Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
40. Pantai



KEESOKAN paginya, aku mempersiapkan tas kecil berisikan tabir surya, dua handuk kecil, pakaian ganti dengan setelan baju kaos sekaligus rok, dan pakaian renang.


Sebelum pergi ke lobi untuk menunggu penjemputan, aku melahap satu roti tawar dan minum segelas susu. Untuk sekian lama aku tak menghidupkan televisi karena selalu terburu-buru untuk berangkat kuliah ketika pagi dan langsung pergi tidur saat pulang kerja. Kuhidupkan televisi dan langsung menyiarkan sebuah berita lokal terkini.


"Ditemukan pada kawasan XXX adanya banyak anjing liar yang mati dan hampir menjadi bangkai. Observasi menyatakan bahwa mayat-mayat anjing tersebut diakibatkan oleh tangan yang tak bertanggung jawab. Terlihat adanya luka tusukan di leher dan perut."


Sebuah gambar yang menjadi topik berita tersebut telah diedit menjadi blur. Kawasan yang disebutkan adalah kota ini.


Kemudian, narasumber terwawancarai, "seharusnya kota ini ada penangkaran anjing-anjing liar untuk mengindari hal seperti ini."


Adapun narasumber yang lainnya mengatakan, "B****eberapa**** anjing liar membahayakan sekitaran. Terutama yang rabies. Tapi, kejadian seperti ini bukanlah solusi dari menyingkirkan anjing-anjing tersebut."


Hanya kematian anjing saja sampai diberitakan seperti ini. Berita lokal benar-benar kehabisan ide untuk menayangkan hal-hal menarik.


Kumatikan televisi dan pergi keluar dari apartemen. Akan tetapi, setelah mengunci pintu, aku tersentak kaget saat melihat Zack sedang bersandar di dinding sebelah pintu apartemenku. Mendadak terpikir olehku tentang berita mengenai banyaknya anjing liar yang mati. Tidak mungkin Zack yang melakukan hal itu dalam satu malam. Sudahlah, aku berpikir yang tidak-tidak.


"Mengapa tidak menunggu di lobi saja? Di sana kamu bisa duduk di sofa," ucapku sembari berjalan bersamanya.


"Aku tidak tahu harus menunggu di sana," balas Zack. Iya juga. Seharusnya aku memberitahu hal itu padanya kemarin.


Sesudah berjalan ke luar dari apartemen, mobil APV putih milik Megan telah menunggu. Ketika kubuka pintu bagian penumpang belakang, aku melihat Vin bersama Kai dan River berada di kursi paling belakang barisan ke tiga. Sedangkan barisan ke dua adalah Kurt dan dua kursi kosong. Di kedua kursi depan, adanya Megan menyetir dan di sebelahnya terdapat Sherly.


"Pas, aku juga membawa satu teman," kataku sembari memasuki mobil lebih dahulu, kemudian Zack menyusul.


Seketika terdengar suara menahan tawa dari belakang dan muncul tawa cablak dari Kai.


"Astaga, nyesel nggak lo, Vin?" tanya Kai seraya menyenggol lengan Vin. "Nyuruh gue sama River duduk bareng lo biar Kurt bisa sama Ashley?"


Baru teringat bahwa sempat bagiku bercerita pada Vin jika tipe cowok yang kusukai adalah tercermin pada Kurt. Rajin, pintar memasak, cuek pada wanita, dan pintar. Wajahnya juga cukup tampan meskipun terhiasi kacamata. Tapi, bukan berarti aku naksir pada cowok itu. Pantas saja Vin hendak mendekatkanku pada Kurt. Jangan heran mengapa aku bisa bercerita hal pribadi pada Vin. Dia adalah tipekal manusia sangat frendly dan terlihat begitu dekat pada siapa saja, sampai-sampai aku tidak sungkan saat mengobrol dengannya dalam membahas berbagai topik. Pantas saja para penggemarnya mengira kami begitu dekat, seharusnya mereka juga tahu bahwa idola yang dielu-elukan tersebut sangatlah dekat pada siapa saja.


