![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
KETIDAKTENANGAN ini membuatku letih.
Semua telah aku bereskan, dari pakaian, barang-barang penting, keberhasilan dalam pemesanan tiket pesawat untuk esok pagi dan taksi yang kuminta tanpa boleh terlambat. Baiklah, kini aku bisa mencoba beristirahat.
Akan tetapi, jantungku terus berdegup kencang. Meskipun mengantuk dan sudah berbaring menghadap langit, mata ini terus menerus melirik ke segala arah untuk mengawasi sekitaran. Apabila dipikir-pikir, di mana Zack biasanya bersembunyi? Buru-buru aku memeriksa bagian bawah kasur dengan bantuan senter ponsel, tetapi tidak ada apapun. Lalu, aku membuka lemari, di balik tirai dan akhirnya di bawah meja. Tidak ada apa-apa. Parah, sikap paranoidku terlalu berlebihan.
Menarik dan mengembuskan napas berkali-kali. Kemudian, mencoba membersihkan isi kepala yang berat ini dan mencoba tidur untuk kesekian kalinya. Sepertinya mulai berhasil dalam sesaat ... ya, sesaat saja. Mataku tidak kuat lagi untuk terbuka dan akhirnya terpejam penuh yang mengusir kesadaranku. Lupa untuk menggunakan selimut, tetapi kurasa tidak perlu.
Terlelap, mungkin akan hadir sebuah mimpi buruk. Pikirku begitu saat kesadaran masih setengah hadir.
Perlahan, di sela-sela kegelapan ruangan dan rabunnya mata seusai terpejam lumayan lama, terlihat sesuatu yang membuatku memicing. Samar-samar, sulit dilihat. Rasanya, aku seperti sedikit tenggelam di atas ranjang. Apakah tempat tidurku ini merasa keberatan dalam menampung berat badanku?
Terlihat mata, hidung, kemudian wajah sempurna. Berkali-kali aku mengerjapkan mata, kemudian membelalak hebat. Kedua tanganku sontak mencengkram kasur. Otot-ototku menjadi tegang dan terasa membeku.
"Ashley, kamu terbangun? Kenapa napasmu menjadi terengah-engah?"
Zack, cowok gila ini berada di atasku!
"Wajahmu terlihat pucat sekali," ucapnya sembari memegangi pipiku dengan satu tangan.
Posisi kami begitu tidak senonoh. Mulut dan tanganku seperti tidak dapat digerakan dalam menghadapi kengerian ini. Aku harus menenangkan diri sebisa mungkin tanpa kentara olehnya. Hanya bersikap tenang yang bisa menyelesaikan masalah ini.Selanjutnya, aku mencoba bangkit dan Zack berinisiatif menyingkir, lalu duduk di sebelahku.
"Aku ... aku tadi telah bermimpi buruk," ucapku untuk menutupi fakta bahwasannya aku sedang tegang karenanya. "Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"
"Itu tidak penting untuk dibahas," balasnya dengan menelengkan kepala agar dapat melihat wajahku yang sedang menunduk.
Benar, sangat tidak penting untuk dibahas. Karena sekarang, yang terpenting adalah pergi jauh darinya.
"Untuk sekarang, beristirahatlah."
Beristirahat katanya? Bagaimana aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini? Terlebih lagi, melihat wajahnya yang bersinar dalam kegelapan telah mendukung kengerian pada pandanganku. Sungguh horor, aku benar-benar merinding.
Percuma untuk berbicara, menegur, atau bahkan mengusirnya. Dia pasti terus menerus menempel padaku.
"Kamu butuh apa, Ashley?" tanyanya tanpa kuindahkan.
Aku beranjak dari kasur, diikuti olehnya sampai ke pergi ke bagian dapur yang sudah kuhidupkan lampunya. Mataku tidak henti-hentinya melirik ke sana kemari untuk menebak-nebak, dari manakah Zack memasuki apartemen ini. Semuanya tertutup rapi dan mustahil untuk terpanjat melalui balkon atau jendela karena kamar ini berada di lantai atas.
Tanganku meraba-raba di atas meja dengan gugup.
"Kenapa ke dapur?Jika merasa haus, kamu bisa memintaku untuk mengambilkan ..."
"JANGAN MENDEKAT!"
Sebuah pisau yang berhasil kutemukan mulai aku ayunkan ke arah Zack dan mengacungkannya sebagai tanda mengancam.
"Menjauhlah atau aku akan melukaimu!" jeritku dengan tangan gemetar.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak menguntitku lagi! Ini obsesi dan sangat buruk!"
