![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
SETELAH obrolan panjang dan menghabiskan semua sajian, Zack berpamitan kemudian keluar dari unit apartemenku. Selanjutnya, tidak lupa aku mengunci pintu utama dan balkon.
Aku membereskan diri dengan mandi, lalu berganti pakaian tidur. Teringat akan media sosial milik Zack yang belum kulihat secara detail. Oleh karena itu, aku berbaring di ranjang sembari mengotak-atik ponsel untuk melihat isi akun yang indah tersebut.
Beberapa postingan kuberi like dan ikut memberi komentar pujian. Pada postingan yang terakhir, terdapat tagar dengan koordinat lokasi dengan nomor belakang 02. Pada fotonya juga, ada sebuah titik berwarna biru di bagian sudut bawah. Tampilannya seperti sedang menandai akun seseorang, namun ketika aku coba menelusuri, hanya sebuah akun dengan nama pengguna aneh. Aku kembali pada akun Zack dan memerhatikan bahwa semua postingan miliknya telah menandai orang yang berbeda-beda. Setiap kali aku mengunjungi akun-akun tersebut, sudah pasti terdapat nama pengguna yang aneh. Contohnya seperti @xxx, @404f atau @K111. Terlebih lagi, semua akun itu tidak ada daftar saling mengikuti siapa pun dan tidak ada memosting apa pun, namun fitur privasi diaktifkan. Aku berbalik badan hingga menjadi tengkurap akibat terlalu serius me-stalking akun-akun tanpa nama yang benar.
Kutemukan sebuah link pada salah satu pengguna di bagian bio. Ketika aku mengeklik, muncul sebuah forum yang menampilkan attachment lagi dan lagi. Tidak ada ujungnya, rasanya seperti dikerjai. Di penghujung, muncullah bot meminta kata sandi agar dapat meneruskan halaman web. Mataku melirik ke atas untuk berpikir mengenai apa yang harus kuketik. Ketika kembali menatap layar ponsel, tiba-tiba tertuliskan 'loading' atau muat ulang. Sangat lama, sedangkan sinyalku sudah cukup bagus untuk bermain internet.
Sontak aku terduduk akibat sangat terkejut setelah proses muat ulang usai, muncul sebuah akun yang amat sangat mengerikan. Semua gambar yang dipublikasikan bertema gore. Semua adalah foto manusia terbunuh dengan keadaan yang berbeda-beda dan diberi filter abu-abu. Ada yang banyak berlumur darah, leher tergantung, sayatan pada lengan dan leher atau bahkan tusukan-tusukan yang sungguh membuat mual. Tanganku tidak kuat dalam mengenggam sehingga ponsel terjatuh dan rasa mual mulai muncul.
Astaga, aku tidak ingin melihat semua hal itu.
Buru-buru aku mengambil balik ponsel dan secara tak sengaja jari-jari ini menekan postingan terakhir. Tergeser bagian **slid**e selanjutnya yang terdapat foto dinding bergambarkan wajah mayat di slide pertama dan di bawahnta bertuliskan "done". Meski terfilter abu-abu, bukan berarti aku tidak tahu bahwa pewarna yang digunakan adalah darah. Apakah ini yang dimaksud Zack mengenai kebiasaannya dalam melukis di dinding?
Pada keterangan di bawah, bukan terdapat tagar, melainkan terdapat tulisan koordinat lokasi bernomor belakang 02 di sudut foto manusia yang mati mengenaskan dalam keadaan terduduk dan bersandar di dinding. Pada caption, hanya ada sebuah titik.
Apakah di balik keindahan foto-foto diambil Zack adalah lokasi pembunuhan yang sudah dituntaskan olehnya? Kurasa begitu.
Berkali-kali aku menekan fitur 'back', namun gagal. Aku masih bisa menggeser bagian mana pun di dalam layar, namun tidak dapat keluar dari website media sosial asing ini. Seketika muncul notifikasi yang tidak bisa hilang meski kuhapus atau tolak untuk membuka. Tiba-tiba saja notif tersebut terbuka dengan sendiri dan menampilkan sebuah video yang belum kuputar, menjadi terputar sendiri. Tidak ada apa pun, hanya layar abu-abu yang berdesir tanpa suara.
Akhirnya, layar ponselku mati total dan tidak dapat dihidupkan kembali. Kupukul berkali-kali dan mengetuknya ke sandaran ranjang atau bahkan menchargernya, semua tidak berhasil membangkitkan dayanya kembali. Pasrah dan tidur adalah solusi terakhir.
Dalam keadaan memejamkan mata, otakku masih teriang-iang bagaimana kengerian foto-foto pada akun media sosial asing di website tadi. Jika aku terus menerus bersama Zack, akankah nasibku seperti itu? Ah tidak mungkin. Dia begitu menyayangiku hingga kecintaannya saja tidak terhalangi meski oleh kematian kami sekalipun ketika kami terjebak dilemparan-lemparan dunia paralel. Oh ya, dia mengatakan bahwa penyebab dari kematian kami dan amnesiaku adalah dirinya sendiri. Tidak terlalu jelas apa yang sebenarnya dia lakukan, seharusnya aku lebih mendesak agar mulutnya membicarakan semua kejadian yang tidak kuingat sebelum amnesia.
