![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
LAGI-LAGI aku terbangun.
Sebelumnya aku mengira bahwa kematian telah menghampiriku dan akan membawaku pada tempat lain, kini berbeda.
Aku melihat jam digital pada meja nakas sebelahku yang menunjukan tanggal 25 juli, 12:00 siang. Sekarang adalah siang hari. Mataku menatap ke sekitaran dan mendapati bahwa aku berada di ruang inap rumah sakit. Tanganku terinfus, pakaianku berubah menjadi seragam pasien.
Selalu saja tempat ini.
Pintu terbuka dan hadirlah Kurt dengan membawa bungkusan putih di kedua tangannya. Wajahnya tampak berseri-seri, padahal terakhir kali kulihat dirinya sedang menangis. "Akhirnya kamu terbangun. Aku bawakan bubur dan beberapa buah."
Kurt meletakan bungkusan tersebut dan mulai menata rapi pada meja nakas sebelahku.
Aku pun terduduk dan menatap Kurt dengan bingung. "Kenapa aku bisa dirawat begini?"
Kurt duduk di sebelah ranjangku sembari menuangkan bubur ayam pada mangkok dan mulai menyendoknya. "Maaf, kamu begini gara-gara aku." Aku menjadi bingung karena ucapan Kurt begitu ambigu. "Kamu overdosis obat penenang yang kuberi. Jadi, untuk beberapa hari ke depan, dokter menyarankan untuk dirawat di rumah sakit."
Kurt menyodorkan sendok berisi bubur ke mulutku. "Ayo makan."
Kulahap bubur tersebut tanpa ragu hingga membuat Kurt lebih ceria.
Pintu terbuka dan menampilkan sebuah kepala yang menatap ruang inap ini secara keseluruhan. "Hallo? Ada orang tidak?"
Itu adalah Vin.
Saat Vin melihatku, dia pun masuk diiringi oleh tiga cewek yang sedang menundukkan kepala. "GWS, ya, Ashley. Gara-gara gua, elo jadi begini."
Vin memberi isyarat pada ketiga cewek di belakangnya dan salah satu yang sedang membawa buket bunga melangkah maju kepadaku seraya menyodorkan buket tersebut. Kuterima bunga darinya dengan polos dan cewek tersebut lebih menunduk dari sebelumnya.
"Maafkan kami, ya. Kami janji nggak akan jahat lagi," ucap cewek yang telah memberikanku buket bunga.
"Iya, tolong maafkan kami, ya," sahut kedua cewek lainnya.
"Mereka ngerepotin banget. Coba aja si Kurt nggak ngasih tau ke gua tentang ini, pasti mereka masih berani ngeganggu lo," ujar Vin sembari menatap tajam cewek-cewek tersebut, seakan-akan sedang memarahi mereka.
Aku pun mengangguk dan tersenyum kecil. Lega rasanya semua telah berakhir. "Iya, aku maafin," kataku.
"Okelah." Vin menyodorkan tangannya untuk fist bump kepadaku. "Jangan lama-lama, Ley, sakitnya. Entar gua kangen. Udah dulu, ya, gua lagi bolos dari caffe. Entar pak manager ngeblack list gua. Gua cabut dulu, bye."
Kubalas fist bump Vin dengan ceria. Ketiga cewek fans Vin pun memberi salam lalu ikut keluar bersama Vin dari ruanganku.
Sebuah sendok pun menyentuh pipiku,dan itu adalah Kurt yang sedang menungguku membuka mulut dalam menyuapkan bubur padaku.
"Makasih, ya, Kurt." Aku melahap bubur dari suapan Kurt.
Kurt tersenyum tanda meresponku.
Selama sehari penuh, Kurt menemaniku. Membantuku dalam segala hal dan tidak membuatku suntuk sama sekali. Pada akhirnya, malam pun tiba dan Kurt berpamitan.
"Seandainya aku bisa menginap, aku bakal di sini sampai kamu bisa pulang," ujar Kurt. "Tapi, mau bagaimana lagi. Aku harus pulang."
Kurt mengelus kepalaku dengan lembut, tidak kasar seperti sebelumnya. "Tapi, apa kamu mau ke luar sebentar?"
