![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
"SAMPAI di sini saja, ya? Ternyata gue ada kelas malam di kampus."
Dinner bersama dibatalkan dan untuk pertama kalinya Kai mengantarku menuju apartemen hanya sampai di depan lobi. Aku pun tersenyum sembari mengangguk dan mendapatkan elusan rambut yang lembut dari Kai. Benar-benar seperti anak kecil yang akan ditinggal oleh orang tuanya, begitu disayang dan dibelai.
Aku berbalik dan memasuki lobi, lalu menekan tombol lift menuju lantai tiga. Sebelum pintu tertutup, mendadak sebuah kaki bersepatu bot menahannya dan seketika lima cewek dengan penampilan yang sangat modis sekaligus supermewah pun masuk dengan pongah. Aku hanya bagaikan debu di antara mereka yang bertaburan berlian. Aku merasa bahwa lima orang tersebut memerhatikanku dengan seksama. Sepertinya diriku terlalu sensitif hingga kege-eran. Atau mungkin saja benar. Secara tiba-tiba bahuku didorong pelan dari belakang dan kepalaku reflek menoleh untuk memeriksa hingga mendapati salah satu cewek tersebut memasang wajah sengak dalam menatapku.
"Kenapa? Nggak senang?" ucap cewek tersebut dengan ketus.
Aku yang tidak ingin mencari masalah pun dan memilih untuk terdiam agar tidak menimbulkan masalah. Sembari menatap angka-angka pada lift yang terasa begitu lama untuk sampai pada tujuanku, aku hanya bisa berharap agar selamat dari situasi canggung ini.
"Eh, gembel!" Aku tersentak saat tanganku ditarik dengan keras oleh cewek lain yang tak kalah menatapku dengan melotot oleh mata belo'-nya hingga aku berpikir bahwa mata tersebut akan lepas dari rongganya.
Ada apa dengan mereka? Apakah aku memancing kemarahan mereka?
"Sudah gue bilang, jauhin Vincent!" Vincent? Apakah yang dia maksud adalah teman kerjaku?
"Jadi cewek kegatelan amat, hari ini 'kan bukan giliran elo untuk deket-deket dia!"
"Dasar jal*ng. Diperingatkan malah ngelunjak."
Aku pun menatap mereka dengan bingung dan menjawab dengan tergagap, "maksud kalian apa? Saya nggak paham."
"Nggak usah belaga pilon, deh!" bentak cewek di sebelah kiriku yang telah mendorong kepalaku menggunakan satu jarinya. "Ini peringatan terakhir, ya, sampai kami lihat elo dekat-dekati Vin. Nggak segan-segan kami bertindak."
Seketika pandanganku pudar lagi dan lagi. Suara yang serak dan bergema hingga tak enak didengar. Sesuatu yang seperti merasukiku. Mendadak semuanya berubah untuk kesekian kalinya. Apa lagi yang akan aku lihat kali ini? Mimpi buruk? Di saat itu juga rambutku sedang terjambak oleh sebuah tangan. Ketika diriku melirik untuk memeriksa siapa yang berani menarik-narik rambut indahku, aku pun mendapati seorang cewek yang termasuk dalam salah satu geng cewek di lift tadi. Ia mengeluarkan gunting dari sakunya dan tanpa segan memotong rambutku hingga helai-helaiannya terjatuh di lantai. Serta merta air mataku jatuh. Dalam sekejap, terdengar suara dentingan lift yang menandakan bahwa pintu telah terbuka.
Aku pun mengerjap-ngerjapkan mataku dan reflek memeriksa keadaan rambutku. Tidak ada yang terpotong, justru masih utuh! Sialnya, cewek-cewek tadi masih di lift dan aku mengambil kesempatan dengan berlari secepatnya untuk keluar lalu memasuki apartemenku. Saat aku sampai pada pintu apartemenku, kepalaku menoleh ke arah lift dan melihat pintu tertutup.
Syukurlah mereka tidak mengikuti. Sepertinya mereka benar-benar cewek yang berbahaya dan diriku harus menghindar sejauh mungkin.
Sekarang adalah waktunya beristirahat. Aku cukup menyesap teh hangat yang sudah kubuat dan menenangkan diriku di balkon apartemen ini. Tampillah sebuah pemandangan pantai sepi dan kerlap-kerlip bintang pada malam hari.
Rupanya apartemen ini berada di dekat pantai, aku baru tahu itu.
Setelah menghabiskan teh dan menerima angin malam yang dingin, aku pergi ke kamar untuk membaringkan diri hingga menunggu hari esok.
Kuharap, saat terbangun adalah hari yang menyenangkan hingga aku membuka mata dan mendapatkan matahari telah terbit.
Dengan cepat diriku mengambil koper kecil berwarna merah marun dan mengisinya dengan persiapan tiga hari. Sepertinya untuk snack, aku harus membeli di jalan saja agar muatan tidak penuh. Setelah berpacking, aku membersihkan diri dan membuka pintu keluar lalu berangkat menuju caffe.
KRING!
Ponselku berdering menandakan seseorang telah menelepon dan saat kulirik nama pemanggil tersebut ternyata bertuliskan "Kai".