Tunggu, ada yang tidak beres. Sponan aku terbangun dan menatap langit-langit dengan mengerutkan dahi. Ingatanku sudah pulih, namun mengapa tidak bisa mengingat hal mengenai pertemuan pertama Zack bersamaku? Atau perihal kematian kami yang bersama seperti katanya? Selama ini, aku mendekati cowok itu hanya dengan mengingat ucapan-ucapan pilunya yang lalu dan kini kujadikan kenyataan karena menganggapnya fakta. Tapi, mana mungkin ucapan Zack bohong. Apa yang dia ceritakan mengenai pertemuan pertama kami adalah sungguh adanya.
Buru-buru aku pergi ke meja belajar di pojok ruangan, lalu mengisi buku diary yang sudah kubuka menggunakan kunci dari kotak pensil. Di hadapanku terdapat jendela, kucoba buka sehingga angin pantai berhembus sejuk. Hanya sebentar, lalu kututup karena angin malam tidak begitu baik.
Karena kesulitan tidur, aku menjadi beristirahat terlambat dan bangun di pagi hari dalam waktu yang begitu sempit untuk persiapan. Tidak ada waktu untuk sarapan dan info mengenai kampus tidak bisa dilihat karena ponselku masih saja mati. Lebih baik kubawa saja dan melemparkannya ke tukang service.
Sweater merah muda dan celana panjang akan kukenakan untuk hari yang lumayan dingin ini. Pintu unit apartemen telah kubuka perlahan, lalu keluar seraya menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada Zack, maka aku pun pergi sampai lobi, tidak juga ada keberadaannya.
"Nona Ashley," panggil resepsionis di meja staf dan aku mendekatinya. "Ini, ada titipan."
Sebuah paper bag coklat diberikan dan kulihat isinta adalah sebuah ponsel. Ini ponsel pengeluaran terbaru!
"Beneran untuk saya?" tanyaku untuk memastikan. "Dari siapa?"
"Terima kasih," ucapku sembari berjalan pergi dan merogoh-rogoh tas selempang, lalu berhasil mendapatkan ponsel lamaku.
Aku keluarkan kartu nomor di dalamnya dan mencoba memindahkan ke ponsel baru dengan begitu lama karena kesulitan dalam menemukan tempat pemasangan kartu. Untung saja tidak ada siapa pun yang menonton kenorakanku. Mendadak, ponselku terampas dan aku mendongak hingga melihat Zack yang berhasil memasukkan kartu nomor kecil tadi dalam waktu singkat.
"Aku sudah mengantisipasi jika ponselmu rusak. Jadi ..." Zak mengembalikan ponsel tersebut padaku. "Kubelikan yang baru."
"Makasih," kataku. "Tadi, kamu habis dari mana?"
"Di sini saja. Tidak ke mana-mana," jawabnya dengan ringan dan seperti biasa, tanpa ekspresi. "Ada apa? Kamu menungguku di atas?"
Mataku melirik ke kiri. "Tidak juga."
Bahunya menggedik sejenak dan memutar badan bertanda memulai perjalanan. Setelah aku menyusulnya sampai kami berjalan bersandingan, dia berkata, "Aku tahu kamu merasa tidak nyaman. Jadinya ..."
"Eh, nggak seperti itu. Serius!" sergahku buru-buru dengan menatapnya lekat-lekat. Topik pembicaraan ini tidak mengenakan dan harus kuubah. "Oh ya, kenapa kamu bisa tahu bahwa ponselku rusak?"
"Minggir! Minggir! Jangan lewat sini." Seorang bapak-bapak memasang pajangan papan duka di tengah jalan agar tidak ada orang yang berlalu-lalang.
Benar-benar menganggu. Apa mereka kira jalanan ini milik sendiri?
"Kamu me-stalk akunku lebih mendalam, bukan?" jawab Zack dengan pertanyaan sembari berjalan ke kelokan lain yang dimana jarak untuk keluar perkomplekan menjadi lumayan jauh. "Secara otomatis akan ada suatu file yang terkirim padamu dan memberatkan kapasitas kemampuan ponselmu."
"Seperti video tanpa clip itu?" Astaga, apa yang sudah kubicarakan? Bila bertanya seperti ini, sama saja aku mengiyakan ucapan Zack. Sedangkan, awalnya aku hendak menyangkalnya.
"Entahlah, mungkin iya," jawabnya. "Apa yang kamu lewati di ponsel, itu adalah sarana menuju situs web terdalam di internet. Untuk memastikan kepantasan apakah bisa memasuki web tersebut, sebuah virus akan dikirimkan. Jika mampu menghilangkan atau bertahan, maka dinyatakan lolos. Namun, tetap saja akan diberi tes lagi dan lagi."
Rupanya seperti itu. Aku benar-benar baru mengetahui hal seperti ini sekarang.
"Tidak perlu heran mengapa ponselmu langsung rusak," sambung Zack.
"Tapi, terima kasih atas pemberian ponsel baru ini," balasku seceria mungkin.
Zack mengangguk dan tersenyum. "Sepertinya, aku over sharing dalam menceritakan hal tadi."
- ♧ -