Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
47. Sarana Kematian yang Gagal



"MAKSUDMU?"


Kebingungan terhadap ucapan Zack di saat aku menghidupkan ponsel dan memasukkan akun media sosial sebagai forum kampus. Kemudian, terlihatlah bahwa dosen dalam jadwal pertama meminta izin untuk tidak memasuki kelas.


"Seharusnya aku tidak banyak bercerita mengenai hal-hal yang seharusnya orang awam tidak ketahui," lanjut Zack. "Rupanya pagi ini libur. Kita jalan-jalan saja, bagaimana?"


Aku tidak sadar sebetulnya cowok ini mendekatkan kepalanya padaku ketika mengintip isi forum. Bahkan, kami menjadi bertatapan dengan jarak sangat dekat.


"Baiklah. Apa kita sarapan dulu saja?" Kuberi tawaran yang dimana Zack menyetujui dengan senyuman, lalu memposisikan tubuhnya kembali tegap.


Hingga sekarang, aku masih merasa ngeri dengan bayang-bayang postingan gore semalam. Bagaimana bisa Zack menahan reflek urat takutnya ketika melakukan hal kejam itu?


Di saat melamun seperti ini, aku baru mengetahui jika jalan yang kami tempuh akan melewati rel kereta api. Bukan hanya itu, justru ujung sepatuku tersangkut di sela-sela rel hingga sulit dilepaskan. Kejadian ini persis ketika aku mati, lalu terlempar ke dunia paralel lain. Apakah yang dimaksud Zack dahulu mengenai kematianku adalah gara-gara hal ini?


Suara dentingan pagar penghalang penyeberang mulai berbunyi dan dari kejauhan bisa didengar bagaimana cepatnya deru kereta sedang mengarah kepadaku.


"Zack!" teriakku panik sembari menarik-narik kaki yang tak kunjung lepas.


Spontan Zack berlari ke arahku dan membantu menarik sepatu ini tanpa berbicara. Berkali-kali aku merintih karena kesalahan sendiri dalam menarik kaki yang dimana jari-jarinya ikut terjepit. Aku sudah sial untuk mendorong Zack apabila kereta sudah mulai mendekat semeter lagi.


"Sial," umpatnya seraya melepaskan ikat sepatuku dan menarik pergelangan kaki ini dengan perlahan, namun panik.


Kepalaku menoleh dan mata yang nyaris menangis mulai membelalak ketika sebentar lagi mulut kereta akan menciumku. Deritan antara roda dan rel mulai berderit kencang bertanda sang masinis mencoba menarik pedal rem.


"Agh!" Zack menggeram dan akhirnya berhasil melepaskan kakiku, lalu mendorongku hingga menyingkir dari rel hingga bersamaan dengan kereta yang melintas.


Badanku tertindih olehnya di kala terjatuh di atas tanah. Tangisanku pecah. Bukan karena kesakitan akibat punggungku mencium banyak kerikil, atau tertimpa tubuh besar Zack. Sedari tadi isi kepalaku membayangkan bagaimana naasnya tubuhku jika benar-benar tertabrak kereta dan hancur lebur seperti postingan-postingan menyeramkan hasil potret Zack. Perasaan lega menjadi lepas dan aku terharu bahwa kematianku tidak terjadi seperti dahulu. Seandainya terjadi, tak memungkinkan juga aku dapat bangkit di dunia paralel lain bersama cowok di hadapanku yang sedang mencoba terbangun.


"Sudah." Zack menarikku bangkit dan membekap wajah yang terbasahi air mata ini di dadanya. "Tidak apa-apa."


"Zack," panggilku dan mendapatkan respons dehaman pelan darinya. "Kapan saja, kumohon ingatkan aku untuk tidak melewati rel kereta api itu."


Kepalaku terbelai lembut olehnya agar menenangkan isakanku.


"Ini ketiga kalinya aku mengalami hal seperti ini," sambungku. "Seakan-akan, maut memang ingin aku mati di sa ..."


"Iya. Sudahlah, tenang." Kalimatku terpotong dengan ucapan Zack. "Nggak akan ada yang membuatmu mati jika aku terus bersamamu."


Itu yang dia katakan, tetapi faktanya aku selalu berhasil mati di dunia-dunia paralel lalu. Entah itu karena kecelakaan alami, atau ulahnya yang disengaja.


Kuseka air mata dan mengeringkan wajah dengan tisu dari dalam tas. "Kita lewati jalan memutar saja."


Jika lintasan kereta api akan membunuhku, maka jalan raya yang akan kuseberangi juga akan mencoba menabrakku.


"Tidak ada jalan lagi selain ini," ucap Zack setelah membantuku lagi dengan mengambilkan sepatu yang terjepit di rel kereta.


"Maksudku, jangan lewati jalan raya biasanya," jawabku sembari mengenakan sepatu yang dipasangkan Zack. "Makasih."


"Ada apa dengan jalan raya?" tanyanya.


"Tidak ada, lupakan." Saat hendak berjalan, dia menahan lenganku dan aku menoleh. "Ada apa?"


Akhirnya kami lanjut berjalan karena aku mengikutinya. "Sikapmu sedari awal bertemu denganku, sudah seperti peramal, Ashley. Maka karena itu, semua ucapanmu pasti ada penyebabnya."


Rupanya dia mengobservasi tingkah lakuku.


"Kita akan melewati jalan raya, biar aku cari tahu sendiri mengapa kamu tidak ingin menjelaskan alasannya," lanjut Zack.


"Sudah tiga menit kita berdiri di sini," ucap Zack, kemudian melangkah untuk mengajakku pergi. "Jalanan juga lumayan sepi dengan kendaraan."


