![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
KENAPA aku masih bisa merasakan kehadiran dunia? Apakah aku berada di kehidupan alam baka?
Kubuka mataku dengan perlahan-lahan dan mulai memfokuskan cahaya pandangan di sekitar. Terdengar bunyi detakan jam digital di dekat telingaku dan saat mataku melirik ke arahnya, tertera jam 18.00 dan tanggal dua puluh juli. Seperti yang kuduga, diriku berada di rumah sakit lagi. Aku baru menyadari bahwa waktu telah berjalan mundur. Adapun tanggal dan waktu yang sama seperti saat diriku bangkit dari mimpi buruk pertama. Ini bukanlah mimpi, ini nyata.
Jadi, sebenarnya diriku telah mati dan kini bangkit dalam keadaan waktu yang berjalan mundur hingga menjalani kehidupan yang sama seperti sebelumnya. Ini seperti menekan tombol replay di saat game telah menyatakan defeat pada karakter yang dimainkan sang dayang.
"Kyaaaa! Ashley udah bangun!" Aku menoleh ke asal suara tersebut dan mendapati Sherly telah berdiri di ambang pintu lalu berjalan cepat ke arahku dengan wajah girang. "Pas banget aku ngejenguk kamu saat siuman!"
Dahulu saat diriku siuman, manusia pertama yang berada di hadapanku adalah Kai. Dan kali ini berbeda. Anehnya, mengapa Sherly mengubah gaya bicaranya padaku? Ia selalu menggunakan kata lo-gue namun kini menjadi aku-kamu.
"Sher, bisa kamu panggilkan dokter?" tanyaku pada Sherly yang mendadak memasang raut wajah kebingungan.
"Ada apa? Ada yang sakit? Butuh makan? Minum?" Yah, setidaknya Sherly tidak berubah perihal kecerewetannya. "Infusnya mau diganti?"
"Enggak kok, aku mau laporan aja untuk pulang," ujarku. "Omong-omong, siapa yang bayarin aku di rumah sakit ini?"
"Dasar, baru siuman sudah mau pulang. Kalau tentang bayaran, ada tuh si cowok pelukis yang pelanggan tetap caffe-mu itu, lho! Aku sering banget ngelihat dia dan ternyata dia ikut kita ke puncak juga. Eh, nggak tahunya, dia nyelamatin kamu pas di jurang," kata Sherly seraya menggerak-gerakan tangannya. Siapa cowok penyelamat tersebut? Aku ingin sekali berterima kasih padanya. "Kalau mau pulang, aku telepon River dulu."
Mengapa harus River? "Nggak perlu, cukup Kai aja."
Mendadak dahi Sherly mengerut dan menatapku dengan bingung. "Kok Kai?"
"Iya, dia 'kan pacarku," jawabku dengan tampang sepolos mungkin.
Sherly memandangku dengan terkejut. "Lah, pacar kamu tuh River! Pasti gara-gara jatuh di jurang terus kepalamu terbentur dan sekarang jadi pelupa."
Seketika mulutku terperangah hebat setelah mendengarkan hal tersebut. Sulit dipercaya. Bukan hanya waktu yang berubah menjadi mundur, kini pacarku berubah yang berawal Kai menjadi River. Aku yakin otakku masih berfungsi dan mengingat betul bahwa kemarin bukanlah mimpi ataupun halusinasi. Bahkan kini diriku tak kehilangan ingatan dari beberapa waktu yang lalu. Sherly mengatakan diriku telah terjatuh di jurang, namun waktu itu adalah tanggal 23 juli dan bukanlah 20 juli. Mengapa waktu berputar mundur hingga pada tanggal yang dimana diriku bangkit untuk pertama kalinya dalam memulai memori baru?
Sherly menggelengkan kepalanya tanda tak heran seraya memandangi ponselnya. "Sebentar, udah diangkat nih sama River. Hallo, Eh cuy. Nih cewekmu udah siuman. Hah? ..., aku nggak bercanda, ya! ..., iya-iya deh si paling ngancem. Yaudah buruan ke sini." Mereka tampak begitu akrab. Setahuku Sherly tak pernah berbicara pada River di saat kemarin.
Selang beberapa menit, River memasuki ruanganku dengan wajah datar seperti biasanya. "Ayo kita pulang, gue sudah panggilkan dokter."
