Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
27. Fakta Yang Terkuak



"BISA kamu ulang?''


Aku terdiam untuk mencerna apa yang dikatakan Zack. Wajahnya yang tampak lelah dan lega dalam menatapku telah membuatku bingung untuk menanggapi.


"Kamu nggak akan ingat dan pasti sulit mempercayaiku, 'kan?'' ucap Zack seraya menatap ke atas. Aku hanya bisa mempercayainya karena hanya Zack yang hidup bersamaku di dunia yang sebelum-sebelumnya. "Mau bagaimana lagi, mungkin memang takdir berkata demikian jika kita nggak akan bisa bersama."


"Aku sudah mencoba untuk percaya, jadi bisa jelaskan dari awal?" Aku kembali bertanya.


Zack memutar tubuhnya saat kereta telah usai lewat dan dia berjalan pergi meninggalkanku. Dengan hati-hati kulewati rel kereta api untuk menyusulnya dan ikut berjalan secara bersandingan.


"Aku teringat bagaimana pertemuan kita untuk pertama kali," tutur Zack, "aku hanyalah seniman dan fotografer yang sedang mencari inspirasi di kota ini. Lalu, tak sengaja aku bertemu denganmu di depan kampus pada saat dirimu hendak berangkat bekerja. Aku terpaksa bertanya-tanya tentang denah kota ini karena tersesat. Namun, hal sekecil itu yang membuatku bisa tertarik padamu hingga rela setiap hari menjadi pelanggan di caffe tempatmu bekerja."


Kusimak ucapan Zack dengan seksama hingga tak terasa perjalanan kami telah melewati banyak undakan tangga batu menuju taman puncak yang tak jauh jaraknya dari apartemenku. Kami berdiri di dekat pinggiran pagar pembatas. Tempat ini sangat tinggi sampai kami dapat melihat pemandangan malam seluruh kota yang memiliki nuansa cahaya berwarna warni.


Zack mengeluarkan sebuah lembaran foto dari saku hoodie-nya dan memperlihatkan padaku. "Lihat, aku yang memotretmu di sini, di waktu yang sama seperti ini juga."


Aku melihat foto tersebut dan berhasil membuatku tersentak kaget. Itu adalah foto yang persis dalam awal mimpi anehku sebelum bangkit dan mengalami amnesia ini. Foto yang dimana terbakar hingga menjadi abu. Gadis itu adalah aku, benar-benar diriku!


Kini beberapa serpihan fakta yang ditunjukkan dari awal telah mulai terkuak.


"Itu ...," Aku memandangi Zack dengan pucat. "Aku."


"iya, ini dirimu." Zack tersenyum lebar. "Aku sering memotretmu. Bahkan setelah kita meresmikan hubungan, lebih banyak lagi foto yang kuambil darimu."


Dia terus menerus mengungkit kenangannya bersamaku. Sejujurnya, aku mulai merasa bingung.


"Lalu, bagaimana bisa kita mengalami paradox ini?" tanyaku yang memutar topik.


Zack mengerutkan kening. "Paradox? Paradox apa?"


"Kurt mengatakan jika kita mengalami ....,"


"Salah." Zack memotong kalimatku. "Apa yang kita alami bukanlah paradox. Paradox terjadi dalam satu ruang waktu yang sama, namun terulang kembali karena faktor tertentu."


Aku terdiam tanda tak mengerti.


"Sedangkan kita berpindah bukan pada satu ruang yang sama. Kita berpindah dari satu dunia ke dunia yang lain. Kamu merasakan perbedaannya, 'kan?" Zack menatapku lekat-lekat dan aku mengangguk. "Kita mati dan hidup bersama. Mengulang waktu secara bersama, bahkan berpindah bersama. Kita ...,"


Aku yang sedang menyimak dan menunggu ucapan Zack menjadi terkesiap. Cowok yang di hadapanku menghentikan ucapannya dan ekspresinya menjadi berubah total layaknya terasuki sesuatu. Matanya yang sayu telah menjadi tajam, senyumnya yang tipis berubah lebar bak serigala yang mendapatkan mangsa.


"Kita adalah musuh!" bentak Zack seraya mendorongku dengan kuat hingga aku terjatuh melewati pagar pembatas.


Dia selalu membantuku dan memperingatiku dari maraknya segala bahaya. Meskipun begitu, mengapa dia mencelakaiku seperti ini?


Tanpa disangka-sangka, tanganku diraih oleh Zack dan berhasil mencegahku jatuh dari ketinggian taman puncak ini. Aku melihat ke atas dan dia mulai panik hingga berusaha menarikku sekuat tenaga.


"Bertahanlah!" seru Zack. Sifatnya begitu ambigu, apa yang terjadi padanya tadi? Jelas-jelas sebelumnya dia mendorongku, lantas untuk apa sekarang menolongku?


Seketika keramaian hadir dan orang-orang bermunculan di bawahku.


"Lepaskan saja, Kak! Kami akan menangkapmu!"


