Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
38. A Love Story Already Begun



TANGGAL tiga juni, yaitu hari ini. Pagi dimana aku terbangun, berangkat menuju kampus dan pergi ke kafe. Mungkin aku harus menambah kegiatan lain untuk memvariasikan keseharianku.


Sekarang, yaitu pagi menjelang siang. Aku sedang berada di ruang klub melukis dan menatap sebuah papan kanvas yang berisikan lukisan Zack. Lebih cocok disebut sketsa bagiku, karena hanya berisi lineart tanpa warna. Kuambil balet yang masih baru dan menuangkan cat di atasnya. Kemudian, kuas mulai menari-nari perlahan dalam mewarnai berbagai rona di atas kanvas. Sedikit demi sedikit, taburan lighting, goresan shading dan beberapa detail.


Berakhir sudah dan hasil dari lukisan di hadapanku ini telah menimbulkan rasa kaget di benakku. Bukan karena itu adalah gambaranku atau terlalu bagus, melainkan adanya detail gambaran aliran air dari bagian kedua mata. Akan tetapi, dua aliran tersebut berbeda warna. Berawal hitam dan putih. Karena berwarna putih, kuputuskan untuk memberi efek cerah saja. Sedangkan hitam, hanya kubiarkan. Tak hanya itu, sebuah earphone tergambar dengan bertengger pada leher.


Aku melihat lukisan ini berpikir bahwa seakan-akan itu adalah aku yang sedang menangis akibat dipasangkan earphone milik Zack. Namun, mana ada air mata hitam. Mungkin air mata penyakit, tapi jangan sampai aku seperti itu.


Sebaiknya aku membawa pulang lukisan ini dan memajangnya di apartemen. Ini adalah pemberian pertama dari Zack, harus aku simpan sebagai kenangan pertama. Maka dari itu, setelah mengeringkan lukisan tersebut, aku langsung melangkah pulang dan meninggalkan jam kelas terakhir yang tak dihadiri oleh dosen.


Pada pertengahan jalan, secara kebetulan aku bertemu Zack yang sedang bermain ponsel dengan satu tangan. Lalu, tambahan earphone yang terpasang di telinganya. Apabila aku memanggilnya dari jarak yang tak terlalu dekat begini, dia pasti tidak mendengar. Aku putuskan untuk menghampirinya dan memunculkan wajahku di depan layar ponselnya.


"Hai!" sapaku yang membuat Zack terkejut dalam bentuk ekspresi mata yang sedikit membulat.


Pasti dia merasa aneh karena aku terus menerus menemuinya. Sementara aku hanyalah orang yang baru dia kenal dan berusaha sok akrab tanpa urusan tertentu.


Zack melepaskan earphone-nya dan menjawab, "bukannya sekarang masih waktunya untuk kamu kuliah?"


Kutampilkan senyuman lebar sembari menunjukan lukisan yang aku bawa kepada Zack. "Aku membolos demi menunjukkan hasil lukisan ini."


"Benarkah?" Zack bertanya tanda tidak percaya padaku. Bercanda sedikit mungkin tak apa.


Zack memalingkan wajahnya ke lukisan yang sudah kuwarnai. Matanya memicing dalam melihat keseluruhan detail dan mulai terkekeh kecil.


"Ada satu yang belum diwarnai," ujar Zack seraya mengeluarkan jari telunjukknya.


Mulutku terperangah saat Zack membuat jari telunjuknya tergoreskan secara sengaja oleh kuku ibu jarinya di tangan yang sama. Seperti sedang menjetikkan jari, namun dengan cara yang absurd. Kemudian, aku lebih terperangah ketika telunjuk tersebut mulai menyentuh kanvas. Aku melihat bagian lukisan yang dinodai oleh darah, yakni air mata hitam dan sekarang menjadi air mata merah. Atau mungkin bisa jadi air mata darah?


Kutepiskan mengenai karya yang aku bawa ini. Jari Zack terluka, itu berbahaya baginya. Serta merta aku menarik tangannya dan menatap dengan rasa pedih.


"Kamu melukai jarimu dengan sengaja, bisa-bisa infeksi!" kataku dengan intonasi tinggi.


Wajah Zack hanya menampilkan kepolosan yang tak berarti. "Hanya luka kecil, tak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Tak perlu dikhawatirkan? Jangan melantur yang tidak-tidak. Ayo aku obati segera," ucapku dengan lantang sembari menarik tangan Zack untuk mengikutiku.


"Mau ke mana?" tanyanya cepat-cepat.


Kepalaku menoleh untuk menjawab, "Ke apartemenku untuk mengobatimu. Oh, ya, sekalian aku ingin memajang lukisan ini."


Seketika langkahku berhenti akibat Zack menahan diri untuk bergerak. Aku langsung menatapnya dengan bingung, dan tanpa berbicara seperti ini sudah pasti dia mengetahui pertanyaan apa yang sedang aku lontarkan tanpa membuka mulut.


"Untuk apa kamu bersikap sok baik seperti ini?" Zack melemparkan pertanyaan padaku dengan tatapan selidik.


Aku pertahankan tangan yang sedang kugenggam dengan erat, lalu ikut menatap mata yang melihatku dengan tajam.


"Apa ..." Ucapan Zack mulai melambung dan aku menunggu lanjutan kalimatnya. "Apa tujuanmu mendekatiku seperti ini?"


"Tidak ada," kataku dengan kebohongan yang pasti tampak jelas di wajahku. "Aku memang aneh, suka mendekati orang yang baru dikenal. Terlebih lagi sok akrab begini. Lantas kenapa? Apakah salah?"


