Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
48. Protektif



USAILAH kami menyantap sajian lezat ini dan mungkin akan kuberikan bintang lima di internet karena lumayan memuaskan mulutku, meskipun hanya hidangan kecil.


Aku beranjak dari kursi karena hendak buang air kecil di toilet. Namun, Zack menahan lenganku dan bertanya, "Mau ke mana, Ashley?"


"Ke toilet," jawabku, namun dia tidak mau merenggangkan genggamannya dariku. "Sebentar saja."


Kutatap matanya lekat-lekat dan akhirnya melepaskan tanganku perlahan. Kemudian, aku memasuki toilet wanita yang harus membayar ceban. Setelah itu, aku keluar dan sedikit terkejut karena Zack berdiri di dekat penjaga pintu keluar toilet sembari memainkan ponselnya. Pandanganku teralihkan pada jam besar di dinding dan menunjukkan bahwa sebentar lagi waktu memasuki kelas kedua akan dimulai.


"Ayo ke kampusmu," ucap Zack setelah memasukkan ponselnya dan mendekatiku.


Hari ini benar-benar dingin, dan rasanya badanku sedikit terkena gejala masuk angin. Kuharap tidak memuntahkan isi perut dan seharusnya aku mencari obat sachet di dekat sini.


BRUK!


Bahuku tertabrak oleh seseorang dan untungnya aku tertangkap dengan cepat hingga tidak berhasil jatuh. Aku menjadi kurang fokus sampai seperti ini. Yeah, perubahan cuaca ekstrem sangat mempengaruhi kesehatan dan beginilah hasilnya.


"Maaf-maaf," ucap cowok tersebut yang tadi kutabrak.


"Ah, seharusnya saya yang minta maaf. Tapi, terima kasih juga," balasku canggung.


Sikap kikuk orang tersebut terlihat tidak mau mengalah dalam mengucapkan kata maaf. Namun, gelagatnya mulai berubah takut yang terlihat dari bibirnya berkedut-kedut. Matanya melihat ke arah sampingku yang rupanya terdapat Zack sedang menatap dengan tatapan normal. Mungkin, hanya normal bagiku.


Aku menunduk kecil sejenak yang menandakan berpamitan, lalu keluar dari tempat ini menuju kampus. Kucoba untuk menggenggam tangan Zack, dan dia menyambutku dengan erat.


Sesampainya di kampus, terlihat River yang berjalan sembari melambai ke arahku. Syukurlah, dia sudah sembuh hari ini. Aku ingin bertanya, penyakit apa yang kemarin menyerangnya hingga tak dapat memasuki tempat kerja. Kini, melihat wajahnya yang sedang diterpa matahari dan otomatis memicingkan mata, teringat olehku bagaimana sifat kasar dan tatapan sinisnya ketika di dunia paralel lain. Ketika aku membalas sapaannya dan hendak menghampiri, Zack mempererat genggamannya padaku.


"Mau ke mana?" Lagi-lagi dia bertanya seperti ini, seakan-akan aku mudah hilang seperti anak kecil.


"Aku ingin menghampiri River," jawabku seraya menunjuk ke arah River.


"Kelas akan dimulai sebentar lagi. Tidak ada waktu mengobrol lagi, Ashley." Wajahnya menampakkan penuh perhatian dalam menatapku. "Ayo, kuantarkan langsung ke kelas."


Secara tidak langsung, dia peduli mengenai kedisiplinanku atau lebih tepatnya memberi larangan agar tidak menemui River. Senyuman tipis kutampilkan dan akhirnya dia benar-benar mengantarkanku ke kelas seperti seorang ayah pada anaknya.


"Hei, Ley! Boleh pinjam ..." ucap cowok yang menghampiri bangkuku dan kalimatnya mengambang tanpa diselesaikan.


"Pinjam apa?" tanyaku.


"Nggak jadi deh." Berawal menunduk dalam menatapku, kini kepalanya mendongak, lalu pergi tanpa basa-basi lagi.


Sontak, aku menoleh ke arah pintu yang dimana Zack menyandarkan sebelah bahunya pada sisi mulut pintu dan melipat kedua tangan di depan dada. Ketika melihatku, bibirnya perlahan menyunggingkan senyum sampai kerutan pipinya membuat mata sayu tersebut terpejam. Posisinya menjadi awet sampai dosen hadir dan membuatku sedikit tenang. Sejujurnya, sikap perhatian Zack membuatku sedikit keki.


Singkatnya, masa pembelajaran telah selesai dan hari ini tidak ada jadwal untuk memasuki klub seni. Di jam istirahat tadi, tidak ada kejadian seperti kemarin lagi. Setidaknya, kegiatanku terasa sedikit normal kembali.