"Hei, semuanya. Ayo tolong wanita itu!"


"Turunlah, Nona. Sudah lima orang yang bersiap akan menolongmu!"


Teriakan-teriakan pemberi pertolongan terdengar dan aku mulai berniat melepaskan genggaman Zack agar terjatuh lalu tertangkap oleh mereka yang berada di bawah. Alih-alih terlepas, justru Zack mengeratkan genggamannya padaku.


"Jangan dilepas! Kamu nggak akan selamat jika terjatuh dengan cara seperti itu. Tenanglah, aku sedang berusaha menarikmu!" pinta Zack yang membuatku tercengang. "Sudah sepantasnya kita tidak berdekatan seperti ini!"


"kenapa?" Aku mulai mengeluarkan kata yang selalu kulemparkan pada Zack. "Kenapa sikapmu ambigu seperti ini? Sebenarnya, kamu ingin menyelamatkanku atau justru membunuhku?"


"Tentu saja membunuhmu," lirih Zack yang nyaris tak terdengar olehku disertai kembali menampilkan ekspresi seram seraya melepaskan genggaman tangannya dariku.


"Tangkap dia, tangkap dia!"


"Kakak itu terjatuh!"


Teriakan panik dari orang-orang yang berada di bawah tak bisa menggangguku dari fokusnya pandanganku pada Zack yang sedang melangkah pergi dengan acuh. Dia seperti memiliki kepribadian ganda yang bertolak belakang dalam berhadapan denganku. Mungkin bukan seperti lagi, namun benar-benar kepribadian ganda!


Tanpa sadar diriku telah menyentuh tanah saat berhasil tertangkap oleh para orang baik. Aku hanya bisa termenung dalam menyaksikan perlakuan Zack padaku. Dalam diamnya aku, semua orang menebak bahwa rasa shock karena terjatuh dari ketinggian yang lumayan berbahaya.


"Kak, mau diantarkan pulang?" ucap seorang wanita paruh baya yang membuyarkan pikiranku tentang Zack.


"Oh tidak perlu, terima kasih, Nyonya." Setelah memberi respon, aku pun langsung berlari pergi untuk menyusul Zack yang pastinya belum jauh dariku.


Aku tahu jika kapan pun dia bisa membahayakan nyawaku, namun kutepiskan kosekuensi tersebut agar mendapatkan keterangan yang jelas atas hidupku ini.


Beruntungnya, jalanan ini tak ada kelokan hingga aku dapat melihat punggung Zack dari belakang. Setelah berlari cukup lama, aku dapat menghampirinya dan menahannya untuk berjalan.


"Nggak akan," tegasku seraya menatapnya lekat-lekat. "Kumohon, jelaskan lagi secara detail tentang kehidupan yang kita jalani."


"Aku bisa mengatakannya melalui ponsel. Namun, kamu harus berjanji untuk tidak mendekatiku." Zack menjawabku seraya kembali melangkah pergi dan serentak kutahan lengannya.


"Jangan berbohong. Kamu bahkan tak memiliki nomorku."


"Tidak, aku punya." Aku tertegun setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut cowok di hadapanku ini.


Pada kontak ponselku jelas-jelas hanya nomor yang kukenal. Apabila ada nomor yang tak dikenal menghubungiku, itupun jelas-jelas si Misterius. Tunggu dulu.


Zack adalah orang yang sering memberiku peringatan secara langsunf dan jika kuingat-ingat, ada juga yang orang yang selalu memberiku peringatan namun jalur pesan teks di ponsel sebelum ini.


"Kamu ...," Aku menatap Zack lekat-lekat. "Kamu adalah si pengirim pesan yang awal memperingatkanku tentang rumah sakit, bukan?"


Zack terdiam dan itu mengartikan apa yang kuduga adalah kebenarannya.


"Lantas, mengapa baru sekarang kamu berani menunjukkan diri untuk secara langsung memperingatiku?" sergahku dengan intonasi cepat.


"Karena jika pesan teks tak berguna untuk melindungimu dari kematian, maka aku terpaksa untuk menemuimu langsung." Zack berbalik menatapku. "Apa kamu tidak melihat efek jika kita berdekatan? Kematianmu Ashley! Kematianmu! Bukan hanya dunia yang menolak hidupmu, namun aku juga!"


Kematian, dunia menolakku, dan Zack juga. Aku semakin tidak paham dengan apa yang terucap dari mulut lawan bicaraku ini.


Reflek dahiku mengerut. "Apa maksudmu dunia menolak hidupku?"


"Kamu pasti sadar dari terbukanya matamu pada tanggal 20 hingga sekarang, kematian selalu mengintaimu dimana-dimana. Hingga ketika dunia berhasil membunuhmu, maka kamu terbangun dengan waktu terhitung mundur sampai awal dimana matamu terbuka." Zack menghela nafas berat. "Dunia tak ingin kamu hidup melewati tanggal 30, Ashley! Sadarlah!"