"Gue agak telat, Ley. Lo duluan aja," ucap Kai dengan intonasi cepat. "Entar kita ketemu di caffe. Bye."
Kai menutup telepon dan aku melanjutkan langkahku menuju caffe dengan menggunakan taksi. Di saat sampai, ternyata diriku termasuk golongan orang yang awal mendatangi caffe. Bahkan tak terlihat bus sama sekali yang tersedia.
"****, Ashley! Mana si Kai?" tanya River yang mendadak muncul di belakangku. Aku pun menggedik bahu.
Apakah tadi dia telah mengucapkan sebuah kata-kata kasar?
"Kyaaa! Kecoa!! Aduh, Vin mah, masa suka sih di tempat kumuh begini?"
"Iya nih, kita malah jadi bergidik, tau."
Aku melihat dua cewek yang termasuk dari lima cewek kemarin yang memaki-makiku di lift. Mereka tampak terlihat bermanja-manja di sisi Vin yang memasang wajah canggung.
"Gua nggak ada minta kalian ke sini," sergah Vin seraya mengibaskan tangannya. "Mending kalian minggat, jangan ganggu tour gua."
"Ihh, Vin kok gitu?"
"Iya nih, tumben jahat. Apa gara-gara udah punya cewek, ya?"
"Berisik," ketus Vin.
Seketika dua cewek tersebut melihat ke arahku dengan tatapan yang awalnya terlukiskan manja dan lembut, kini terlihat tajam dan penuh akan amarah yang seakan-akan aku adalah musuh bebuyutan mereka. Sepertinya mereka adalah fansclub Vin. Yah, cukup kuakui bahwa wajah cowok tersebut lumayan cakep dan berkesan baby face namun tubuhnya begitu besar bak atlet olahraga.
"Ashley!"
Syukurlah Kai datang tepat pada waktunya. Ketika semua orang telah berkumpul, sebuah mini bus pun sampai dan kami berangkat menuju tour dengan wajah ceria. Tak kusangka bahwa dua cewek dari penggemar Vin akan mengikuti Tour ini tanpa ditegur oleh Manager kami. Apakah mereka ikut membayar? Tapi setahuku, Tour ini tidak membayar sepeser pun. Ataukah kami sebelumnya sudah membayar saat diriku belum mengalami amnesia keparat ini? Mungkin saja, sih.
Perjalanan hanya menghabiskan waktu dua jam. Ketika kami sampai dan turun, terpadat sebuah pemandangan yang begitu indah dari area danau dekat kami. Benar-benar asri dan indah.
"Ayo kita ke penginapan dulu," ucap sang manager yang memimpin perjalanan kami. Terlihat sebuah Vila besar yang kemungkinan terbuat dari kayu jati atau cendana merah yang lumayan berkilau. Tempat yang dipenuhi tanaman hias di sisinya sekaligus area lapangan luas di sebelah Vila yang dipagari tembok besar dan dihiasi bermacam-macam bunga.
"Pasti kita bakal barbeque-an, 'kan?" tanya cewek yang berada disebelah Sherly yang kuketahui bahwa namanya adalah Megan. "Marshmellow-an juga, dan api unggun!"
Marshmellow. Apakah memori tentang Kai yang bercerita tentang mencekik orangtuaku akan terjadi di sini?
"Ayo masuk, kamar wanita diberikan satu persatu. Untuk pria satu kamar berdua," ujar manager kami seraya menaiki undakan tangga Vila dan membukakan pintu utama.
Para cowok pun ribut dengan memprotes mereka yang tidak diberi keadilan kamar dan harus berbagi dengan partnernya. Lucu sekali. Terdapar interior yang lumayan rapi dan indah. Area tamu yang begitu luas dengan dikelilingi kaca jendela besar. Area selanjutnya hanyalah tempat makan dengan meja panjang dan lampu-lampu indah di atasnya. Kamar yang berderet di lorong sebelah dengan kunci yang tersedia pada meja nakas dekat kelokan lorong.
"Gilw, ada meja billiar! Ayo main!" teriak Vin dan seketika seluruh cowok-cowok mengerumuni meja billiar.
"Gue yakin bakal high score dari River," sahut Kai.
"Keep dreaming, bro," balas River seraya mengacungkan tongkat billiar.
Kami semua duduk di sofa panjang untuk melihat para cowok-cowok bermain billiar dengan keributan. Setelah bermain billiar, mereka bermain table football dengan dua tim yang terdiri per tim adalah dua orang.
"Cih, kalau sudah melawan River dan Kai dalam game bertim, pasti siapapun bakal kalah," ujar Vin seraya menggelengkan kepala.
Para cewek-cewek pun saling bersorak-sorak. Bahkan tak luput dua cewek fansclub Vin lebih heboh dari semuanya. Setelah bermain, kami semua disajikan beberapa cemilan enak lalu mempersiapkan acara barbeque di area pekarangan luas di sebelah Vila. Sayangnya, saat kami sudah menaruh pemanggangan, hujan turun hingga membuat kami semua berdiam diri di Vila dengan bosan.
Ah, kurasa kesenangan kami telah dihancurkan oleh hujan deras ini. Seharusnya kami membawa jas hujan dan bermain di tengah-tengah hujan dengan gembira
- ♧ -