![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
MENOLEH ke segala arah, demi mencari tempat persembunyian. Kuputuskan untuk pergi ke lantai atas yang di mana begitu banyak ruangan kelas dan bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian.
Kelas terpojok yang kosong dan gelap. Aku mencoba bersembunyi di dalamnya, tepat pada bangku terpojok agar tidak terlihat siluetku atau mungkin terdengar suara napas yang sedang terengah-engah. Kini, aku hanya perlu menunggu, entah sampai kapan. Taksi yang telah kupesan akan datang di depan gedung apartemenku, mungkin aku harus tetap mendekam di sini sampai saatnya tiba. Syukurlah ada jam di kelas ini yang bisa membuatku tahu akan waktu.
Dalam keadaan remang-remang, terlihat jarum jam menunjukkan waktu 23:02 dan sekarang adalah tanggal 19 juli. Semoga saja aku tidak tertidur di sini sampai pagi telah tiba.
Secara tiba-tiba, pintu kelas ini terbuka perlahan yang membuat keringat dinginku kembali menetes. Jika satpam menemukanku, maka aku akan terseret ke luar dan Zack kembali menangkapku.
"Ashley, keluarlah."
Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Bagaiman bisa aku ditemukan secepat ini? Lantas, mengapa harus dia lagi yang hadir kepadaku? Ini terlalu cepat dan aku belum sepenuhnya mengistirahatkan diri dari kejar-kejaran ini.
"Ashley, kumohon. Keluarlah. Di sini tempat yang berbahaya," ujarnya dengan intonasi rendah, tetapi bergema di ruangan.
Justru tempat ini berbahaya karena ada keberadaannya. Bagaimana caranya aku pergi? Dari pantulan bayangan dinding, dia masih saja berdiri di depan pintu.
"Kita bicarakan baik-baik. Sudahi pertengkaran ini," sambungnya dengan diiringi suara langkah kaki yang akan mendekat.
Percuma saja berdiam diri, keberadaanku sudah terlanjur ditemukan. Jika aku tertangkap, maka kehidupanku akan menjadi domba di bawa naungan serigala lapar. Aku tidak mau kehidupan normal sebelumnya menjadi terrenggut hanya karena ulah kebodohanku.
Aku berdiri dan langsung melihat Zack yang berjalan mengarah padaku. Rasanya ingin menangis, tetapi aku menahan diri dan langsung menaiki meja untuk kabur. Semua bangku kujadikan sebagai pijakan kabur dan Zack sudah pasti kesulitan untuk mengejarku karena harus melewati sela-sela kursi yang sempit. Setelah berhasil melewatinya, aku pergi ke luar menuju tangga ke lantai atas lagi.
DAR! DAR! DAR!
Muncul suara ledakan berturut-turut yang menggoncangkan sekitaran bagaikan gempa bumi dadakan.
Efek getarannya membuat keseimbanganku hilang dan aku menjadi tergelincir jatuh. Berawal terbenturnya kepala belakangku pada pijakan-pijakan tangga ini, kemudian tidak bisa kukontrol ketika berguling tanpa henti. Terlalu sakit, hingga tubuhku berakhir jatuh pada bordir tangga dan terasa sesuatu yang basah telah mengalir di dahiku.
"ASHLEY!"
Tibalah Zack yang menghampiriku dengan terburu-buru dan langsung menggendongku dengan panik.
"Seharusnya aku tidak menyelesaikan tugasku pada malam ini jika berujung seperti ini," racaunya.
Jadi, inilah tugas yang dimaksudnya kemarin. Pantas saja dilakukan pada malam hari, dengan tujuan agar aku tidak terlibat. Akan tetapi, aku tetap saja akan terkekang oleh Zack jika berhasil tertangkap bersamanya.
Pisau yang berada di tanganku sudah terjatuh sejak suara ledakan tadi dimulai. Oleh karena itu, aku mencoba memberontak dan menggulingkan badan dari gendongan Zack. Berhasil, tapi aku terjatuh dalam keadaan kepala terbentur lagi. Rasanya, tubuhku bagaikan terpukul secara bertubi-tubi.
Beruntungnya, pisau yang tadinya kujatuhkan berada di dekatku. Secepatnya kuraih senjata tersebut dan menusukkannya ke kaki Zack sampai tertancap, hingga dia mengerang keras. Sontak aku bangkit dan melanjutkan pelarian dengan terpaksa menaiki tangga kedua kalinya. Sudah terlanjur posisiku berada dekat menuju lantai atas, padahal seharusnya aku pergi turun untuk pergi dari bangunan yang akan diledakkan.
DAR!
Ledakan sesi kedua hadir. Pada lantai yang kudatangi mulai menjalar kobaran api kecil.
Aku baru teringat jika terdapat tangga menuju lantai bawah di tengah-tengah lantai ini! Secepat aku pergi dengan terpontang-panting untuk keluar dari bangunan yang akan menguburku hidup-hidup.
"ASHLEY!"
Teriakan bergema terdengar jelas bahwasannya Zack masih tidak menyerah untuk menyusulku. Jika aku tidak berhasil keluar secepatanya, maka pilihanku hanya dua; mati di lahap ledakan atau hidup dengan teror Zack. Kenapa aku harus bernasib sial seperti ini? Sejak awal, keputusanku untuk membalas budi perjuangan di dunia paralel sebelumnya adalah kesalahan fatal.