"Ke mana?" tanyaku. Sekarang adalah jam sembilan malam tepat. Tanggal dua puluh lima akan berakhir. Apakah ini bertanda bahwa aku tidak akan mengalami hal-hal aneh lagi? Kuharap begitu.
"Tunggu, aku ambilkan kursi roda. Kita ke belakang rumah sakit aja. Di sana ada telaga kecil buatan untuk menghibur para pasien." Kurt pun pergi keluar dari ruangan dan kembali dengan membawa kursi roda yang dia inginkan.
Padahal aku bisa saja berjalan. Tapi, mungkin Kurt tidak ingin merepotkanku. Kurt membantuku dalam menaiki kursi roda dan memegangi tiang infusku. Kami berjalan keluar dan menggunakan lift khusus untuk para pengguna kursi roda untuk naik atau turunnya lantai.
Berhubung aku berada di lantai dua, tak begitu lama untuk sampai pada lantai utama.
Kami akhirnya sampai pada area danau buatan di belakang area rumah sakit. Begitu luas dan bersih. Terdapat banyak kunang-kunang yang menghiasi taman di sekitaran telaga. Sinar rembulan pun membantu keindahan tempat ini dan aku menjadi kagum pada siapapun yang membuat tempat penghibur pasien sebagus ini. Hawa yang sejuk menambah nilai plus dalam ketenangan dan kebetahan pada siapapun yang berada di sini.
Kurt membawaku ke sebelah bangku taman yang dekat dengan pinggiran danau. Dia duduk di bangku tersebut seraya mengehela nafas ringan dalam memandangi pemandangan di hadapannya.
"Rasanya benar-benar tenang," lirih Kurt dengan senyum lebarnya.
Aku ingat bahwa tempat dan posisi Kurt pernah kulihat saat dahulu di caffe Kurt membantuku dalam membuat stroberry sundae.
"Indah sekali," kataku yang terhipnotis akan pemandangan di depan mataku.
"Jangan ke tengah-tengah telaga." Kurt menunjuk sebuah dermaga kayu bak jembatan yang di belah tengah. "Karena telaga ini cukup dalam walaupun hanya buatan manusia."
Aku mengangguk pelan. Tapi, dari lubuk hatiku, aku ingin melihat telaga ini lebih jauh. Lihat saja di tengah-tengahnya, ada beberapa perahu kecil dan bunga teratai yang ingin sekali kusentuh. Kurt meraih tanganku dan aku menoleh. Mata kami saling bertatapan satu sama lain, seakan-akan diriku sedang berkaca pada pupil mata Kurt.
"Walau kamu nggak ingat bagaimana kenangan yang telah kita jalani sebelum ini, tapi aku tetap ingin mengatakan." Kurt terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "Ashley, apa kamu mau jadi pendamping hidupku mulai sekarang?"
Tidak memberi kesan menegangkan, melainkan menenangkan. Cowok yang selau berpikir menggunakan logika dan teori, kini mulai menyatakan perasaannya pada wanita yang ia sukai. Meski hilang ingatan sekalipun.
"Jika Ashley yang dahulu sangat menyukaimu, untuk apa aku menolak hal yang sudah jelas-jelas pantas untuk diriku sendiri?" ucapku sembari tersenyum menatap keceriaan Kurt setelah mendengar kalimat dari mulutku.
TRING!
Suara deringan ponsel memecahkan suasana yang berasal dari saku celana Kurt. Kurt mengangkat panggilan ponselnya, lalu mulai berbicara dengan serius dan raut mukanya berubah 180°. Dia menutup speaker ponselnya dengan sebelah tangan sembari menatapku.
"Aku ingin bicara sebentar, tunggu, ya." Belum aku menjawab ucapannya, cowok itu langsung beranjak pergi hingga batang hidungnya tak terlihat lagi.
Mataku kembali menatap pemandangan telaga yang sedang memantulkan cahaya sinar rembulan dari langit. Walau hanya beberapa detik, aku ingin lebih detail dalam melihat-lihat. Kuputuskan untuk bangkit dari kursi roda, lalu memegangi tongkat besi beroda yang membawa infusku.
