Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
39. Hari Yang Meresahkan.



SUDAH waktunya aku untuk berangkat bekerja. Atau lebih tepatnya, keluar dari apartemen. Adapun Zack menawarkan dirinya untuk mengantarku ke kafe, sekaligus singgah untuk makan siang. Aku juga belum makan siang, mungkin nanti aku bisa memalak sedikit masakan Kurt di dapur.


Sesampainya kami di tempat tujuan, Zack langsung memasuki pintu depan khusus pelanggan. Sedangkan aku akan masuk menuju gang kecil dan seperti biasa melewati pintu belakang.


"Awal sekali kedatanganmu, Ashley," ucap Pak Manager yang melihat kedatanganku. "Masih satu jam lagi untuk kedatangan para bagian sift siang dan sore."


Sejujurnya, aku sudah berbohong pada Zack jikalau sekarang adalah waktunya untuk bekerja. Sesungguhnya, aku tidak ingin berlama-lama bersamanya karena sedikit berbahaya apabila dua insan berlawan jenis berada dalam satu ruangan.


"Sekali-sekali, Manager," jawabku disertai oleh senyum canggung. "Sekarang, saya akan ditugaskan untuk apa?"


Pak Manager melipat kedua tangannya dan berpikir sejenak. Semoga saja aku tidak disuruh bersih-bersih.


"Menjadi pengantar pesanan saja," kata Pak Manager dengan meyakinkan.


Kepalaku mengangguk sejenak tanda patuh, lalu langsung menderap menuju toilet untuk berganti seragam. Selepas itu, aku pergi ke area para pelanggan sembari membawa daftar menu. Di saat yang sama, aku melihat Zack sedang sibuk dengan ponselnya. Kuputuskan untuk menghampirinya untuk memastikan apakah dia sudah memesan sesuatu atau belum.


"Maaf," Aku berbicara dengan nada sesopan mungkin. Zack spontan mendongakkan kepalanya dan ekspresinya seperti sedang merasa heran. Tampaknya dia tahu sebenarnya aku bertugas sebagai penyambut pelanggan. "Apakah anda sedang menunggu pesanan?"


"Lebih tepatnya sedang menunggu waiter untuk memberikan menu." Zack menjawabku dan aku langsung menyerahkan sedaftar menu padanya. Selama beberapa detik, dia mulai memutuskan untuk memesan, "tolong berikan sepiring soft cake less sugar saja."


Kepalaku mengangguk dan mengambil kembali daftar menu.


Aku berbalik badan untuk pergi mengambilkan pesanan, san seketika aku berhenti berjalan saat Zack mengatakan, "Tunggu. Bawakan juga teh tawar."


Minuman yang sangat biasa saja dan bisa dia beli di warteg mana pun. Akan tetapi, sontak aku tertegun sejenak. Rupanya tadi saat di apartemen, aku telah menyajikan teh yang salah. Dari segi kedua orederan Zack, bisa kusimpulkan bahwa dia tak menyukai dalam mengonsumsi kadar gula yang tinggi.


Kuambil semua pesanan dari dapur dan memberikan pada Zack tanpa memakan waktu yang lama. Sembari meletakan kedua antaran, aku membisikan, "Maaf karena sudah memberimu teh yang salah tadi."


"Tak apa," jawab Zack.


Secepatnya aku melayani pelanggan-pelanggan yang lain tanpa berkomunikasi bersama pegawai lainnya. Aku tidak mengenali para pekerja sift pagi karena mereka bukanlah mahasiswa sepertiku yang mengambil part time di siang hari. Mungkin mereka lebih tua dariku.


"Dirimu rajin sekali, Ashley." Pak Manager muncul dan memujiku saat aku berdiri di depan meja barista.


"Terima kasih, Pak," jawabku senang, karena kemungkinan aku bisa naik gaji karena ini.


"Seandainya kamu seperti ini terus, bisa-bisa dirimu naik pangkat." Ucapan Pak Manager membuatku sontak menoleh dengan kaget. "Apa kamu mau menempati posisi saya?"


Mataku memicing dan wajahku menjadi masam karena tahu apa maksud dari ucapan Pak Manager. Atau kali ini bisa kusebut saja dengan panggilan DJ. Organisasi Cate benar-benar berniat merekrutku. Benar-benar pengganggu.


"Tidak, terima kasih," jawabku ketus, lalu menghamburkan diri kembali ke para pelanggan.


Setelah sekian lama, akhirnya sift siang tiba dan aku beristirahat sejenak di sofa ruang pegawai. Melelahkan juga bekerja ekstra begini. Kelihatannya aku akan pulang sejam lebih awal. Sepertinya pekerjaanku kali ini akan dibumbui perubahan sikap Pak Manager atau DJ yang berbaik-baik ria padaku.