"Ashley," panggilnya lirih dengan menaikkan kedua alis. "Ada apa? Apa gara-gara kita bertengkar hingga kamu menjadi begini."
"A-apa ..."
Apakah kepanikanku tidak bisa dia pahami sejak tadi? Kakiku melangkah mundur saat tangan Zack mengulur ke arahku dan telunjuknya menekan ujung pisau yang aku acungkan. Kemudian, sebelah tangannya lagi akan membelai pipiku untuk ke sekian kalinya.
"Bukankah ini berlebihan? Ashley, hentikan ..."
Darah menetes. Karena ingin mencegahnya untuk menyentuhku, tanganku langsung mengibas panik dan menggores pergelangan tangannya. Tingkat keteganganku semakin menambah walaupun Zack tidak memberikan respons negatif perihal luka yang sedang dilihatnya.
"Ashley, sudahlah." Zack langsung memegang pisauku di bagian bilahan tajam. "Jangan terlalu agresif. Buat apa melakukan itu padaku?"
Dia perlahan mendekat dan aku tidak bisa menggerakkan pisauku karenanya.
"Ada apa? Kamu ingin menusukku? Bisakah melakukan hal tersebut pada penyelamatmu di masa depan nanti seperti yang kamu tuliskan pada bukumu?"
Perkataan Zack membuatku terkejut dan melotot hebat. Bukan hanya membaca keseluruhan catatan hidupku, melainkan dia mempercayainya.
"Aku tahu semuanya, Ashley. Aku tahu semua tentangmu," lanjutnya dengan menaikkan intonasi bicara secara perlahan. "Aku tahu bahwa kamu begitu mencintaiku. Lantas, kamu ingin menusukku? Aku tahu, kamu tidak akan bisa melakukannya ..."
Aku langsung menyentaknya dengan kuat sampai terlepas dari pisau ini. Secepatnya aku berlari ke pintu keluar apartemen yang dimana harus kubuka bagian kuncinya. Tidak bisa disangka-sangka jika ini terkunci setelah Zack berhasil menyusup.
Berlari menuju lift dan menekan tombol menuju lantai bawah dengan terburu-buru. Di pertengahan lift akan akan tertutup, terlihat Zack yang sedang berjalan santai ke arahku.
Lift tertutup dan turun dengan terasa lebih pelan dari sebelumnya. Pada akhirnya aku berhasil kabur dari gedung apartemen dan berlari. Awalnya, kukira Zack akan berjalan santai untuk mengikutiku. Namun, di kala aku mencoba memeriksa keadaan dengan menoleh ke belakang, rupanya dia mengejarku dengan berlari.
Gawat, aku terkejar!
Berlari dalam kegelapan serta keheningan sekitar yang membuat napasku bisa terdengar keras dalam telinga. Rasanya seperti sedang terhempaskan karena kecepatanku terlalu memaksakan dan nyaris sampai batasnya. Tidak ada siapa pun di perkomplekan ini. Sialnya lagi, aku berlari dalam keadaan tidak beralas kaki sehingga begitu menyiksa saat kerikil-kerikil terinjak.
Mulutku menjerit keras ketika rambutku yang tergerai ini terjambak keras oleh Zack dan nyaris membuatku terjerembab. Oleh sebab itu, aku nekat memotong rambut ini dengan menebaskan pisau yang beruntungnya sangat tajam. Berhasil dan aku terlepas dari genggamannya.
Bukan hanya aku saja yang merasa terkejut dengan rambut yang kini sependek leher. Zack pun terlihat membelalak hebat ketika aku menoleh untuk terlepas darinya. Kepalaku melihat ke belakang dan terlihat cowok itu sedang terdiam dalam memandangi rambut yang berada di genggamannya sejenak.
Berlari untuk kabur. Aku lelah, stamina sudah pasti terbatas dalam tubuhku. Jika begini terus, aku pasti pingsan dan tertangkap olehnya. Bisa jadi, untuk mengantisipasiku kabur lagi, Zack akan mengurungku. Benar-benar gila, bukan hal seperti ini yang aku inginkan.
Tidak ada gang kecil, tong sampah besar, semak-semak sebagai tempat persembunyianku. Karena pelarianku lumayan jauh, maka terputuskan untuk pergi ke kampus yang mulai dekat dariku. Di sana, pasti akan ada satpam atau beberapa anak yang berjaga untuk menginap akibat mengerjakan tugas tambahan.
Akhirnya, aku berhasil memasuki kampus. Gerbang tidak terkunci dan sepertinya satpam sedang patroli di dalam karena posnya terlihat kosong. Terlihat beberapa ruangan yang menghidupkan lampu yang menandakan adanya penghuni.
- ♧ -