"Kalian ini bicarakan apa, sih?" ucap Kurt dengan ketus. Kurasa dia kesal akibat tawa Kai.


"Hajar, Kurt. Hajar, nih anak." River menyahuti.


Mereka selalu ribut dimana pun dan kapan pun. Semoga saja Zack dapat memaklumi. Selanjutnya, mobil mulai berjalan dan hanya menempuh beberapa menit dalam kecepatan normal menuju pantai.


Sampainya kami di tempat tujuan, semua orang menghamburkan diri menuju toilet umum dan tentunya dengan niat berganti pakaian lebih santai. Selanjutnya, Aku melihat para cowok telah berganti penampilan dengan hanya memakai celana renang tak ketat yang pendek dalam berbagai motif. Sedangkan Sherly dan Megan, entahlah. Aku kesulitan dalam menjelaskan pakaian renang mereka, seperti model boxer, namun berwarna pink. Celana dan atasan pendek boxer yang sering dipakai di tempat gymnasium. Setidaknya lebih baik daripada sekedar bikini yang berduplikasi pakaian dalam polos.


Di sisi lain, yaitu aku, model baju renang yang kukenakan seperti gaun tanpa lengan namun menutupi leher sekaligus rok yang berlipat-lipat di atas lutut. Terbuka, tapi tidak berlebihan. Sudahlah, membahas pakaian renang sangatlah berbelit.


River dan Vin dengan cepat meluncur ke dalam air. Aku dan Megan lebih dulu menghampiri pedagang jagung bakar. Kubeli dua jagung dan satu lagi aku berikan pada Zack yang sedang berdiri di bawah pohon untuk berteduh dari sinar matahari pagi. Wajar baginya untuk menghindar dari paparan sinar matahari karena kulitnya yang cukup pucat dan pasti sensitif.


"Butuh tabir surya?" tanyaku setelah dia menerima jagung bakar dariku.


Zack yang sedang menggigit jagung pemberianku menjadi terdiam sejenak. "Seharusnya kamu tawarkan sebelum aku memegang jagung ini."


Kali ini aku ikut terdiam akibat menyadari kebodohanku. Tangan kami berdua sudah terkena sedikit mentega dari jagung bakar dan tak mungkin mengoleskan tabir surya dengan tangan ini.


"Hei, Bro!" Kai muncul dan meletakan lengannya di bahu Zack. "Lo temennya Ashley? Kenalin, gue Kai. Nama lo?"


"Zack," jawab Zack seraya menoleh ke arah Kai dengan ramah. "Temannya Ashley juga?"


"Lebih tepatnya, teman kecil Ashley," balas Kai dengan percaya diri.


Serta merta aku menarik tangan Kai dan kuletakan jagung bakar padanya. "Pegangin, aku mau cuci tangan."


"Makasih." Pada akhirnya Kai kabur dan aku hanya berteriak akibat dia telah membawa jagung bakarku. Menyebalkan sekali.


Ketika aku berdiri di pinggiran air untuk mencuci tangan, seketika Sherly mendorongku hingga aku tersungkur dan akhirnya basah. Tambahan, mataku menjadi perih akibat terkena sedikit pasir dalam air.


"Ke pantai harus basah!" teriak Sherly sembari berlari ke tengah air dengan tawa cablaknya.


Aku kembali ke Zack dalam keadaan basah dan mengambil tabir surya dari tas yang kuletakan di salah satu bangku pantai. Kukibaskan kedua tanganku berkali-kali hingga cukup kering dan menuangkan gel yang banyak di telapak tanganku.


"Ulurkan tanganmu, akan kupakaikan," ucapku seraya menggosok-gosok kedua tanganku yang sudah penuh oleh gel tabir surya.


"Lalu kamu sendiri?" Zack bertanya sembari mengulurkan tangannya.


Mulutku mulai menggurutu, "Aku sudah basah begini karena ulah Sherly. Sudahlah, lagi pula sinar matahari pagi tidak akan membuatku gosong."