Selang beberapa detik, lampu lalu lintas mulai berkedip-kedip dan percikan listrik muncul sehingga menjadikannya rusak. Layarnya menjadi hitam total dan sontak aku menahan tangan Zack untuk lanjut berjalan. Pada akhirnya aku menonton bagaimana sebuah mobil hendak berbelok, namun sebuah truk melaju cepat akibat tidak ada peringatan lalu lintas.


Hanya pangkal mobil biasa tersebut yang tertabrak oleh truk. Mungkin, sopir tersebut berhasil menyempatkan diri untuk mengerem dan tidak menghasilkan banyak kerusakan. Akan tetapi kericuhan akibat terkejut mulai terdengar di sekitaran. Ini tidak separah yang kulihat di televisi sebelumnya.


"Jika dari tadi kita menyeberang, kecelakan itu tentu tidak akan menghampiri kita," kata Zack yang menghancurkan lamunanku dalam menonton orang-orang di zebra cross sana.


"Kecelakaan tidak pernah ada yang tahu," balasku. "Siapa tahu, lampu lalu lintas itu akan rusak lagi."


Kejadian seperti ini juga sama dengan waktu yang berbeda. Bisa jadi akan terulang terus dan terus.


"Seandainya aku melupakan hal-hal ini. Tolong ingatkan aku untuk tidak pernah ke sini," ucapku lagi.


Lagi-lagi Zack membekapku dan berkata, "Hanya menonton hal tadi, kamu sampai trauma seperti ini."


Iya, aku trauma. Atau lebih tepatnya trauma akan kematian-kematian yang pernah menghampiriku berulang kali. Aku tidak ingin hal seperti itu, meskipun mampu bangkit kembali dan terlempar ke dunia paralel lain hanya untuk mengalami kematian terbaru. Andaikata Zack mengingat kenangan kelam itu, dia juga pasti akan mencegah kematianku lagi karena tersiksa saat bunuh diri hanya karena ingin mengikutiku terus menerus.


Pikiranku terus menerus menjadi kacau. Hidupku rasanya seperti diteror oleh dunia yang memojokkanku bersama maut.


Kami menyeberangi jalan yang mulai macet dan melewati himpitan-himpitan kendaraan.


Sembari lanjut berjalan di dekapan Zack, aku mengatakan, "Zack, apa ucapanmu bisa kupegang?"


"Tentang aku yang tidak akan membiarkanmu mati? Tentu." Cowok ini begitu peka.


"Kalau begitu ..." Kepalaku mendongak ke atas dan menatapnya lekat-lekat. "Apa kamu memiliki kepribadian ganda?"


Seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan tadi, karena kepribadian kejamnya hanya muncul akibat trauma terpendam ketika bunuh diri. Itu pun jika Zack sungguh memilikinya sejak awal, namun aku tidak perlu khawatir karena dia tidak memiliki dendam terhadapku saat ini. Tidak ada yang tahu apakah dia akan mencelakakanku atau tidak. Kurasa hal itu tidak akan terjadi, karena kebutaannya dalam cinta dan usaha untuk hidup bersamaku saat di dunia paralel dahulu sangatlah bisa dipercaya bahwa dia tak akan mau menyakitiku.


Aku tahu bahwa hal ini selalu kuulang-ulang hanya untuk menekankan keyakinan yang masih terbumbui keraguan. Tapi, buat apa aku ragu. Zack saja tidak ragu dalam menyelamatkanku, dan aku juga seharusnya tidak ragu untuk mencintainya.


Bukankah sangat keterlaluan jika aku berpura-pura tidak mengenalnya di saat ini, yang padahal dia sudah banyak berkorban ketika aku dalam masa-masa terpuruk? Lagi-lagi aku memikirkan hal yang berbau ragu-ragu.


Tibalah kami di restoran kecil yang ditunjukkan oleh Zack. Jangan heran mengapa di sini begitu banyak lokasi untuk sajian makanan, termasuk tempat kerjaku. Pusat kota adalah alasanku untuk menjelaskan hal tadi.


"Semakin lama, pertanyaanmu menjadi aneh," ucap Zack ketika kami duduk berhadapan di salah satu meja. "Kepribadian ganda? Maksudmu ..."


"Tidak, lupakan saja ucapanku tadi," selaku cepat-cepat sambil melambaikan kedua tangan dengan canggung. "Sepertinya aku juga over sharing."


Matanya yang sayu memandangiku dan satu sudut bibir tersebut terangkat, seakan-akan sedang mengejek.


Waiter datang dan memberikan buku menu. Setelah dilihat-lihat, rupanya ini adalah restoran bertemakan cina. Aku jarang sekali memakan-makanan seperti ini, maka karena itu mungkin akan memesan mandu dan mi kaca saja. Cukup dengan air putih dingin untuk minumanku. Sedangkan Zack, entahlah aku tidak tahu apa yang dia pesan dengan bahasa cina.


Ketika waiter pergi, aku langsung mengusap sebelah lenganku, "Dingin juga hari ini."


Zack mulai melepaskan jaketnya dan aku cepat-cepat menolak. "Tidak usah, tidak usah!"


"Malam ini sudah pasti akan lebih dingin," katanya sambil mengenakan kembali jaket tebalnya tersebut. "Jendelamu sudah pasti akan dimasuki angin malam karena bagian atasnya terdapat celah. Tutupi, mungkin bisa menggunakan kain."


"Ah ya, aku biasanya kedinginan karena itu," balasku.


Seperti ada hal yang aneh dengan percakapan ini.


- ♧ -