Ponselku menunjukkan sebuah pesan terkirim dari Zack yang berisikan tulisan, "Tunggu aku lima menit."


Dia pasti sedang sibuk, dan aku tidak ingin merepotkannya hanya karena mau menjadikanku prioritas.


Sent to Zack: Tak apa, aku bisa jalan sendiri.


Kumasukan kembali ponsel ke dalam tas dan getaran tanda notifikasi muncul telah muncul. Karena aku sudah tahu bahwa itu adalah balasan dari Zack, maka tak akan kubuka dan melanjutkan perjalanan menuju kafe. Aku bukanlah manusia amnesia yang takut pada apa pun, dan lagi pula tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk menemaniku pergi ke mana saja.


BRUK!


Di kala berkelok ke gang kecil menuju pintu belakang kafe, aku tak sengaja menabrak dada seseorang yang sedang berdiri menghalangi jalan.


"Aku hanya memintamu waktu lima menit, apa terlalu lama?"


Sebelum aku reflek meminta maaf, kalimat pertanyaan lebih dahulu terlempar dari mulut orang tersebut, yakni Zack.


Wajah atau nada bicaranya tidak menampilkan ekspresi marah dan aku hanya bisa meraih tangannya seraya berkata, "Maaf. Tapi, kamu nggak perlu khawatir jika aku berpergian sendiri." Lalu, buru-buru topik lain kumunculkan. "Dari tadi, kamu sudah berada di sini?"


Kami berjalan masuk ke kafe dan Zack menjawab, "Ada masanya untuk interview karena bekerja di sini. Aneh juga."


"Aneh kenapa?" tanyaku saat pintu dibukakan olehnya.


"Interview setelah diterima kerja."


"Oh begitu," balasku kaku.


Mataku melirik ke kiri dan tahu apa maksud dari manajer kami garis miring DJ. Dia menerima Zack terlalu cepat dan pasti tidak sabar ingin melancarkan serangan seperti dahulu, sehingga lupa untuk melakukan tata cara normal dalam sesi penerimaan kerja pegawai. Seharusnya, program interview tidak perlu dilakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan pada cowok di sebelahku ini.


Kuletakkan tas selempang ini di dalam loker, lalu berganti pakaian di toilet. Setelah itu, barulah teman-temanku yang lain hadir satu per satu dan menempati posisi masing-masing.


Meskipun River sudah kembali kerja, posisi baruku sama saja tidak mengenakan. Kini aku sama seperti Kai, yakni menjadi cleaner service. Tapi, tak apa. Lagi pula, membersihkan area dalam kafe tidak selalu setiap saat seperti menyapu dan mengepel. Tugas membersihkan meja adalah waiter saat mengambil sampah-sampah atau perabotan yang ditinggalkan oleh pelanggan.


Kebiasaan kerja seperti biasa, hanya saja ditambah dengan mengobrol bersama Zack di waktu senggang dan dia selalu menyempatkan diri untuk memerhatikanku. Walaupun itu adalah bentuk dari perhatiannya dan nyaris membuatku salah tingkah, namun kurasa sedikit berlebihan. Pikirku begitu.


"Semuanya, silakan berkumpul," perintah Pak Manajer setelah aku menutup pintu utama kafe dan mengubah tanda menjadi 'close'.


Otomatis, kami semua berbaris dengan sejajar seperti sedang upacara bendera.


Berawal dari bersebelahan dengan Vin, kini menjadi di dekat Megan. Sepertinya, Zack benar-benar tidak menginginkanku untuk berdekatan dengan cowok lain. Walaupun dia tidak melarangku tentang itu, tapi sikapnya sudah menunjukkan sedikit rasa posesif.


"Baiklah, saya mulai umumkan bahwa nanti di tanggal 23 juli akan diadakan tour karyawan untuk meningkatkan sportifitas agar kinerja kalian lebih meningkat pula," ujar Pak Manajer dengan tegas. "Kita akan pergi ke puncak di dataran tinggi pada pinggir kota atau desa terpencil yang lumayan ramai dengan pengunjung wisatanya."


"Gile, keren Manajer!" sahut Vin.


"Lumayan buat ngilangin suntuk." Sherly ikut menjawab.


"Oh, selama ini kamu suntuk bekerja di sini, Sherly?" tanya Pak Manajer yang membuat Sherly keder.


Serta merta, Megan menyela, "Saya sih suntuk, Pak! Jujur-jujur aja mendingan."


Seisi ruangan menjadi menahan tawa akibat ucapan Megan yang terang-terangan tanpa filter. Lagi pula, dia pasti tidak peduli jika dipecat atau potong gaji karena tindakannya tersebut. Menurutku, manajer di hadapan kami tidak akan bertindak sekejam itu.