Sembari menyapukan seluruh gel ke kulit Zack yang bagiannya terlihat, dia menyodorkan jagung bakar yang baru sekali tergigit ke mulutku. Tanpa menolak, kugigit jagung tersebut meskipun sadar adanya noda yang berantakan di sekitar mulutku. Sepertinya aku harus membeli lagi, karena rasanya sangat enak.


Selanjutnya, aku menceburkan diriku ke dalam pantai dan mulai membalas dendam ke Sherly dengan menjepit lehernya menggunakan ketiakku. Lalu, kubenamkan kepalanya hingga dia merasa panik. Aku lihat Vin dan Kurt berbincang-bincang bersama Zack. Sementara itu, Megan sedang mengumpulkan kerang yang menurutnya bagus.


"Nanti kita makan bareng di resto sebelah sana," kata Kai yang sedang duduk di atas pelampung bebek tepat di sebelahku.


"Hei-hei! Gue baru nyewa pelampung dalam lima menit! Nanti dulu lah." Kai menyahuti dengan resah.


Sebenarnya aku buru-buru karena merasa haus. Kubeli air mineral dari kios terdekat dan kembali ke pantai sembari menatap langit. Sudah satu jam kami semua bermain hingga penghuni pantai semakin bertambah.


"Aku baru sadar jika bangunan besar di sana adalah apartemen yang kamu tinggali." Zack muncul di sebelahku dan aku berhenti meneguk air.


Zack masih dalam keadaan kering akibat sama sekali belum menyentuh air laut. Aku jadi teringat dimana dia pernah berdiri di sini sembari meneleponku, lalu berenang untuk menyelamatkanku.


"Sangat dekat jika kita langsung melompat dari apartemen," kataku dangan unsur bercanda.


"Sangat dekat menuju kematian maksudmu?" Zack memberi pertanyaan yang membuatku berwajah datar. Seram juga ucapannya dan membayangkan bagaimana keresahanku saat mencoba loncat dari apartemen. "Aku hanya bercanda."


Sebenarnya aku tahu itu bukan candaan, melainkan isi otaknya yang menyebutkan sebuah fakta.


"Bulan ini akan ada meteor leonid." Aku teringat bagaimana Zack mengajakku menonton hujan meteor dengan jarak yang begitu jauh. Dia di sini, sedangkan keinginannya aku berada di balkon apartemen. Maka karena itu, aku akan aku penuhi keinginannya terdahulu. "Ayo kita menontonnya di sini!"


Zack menaikan kedua alisnya. "Di pantai ini?"


"Benar, pemandangannya pasti lebih indah kalau kita menontonnya di sini," ujarku dengan bersemangat. "Kamu mau 'kan?"


Akan aku pastikan bahwa kami dapat melakukan apa yang Zack dahulu inginkan bersamaku.


"Iya, aku mau."


Senang mendengar jawaban tersebut.


Bermain-main di pantai dengan segala macam tingkah dari mengubur Kurt disertai tersangkanya adalah Vin bersama River. Lalu Kai yang berenang menggunakan pelampung hingga tak sadar sudah sampai ke tengah laut. Kemudian Zack hanya mau memotret-motret pemandangan pantai, dan aku sekaligus Sherly sedang nongkrong di sebelah penjual sosis bakar untuk memborong dagangannya.


Selanjutnya, kami membersihkan diri dan berganti pakaian. Kuberikan satu handuk untuk Zack karena aku tahu dia tak membawa satupun persiapan. Sesuai yang dikatakan Kai, kami semua pergi ke restoran seafood untuk mengisi perut meskipun beberapa dari kami telah mengemil begitu banyak. Ketika memasuki restoran terbuka yang memiliki furniture serba-serbi kayu. Menurutku lebih mirip bar. Mungkin temanya adalah tradisional agar memberi kesan kebudayaan yang kental bagi para pelancong.


