Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
49. Mimpi



TIBALAH aku ke unit apartemen tanpa makan malam bersama Zack akibat kekenyangan setelah mengonsumsi takoyaki berukuran jumbo. Sebenarnya, aku sedang mengurangi jumlah makan di malam hari, karena mungkin tidak terlalu baik untuk tubuh.


Kuganti sweater dengan baju tidur hangat setelah mandi menggunakan air hangat dan meminum coklat panas. Kalender pada meja belajar telah kutandai pada tanggal 23 juli sebagai waktu tour dan rupanya sekarang adalah tanggal 10 juli, jam 21:01. Masih ada waktu satu jam untuk jadwal tidur. Maka karena itu, kusempatkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas kampus di laptop meskipun bisa saja aku menggunakan cara curang, yakni menyewa jasa tugas di internet.


TING!


Aku langsung membuka ponsel ketika mendengar suara notifikasi.


Inbox || Kai: Sikap pacar lo aneh. Sorry, tadi gue lihat kalian di pinggir jalan (peace).


Memalukan juga saat kami bermesraan seperti tadi. Tapi, apa maksud dari Kai mengenai keanehan Zack? Karena aku malas menjawab pesan, jadi tak kugubris dan tetap melanjutkan tugas-tugas yang sedikit mudah untuk diselesaikan. Bahkan, aku sampai tak sadar jika sudah menghabiskan dua jam dalam menatap layar laptop.


Kubereskan seisi meja dan teringat akan perkataan Zack mengenai celah di bagian bahwa jendela yang menjadi tempat keluar masuknya angin dari laut. Ketika aku mengambil kain handuk berukuran kecil dan hendak menambal ke jendela, aku terdiam sejenak lalu melirik ke segala arah. Tubuhku otomatis tiarap untuk memeriksa bagian bawah ranjang, namun kosong. Kemudian, di bawah meja belajar dan di balik lemari pakaian. Bagaimana cowok itu bisa tahu bahwa ada sebuah jendela di kamarku? Terlebih lagi, secuil detail mengenai celah-celah tersebut. Selama ini, aku tidak pernah mengundang siapa pun masuk ke kamar pribadiku. Semua tamu selalu berada di ruang tamu, tidak lebih dari pada itu. Kamar ini juga selalu tertutup, baik setelah masuk atau pergi ke luar. Handuk yang berada di tanganku pun terjatuh dan sontak aku mengunci pintu kamar, lalu pergi tidur dengan keadaan tidak mengenakan.


Tanpa kuharapkan, sebuah mimpi dengan penuh kegelapan menghampiri. Tidak bisa kuanggap nyata, karena aku sendiri tidak bisa melihat bentuk fisikku dari tangan maupun kaki. Seakan-akan, aku ghaib. Di saat kesibukanku dalam memerhatikan sekeliling, mendadak muncul seorang wanita yang sedang meneteskan air mata tanpa memberi tatapan kesedihan sedikit pun. Dia adalah aku, Lilian Ashley. Kami berdiri berhadap-hadapan, seakan-akan sedang menatap cermin.


Deja vu, mimpi ini seperti yang pernah aku lihat ketika amnesia menimpaku.


"Lebih baik kau mati, benar-benar mati."


Kalimat tadi terucap dari mulutnya dengan kesan kejam.


"Aku bersumpah untuk membantu alam agar membuatmu mati, Ashley! Bukan, aku juga Ashley. Bukan, kau juga Ashley. Bukan ... kita berbeda."


Kalimatnya benar-benar terdengar sulit dipahami. Entah mengapa, mulutku menolak untuk bergerak ketika hendak membalas ucapan tersebut.


Seketika tubuhnya tertarik, seolah terhempas dengan ringan secara horizontal. Aku berinisiatif mengejarnya, namun kecepatannya di luar batas hingga aku kehilangan jejak.


"TIDAK! KUMOHON, JANGAN LAGI!"


Suara menggema tersebut. Teriakan dan erangan yang mengandung frustasi hebat. Aku tahu betul, Zack berada di sini. Dengan cepat, orang yang kutebak secara benar sebagai peneriak tadi telah berlari kencang melewatiku. Satu tangannya mengulur ke depan, yang tentunya sedang mengejar wanita bernama Ashley tadi.


Tiba-tiba, suara benturan hebat terdengar dan membuatku menoleh ke sana kemari.


Hilang. Semua kembali gelap. Aku pun memutar tubuh berkali-kali untuk mencari-cari keadaan seperti tadi, namun hasilnya adalah nihil.


"Jangan pergi, kumohon."


Kepalaku sontak menoleh dan berhasil mendapati di depan wajah tepat adanya Zack bersama diriku sendiri sedang berhadap-hadapan dengan air muka pasi. Kemudian, untuk kesekian kalinya Ashley pada depan mataku tersebut terhempas dan sirna di telan kegelapan. Cowok yang sedang merasakan kesedihan luar biasa itu mulai terkapah-kapah dan panik. Kepalanya menoleh ke segala arah, dan pastinya sedang mencari apa yang telah hilang di hadapannya tadi.


"Aku hanya ingin bersama Ashley!" teriaknya geram. "Ashley! Dimana dirimu!"


Seperti inikah penampakkan sesungguhnya ketika Zack kehilanganku? Sangat memprihatinkan. Aku menjadi ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa kehadiranku ada di sisinya. Rasa cintanya tidak bisa diragukan lagi padaku, tampang kepahitannya sungguh membuatku iba.


"ASHLEY!"


Teriakan menggema darinya yang membuatku terkejut bukan main. Aku ingin berlari jauh, namun tubuhku membeku. Pemandangan yang tidak ingin kulihat, justru terpajang jelas.


Zack menusukkan pisau pada dadanya, lalu mencabutnya dan kembali menusukkan ke area yang sama berkali-kali.


"KAMI HARUS HIDUP DI KEHIDUPAN YANG SAMA!" bentaknya tanpa tumbang sedikit pun.


Inikah yang dia selalu lakukan ketika aku mengalami kematian berkali-kali? Itu sangat sakit! Tidakkah ada di otaknya bahwa perilakunya sangat mustahil kusukai? Tidak ada kata heran jika kepribadian gandanya muncul akibat rasa sakit yang dideritanya tersebut.


Secara lebih mengejutkan, Zack terjatuh tepat di depanku dan tubuhnya terbaring lemas dalam menatap ke atas.


Aku melonjak kaget dengan mata membelalak dan bangkit dari tidur. Napas yang mulai terengah-engah kuatur setenang mungkin. Mataku terpejam sejenak, lalu mengibaskan rambut depan dengan tangan seraya mengingat mimpi buruk tadi. Aku merasa bahwa itu bukanlah mimpi, tapi sebuah penglihatan fakta yang sebelumnya tidak terlihat olehku. Tapi, kenapa wanita yang mirip sepertiku itu mengatakan bahwa kami adalah Ashley yang berbeda? Dia pasti hanya duplikatku dan bagian dari bunga tidur yang aneh. Jadi, seharusnya tidak perlu kupikirkan.


Di kala aku ingin kembali tidur, kepalaku tidak sengaja menoleh ke arah meja belajar dan melihat hal yang mengganjal. Aku berdiri di lantai dan memerhatikan susunan buku yang dimana terdapat salah satu buku sedikit menonjol keluar. Itu diaryku. Secepatnya, aku memeriksa kondisi buku itu dan menemukan bahwa gembok yang menguncinya dalam keadaan terbuka. Tunggu, apakah lupa menguncinya?


Kurasa tidak.


- ♧ -