Perlahan, aku mendekati pinggiran telaga hingga pantulan bayanganku terlihat jelas. Seakan-akan, aku sedang berkaca pada cermin. Tanpa berpikir panjang, aku ke dermaga yang dilarang oleh Kurt untuk mendekatinya. Aku tidak akan bodoh untuk loncat ke dalam telaga, atau mungkin kayu pada dermaga ini akan rapuh hingga aku tersangkut dengan naas. Pihak rumah sakit pasti memerhatikan fasilitas mereka dengan teliti demi keselamatan pasien.
Kududuki ujung dermaga sembari membasahi ujung jariku dengan air telaga yang begitu dingin. Seandainya aku sehat, mungkin aku akan mampir ke sini. Terasa getaran dari tempat yang kududuki dan bertanda seseorang telah berjalan di atas dermaga. Sudah kuduga bahwa dermaga ini tidak berbahaya hingga ada orang juga yang mendatanginya. Atau bisa saja Kurt, pikirku.
"Kurt, kemarilah. Kamu melarang hal yang menyenangkan," kataku tanpa menoleh.
Suara tawa sumbang telah terdengar hingga memancingku untuk menoleh ke belakang. Alih-alih Kurt, justru orang yang tidak ingin kuharapkan kehadirannya.
Zack lagi. Apakah dia selalu mengikutiku kemana pun aku pergi?
"Apa kabar? Baru saja kemarin kita bertemu." Cowok tersebut menyeringai lebar. "Sudah ingin tengah malam dan tanggal dua puluh enam akan dimulai." Zack berbicara dengan senyuman begitu lebar dan berkesan mengerikan.
Aku tertegun dan mataku semakin membulat. Bukan hanya terkejut akan kehadirannya, melainkan sebuah ponsel ada pada tangannya yang ia tempelkan di telinganya. Dia pasti yang telah menelepon Kurt dan memintanya untuk menjauhiku.
Lalu, apa yang dia maksud dari tanggal tersebut?
"Ayolah, mengalah saja." Zack merengutkan dahi dalam menatapku, seraya membungkukkan tubuhnya dan menyodorkan ponsel pada tangannya. "Gue nggak mau mati di dunia ini, jadi, mending elo aja, ya?"
"Apa maksudmu?!" tanyaku dengan intonasi tinggi.
Lagi-lagi suara tawa yang kudengar.
Jika dia ingin membunuhku, lalu mengapa kemarin dia menolongku saat jatuhnya besi di area konstruksi? Apa tujuan dari dia yang sebenarnya? Apakah mungkin dia menyelamatkanku karena ingin aku terbunuh hanya di tangannya sendiri? Begitu banyak pertanyaan dibenakku yang sulit kutebak.
Aku membuka mulutku untuk mulai berteriak kencang dalam meminta pertolongan, karena cowok tersebut sudah mengkode bahwa dia ingin membunuhku.
BYUR!
Aku terlambat. Zack telah menendangku beserta tiang infusku yang berat ke dalam telaga.
Telaga buatan yang aku kira rendah karena ketenangan airnya cukup hening telah menghancurkan harapanku untuk selamat. Jika aku banyak bergerak, maka infusku akan bermasalah. Entah itu lepas, ataupun berkebalikannya, yaitu darahku terhisap naik. Itu berbahaya.
Kemudian faktanya, aku tidak bisa berenang. Aku hanya bisa mengandalkan nafas dan paru-paruku untuk bertahan. Air mengelilingiku dengan tingkat cahaya yang rendah. Begitu dingin dan rasanya tubuhku seperti batu yang sangat berat hingga perlahan akan turun di dasar air ini. Sangat dalam, aku bisa merasakan begitu lambatnya tubuhku untuk menyentuh dasar dan sedikit lagi akan kehabisan nafas untuk bertahan dalam kesadaran yang sangat singkat.
Sinar rembulan yang terlihat indah di mataku, kini mulai bertambah kabur dan sirna. Nafasku telah habis, aku mulai batuk dan rasanya paru-paruku akan meledak akibat dipenuhi oleh air hingga tidak bisa memompa lagi. Tekanan air ini semakin lama membuatku pusing dan panas.
Pasrah, hanya itu yang bisa kulakukan di saat seperti ini.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa dahulu aku pernah merasakan hal ini. Hanya sebuah mimpi, namun seperti ramalan yang akan terjadi. Bukan, tapi pasti terjadi.
- ♧ -