![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
HENING dan semua mulai berubah. Tidak ada gejolak takut, putus asa atau kesakitan yang tadinya menjalar di seluruh tubuh. Hanya ada kehampaan, seolah-olah berada di sebuah dimensi kekosongan. Kaki yang tidak ada pijakan dan tiada angin yang terasa menerpa tubuhku.
Tempat ini, mirip sekali seperti kedua mimpi yang pernah terlihat olehku. Sebuah bunga tidur yang sesungguhnya adalah bocoran takdir. Namun, kali ini berbeda. Tiada perasaan apa pun yang menyangkut atau kehororan terbaru ditampilkan padaku. Mungkinkan takdir yang disajikan seperti sebelumnya telah habis terjalani olehku?
Hanya sekilas, semua kenangan hidup telah muncul bagaikan potongan-potongan memori yang disengaja dijadikan sebuah trailer pada otakku. Pengalaman pahit, manis, dan hal terkutuk telah menyisakan rasa getir sekaligus penyesalan akan semua itu. Masa kecil yang suram, kenormalan hidup dalam masa remaja, penyesalan terburuk dalam menjalani kehidupan romansa. Tidak ada keberuntungan yang pantas dibanggakan di dalamnya.
Tiba-tiba, muncul secercah cahaya putih menyorot yang membuat mataku membelalak sejenak. Terdengar suara gema yang tidak begitu jelas, membuatku terpancing untuk mencoba mendekati cahaya tersebut. Redup, seolah-olah menolak untuk dihampiri.
Kemudian, tepat di depanku sebuah kilauan mulai muncul secara bertahap sampai membentuk tubuh seseorang yang begitu bersinar. Sangat terang, tapi bagiku begitu berkesan suram. Ingin melangkah mundur, tetapi tubuhku menolak akan perintah otak. Mataku pun menatap dengan kosong ke arah senyuman yang berada di hadapanku ini.
Zack, lagi-lagi dia berada di sisiku.
"Ashley," gumamnya seraya memelukku tanpa terasa apa pun yang menyentuh tubuhku.
Tidak ada ritme jantung yang berdetak kencang, kekhawatiran yang tinggi atau bahkan rasa takut. Namun, aku tetap masih berharap untuk tidak bertemu dengannya, meski di dimensi lain atau bahkan pada kehidupan selanjutnya. Pertemuan dia dan aku, seakan-akan takdir sungguh memaksa untuk mengikat kami satu sama lain. Tidak peduli merasa tersiksa atau tidak, seperti dua kutub magnet yang berbeda dan mustahil untuk bersatu meskipun didekatkan berkali-kali.
Ya, aku sudah mengetahui hal itu. Semua kenangan pahit tentangnya padaku akan terhapuskan oleh penyakit amnesia. Efek kupu-kupu paradoks akan hadir dan memutar waktu tanpa henti pada dua nyawa yang ditakdirkan bersama. Benar-benar ironis.
Seandainya aku bisa mengendalikan ingatan dalam otakku sendiri. Atau andaikan saja aku mampu menjadi penjelajah waktu dan bertemu dengan diriku sendiri sehingga memintanya menjauhi Zack. Andai aku tidak memutuskan suatu tindakan sesuai perasaan. Andai, andai dan andai ... semua itu memuakkan. Apa yang kuharapkan dari kesalahan tersendiri adalah pemikiran bodoh yang sudah pasti tidak bisa terkabulkan. Racauan yang sungguh sia-sia dilontarkan.
Seketika perwujudan Zack hilang, digantikan dengan kegelapan yang kembali mengelilingiku. Setitik cahaya bagaikan portal pemanggil tadi mulai kembali bersinar dengan perlahan. Akan tetapi, setiap kali aku mencoba melangkah, jarak di antara kami semakin jauh dan mengecil.
Aku pun terdiam, dan perlahan satu-satunya penerangan tersebut menjadi mendekat dengan sendirinya. Memenuhi penglihatan dan seperti ingin menyelimutiku. Seakan-akan sesuatu sedang merasuki secara perlahan tapi pasti.
Sudah kuketahui, bahwa masa depan akan kupijaki tanpa adanya memori sedikit pun. Maka karena itu, di saat ini juga, aku mengutuk diriku sendiri untuk mati daripada harus kembali ke dalam dekaman Zack.
Pada akhirnya, kesadaran penuhku sirna hanya dalam seketika.
- ♧ -