Begitu singkat, padat dan jelas. Seakan-akan hadir hanya perlu melihatku tanpa menanyakan apapun kondisiku. Kami pun mengurusi kepulanganku dan Sherly lebih dahulu pamit meninggalkan diriku bersama River sendirian. Alih-alih pulang menggunakan mobil seperti Kai saat itu, kami menaiki taksi online dan perjalanan pun hanya diisi dengan keheningan. Begitu hampa, aku seperti merasa kesepian dan tidak ada yang menemani. Pada saat sampai pada apartemenku, River membantu membawakan tasku hingga di depan kamar apartemen milikku.
"Makasih," ucapku singkat.
"Makasih doang?" tanya River dengan nada ketus hingga membuatku tersentak sejenak. "Nggak biasanya elo begini."
"Ah, sudahlah, gue cabut kalau begitu," kata River seraya berbalik dan pergi meninggalkanku dengan cuek, seakan-akan kecewa oleh jawabanku.
Aku hanya bisa menandangi punggungnya dengan bingung lalu memasuki apartemenku tanpa kesulitan mencari kunci. Saat tour, aku membawa kunci apartemenku di tas selempang. Oh ya, ada dimana koperku? Kukira koper tersebut telah tertinggal di Vila. Saat aku menghidupkan lampu apartemen, koperku telah diletakkan di sisi sofa. Diriku teringat akan Kai yang memiliki kunci cadangan apartemenku, mungkin kali ini adalah River yang memilikinya dan mengembalikan koperku pada saat aku di rumah sakit.
Mataku membelalak ketika melihat washtafel di dapur berisi akan piring-piring kotor dan laci-laci yang dalam keadaan kosong tanpa stock makanan sedikit pun. Apakah ada yang memasuki apartemenku tanpa izin hingga menghabiskan seluruh makananku dan mengotori perabotan?
TLING!
Suara notifikasi ponselku telah berbunyi dalam tasku dan diriku langsung membukanya dengan cepat. Ternyata ada kiriman pesan teks dari nomer asing yang dahulu pernah mengirimkan diriku pesan saat di rumah sakit.
Inbox || [Unknown Number] : jangan beri tahu siapa-siapa perihal kehilangan ingatan. Pesan ini lagi.
Sebelum nomer misterius ini melanjutkan pesan yang aku ketahui isinya, terlebih dahulu diriku membalas pesannya dengan cepat.
Sent : Kamu lagi, siapa dirimu?
Dalam beberapa detik pun pesanku terbalas.
Inbox || [Unknown Number] : Lagi? Kamu mengingat hal kemarin?
Sent : iya, aku tidak hilang ingatan sama seperti hari dimana diriku terbangun untuk pertama kali.
Tak ada balasan lagi. Aku pun tidak peduli akan siapa dirinya dan langsung menyimpan nomer tersebut dengan nama "Si Misterius". Dari pesannya, aku bisa menyimpulkan bahwa dirinya dapat menjawab pertanyaanku perihal waktu yang terulang kembali dan keadaan setempat menjadi sedikit berubah.
Diriku terkejut lagi saat melihat keadaan kamar tidurku begitu berantakan. Aku 'kan meninggalkan kamar ini untuk pergi ke tour dalam keadaan rapi. Mengapa sekarang seperti kapal pecah? Bahkan aku tak mengingat ada foto figura yang tertera di meja nakas dekat kasurku. Foto yang bergambar akan diriku yang memasang senyuman lebar dan bergaya peace bersama River dalam keadaan muka masam sembari berdiri di depan caffe clair de lune tanpa menggunakan seragam. Benar-benar sulit untuk dipercaya.
Kecelakaan yang terasa akan kematian dan sama persis seperti mimpi buruk yang pernah kulihat lalu bangkit dalam keadaan perubahan kehidupan dunia. Aku bisa menyimpulkan bahwa saat diriku bangkit dari kecelakaan jalan raya, aku mendapati dunia yang normal dan tanpa perubahan seperti awal kukenal. Atau mungkin pada saat itu, aku tidak mati. Satu lagi, tepatnya kecelakaan itu tidak tertera pada mimpi burukku. Lalu kini mimpi tersebut menjadi nyata lalu berefek merubah dunia yang sedang kupijaki. Merubah identitas orang-orang di sekitarku sekaligus merubah keadaan. Namun hanya diriku yang tak terasa adanya perubahan.
Contohnya saja River. Yang berawal hanya rekan kerja, kini menjadi seorang kekasihku.
Jadi, apakabar dengan Kai?
- ♧ -