Tak ada yang bisa kubuktikan untuk membuatnya percaya bahwa aku adalah cewek yang pernah ia kejar hingga kematian sekalipun. Aku tidak akan menerima fakta bahwa kami adalah dua insan yang tak bisa bersama. Akan kubantah pernyataan tersebut, walaupun dunia ikut menentang. Sekarang, aku hanya bisa mengulang apa yang menjadi kisah awal antara aku dan Zack, biarpun waktu terulang kembali dan tak mengizinkan kami berdua mengingat kenangan asli yang terdahulu.


"Tidak usah dipikirkan," kataku dengan mencoba tersenyum semanis mungkin. "Aku bukanlah orang jahat."


Sesudah mengucapkan kalimat tersebut, Zack terdiam menatapku. Bukan tatapan cuek, tak senang ataupun kebencian. Melainkan antara rasa bingung dan terkejut. Entahlah, aku juga tidak tahu pasti. Namun, kini aku berhasil membuatnya melangkahkan kaki ketika kucoba menarik tangannya lagi.


Kami langsung pergi menuju apartemenku tanpa basa-basi lagi. Ketika telah sampai, aku langsung memajang lukisan tadi di dinding dekat balkon. Kemudian, aku mengambil kotak P3K untuk memberikan obat luka luar dan plester yang dapat membalut jarinya.


Tanpa menyingkirkan tatapan fokus dalam mengobati, aku pun menjawab, "Sulit bagaimana? Bukankah harusnya lebih leluasa? Coba kamu gerakan."


Zack menggerak-gerakan telunjuknya.


"Aku kira akan terasa mengganjal," kata Zack dengan sedikit terpukau.


Reflek aku mengerjap-ngerjapkan mata seraya bertanya, "Ini pertama kalinya jarimu diplaster?"


Dia menatapku dan menaikkan kedua alis bertanda mengiyakan. "Lagi pula, siapa yang peduli jika aku terluka sebelum-sebelum ini."


"Aku peduli," jawabku tanpa sengaja dan seketika sadar bahwa aku telah keceplosan.


"Untuk sebelum-sebelum ini?" Zack menatapku lekat-lekat akibat menyadari ucapan ambiguku. "Aku membicarakan hal terdahulu. Kamu sedang salah tanggap?"


Mungkin inilah saatnya untuk memberitahu sedikit kebenaran padanya.


"Tidak, aku tidak salah tanggap," jawabku polos. "Aku juga membicarakan masa lampau."


Seketika aku melirik ke atas karena merasa bahwa ada yang salah dengan ucapanku. Kami berdua bertemu di tanggal 20 juli. Bukankah maksudnya adalah masa depan?


"Mungkin masa depan. Ah, entahlah." Aku mulai kebingungan dalam membicarakan topik ini. "Aku juga bingung."


Zack terdiam sejenak sebelum berkata, "Kesimpulannya, kamu pernah bertemu denganku sebelum-sebelum ini?"


"Lebih tepatnya, kita bersama sebelum-sebelum ini." Kuralat kalimat Zack dengan intonasi rendah dan membalas tatapannya secara lekat-lekat. "Apa kamu nggak ingat padaku?"


"Tidak sama sekali." Jawaban tersebut terdengar begitu tegas. Wajar baginya tidak mengingatku.


Kemungkinan, penyebab dari hilangnya ingatanku adalah kematian. Zack juga begitu, dia hilang ingatan tentangku setelah tertusuk dan kami bangkit bersama untuk mengulang waktu di dunia asli ini.


Mengingat bagaimana raut wajahnya yang kulihat dalam menghembuskan nafas terakhir, terlebih lagi membuatku sedikit frustasi, sekarang justru membuatku nyaris meneteskan air mata. Bagaimana bisa aku melepaskan orang yang sangat menganggapku begitu penting dari hidupnya sendiri?


Mataku mulai berkaca-kaca dan aku menahan air mata dengan mendongak ke atas. Sebelum Zack mengetahui kecengenganku, secepatnya aku berdiri dan memalingkan wajah.


"Aku lupa jika tamu harus disuguhi minuman. Tunggu, aku akan buatkan teh untukmu," ucapku sembari mengucap air mata yang sudah terjatuh dan pergi ke dapur untuk membuatkan teh.


Setelah merasa mataku kering, aku kembali dengan membawa teh manis dan menyajikan pada Zack.


"Kalau kita pernah bersama sebelum-sebelum ini seperti katamu tadi, bagaimana jika kamu ceritakan dari awal pertemuan kita hingga akhir?" Zack bertanya padaku dengan senyum ringan.


Spontan aku terkekeh kecil.


"Pertanyaan yang sulit. Bagaimana jika ..." Aku mengulurkan tanganku ke arahnya sembari duduk. "Kita memulai awal pertemuan kita dari sekarang hingga bisa kuceritakan padamu?'' Setelah mengucapkan hal itu, aku pun melanjutkan kalimatku. "Atau hingga kamu bisa menceritakan awal pertemuan kita padaku?"


'Seperti dulu'. Dua kata itu yang ingin kusebutkan di ujung kalimatku. Tapi, Zack pasti tidak bisa memahami.


Tangan berkulit pucat itu menyambut uluranku dengan berjabat kecil seraya berkata, "Baiklah. Tapi, mungkin aku tak sebaik dari yang kamu kira."


"Apakah itu sebuah kalimat peringatan?" tanyaku yang sudah tahu makna dari ucapannya.


"Benar."


"Apa pun peringatanmu, aku sudah siap sejak awal kamu bertemu denganku di dunia ini."


- ♧ -