Semua pekerja yang aku kenali telah masuk satu persatu ke dalam kafe dan tak sedikit dari mereka menatapku dengan bingung. Terlebih lagi ada yang bertanya mengapa aku datang sangat cepat sekaligus terlihat kelelahan.


Sebenarnya aku tidak terlalu kelelahan. Hanya saja, aku ingin mengambil jeda pertukaran sift karyawan untuk istirahat sejenak. Pendukung faktorku yang terlihat begitu kecapekan adalah raut wajahku yang masam. Penyebabnya tidak lain adalah omongan DJ. Aku tidak sudi memanggilnya Manager lagi. Karena bagiku, Pak Manager tak akan pernah menyebalkan seperti tadi.


"Ashley!" panggil Sherly yang menghampiriku setelah berganti seragam. "Makasih, ya, karena sudah gantiin aku kemarin-kemarin. Pasti kamu kesusahan."


Kutadahkan tanganku seraya tersenyum jahil. "Upahnya mana?"


"Nggak jadi berterima kasih. Aku kira ikhlas." Sherly menepuk tadahan tanganku sembari menggerutu. "BTW, besok kan minggu. Ayo ke pantai!"


Aku baru teringat hari libur adalah esok. Hanya libur kuliah, bukan berarti bekerja juga. Jarak antara apartemenku dengan pantai sangat dekat, apabila hanya bermodal nyali lalu melompat dari lantai atas. Seperti dahulu yang aku lakukan. Tentu saja hal bodoh itu tidak akan kulakukan. Jika ingin pergi ke pantai, perjalanan yang ditempuh cukup jauh karena harus ikut jalur memutar.


"Kendaraannya?" Kuberi pertanyaan pada Sherly dan dia hanya tersenyum lebar. "Nggak ada?"


Dia menggeleng dengan air muka masih bahagia.


"Kalau gitu, aku nggak ikut. Taksi mahal," kataku yang membulatkan keputusan.


"Jangan gitu, dong." Wajah Sherly memelas dalam menatapku. "Aku yang traktir jagung bakar dan sarapan. Kalau bisa, kupinjamkan bikini juga."


Orang gila mana yang mau meminjamkan pakaian dalam untuk renang ke orang lain, dan mungkin hanya Sherly. Dia membujukku dengan kalimat tidak masuk akal.


"Pinjamkan kendaraan, bukan bikini!" sergahku. Lagi pula, aku tidak akan memakai pakaian terbuka seperti itu.


Ketika Megan keluar dari toilet setelah berganti pakaian, serta merta Sherly menunjuknya.


"Pakai mobil Megan saja," seru Sherly. Megan yang tidak tahu apa-apa mulai terdiam dan menunjuk dirinya dengan bingung. "Megan, kita ke pantai pakai mobil kamu, ya?"


"Boleh." Megan memutuskan tanpa berpikir lebih lama. "Besok, 'kan?"


Sherly mengangguk tanda kemenangan lalu menoleh ke arahku. "Dia tuh orang kaya. Katanya, kerja part time fungsinya biar nggak bosen."


Terkadang aku sering memerhatikan kedekatan Megan bersama Sherly. Mereka seperti sangat akrab untuk sekedar teman kerja.


"Oke, besok ke pantai. Jemput aku, ya," kataku. Mereka sudah tahu lokasi apartemenku, jadi tidak perlu kujelaskan ulang.


"Ke pantai nggak ngajak-ngajak. Gua ikut!" Mendadak Vin muncul dan meminta kami untuk mengajaknya. Tak luput pula dia memiliki ekor, yaitu Kai dan River yang menginginkan ajakan kami.


"Kurt!" teriak Sherly hingga orang yang ia panggil menjadi muncul. "Ayo ke pantai bersama kami! Besok pagi!"


Cowok itu memperbaiki posisi kacamatanya dan menyetujui ajakan Sherly. Menurutku, Kurt si manusia jutek adalah orang yang lumayan kaku dalam bersenang-senang di area pertemanan.


Baguslah, meskipun hanya ke pantai, ada juga masa-masa menyegarkan otak.


"Mungkin gue harus pakai mobil APV karena kita terlalu banyak," sahut Megan.


Sesudah ribut membahas hari esok, kami semua langsung ke posisi masing-masing dan aku kembali menjadi penyambut pelanggan di depan pintu. Kali ini aku tidak berani pulang sejam lebih awal meskipun sudah niat begitu. Akan tetapi, DJ memberiku sedikit tip karena telah bekerja ekstra hari ini.


Ketika waktu untuk pulang setelah menerima evaluasi harian, lagi-lagi aku ditemui oleh orang yang tak ingin kulihat wajahnya. Bukan Zeha, melainkan kini digantikan oleh Aya. Dia menyambut kehadiranku di depan pintu pegawai secara langsung.


Aku pun pura-pura tak mengenalinya dan lanjut berjalan pulang.