Selain memerhatikan arsitektur dan segala macam hiasan, mataku melihat dua orang yang kukenali sedang duduk di salah satu meja panjang. Mereka memalingkan wajah dari kami, namun tetap saja sudah ketahuan olehku. Kini yang menampakan wajahnya padaku adalah Crystal dan Rua. Mereka tak ada lelahnya sama sekali. Seketika timbul sebuah ide di kepalaku.


Kutarik tangan Zack dengan paksa dan membuatnya duduk di hadapan Crystal. Sedangkan aku yang berada di sebelahnya tepat di depan Rua. Mereka berdua pasti merasa panik dalam diam karena aku melakukan tindakan ini. Selang beberapa detik, semua teman-temanku serentak mengisi kekosongan kursi pada meja ini dengan ribut.


"Ashley yang milih, berarti mejanya bagus," ucap Kai dengan duduk di sebelahku.


Megan menyahuti, "Harusnya di pinggir sana biar bisa lihat pemandangan."


"Banyak pasir berterbangan tahu kalau di pinggir. Di sini sudah bagus!" Sherly menyahuti dari ujung meja.


Sudah kuduga dari awal, apabila Vin mengenal Zeha, otomatis dia pasti mengenal kroco-kroco lainnya. Asumsi itu diperkuat dengan adanya dia menduduki kursi di sebelah Rua. Ternyata sedari awal aku sudah terpantau, bukan hanya DJ, melainkan Vin juga.


"Bagaimana? Lebih enak bukan jika dari dekat begini?" tanyaku berunsur sarkastik pada Crystal sembari menyatukan tangan di atas meja.


Dia memasang wajah penuh keramahan dalam menatapku. "Apakah kita saling kenal?"


"Apa perlu kusebutkan namamu?" Aku menimpali dengan pertanyaan lagi dan melirik ke arah Zack.


Akhirnya muncul seorang pelayan yang menunjukan daftar menu berada di papan besar di dekat kasir. Bisa dilihat dari kejauhan hingga tak ada yang perlu beranjak untuk membaca dari dekat. Aku tidak terlalu lapar, maka karena itu kupesan hanyalah ebifurai dan semangkuk sup rumput laut hangat. Di sisi lain atau tepatnya di ujung meja, semuanya sedang mengundi nama untuk mentraktir keseluruhan pesanan.


"Ashley! Ashley yang traktir!" seru River dengan tawa bak antagonis yang palsu.


Kurt menggeleng pelan dan mengurut dahinya akibat lelah dengan tingkah teman-temannya. "Kasihan dia, nggak usah begini. Bayar masing-masing saja."


Serta merta aku menyahut sangat keras, "Enak saja! Lebih baik kalian cuci piring saja untuk membayar pesanan!"


Mereka benar-benar menyebalkan. Bisa-bisa, aku jatuh miskin secara dadakan apabila diperlakukan seperti ini.


"Aku saja yang membayar," sela Zack kepadaku. Sebelum aku menolak, dia langsung berkata, "Tak apa."


Teriakan dan sahutan kegembiraan dari para pemuja traktiran mulai terdengar hingga membuat meja kami menjadi pusat perhatian. Mereka yang heboh, tapi aku yang merasa malu.


Tiba-tiba saja Crystal dan Rua beranjak pergi. Mungkin tidak pergi, melainkan memantau di tempat lain.


"Kamu kenal mereka?" Aku menoleh saat Zack bertanya padaku. Dia pasti memperhatikan obrolanku bersama Crystal tadi.


"Entahlah," jawabku lirih. "Aku lebih suka untuk menganggap tidak pernah mengenal mereka."


Obrolan kami terpotong ketika pesanan telah datang. Sebelum menyantap hidangan, Zack lebih dulu memotret semuanya. Aku berpikir bahwa menjadi fotografer bukanlah sekedar pekerjaan palsunya, melainkan sebuah hobi yang sudah melekat.


Selanjutnya kami akan pulang dan beristirahat sebentar, lalu berangkat ke kafe. Tidak akan ada hari untuk berlibur bekerja.


- ♧ -