Saat api mulai perlahan melahap sepanjang mata memandang, aku menemukan tangga menurun yang dituju. Sebentar lagi, aku akan dapat kabur.
"Ashley!"
Bahuku tersentak dan ditarik begitu keras. Zack berhasil menangkapku lagi. Wajahnya tampak penuh kemarahan akibat tindakanku yang tentunya sudah melukainya begitu parah.
"Lihat dirimu, sudah terluka parah seperti ini," ucapnya dengan merintih pelan.
"Urus saja dirimu sendiri!" Aku menyentakkan diri dari Zack sampai berhasil karena telah mencoba menginjak kakinya yang sedang terluka.
Kesadaranku mulai pudar perlahan-lahan. Ini pasti disebabkan benturan kepala bertubi-tubi tadi. Pusing dan sulit untuk ditahan. Kakiku ikut gemetar karena tidak sanggup untuk berlari. Dengan usaha terakhir, aku melangkah mundur dan menggeleng pelan dengan berharap Zack menolak untuk mendekatiku.
Dunia seakan-akan berputar, berhawa panas, napasku pun ikut sesak akibat kadar oksigen mulai menipis akibat tertutupi asap. Secara tidak sadar dan di dalam kepanikan, aku tidak sadar jika pinggulku telah menyentuh pagar pembatas yang di seberangnya tiada pijakan lagi. Alhasil, aku terkejut dan tergelincir hingga terpelanting ke belakang.
"ASHLEY!"
Ya, hanya sedetik usahaku dalam menopang tubuh ini menjadi runtuh dan pada akhirnya aku terjatuh ke bawah.
Waktu yang biasanya berjalan, kini seolah-olah berangsur melambat. Suara-suara teredam dalam sekejap. Tubuh pun terasa ringan, bagaikan yang gravitasi enggan untuk mengikat. Berusaha seperti apa pun, semuanya berakhir sia-sia.
Deja Vu.
Hal seperti ini sudah pernah kualami. Pelarianku sejak tadi dalam gedung terbakar dan terkejar oleh Zack, semua itu sudah terulang sebelum ini, tepatnya dunia paralel terakhir yang kupijaki. Akan tetapi, bukan akhir baginya. Justru akhir bagiku.
Pemandangan langit-langit yang gelap dan sebentar lagi akan mengibarkan api, membuatku menangis sejadi-jadi. Air mata mengalir ke atas, menolak untuk jatuh bersamaku. Apa yang sedang kulihat, adalah mimpi buruk mengenai kematian bertubi-tubi ke arahku sebelum amnesia menghampiriku dahulu.
Iya, mimpi. Bukan, itu adalah takdir yang sudah dibocorkan dan aku hanya perlu menunggu semua kengerian tersebut hadir. Sekarang, ialah sarana kematian terakhir, dan apakah aku akan sungguh mati tanpa bangkit kembali?
Di sela-sela ambut berkibar ke atas dan sedikit menutupi pandanganku yang sedikit kabur, terlihatlah Zack yang begitu berani terjun dalam menyusulku. Tubuhnya terhempas bebas, serasa tidak memiliki pemikiran jernih bahwa nyawanya akan bernasib sama sepertiku. Dia mengulurkan tangan ke arahku, berharap bisa menolong secepat mungkin. Perasaan takut yang menggebu-gebu dalam memandangi wajahnya yang terukir kekhawatiran, sekarang justru berubah pasrah secara total.
Sementara itu, lautan api dan asap membelengu di lantai bawah yang tentunya sedang menunggu melahap kami.
Dalam sekejap, kepalaku terisi oleh memori-memori yang tergambarkan jelas mengenai kehidupan di dunia paralel lalu. Tanggal 20 juli, Zack si pembunuh dan penolong, satu-persatu pria menjadi kekasihku di berbeda kehidupan. Semua itu, bukan ilusi.
Esok adalah hari yang di mana akan menjadi kebangkitanku bersama Zack, dan sekarang menjadi sarana kematian terakhir kami.
Apa yang dikatakan oleh Kurt, apakah mungkin benar? Paradoks, perputaran waktu tiada henti yang memunculkan sebab dan akibat secara bersamaan. Ya, aku dan Zack terkena efek kupu-kupu paradoks. Itulah alasan mengapa dia tahu segalanya mengenai dunia paralel, kematian dan kebangkitan berulang. Semua yang dia ketahui berasal dari buku diary-ku. Sedangkan semua yang kuketahui berasal darinya juga.
Apakah nantinya aku akan amnesia hingga melupakan bahwa Zack pernah terobsesi padaku. Kemudian, waktu berputar dan aku kembali ke kehidupan ini untuk mengulangi kesalahan yang sama dengan mendekatinya untuk membalas budi?
Ah, amnesia. Pada tanggal 20 juli esok, mungkin aku akan amnesia akibat benturan kepala belakang yang sejak tadi kualami berkali-kali. Semua ingatan jahat dan penting ini akan terhapus, sehingga tidak dapat membantuku untuk lari dari lingkaran masalah.
Ya dan Ya, semua jawaban berada di tanganku. Namun, tidak akan ada yang bisa menyelesaikan permasalahan ini karena waktu akan terus berputar untuk mempermainkanku.
Putus asa. Kata itu yang cocok untuk aku tampilkan di situasi seperti ini.
- ♧ -