"Mau ke mana? Ngobrol dulu sama gue, sini," ucap Aya dengan nada rendah namun terdengar kejam. Dia memang bertampang kejam, mirip preman jalanan untuk seorang cewek sepertinya.


Kubalik badanku dan menatapnya dengan sinis. "Kemarin Zeha, lalu hari ini kamu. Besok siapa lagi yang akan mendatangiku? Crystal atau Rua?"


Spontan mata Aya melotot karena terkejut oleh ucapanku. Akan kutunjukan bahwa mereka tak bisa menghasutku untuk mencelakai orang yang bagiku penting.


Mendadak, Aya mencengkram pipiku dengan keras sampai-sampai rasanya rahangku akan retak. "H*ll, Lu tahu tentang kami dari mana? Dari cowok brengs*k itu, ya?"


"Siapa yang kamu sebut brengs*k, Brengs*k?" kataku dengan seberani mungkin.


Setelah itu, dia melepaskan cengkramannya dariku dengan cara mendorongku sedikit. Kini rahangku sedikit pegal karenanya.


"Oh jadi, lu sekongkol dengan dia?" Aya menggertakan tulang ruas jari-jarinya seperti siap menghabisiku.


Dia yang dimaksud pasti adalah Zack. Aku melirik ke arah pintu yang dimana Megan tak berani keluar akibat melihatku bersama Aya seperti ini. Jika begini terus, takkan ada habisnya.


Sontak aku menatapnya dengan memiringkan senyum. Kemudian, aku berbalik dan berlari kabur. Dia bukan lawan yang sepadan denganku. Bisa-bisa aku akan diseret dan terus dipaksa untuk berkomplot bersamanya. Kukira dia akan menyerah, justru tidak. Aku terkejar! Secepatnya aku harus sampai di apartemen karena ada beberapa satpam di lobi yang bisa kumintai pertolongan. Tenagaku tidak terlalu banyak, tapi tak ada pilihan lain.


Kesialan mendatangiku. Setelah sampai di area perkomplekan rumah, kulihat adanya Zack yang berjalan memunggungiku. Gawat, bisa-bisa kami berdua akan sekaligus tertangkap oleh Aya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menarik tangan Zack sembari berlari hingga dia ikut berlari bersamaku.


"Ada apa?" tanya Zack tanpa merasa panik.


Aku menoleh dan menjawab, "Ada ..."


Ucapanku terhenti saat menoleh dan tidak terlihat keberadaan Aya yang mengejar dari ekor mataku. Perlahan kakiku mulai berhenti dan aku menoleh ke segala arah untuk mencari kehadiran cewek itu. Padahal, aku masih mendengar langkah kaki ganda dalam beberapa detik terakhir. Bisa jadi dia menghindar karena tak ingin identitasnya diketahui Zack. Terlintas dalam pikiranku untuk menjauhkan diri dari orang-orang seperti mereka dengan cara menggunakan cowok ini.


 "Zack, kamu mau menjemputku setiap aku pulang bekerja?" tanyaku dengan mata berbinar.


Kawasan di sini sedikit gelap hingga kulit Zack yang pucat dapat menerangi dirinya sendiri. Aku yang berkulit langsat justru beradaptasi dengan kegelapan.


"Baiklah." Zack menjawab yang membuatku kegirangan. "Apa gara-gara dikejar seseorang?"


Seandainya aku mengungkapkan hal tadi atau mungkin membocorkan bahwa dia sedang ditargetkan oleh organisasi cate, bisa-bisa ia akan menargetkan mereka lebih dulu. Aku tak ingin di antara mereka ada yang menjadi korban.


Kupikirkan sejenak untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Tadi ... aku dikejar anjing. Iya, anjing! Anjing liar."


Anjing liar yang kumaksud adalah Aya. Tidak salah juga, cewek itu ganas seperti anjing dan lumayan liar sikapnya.


Kami mulai berjalan dan Zack bertanya, "Apa kamu menganggunya?"


"Tidak," ucapku. "Justru dia yang mengangguku. Tapi, setelah bertemu denganmu, dia menghilang."


Zack menaikkan alisnya, tanda memahami ucapanku. Bagus juga aku memintanya untuk menjemputku setiap pulang bekerja. Itu adalah kesempatan bagiku untuk mempererat  kedekatan kami.


"Oh, ya. Besok pagi, apakah kamu mau ikut ke pantai bersamaku?" kataku. Mobil Megan pasti muat untuk menambah satu penumpang.


"Jam berapa?" Zack menoleh sembari melemparkan pertanyaan.


"06:00 pagi. Di depan apartemenku, kita akan pergi bersama-sama."


Kesenanganku bertambah saat dia menyetujui ajakanku. Esok pasti akan menjadi liburan yang mengasyikan!


- ♧ -