"Maka karena itulah saya adakan tour agar kesuntukanmu hilang, Megan," jawab Pak Manajer yang membuat Megan manggut-manggut pelan. "Jadi, selamat beristirahat. Silakan bubar. Teruntuk Zack, bisa temui saya di ruang kerja seperti biasa?"


Zack mengangguk dan serentak semua orang bubar untuk pergi pulang.


"Ashley, tunggu aku sebentar," bisik Zack di dekat telingaku, kemudian pergi mengikuti Pak Manajer ke kantor pribadi.


Setelah berganti baju dan duduk di sofa bagian ruang karyawan, cowok yang memintaku untuk menunggu tidak kunjung datang. Aku jadi ingin tahu, apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.


"Hei, Ashley."


Kepalaku menoleh dan melihat River memunculkan kepalanya di balik pintu sembari memberi kode tangan agar aku mendekat. Aku menurut dan dia langsung menyodorkan sekotak takoyaki berukuran besar beserta dua tutuk gigi sebagai alat makan.


"Tadi gue nyolong dari Kai saat dia beli ini diam-diam. Sekarang dia pasti lagi nyariin gue," ucap River dengan wajah jahat yang membuatku mendorong kepalanya perlahan.


"Dasar tukang nyolong, tapi enak juga," kataku setelah melahap takoyaki enak ini.


"Woi!"


Secara bersamaan, aku dan River menoleh di kala mendengar seruan amarah yang tentunya dari pemilik makanan bola-bola lezat ini.


"Balikin, itu punya gue!" bentak Kai seraya berlari ke arah kami.


"Lari, Ley! Lari!" seru River dengan mulut yang masih mengunyah dan menarik-narik ujung lengan bajuku. "Dia pasti minta ganti tugi dua kali lipat!"


Karena gang yang telah jadikan jalur khusus karyawan ini menembus pada parkiran kafe, aku dan River berbalik badan, lalu lari seraya melahap takoyaki dengan cepat-cepat. Dalam keadaan mulut penuh, kami nyaris menyemburkan tawa akibat mengerjai Kai habis-habisan. Area kafe telah terlewati dan kami menjadi berlari-lari kecil saat berhasil lolos dari kejaran sekaligus menghambiskan harta colongan.


"Duh, hampir aja tersedak," keluhku. "Kamu bawa air, nggak?"


River memeriksa kantong celananya dan mengeluarkan dompet tipis seraya berkata, "Kagak, tapi gue bisa beliin air minum."


"Ada toko kelontong di pertigaan sana, coba kamu beli," jawabku dalam memberi usulan.


"Oke, tunggu sini." River berjalan pergi setelah mengusap mulutnya dengan lengan kosong.


Selang beberapa detik, mulutku nyaris menjerit ketika kedua bahuku dipeluk dari belakang tanpa adanya tanda-tanda suara sedikit pun.


"Aku minta kamu menunggu sebentar, apa terlalu sulit?" gumam si pemeluk, atau bisa kusebut dengan jelas, Zack.


Aku lupa jika sedang menunggunya karena terlalu asik menikmati takoyaki tadi dan bermain kejar-kejaran.


"Maaf, tadi aku ..."


Posisi tangan Zack berubah menjadi merangkulku dengan mesra dan berjalan sehingga aku otomatis ikut bersamanya.


"Sudahlah," selanya seperti terdengar sedikit marah padaku.


"Zack ...." Aku memegangi sebelah pipinya hingga dia menoleh dan kami saling bertatapan. "Maafkan aku, ya?"


Sudah pasti, dia tidak butuh alasanku. Jadi, permohonan maaf lebih baik daripada sekadar pengucapan kata maaf.


"Perkataan itu jauh lebih baik," ucap Zack seraya membalas dengan membelai sebelah pipiku menggunakan tangan yang merangkul bahuku tadi.


"Oh ya, tadi membahas apa bersama manajer?" tanyaku setelah kami berkelok dan menolak untuk menyeberangi zebra cross.


"Hanya perintah untuk tidak mengikuti tour, karena ada beberapa pekerjaan yang harus kupelajari di kafe," balas Zack yang membuatku tertegun. "Ashley? Kamu kenapa?"


Sudah pasti, organisasi cate akan menjalani rencana mereka dengan menyergap Zack tanpa adanya karyawan kafe seperti aku dan yang lainnya. Pada akhirnya, nasib naas di tangan mereka, bukan cowok yang mereka targetkan.


"Zack, jangan pernah datangi kafe tanpaku," gumamku yang membuatnya mendekatkan wajah padaku. "Jangan pernah, sampai kapan pun ...."


"As you want, my lady."


Tangannya mengelus rambutku dengan lembut dan ucapannya terdengar seperti begitu mengerti akan apa yang kukatakan tadi.


- ♧ -