Jadi, selama tanggal 20 hingga 29, nyawaku dalam bahaya.


"Lalu, mengapa kamu juga menolak kehidupanku?" sergahku.


"Bukan aku." Zack memalingkan wajahnya. "Namun iblis yang bersemayam di tubuhku yang menolak kehadiranmu dimana pun dunia kupijaki."


Apa maksudnya dari dimana pun dunia yang ia pijaki? Apakah dia mengatakan jika dunia ini telah memiliki jumlah.


"Maksudmu, kepribadian ganda, bukan?" Setelah mengucapkan kalimat tersebut dari mulutku, lagi-lagi wajah keji pada Zack muncul. Itu adalah iblis yang dia katakan tadi.


"Benar!" ucap Zack, bukan. Dia bukan Zack. "Aku adalah sisi lain dari si Bodoh ini! Aku muncul karena tak kuat merasakan sakitnya kematian jika kau hidup! Dunia menjadi tidak seimbang apabila aku hidup bersamaan denganmu, dasar wanita Sial*n!"


Dia menyebut Zack dengan kalimat 'Bodoh'.


"Ka-karena diriku?" cara bicaraku mulai tergagap karena rasa takut mulai menjalar padaku ketika manusia menyeramkan di hadapanku mulai mencekikku saat sudah jalanan kosong.


"Aku lelah merasakan kematian hanya karenamu. Lelah, sakit, dan mengecewakan! Si Bodoh ini terlalu terobsesi denganmu hingga tak mempedulikan bagaimana tersiksanya diriku ketika dia berulang kali membiarkan kau hidup tenang sedangkan aku mati untuk menggantikan ajalmu! Kau seharusnya peka dan mati saja. Dunia tak menginginkanmu!" Cengkaraman tangan orang ini semakin kuat hingga aku kesulitan bernafas. Kulihat tatapan sedih dari wajahnya dan melanjutkan ucapan kejinya. "Kau mati tanpa merasakan apa-apa, sedangkan aku mati akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Lalu, betapa menjengkelkannya si Bodoh di tubuh ini ketika kau mati, dia justru ikut bunuh diri padahal dunia telah memberinya kesempatan hidup!"


Sekarang aku mulai paham tentang apa yang dibicarakan orang di hadapanku ini. Dia muak dengan rasa sakit akan kematiannya jika aku berhasil hidup melewati tanggal 29 alias sampai pada tanggal 30 juli. Dunia ingin membunuhku, namun jika tidak berhasil, maka Zack yang akan menjadi penggantiku. Pada akhirnya, alam tak seimbang ketika kami berdua mati dan tak ada yang hidup salah satunya. Zack pasti disingkirkan oleh dunia sebelum diriku berhasil meninggal.


Mendadak terdengar suara teriakan berjumlah lebih dari dua orang hingga membuat tangan yang mencekikku menjadi longgar.


"Hei, hentikan pria itu!"


"Lepaskan dia! Wanita itu bisa mati jika kau cekik!"


"Dia pasti pembegal!"


Cengkaraman pada leherku terlepas dan orang di hadapanku mencampakkanku. "Karena kau dan aku mati bersama, jiwa kita justru terlempar ke dunia paralel lain dan kembali menghadapi hal yang sama berulang kali! Maka karena itu, kau harus mati dan biarkan aku bertahan hidup dengan cara mencegah si Bodoh ini sadar!"


Dia berlari kabur, sedangkan diriku terbatuk-batuk dan menghirup oksigen dengan rakus. Para penolong yang dimana segerombolan pria tua telah hadir di sisiku dan menanyakan kondisiku saat ini.


"Apa anda ingat ciri-ciri dari laki-laki jahat itu?" tanya salah satu pria kepadaku.


"Jangan takut, katakan saja. Kami akan melaporkannya ke polisi," sahut yang lainnya.


Tidak bisa. Aku tidak akan menyerahkan Zack yang sedang bertahan hidup sama sepertiku. Jikakalau dijebloskan di penjara, yang pantas adalah sisi jahatnya tersebut. Namun, dia hanyalah kepribadian yang malang dan frustasi karena kematian hingga sifat jahat untuk mempertahankan nyawanya terpaksa muncul.


"Sa-saya," Aku menimpal-nimpal kalimat yang akan keluar dari mulutku. "Saya tidak ingat. Maaf."


Semua orang di sekitarku yang mungkin berjumlah 5 terlihat tak lega dan saling berpandangan satu sama lain.


"Baiklah, setidaknya anda selamat. Jangan berkeliaran saat malam begini, Nona," ujar salah satu dari orang-orang tersebut.


"Tidak biasanya ada preman di sini. Sepertinya kita harus berpatroli."


Kini semua orang bubar dan aku buru-buru memesan taxi untuk pulang karena berbahaya di saat sisi jahat Zack masih muncul.


Sekarang masih menjadi teka teki mengapa ingatanku yang sebelumnya sirna.


- ♧ -