalam seketika.
Inbox || Si Misterius: Bagaimana kabarmu?
Pesan yang tidak perlu kubalas dan sangat tidak penting. Untuk hari yang menyebalkan ini, lebih baik kuakhiri dengan tidur dan terbangun dengan segar.
Itulah yang kupikirkan sebelum memulai hari selanjutnya.
Pada pagi hari yang dimana aku seharusnya berada di kampus dan mendekam pada kelas, aku malah bergegas pergi menuju kafe clair de lune, tempat di mana diriku bekerja. Kali ini tujuanku bukan untuk bekerja ataupun melamar pekerjaan. Tapi, hari ini aku akan meminta penjelasan pada Vin tentang penggemar-penggemarnya yang merundungku hingga melahirkan sebuah secuil trauma. Bukan hanya itu, aku juga akan menanyakan tentang apa yang dia bicarakan saat di telepon kemarin. Jam kerja cowok tersebut adalah waktu sepulang kampus, tepat pada tengah hari.
Tapi, aku tak ingin mengambil resiko yang dimana memunculkan batang hidungku secara terang-terangan di depan para cewek penggila Vin. Jika mereka tahu bahwa tujuan keberadaanku disini untuk menemui idola mereka, bisa-bisa tujuanku akan berantakan dan hancur. Maka karena itu, aku datang lebih pagi agar tidak ditemukan oleh para cewek tersebut.
Aku pun meminta izin pada manajer kafe clair de lune untuk menunggu di ruang karyawan. Bahkan diriku memaksa agar bisa diizinkan menggunakan sebuah uang dengan judul menyewa tempat tunggu VIP. Padahal tidak cocok disebut seperti itu sama sekali.
"Hohoho, silakan menunggu di sini. Apa ada yang ingin dipesan?" tanya sang Manajer kepadaku.
"Ada, saya pesan strawberry sundae," jawabku dengan lirih dan berusaha sesopan mungkin. Setahuku, Pak Manajer adalah orang yang sedikit galak. Namun, kali ini terlihat lebih ramah.
"Maaf." Pak Manager menatapku dengan bingung sejenak. "Kami tidak menyediakan menu itu."
Aku terdiam sejenak sebelum cepat-cepat menjawab untuk memesan es teh saja pada Pak Manager. Ini aneh, stoberi sundae yang dahulu diajarkan oleh Vin, mengapa tidak tersedia pada caffe ini?
Setiap kali aku terbangun setelah menghadapi sebuah kilasan kematian yang sama persis seperti mimpiku sebelum mengalami semua ini, dunia yang kupijaki menjadi sedikit berubah. Beberapa ada kemiripan seperti orang-orang disekitar atau tempat dan sifat. Tapi, ada secuil sesuatu yang membuatku bisa membedakan dunia yang aku jalani seperti sekarang. Sial, hal sekecil stoberry sundae saja telah membuatku kepikiran sampai seperti ini.
Kuhabiskan waktu hanya untuk menyesap teh dan memesan beberapa makan seperti penne pasta dan redvelvet roll cake. Ternyata keputusanku untuk datang pagi-pagi dan menunggu nyaris empat jam adalah hal yang bodoh. Harusnya aku berangkat sejam atau dua jam sebelum jam kerja sift siang telah dimulai. Tapi, mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur. Memang benar, Penyesalan itu ada di akhir.
Waktu pun berlalu hingga aku tak sadar bahwa saat yang telah kutunggu-tunggu telah hadir. Pintu yang berada di dekatku terbuka dan menampilkan seorang cewek masuk dengan wajah jutek dalam menatapku. Itu tidak wajar, karena cewek itu adalah Sherly. Cewek yang periang dan ramah, mendadak menaikkan dagunya sekaligus bersikap seperti tidak mengenalku. Setelah melihat sikapnya yang begitu, aku memutuskan untuk berbicara.
"Emm, hai Sher," sapaku dengan sikap sok akrab.
Serta merta Sherly menoleh dengan tatapan mata tajam dan dingin. "Apa kita pernah kenal sebelumnya?"
Sherly tidak mengenalku. Bagaimana bisa? Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, "Sorry, kayaknya salah orang."
"Pegawai baru, ya? Atau anak baru dari sift pagi?" tanya Sherly sembari membuka pintu lokernya.
"Hanya pelanggan," ucapku canggung.
"Lalu? Kenapa bisa sampai di sini? Nggak puas duduk di bangku pelanggan?" Ucapan Sherly begitu ketus dan menunjukan nada ketidak sukaannya padaku.
Sebelum aku ingin menjawab, cewek itu telah pergi ke ruang ganti baju. Benar-benar berbeda dari Sherly yang kukenal sebelumnya. Semenit setelah Sherly keluar dari ruang ganti dan pergi ke posisi kerjanya, Vin pun muncul dan menatapku dengan ekspresi sedikit terkejut.
Akhirnya, orang yang kutunggu-tunggu telah muncul setelah sekian jam.
"Lho? Kok bisa di sini?" tanya Vin dengan mengangkat kedua alisnya. "Nggak kayak biasanya kita ketemu di kafe."
Memangnya kami biasa bertemu dimana? Aku jadi ingin tahu. Seketika aku berdiri dan melemparkan sebuah pertanyaan. "Kemarin..."
Ucapanku terpotong dengan reaksi terkejut Vin yang melihat penampilanku. "Gile, elo potong rambut? Keren juga."
'Ini semua karena fans-fans lo' yeah, setidaknya itu yang ingin kukatakan untuk membalas ucapannya. Tapi, topik kali ini bukan itu yang akan kubahas terlebih dahulu.
"Telepon? Tentang si Kurt, 'kan?" ucap Vin seraya melepaskan almamater kampusnya dan meletakkannya pada gantungan baju. Aku jadi bertanya-tanya, dimana dirinya kuliah pada saat ini? Aku tidak pernah melihatnya di kampusku. "Lalu, apa lagi?"
Kami berdiri dan bertatapan sejenak satu sama lain hingga aku baru sadar bahwa ada seseorang yang menahan langkahnya di depan pintu dalam menatap kami berdua dengan wajah tegang.
Lagi-lagi aku bertemu seseorang yang tak pernah kuinginkan kehadirannya, yakni Zack. Cowok itu pun membuang muka dan lanjut berjalan menuju ke depan lokernya. Aku pun melanjutkan perbincanganku pada Vin sebelum dirinya ditegur oleh pak manager untuk bekerja.
"Memangnya ada apa dengan Kurt?" tanyaku penasaran.
"Dasar pelupa," kata Vin seraya memijat dahinya. "Bahas tentang hari rencana dimana elo nyatain cinta ke dia."
Aku terdiam sejenak untuk kesekian kalinya. Jadi, aku dan Kurt bukanlah sepasang kekasih? Tapi, mengapa dirinya menyetujui apa yang kutanyakan saat itu? Yang sebenarnya terjadi adalah, aku dan Kurt hanyalah memiliki hubungan dekat. Diriku akan menyatakan cinta padanya sesuai perencanaan yang dibicarakan Vin padaku.
Unbeliveable.
"Gua kerja dulu, ya," ucap Vin dengan ramah.
"Bentar," Aku menahan pergelangan Vin untuk mencegahnya pergi dari pembicaraan ini. Seketika aku sadar bahwa genggamanku telah dipelototi oleh cowok berkulit pucat yang sedari tadi masih berdiri di depan lokernya. Aku tidak bisa mempedulikan hal itu sekarang, kali ini diriku harus meluruskan persoalan penting. "Vin, kenapa cewek-cewek penggemar lo itu ngerundung gue?"
Vin pun merengutkan dahinya. "Merundung? Sejak kapan? Cewek-cewek alay itu bisa merundung lo? Mereka hanya anak sekolahan."
Aku mengangguk pelan tanda mengatakan 'iya'.
"Udahlah, mereka itu aneh. Pasti cuma ejek-ejekan, 'kan? Jangan dipeduliin, ya!" ucap Vin dengan ringan tanpa memikirkan perasaanku.
"Tapi ..."
Sebelum aku melanjutkan kalimatku, Vin meletakan jari telunjuknya pada bibirku.
"Udah ...." Vin pun melangkah pergi meninggalkanku lalu tiba-tiba berbicara, "Karena lo udah di sini, ayo gua buatin sesuatu."
Aku pun memutar tubuhku dan mengikuti Vin yang berjalan menuju area barista. Ini gawat, jika aku berada pada tempat umum yang terbuka hingga bisa terlihat pelanggan, bisa-bisa para fans Vin akan melihat diriku.
"Kok diam? Ayo."
Vin menarik tanganku dan kami berdiri di bagian barista dekat kasir. Aku menoleh ke segala arah untuk memeriksa keadaan seperti seorang napi yang sedang takut dicari oleh seorang polisi. Mulutku nyaris berteriak saat Vin berdiri di belakangku secara tiba-tiba dan mengambil sebuah gelas lalu meletakkannya di depanku.
"Kita bikin menu favorite gua, tapi nggak tersedia di sini," ucap Vin seraya mengambil buah storberri pada laci yang tepat berada di atasku. "Stoberry sundae!"
Menu yang tadi kupesan.
"Pertama-tama ..."
Setiap kata-kata yang dikeluarkan dari mulut cowok tersebut mendadak terdengar hampa pada telingaku. Vin membuat stoberry sundae tepat di belakangku dan mengerjakannya seakan-akan sedang mengajariku cara pembuatannya. Aku yang berdiri di antara Vin dan stoberry sundae tersebut membuat suasana menjadi aneh. Seperti tak asing. Terasa deja vu.
Benar, hal ini pernah kualami sebelumnya.
Tepat saat diriku menjadi pelayan pada caffe ini dan seorang pelanggan memesan pervert padaku. Alih-alih aku yang membuatnya, Vin mengajariku membuat stoberry sundae tersebut untuk pelanggan itu dan sama persis seperti sekarang. Seperti sebuah penggalan film yang sengaja tercopy di masa depan.
"Udah jadi!" ucap Vin yang memecahkan fantasi halusku.
"Ah, sorry. Gue pergi dulu," kataku yang tak tahu malu dan melangkah pergi meninggalkan Vin.
"Yah, strawberry sundae-nya gua minum sendiri, deh."
Tak ada gunanya aku pergi ke tempat ini. Begitu menyia-nyiakan waktu. Tapi setidaknya aku mendapatkan info penting bahwa Kurt dan aku tidaklah berpacaran. Kubuka pintu belakang yang dimana jalur masuk caffe para karyawan caffe. Kakiku melangkah dengan cepat dan berniat untuk pulang agar setidaknya tak bertemu siapapun di jalan.
"AWAS!"
DRAK!
Tubuhku terjerembab saat berada di pertengahan gang menuju area luar. Baru kusadari bahwa ada seseorang yang melemparkan diri kepadaku dengan alasan menghindari sebuah pot bunga yang terjatuh dari atas gedung sebelah kafe. Aku pun mendongakkan kepala dan melihat sekilas seseorang yang seketika pergi tanpa kuketahui identitasnya sama sekali. Kini aku sangat tahu, bahwa orang itulah yang menjatuhkan pot di atasku.
"Kamu nggak papa?"
Aku pun menatap ke depan dan baru menyadari bahwa orang yang menyelamatkanku adalah Kurt.
- ♧ -